
Part 30
Kana berdeham. Ia memandang gadis di hadapannya dengan penuh arti. "Kaila, gue—"
"HEI!" teriak seseorang membuat Kana dan Kaila tersentak kaget.
"BIMA!" pekik Kana dan Kaila pada laki-laki yang kini tengah menyengir kuda.
Bima mengulum senyum seraya melipat kedua lengannya di depan dada. "Kaget ya?"
Kaila menghela napas dan menatapnya kesal.
Begitupun dengan Kana. Ia menatap laki-laki terkutuk itu dengan tatapan tajam. "Gak lucu, tahu gak!"
Bima tersenyum miring. "Memang siapa yang mau ngelucu?" Bima menoleh pada Kaia dan tersenyum. "Maaf ya gue kesininya telat."
Kaila menggeleng dan tersenyum.
Kana memutar bola matanya. "Lo gak telat. Tapi kecepetan, tahu gak! Kalau bisa malah lo gak usah dateng kesini."
Bima pura-pura menguap seraya menutup mulutnya dengan Satu tangan. "Lo pikir lo siapa?" Ia menatap Kana menantang.
Kana menghela napas dan ingin sekali menjawab. "Gue—" Jantung Kana berdegub kencang.
Kaila diam. Gadis itu pun terlihat gugub. Ia menunggu jawaban Kana.
Bima melipat kedua lengannya di depan dada dan tersenyum miring.
"Gue—" Kana menghela napas. "Gue yang ngehukum Kaila untuk kasih gue makanan setiap hari."
Senyum Kaila memudar dan memutar bola matanya malas. Ia pikir, Kana akan mengatakan jika Kaila adalah orang yang spesial untuknya.
Bima tertawa. "Terus urusan lo sama rumah Kaila apa? Ha?"
"Ya suka-suka gue dong!"
Kaila menghela napas. "Udah, udah, udah. Mending sekarang kita ke gazebo aja." Kaila menoleh pada beberapa salad buah di meja. "Kalian bantu bawa ini ke gazebo ya? Gue mau anter ini dulu ke Tante Naira," ucap Kaila seraya membawa sepiring salad buah.
"Oke, Kaila!" seru Bima lalu meraih beberapa cup salad buah. Begitupun dengan Kana. Keduanya terlihat berebut untuk mengambil perhatian Kaila.
"Gue aja!"
"Gue!"
Kaila menghentikan langkahnya. Ia menoleh pada laki-laki yang kini tengah berebut itu. Ia menghela napas dan melanjutkan langkahnya.
Setelah sampai di Gazebo. Kana dan Bima nampak kembali berebut untuk bisa duduk di samping Kaila. Dua laki-laki itu terlihat gencar dan tidak ada yang ingin mengalah.
"Kai, sini Kai!" teriak Kana seraya menepuk bangku di sampingnya.
"Sini aja, Kai! Di situ bau kentut!" balas Bima seraya menepuk bangku di sampingnya.
Kaila tersenyum dan duduk di bangku lain yang berada di antara Kana dan Bima. "Adil, 'kan?"
Kana tersenyum. Ia menopang dagunya dengan lengan seraya memandang Kaila.
Merasa di perhatikan, Kaila pun menggelengkan kepala dan menatap ke arah lain. Ia tak ingin pipinya ketahuan merona.
"Cantik," lirih Kana.
Melihat hal tersebut, Bima segera menyenggol lengan Kana agar laki-laki itu berhenti memandang Kaila yang membuatnya terganggu.
"Apa sih lo? Sirik aja!" bentak Kana yang tak terima di ganggu.
Kaila menggelengkan kepala menyikapi kedua laki-laki itu.
"Kaila!" teriak seseorang membuat ketiganya menoleh.
Kaila tersenyum. "Elsa! Sini!"
Elsa mengangguk dan berjalan menghampiri ketiganya.
Kaila tersenyum. "Akhirnya lo dateng."
"Ngapain lo kesini?" tanya Bima pada temannya tersebut.
Elsa memutar bola matanya. "Lo pikir ini rumah lo? Urusan banget!" ucap Elsa membuat Kana tertawa.
__ADS_1
Melihat Kana tertawa, Elsa pun menoleh pada laki-laki itu. Pupilnya melebar saat mengetahui laki-laki tertampan di Sekolahnya kini berada di hadapannya. "Hai, Ka—na."
"Uhuk!"
Kaila pura-pura batuk membuat Elsa tersadar dan menoleh padanya.
Elsa menunjukkan Dua jarinya seraya menyengir kuda.
"Lo naik apa kesini?" tanya Bima pada Elsa.
"Naik taksi. Lo berdua kok bisa pagi banget sih kesininya?" tanya Elsa pada Dua laki-laki di hadapannya.
"Kepo amat," lirih Kana membuat Elsa terdiam.
Elsa memeluk lengannya seraya memandang Kaila. "Brrr! Dingin!"
Kaila tersenyum. Sikap Kana barusan sangat persis dengan sikap Kana sebelumnya. Namun sangat jauh berbeda jika pada Kaila.
"Eh, lo bikin salad, Kai?" ucap Elsa melihat salad buah berada di atas meja.
Kaila mengangguk. "Ayo dimakanin. Bilang ya kalau gak enak?"
"Gak mungkinlah gak enak. Masa iya masakan calon istri gue gak enak," ucap Bima dengan senyum jahilnya.
"Heh! Gak usah kaya gitu ya! Lo ngomong seenak jidat, lo pikir Kaila seneng dengernya? Yang ada enek, tahu gak!" ucap Kana kesal.
Bima memutar bola matanya seraya menguap. Ia terlihat tak menghiraukan ucapan Kana. Baginya, ucapan Kana hanya sebatas iklan yang dengan mudahnya ia hilangkan dengan cara berbayar.
"Yaudah, yaudah, ayo di makan!" seru Kaila pada lainnya.
Kana dan Bima begitu semangat memakan salad itu. Keduanya terlihat lahap dan begitu menikmati.
Elsa menyenggol bahu Kaila. "Enaknya jadi lo, di rebutin Dua cogan. Mana tajir semua lagi," bisiknya di telinga Kaila.
"Hush!" desisnya agar Elsa tak membahas hal itu.
"ABIS!" seru Bima setelah menghabiskan Satu cup.
"Secepat itu?" ucap Elsa tak percaya.
Bima menatap Kana kesal lalu beralih pada Satu cup salad buah yang tersisa. "Ini punya siapa, Kai?" tanyanya.
"Oh, itu gue buatin untuk Kiara. Gue pikir dia juga ikut," jelas Kaila.
"Kalau gitu, gue makan aja." Kana meraih salad buah itu membuat Bima melebarkan mata.
"Enak aja! Buat gue lah. 'Kan itu jatah adik gue, jadi buat gue lah!" Bima menarik salad buah itu dari tangan Kana.
"Buat gue!"
"Gue!"
"Buat gue!"
"Gue!"
"Gue!"
"Gue!"
"KANA! BIMA!" bentak Kaila membuat keduanya diam.
Elsa tertawa melihat pemandangan di sekelilingnya.
Kaila menghela napas dan menatap Dua laki-laki di hadapannya dengan tatapan kesal. "Kalau diem 'kan enak. Gak perlu ribut 'kan? Lagipula di belakang masih ada kok. Jadi gak usah rebutan kaya gini."
Kana melipat kedua lengannya di depan dada. "Kenapa tadi nama gue duluan sih yang lo sebut? 'Kan Bima yang mulai duluan."
Bima melebarkan mata. "Hei! Darimana gue mulai duluan? Lo itu yang mulai duluan!"
"Elo!" ucap Kana pada laki-laki itu.
"Elo!"
"Elo!"
"E—lo!"
__ADS_1
Kaila menghela napas dan mencoba menahan rasa sabarnya.
Elsa tertawa. "Udahlah Kai, biarin aja. Nanti juga mereka capek sendiri."
"Gue gak bakal mulai kalau lo gak mancing," ucap Bima.
"Tapi lo yang—"
"BIMA! KANA!"
-o0o-
"Selamat pagi, Pak Kavin." Seorang wanita bernama Jeni itu tersenyum saat atasannya datang dengan jas hitam yang melekat di tubuh.
Kavin tersenyum. "Udah kamu siapin semuanya 'kan?"
Jeni mengangguk. "Sudah, Pak."
Kavin menganguk dan duduk di kursi sebelah Jeni.
"Maaf Pak, Bu Alinanya gak ikut?" tanya Jeni.
Kavin menggeleng. "Istri saya ada acara sama novelnya."
Jeni mengangguk mengerti.
"Oh ya Jen, kamu udah kasih tahu mereka 'kan kalau kita meetingnya disini?"
Jeni mengangguk. "Sudah, Pak. Kemungkinan sebentar lagi mereka sampai."
Kavin tersenyum lebar. "Kamu tahu gak sih, Jen? Semalem saya gak bisa tidur karena mikirin meeting ini."
Jeni tertawa kecil. "Akhirnya ya Pak? Setelah penantian panjang, akhirnya kita bisa kerjasama sama mereka."
Kavin mengangguk. "Beruntung Jen, kamu punya atasan seperti saya." Kavin menaikkan dasinya berlagak jika ia adalah pahlawan atas semua ini.
Jeni menyunggingkan senyumnya. "Iya, Pak, iya."
"Selamat pagi. Apa benar dengan Pak Kavin?"
Jeni melebarkan mata. "Pak, ini Pak Hendry," bisiknya di telinga Kavin lalu bangkit dan membungkukkan badannya pada laki-laki yang di sebutnya adalah Hendry.
Kavin segera berdiri dan tersenyum. "Benar. Saya Kavin."
Hendry tersenyum dan menjabat tangan Kavin. "Senang bisa bertemu."
Kavin mengangguk. "Saya juga sangat senang. Kalau begitu, silahkan duduk."
Hendry mengangguk dan hendak duduk. Namun di saat yang bersamaan ponselnya berbunyi membuatnya kembali berdiri.
"Halo sayang? Dimana?" ucap Hendry menjawab telepon. "Iya, aku keluar." Hendry mematikan sambungannya dan menoleh pada Kavin dan Jeni. "Maaf, saya jemput istri saya sebentar ya. Dia ada di depan."
"Iya, silahkan." Kavin tersenyum dan membiarkan Hendry berjalan pergi.
Jeni menggelengkan kepala menatap punggung laki-laki yang mulai menjauh itu. "Pasti beruntung banget ya Pak jadi istrinya? Di perhatiin, di ajak setiap ada meeting." Jeni tertawa kecil. "Kalau gitu saya mau jadi istri keduanya."
Kavin berdecak dan menatap Jeni kesal. "Kamu kenapa gak bilang kalau dia bawa istri?"
"'Kan tadi saya nanya, kenapa Bu Alina gak ikut, Pak."
Kavin memutar bola matanya. "Tapi kamu gak ngabarin saya dulu 'kan kalau dia bawa istri?"
"Sudah kok, Pak. Semalam saya kirim pesan ke Bapak kalau Pak Hendry bawa istrinya."
Kavin tampak mengingat. "Apa iya?" Ia meraih ponselnya dan melihat pesan dari Jeni telah tenggelam oleh pesan-pesan lain.
"Sudah 'kan, Pak?" ucap Jeni dengan senyum kemenangan.
Kavin menghela napas, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku lalu menatap ke depan saat Hendry kembali dengan seorang wanita.
"Perkenalkan, ini istri saya tercinta."
Kavin melebarkan mata. Ia tak percaya jika wanita di depannya itu adalah— "Nabila?"
Nabila terdiam membeku. "Kavin?"
-o0o-
__ADS_1