KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 20


__ADS_3

Part 20


"Selamat datang!"


Kaila tersenyum dan berjalan memasuki toko bahan busana yang menjadi tujuannya hari ini.


Pandangan Kaila menyusuri setiap sudut ruangan yang di penuhi dengan kain bermacam corak dan warna yang membuat siapapun ingin membeli semua kain yang ada.


"Cantik," ucap Kaila saat melihat bahan brokat berwarna cokelat susu.


"Permisi, boleh liat contoh yang lain?" ucap seseorang pada pelayan toko membuat Kaila menoleh.


Kaila mengerutkan dahinya. "Itu 'kan, Gisele?"


"Kalau begitu, saya minta yang ini ya?" ucap orang itu yang Kaila yakini adalah Gisele.


Kaila mengusap matanya dan memfokuskan pandangannya. "Iya, itu Gisele," lirih Kaila saat perempuan itu tak sengaja menoleh ke arahnya. Namun, perempuan itu tak melihat keberadaan Kaila.


Kaila menggelengkan kepala. Semua ingatan Kaila tentang Gisele kembali memenuhi pikirannya.


Kaila tertawa miris. Namun ia berusaha menahannya. "Gimana bisa? Aku lihat dia disini." Kaila menggelengkan kepala. "Sesempit inikah dunia?"


"Kaila?"


Kaila tersentak. Ia menoleh ke belakang dan menatap seseorang yang memanggil namanya.


"Iya?" ucap Kaila memandang orang tersebut.


Kaila tidak mengenalnya.


"Kamu Kaila 'kan? Designer asal Indonesia yang terkenal di Jerman?" ucap orang itu.


Kaila tersenyum ragu. Ia bingung, bagaimana bisa orang-orang mengenalnya? Apakah ia seterkenal itu di Jerman? Sampai-sampai orang Indonesia pun mengenalnya sebagai seorang designer.


"Kamu tahu? Aku fans berat kamu, Kaila. Aku sering lihat event-event kamu di Youtube."


Kaila melebarkan matanya. "Oh ya?"


Wanita itu mengangguk dan mengulurkan tangannya. "Kenalin, namaku Lila."


"Kaila," ucap Kaila membalas jabatan tangan itu. Namun mata Kaila kembali menoleh pada ke belakang mencari keberadaan Gisele saat ini.


Lila tersenyum. "Seneng banget aku bisa ketemu kamu disini."


Kaila kembali menatap Lila dan mengangguk dengan senyuman. "Aku juga seneng banget bisa ketemu dan kenal kamu."


Lila mengangguk. "Kamu cari bahan disini?"


Kaila mengangguk membenarkan. "Sebenarnya ini pertama kali aku cari bahan busana di sini."


"Jadi kamu bakal menetap di Indonesia?" tanya Lila penasaran.


Kaila tersenyum. "Ya begitu. Aku bakal buka galeri di Jakarta dan meneruskan hobi aku disini."


Lila melebarkan matanya takjub. "Hebat! Kapan-kapan aku boleh mampir ke Galeri kamu?"


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Tentu!" Kaila tersenyum dan meraih sesuatu di dalam tasnya dan menyerahkan pada Lila. "Ini kartu nama aku, dan disini ada alamat galeriku. Kamu bisa kesana kapanpun."


Lila tersenyum lebar dan menerimanya dengan senang hati. "Makasih banyak ya? Secepatnya aku bakal ke galeri kamu."


Kaila mengangguk. "Kalau gitu, aku kesana dulu ya?"


Lila mengangguk dengan senyuman. "Semoga harimu menyenangkan, Kaila!"


"Kamu juga, Lila!" ucap Kaila dan berjalan pergi.


Sebenarnya, Kaila ingin mencari keberadaan Gisele. Wanita itu berjalan mengelilingi ruangan berbentuk persegi itu dengan mata yang mengitari setiap sudut.


"Kemana Gisele tadi?" ucapnya.


Kaila tak menemukan Gisele. Namun, ia melihat pelayan yang ia lihat berbicara dengan Gisele tadi. Kaila pun menghampiri pelayan itu.


"Permisi?" ucap Kaila membuat pelayan itu menoleh.


"Iya, ada yang bisa di bantu?" ucap pelayan tersebut.


Kaila menggigit bibirnya bingung. Apa yang harus ia tanyakan. "Eum— maaf, tadi saya lihat, ada seorang perempuan berbaju putih dan rok hitam disini."


Pelayan itu membulatkan bibirnya. "Oh! Yang bicara dengan saya tadi?"


Kaila mengangguk membenarkan. "Apa dia masih ada disini?"


Pelayan itu menggeleng. "Dia baru saja pergi."


"Kalau boleh tahu, dia cari apa ya?"


"Dia cari brokat."


"Untuk apa ya?" tanya Kaila penasaran.


Pelayan itu tersenyum. "Maaf, saya tidak tahu jika soal itu."


Kaila mengangguk mengerti. "Terima kasih," ucap Kaila dan berjalan pergi.


Kaila mengusap wajahnya gusar. "Udah delapan tahun, tapi aku masih takut aja Gisele bakal rebut Kana dari aku." Kaila memejamkan mata dan menggeleng. "Gak! Gak! Gak! Aku gak boleh suuzon. Aku gak boleh suuzon. Barangkali aja Gisele kesini karena dia mau menikah."


Kaila mengangguk. "Bener. Bisa jadi aja Gisele kesini karena mau mempersiapkan pernikahan dia."


Kaila menghela napas. "Ayo, Kaila! Kamu kesini buat cari bahan. Bukan buat overthinking!"


Kaila kembali mengangguk dan berjalan mencari kain untuk kliennya.


Pandangan mata Kaila kembali mengitari semua warna kain yang tersusun rapi di setiap ruangan.


Tangan Kaila meraih ponsel dan membaca pesan yang dikirimkan kliennya.


"Dia pengen warna putih tulang," ucap Kaila setelah membaca pesan ia terima. "Oke! Kita cari."


-o0o-


"Huahhhh!" Kana meregangkan kedua tangannya. "Capek banget!" ucapnya seraya meraih jas yang berada di atas kursinya.


'Tok! Tok! Tok!'


"Masuk!" teriak Kana.


Pintu terbuka dan menampilkan Ayu disana. "Maaf Dok, ada pasien dengan perdarahan di area kepala. Pasien tidak sadarkan diri, dan saat ini berada di ruang IGD."


Kana melebarkan mata dan mengangguk. "Saya akan kesana."


Ayu mengangguk dan berjalan pergi.


Kana menghela napas. "Semangat, Kana! Kamu harus semangat kerja demi masa depan kamu dan Kaila. Kamu juga harus selamatkan pasien-pasien kamu," ucap laki-laki itu dan berjalan keluar untuk menemui pasien.


-o0o-

__ADS_1


Di lain tempat, tepatnya di sebuah kantor polisi. Bima terlihat berjalan keluar dengan seorang gadis di sampingnya.


"Aku minta maaf banget ya atas kejadian kemarin."


Perempuan itu mengangguk. "Gak papa kok."


Bima menyengir kuda. "Aku gak enak banget sama kamu."


Perempuan itu tertawa. "Kamu udah berkali-kali loh bilang gini. Aku sampai capek dengernya."


Bima terkekeh malu. "Oke, oke, sorry. Aku gak bakal bilang itu lagi."


Perempuan itu mengangguk dengan senyuman.


"Kalau gitu, kita langsung ke pet shop aja yuk?" ajak Bima.


"Sekarang?"


Bima mengangguk. "Iya. Kamu gak sibuk 'kan?"


"Enggak, sih. Yaudah yuk!" ucap perempuan itu.


Bima tersenyum lebar dan mengepalkan tangannya karena begitu senang.


"Mau pakai mobiln siapa?" tanya perempuan itu.


"Mobil aku aja," ucap Bima.


Perempuan itu mengangguk dan mengikuti langkah Bima untuk menuju mobilnya yang berada di parkiran kantor polisi.


-o0o-


Sudah hampir dua jam Kaila di toko ini. Setelah memilih semua bahan yang di inginkan oleh kliennya, Kaila pun berjalan menuju antrian untuk membayar semua yang telah ia pilih.


"Sayang, aku pengen di pernikahan kita nanti, gaun yang aku pakai bisa bikin aku terlihat cantik," ucap seorang wanita yang terlihat merangkul lengan kekasihnya.


Kaila tersenyum melihatnya.


Bagi Kaila, kebahagiaan seorang perempuan adalah saat mengenakan gaun pengantin. Semua tahu jika penampilan adalah hal penting yang perlu di perhatikan dalam sebuah pernikahan, dan gaun pengantin merupakan poin utama akan penampilan itu.


Selama ini, sudah puluhan orang yang sudah Kaila buatkan gaun pengantin. Namun sayangnya, ia belum bisa membuat sebuah gaun untuk dirinya sendiri.


"Kalau ditanya aku pernah iri atau enggak, tentu aku pernah," ucap Kaila dalam hatinya. "Bahkan saat sepasang kekasih datang ke aku dan meminta aku untuk membuatkannya gaun pengantin, rasa iri dalam hatiku menggebu. Tapi aku harus sadar, berhasil tidaknya gaun itu harus didasari dengan rasa keikhlasan. Dan aku, selalu ikhlas dalam membuat gaun pengantin."


Kaila menghela napas.


"Karena aku selalu berdoa, agar siapapun yang mengenakan gaun itu, ia harus mendapatkan kebahagiaan."


Kaila tersenyum dan melangkah ke depan untuk membayar pesanannya. Namun, matanya masih tertuju pada sepasang kekasih yang saat ini akan meninggalkan tempat tersebut.


"Semoga suatu saat aku dan Kana bisa seperti itu."


-o0o-


Kaila berjalan keluar dari toko bahan busana dengan paper bag yang memenuhi tangannya.


'Drttt!'


Ponsel Kaila bergetar. Wanita itu segera meraih ponsel di tangannya.


Senyumnya melebar saat mengetahui jika Kana-lah yang menelponnya.


"Halo, sayang?" ucap Kaila setelah sambungan teleponnya terhubung dengan Kana.


Kana terkekeh di seberang sana. "Kamu lagi apa?"


"Kamu sendiri?" tanya Kana.


Kaila mengangguk refleks. "Iya, nih. Kamu sendiri lagi apa?" tanya Kaila.


"Aku lagi istirahat nih ruangan, nih. Aku capek banget, sayang. Hari ini banyak banget pasien yang dateng."


Kaila terkekeh. "Semangat ya!"


"Aku pasti semangat dong! Semua ini demi aku dan juga kamu."


Kaila tersenyum. "Kamu juga lupa istirahat ya?"


"KAILA, AKU PERGI DULU!"


Kaila melebarkan mata saat seseorang berteriak.


"Siapa?" tanya Kana.


Kaila tertawa. "Kak Bima, barusan lewat dia. Kayanya sama cewek yang kemarin."


"Keluarga korban?" tanya Kana dengan gelak tawa.


Kaila mengangguk. "Iya."


Kana terkekeh. "Bisa-bisanya Bima."


Kaila tertawa dan meraih paper bag yang sempat ia taruh di bawah. "Eum— Nana."


"Iya?" tanya Kana.


"Aku mau pesan taksi online dulu ya? Telponnya aku matiin dulu."


"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Kana.


"Iya," ucap Kaila.


"Aku jemput aja ya?" ujar Kana.


Kaila menggeleng. "Gak usah. Aku bisa pulang sendiri kok. Lagipula aku mau langsung ke galeri sekarang."


"Nah, karena kamu mau ke galeri, biar aku jemput aja. Sekalian aku mau cari makan diluar."


"Gak papa, nih?" tanya Kaila.


Kana tertawa. "Astaga, sayang! Ya gak papalah. Sekalian aku pengen ngilangin capek aku."


"Lah, apa hubungannya?" tanya Kaila.


"Gak tahu. Setiap aku lihat kamu, aku ngerasa capek aku hilang."


Kaila terkekeh. "Bisa aja! Yaudah, aku tunggu di sini ya? Nanti aku kirim alamatnya ke kamu."


"Oke, siap!"


Kaila terkekeh dan mematikan sambungannya.


Senyumnya melebar dan berjalan menuju halte bus yang berada di seberang jalan.


Kaila melangkah menyeberang jalan dengan hati-hati. Pandangannya fokus ke depan setelah mobil melintas melewatinya.

__ADS_1


Ia tersenyum lega setelah ia sampai di sebuah halte.


Semua paper bag ia letakan di kursi sampingnya sembari menunggu Kana datang.


Waktu tempuh antara klinik Kana dan halte ini hanya memakan waktu sepuluh menit.


Memang dekat.


Karena itu Kana memaksa untuk tetap datang.


"Permisi kak, boleh minta uangnya," ucap seorang pengemis seraya mengadahkan tangan pada Kaila.


Kaila menoleh dan merasa iba. Ia pun meraih selembar uang dari dalam tasnya dan menyerahkan pada anak kecil itu.


"Makasih, kak."


Kaila mengangguk dengan senyuman dan membiarkan pengemis itu pergi.


'Tin!'


Kaila menoleh ke arah jalan dan melihat Kana sudah berada disana.


Kaila tersenyum, meraih paper bagnya untuk segera menghampiri Kana.


"Susah gak bawanya?" tanya Kana.


Kaila menggeleng. "Gak banyak kok bawaannya."


Kana mengangguk dan membukakan pintu untuk Kaila.


Setelah kekasihnya masuk ke dalam mobil, Kana pun berlari dan ikut masuk. "Aku tadi lihat kamu ngasih uang ke pengemis."


Kaila mengangguk. "Iya, aku gak tega sama dia. Jadi aku kasih uang sedikit."


Kana tersenyum dan mengusap pucuk kepala Kaila. "Aku bangga sama kamu. Kamu masih peduli sama mereka."


Kaila terkekeh. "Ini cuma hal kecil, Nana."


"Hal kecil yang bikin aku makin sayang sama kamu," ucap Kana.


Kaila menghela napas. "Kamu makin kesini makin beda dari yang dulu."


"Memang kamu mau aku kaya dulu? Dingin, ketus, nyebelin, ngeselin, hahaha."


Kaila tertawa dan menggeleng. "Gak mau, sih."


"Yaudah."


Kaila mengangguk. "Tapi aku lebih nyaman sama kamu yang sekarang."


"Aku juga," ucap Kana.


"Kenapa?"


"Apa ya?" Kana tampak berpikir. "Lebih bawel."


Kaila berdecak dan memukul lengan Kana.


"Aw! Sakit," ucap Kana tertawa.


"Biarin! Salahnya, nyebelin."


Kana terkekeh dan kembali fokus dengan kemudinya. Laki-laki itu menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melajukan dengan kecepatan sedang.


Tentu semua tahu jika Kana sampai saat ini belum bisa mengemudi dengan kecepatan yang kencang. Meskipun sudah semua terapi ia jalani untuk mengatasii Tachophobianya.


"Nana," lirih Kaila di sela-sela perjalanan mereka.


Kana menoleh dan menaikkan kedua alisnya.


"Aku pengen tanya sesuatu."


Kana mengangguk dan membiarkan Kaila melanjutkan ucapannya.


"Setelah kejadian Delapan tahun lalu, apa kamu pernah ketemu Gisele lagi?" tanya Kaila.


Kana mengerutkan dahinya. "Gisele yang pernah satu kampus sama kita waktu tingkat satu?"


Kaila mengangguk membenarkan.


Kana tampak mengingat dan menggeleng. "Gak pernah."


"Aku tadi ketemu dia."


"Dimana?" tanya Kana penasaran.


"Di toko bahan busana tadi. Aku gak liat sih dia sama siapa. Cuma—"


"Cuma apa?" tanya Kana penasaran.


Kaila tersenyum miring. "Takut aja dia rebut kamu lagi dari aku."


Kana tersenyum dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Sayang."


Kaila menoleh dan menatap mata Kana.


"Kamu sadarkan hubungan kita ini bukan setahun dua tahun, tapi udah bertahun-tahun. Dan kita berdua sadar kalau kita berdua saling sayang. Aku sayang sama kamu, dan kamu juga sayang sama kamu. Jadi kamu harus yakin, aku gak mungkin ngekhianatin kamu."


Kaila diam.


Kana menghela napas. "Kalau memang aku gak sayang sama kamu, buat apa aku nunggu bertahun-tahun? Buat apa aku nungguin hal gak pasti? Karena aku sayang sama kamu, La. Aku selalu yakin kamu bakal dateng dan kembali ke aku."


Kaila diam. Ia menatap mata Kana dengan tatapan nanar.


"Dulu, sampai Kevin nyuruh aku ikutan event-event cari jodoh karena takut aku gak bisa dapet jodoh."


Kaila tertawa keras mendengarnya.


"Nah, malah ketawa," ucap Kana.


Kaila menggeleng menahan tawa. "Yaudah, yaudah, aku percaya kok sama kamu."


"Haruslah!" ucap Kana dengan wajah kesal.


Kaila terkekeh dan memeluk Kana. "Aku minta maaf ya, karena bikin kamu kesel."


Kana mengerucutkan bibirnya. "Cukup ya? Cukup bawa-bawa orang lain dalam hubungan kita. Hubungan kita udah terlalu berat selama ini. Cukup dulu aja, sekarang jangan."


Kaila mengangguk.


Kana terkekeh dan mencubit hidung Kaila.


"Nana..."


"Gemes lho, La."

__ADS_1


Kaila terkekeh dan membalas untuk mencubit hidung Kana.


-o0o-


__ADS_2