
Part 24
Cuaca pagi ini cukup cerah.
Terlihat sekali jika semua orang tengah bahagia.
Termasuk Bima, yang pagi ini mengajak seseorang untuk bertemu di kafe.
Dari sini, terlihat Bima turun dari mobilnya. Laki-laki itu menatap wajahnya di kaca spion sebelum memasuki kafe. Merapihi rambutnya, dan juga jaket yang ia kenakan.
Dengan tampilan yang cukup menawan. Kaus putih yang dilampisi dengan jaket berwarna army yang membuatnya semakin memukau.
Siapapun yang memandang. Tentu saja akan jatuh hati.
Sebab, memang Bima memiliki visual yang luar biasa.
"Ganteng juga ya gue?"
Bima melebarkan mata.
"Oh iya, dari lahir," ucapnya dengan senyuman miring.
Bima menghela napas dan tersenyum lebar.
Tersenyum manis pada gadis yang berpapasan dengannya.
"Gila! Ganteng banget."
"Kayanya udah punya pacar dia."
Bima tersenyum miring mendengar beberapa ucapan yang keluar dari beberapa gadis itu.
"Ngomongin orang kok kedengeran sampai orangnya."
Bima menggelengkan kepala dan masuk ke dalam kafe tersebut.
'Tring!'
Suara lonceng dari kafe berbunyi saat Bima berjalan memasuki kafe tersebut.
Lelaki itu mengitari pandangannya dan mencari seseorang yang telah menunggunya.
"Mana sih?" lirih Bima seraya mengitari pandangannya. "Gue yang telat, atau dia ang telat." ucapnya sembari mencari keberadaan gadis tersebut.
Senyum Bima melebar saat orang yang ia cari berada di ujung.
"Siska!" teriak Bima saat gadis itu menoleh ke arahnya.
"Bima!" ucap Siska seraya melambaikan tangannya.
Siksa adalah pemilik anjing yang telah Bima tabrak. Setelah membelikan anjing baru kemarin, entah mengapa Bima ingin menemuinya hari ini.
Bima menyunggingkan senyum dan berjalan menghampiri Siksa yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Udah dari tadi?" tanya Bima saat sampai di depan Siksa.
Siksa mengangguk dengan senyuman. "Mungkin setengah jam yang lalu."
Bima terkekeh dan memegang tangan Siksa. "Maaf ya?"
Siska tersenyum dan menatap tangan Bima yang menyentuhnya.
Bima melepas tangannya dari tangan Siska dan meraih daftar menu yang ada di atas meja.
"Kamu udah pesen?" tanya Bima.
Siksa menggeleng. "Aku nunggu kamu."
Bima menyengir kuda dan mengangguk. "Oke, kalau gitu kita pesen pizza aja gimana?"
"Pizza?" Siska menaikkan kedua alisnya.
Bima mengangguk. "Kayanya asik kalau di makan bareng."
Siska tersipu malu. Lagi-lagi gadis itu di buat terbang oleh Bima.
"Astaga Bima, gue baru kenal lo dua hari, tapi kenapa lo semanis ini? Gimana kalau gue jadi pacar lo? Bisa-bisa diabetes gue," ucap Siska dalam hati.
"Mau?" tanya Bima membuat Siska bingung.
Siska mengerutkan kedua alisnya. "Mau?" Siska tersenyum bingung.
"Pizzanya," tutur Bima membuat Siska seakan jatuh dari khayalannya.
"Astaga! Kirain mau jadi pacarnya," umpat Siska dalam hati.
Siska mengulum senyumnya dan mengangguk. "Iya, mau."
"Oke, minumnya samain aja ya?" ujar Bima.
Siska mengangguk. "Iya. Kalau kamu suka, aku juga suka kok."
"Jus Leci suka?" tanya Bima.
Siska mengangguk. "Suka kok."
"Yah, padahal aku gak suka," ucap Bima mengerucutkan bibirnya.
Siska tertawa. "Yaudah, pesen yang kamu suka aja. Kamu sukanya apa?"
"Kamu," ucap Bima membuat Siska terkejut. "Hehe, becanda," lanjut Bima membuat Siska kesal.
Bima terkekeh. "Jangan serius-serius dong. Belum juga makan."
Siska tertawa dan mengangguk. "Enggak kok. Aku juga orangnya suka becandaan."
Bima melebarkan senyumnya dan bersandar di kursi. "Bye the way, kesibukannya ngapain aja?" ucap Bima mencoba mengganti topik.
"Lebih ke bikin konten sih," ucap Siska.
Bima mengerutkan dahinya dan tersenyum. "Kamu conten creator?"
Siska mengangguk dengan senyuman.
Bima terlihat penasaran. "Tentang apa? Musik? Kpop? Kdrama? Food traveler?"
"Lebih ke eksperimen gitu sih," ucap Siska dengan senyuman.
"Waw!" Bima bertepuk tangan. "Suka hal yang menantang ya?"
Siska mengangguk. "Senang aja mencoba hal yang gak kita tahu endingnya. Karena itu lebih menantang."
Bima senyuman dan menatap Siska dengan tatapan menantang.
"Ini yang gue suka," lirih Siska dengan senyuman.
-o0o-
Aji menatap Kana yang tengah mencoba beberapa baju yang telah Kana beli bersamanya kemarin.
"Yang mana ya? Yang ini kecerahan, yang ini terlalu gelap." Kana menghela napas.
"Astaga Kan, lo nyobain baju dari dua jam yang lalu sampai sekarang belum nemu yang mana?"
Kana terkekeh dan menoleh pada Aji yang tengah merebahkan tubuh di kasurnya.
"Gue bingung mana yang Kaila suka."
Aji menggelengkan kepala tak habis pikir. "Kenapa gak lo tanya langsung aja ke dia? Lo fotoin semua baju yang lo pake, lo tanya, mana sayang yang cocok buat aku? Kelar 'kan!"
Kana melebarkan matanya. "Kenapa lo gak bilang dari tadi?"
Aji menghela napas. "Lo aja gak nanya ke gue."
Kana tertawa dan kembali mengambil semua baju yang telah ia masukkan ke dalam lemari. Mencoba satu persatu dan menyerahkan ponsel pada Aji.
"Apa nih?"
"Potoin."
Aji berdecak dan menatap Kana kesal. "Yaudah buruan."
Kana terkekeh dan segera berpose tegap agar baju yang ia kenakan terlihat rapih.
"Lo mau nyobain semuanya?"
Kana mengangguk. "Cuma dua belas doang, kok."
"Dua belas dong? Lo kira itu sedikit?" ucap Aji memutar bola matanya.
"Apa salahnya sih ngebantu sepupu sendiri. Entar kalau lo mau lamar Keiza juga, gue bantuin kok."
"Masalahnya kapan gue lamar Keiza? Gue aja baru nembak dia semalem."
Kana terdiam beberapa saat. "Iya juga, ya."
Aji menghela napas. "Gue juga pengen kali cepet nikah sama dia. Lagipula, walaupun gue sama dia deket baru beberapa hari, tapi gue nyaman banget sama dia. Dia dewasa, perhatian, sayang sama anak kecil, telaten." Aji menoleh menatap jendela. "Calon istri idaman."
Mendengar hal itu, membuat sebuah ide terlintas dalam pikiran Kana. "Gue punya ide!"
Aji menoleh dan menatap Kana bingung.
Kana tersenyum dan mendekat ke telinga Aji.
Mendengar apa yang Kana jelaskan, membuat senyum Aji merekah.
"Lo yakin?" tanya Aji ragu.
Kana mengangguk. "Kenapa enggak?"
Aji tersenyum lebar dan mengangguk. "Gue mau!"
Kana tersenyum puas dan keduanya pun ber-tos ria.
-o0o-
"Gimana? Enak?" tanya Bima yang melihat Siska menghabiskan suapin terakhir pada pizza-nya.
Siska mengangguk. "Gak kalah sama pizza-pizza ternama."
Bima tersenyum. "Aku sering makan pizza disini waktu SMA. Harganya memah murah, tapi rasanya gak murahan!"
__ADS_1
Siska mengangguk. "Bener-bener. Perpaduan saus dan kejunya yang bikin nikmat."
Bima mengangguk setuju. "Sausnya yang gak meragukan."
Siska tertawa. "Kayanya kamu paham banget soal makanan?"
Bima tertawa. "Aku salah satu food lovers. Makanya aku gak kurus."
Siska melebarkan mata dan kembali tertawa. "Tapi aku suka body kamu, gak kurus, gak gendut."
"Ideal?" Bima menaikkan kedua alisnya.
Siska terkekeh dan mengangguk. "Takaran pas!"
"Memang minuman!" ucap Bima membuat Siska tertawa keras.
"Tapi aku suka kenal sama kamu."
Siska mengerutkan kedua alisnya dan mendekatkan wajahnya. "Kenapa?"
Bima tampak berpikir. Laki-laki itu memutar bola matanya mencoba mencari jawaban.
"Kenapa, ih?" tanya Siska penasaran.
Bima mendekat dan berbisik di telinga. "Menyenangkan."
Siska terkekeh, lalu mengaduk minumannya. "Semoga kita bisa semakin dekat."
Bima tersenyum, namun senyumnya perlahan memudar.
"Kenapa?" tanya Siska yang melihat perubahan wajah Bima. "Ada yang salah sama ucapanku?"
Bima menggeleng dan tersenyum. Lalu meraih tangan Siska dan menggenggamnya.
Melihat hal tersebut. Jantung Siska semakin berdegub kencang.
"Aku sebenarnya gak tega mau ngomong ini."
Bima mengucapkan hal itu dan menatap mata Siska.
Siska terdiam dan menunggu Bima melanjutkan ucapannya.
"Aku seneng banget bisa ketemu kamu dan kenal kamu kaya gini. Jujur, aku nyaman banget."
Siska menggigit bibir bawahnya takut. "Duh, kok aku takut ya?"
Bima tersenyum dan mengeratkan genggamannya. "Lusa aku pulang ke Jerman."
Siska melebarkan mata. "Ke Jerman?"
Bima mengangguk membenarkan.
"Secepat itu?" tanya Siska tak habis pikir.
Bima tersenyum dan mengangguk. "Aku harus kembali kesana. Kerjaan aku ada disana. Aku gak bisa lama-lama disini."
"Ta—tapi gimana sama—" Siska menggantungkan ucapannya. "Sama aku," ucapnya dalam hati.
"Gimana sama?" tanya Bima yang masih penasaran dengan ucapan Siska.
"Gimana sama keluarga kamu disini?" lanjut Siska berbohong.
Bima tersenyum. "Mereka ngerti kok. Lagipula aku sebatang kara disini. Mereka bukan keluarga kandung aku. Tapi meskipun begitu, mereka udah aku anggep seperti keluarga kandung."
Siska terdiam. Mendengar ucapan Bima, membuatnya hatinya sedih.
Ia kasihan pada Bima. Ia tak menyangka jika hidup Bima semenyedihkan itu.
"Lalu, kapan aku bisa ketemu kamu lagi?" ucap Siska yang tak bisa menutupinya lagi.
Bima tersenyum dan menggenggam kedua tangan Siska. "Kita pasti bakal ketemu lagi kok."
"Beneran?"
Bima mengangguk.
Siska tersenyum dan mengangguk percaya. "Aku bakal nungguin kamu."
"Serius?" Bima menaikkan kedua alisnya.
Siska mengangguk. "Kalau aku gak sibuk, aku bakal sempetin buat liburan ke Jerman."
Bima melebarkan mata. "Kamu jangan maksain. Aku pasti bakal sering ke Indonesia, kok."
Siska mengangguk. "Gak papa. Aku juga selain bikin koten eksperimen, seneng bikin konten traveler kok."
Bima tersenyum dan menghela napasnya. Laki-laki itu melepas genggamannya dan meraih dompet. Mengeluarkan beberapa uang dan memanggil pelayan.
Ia membayar semua makanan dan minuman yang telah ia pesan, dan menatap Siska. "Aku pergi dulu ya? Hari ini ada acara keluarga di rumah. Jadi harus cepet sampai rumah."
Siska mengangguk. "Acara apa memang?"
"Adik aku dilamar sama pacarnya."
"Waw!" Siska terlihat takjub. "Pasti adik kamu bahagia banget."
Bima mengangguk. "Sangat bahagia. Aku gak pernah liat dia sebahagia ini."
Bima mengangguk dengan senyuman. "Makasih ya? Aku pergi dulu."
Siska mengangguk dan melambaikan tangannya pada Bima.
Setelah lelaki itu menghilang dari pandangan Siska. Siska menatap tangannya dan meletakkan di pipinya.
"Baru kali ini gue jatuh hati sama orang kaya dia." Siska terkekeh dan menggelengkan kepala.
"Aku belum follow instagramnya." Siska meraih ponselnya dan mencari nama Bima disana.
"Bi—ma, Aksa—" Siska melebarkan matanya. "Ketemu!"
Senyum Siska merekah saat akun instagram Bima berhasil ia dapatkan.
Ia pun segera membuka akun itu dan memfollownya.
Tangan Siska men-scroll layar itu untuk melihat semua postingan Bima.
Namun, matanya terhenti pada satu foto.
Ia membuka foto itu dan melihatnya dengan seksama.
Disana, terlihat Bima tengah berfoto di bawah sunset dengan seorang perempuan. Wajah perempuan itu memang tidak terlihat, karena keduanya menatap ke arah lain, dengan Bima yang merangkul pinggangnya.
Siska menggelengkan kepala tak percaya.
Ia pun melihat ke arah tulisan yang berada di sana.
"Meine Liebe?" Siska mengerutkan dahinya dan mencerna kalimat itu. "Artinya 'kan kekasihku?"
Siska menghela napas dan mengepalkan tangannya. "Kurang ajar!" Matanya memerah. Tangannya memanas.
Rasanya ingin sekali Siska memukul wajah Bima sekarang juga.
"Awas lo, Bima! Kurang ajar lo udah permainin perasaan gue!"
-o0o-
Sepanjang perjalanan pulang, Bima terlihat bersiul sembari menikmati udara yang masuk melalui kaca jendelanya.
Lelaki itu menghidupkan musik dan ikut bernyanyi sesuai irama.
"Bye Guys! Hi Ladies! Uhmmmm mwa!"
Bima menggelengkan kepalanya mengikuti irama.
"Jinghan nomdeul nawatda ppara bara bap napareul bureora.."
-o0o-
"Apa?! Melamar?" teriak Anan terkejut.
Aji mengangguk dan menyenggol Kana yang berada di sampingnya.
Kana menghela napas dan mencoba menjelaskan semuanya. "Jadi Om, sebenarnya hari ini Kana sama Mama dan Papa mau melamar pacar Kana. Pasti Om dan Tante udah tahu 'kan orangnya."
Nana mengangguk. "Iya, Tante tahu. Dia 'kan dulu sering kesini waktu masih kerja di Oma."
Kana mengangguk membenarkan. "Nah, niatnya hari ini Kana sama Papa Mama berniat ke rumah Kaila untuk bertemu orangtuanya."
"Lalu hubungannya sama Aji? Aji mau melamar Kaila juga?" tanya Anan tak mengerti.
Aji memukul dahinya. "Bukanlah, Pa!"
"Terus?"
Kana menghela napas dan tersenyum. "Jadi Om, Aji itu punya pacar."
"Iya, terus?" Anan menaikkan kedua alisnya.
"Nah, pacar Aji itu kakaknya Kaila. Namanya Keiza," ucap Kana.
"Heem. Terus?" tanya Anan lagi. Di ikuti anggukan oleh Nana.
"Jadi, Aji berniat mau lamar Keiza juga bareng Kana."
"Malam ini?" tanya Nana terkejut.
Aji mengangguk dengan cengiran kuda.
"Astaga Aji! Kenapa mendadak? Mama sama Papa belum mempersiapin apa-apa!" Nana menoleh pada jam yang melingkar di tangannya. "Lihat, ini udah jam Empat sore. Tinggal hitungan jam lagi, Aji."
Aji mengangguk. "Iya, Ma, Pa. Aji ngerti. Tapi Mama sama Papa tenang aja. Aji udah siapin semuanya kok. Dari cincin, hantaran dan baju untuk Mama Papa udah Aji siapin semuanya."
"Kapan kamu siapin semua itu?" tanya Nana bingung.
"Tadi," ucap Aji lalu menoleh pada Kana.
Anan menghela napas dan tersenyum. "Oke! Kalau semuanya udah siap, Papa sama Mama ya gak bisa berkata apa-apa lagi. Kami ikuti gimana mau kamu. Yang penting apa yang kamu pilih sekarang bisa bikin kamu bahagia."
Nana mengangguk setuju. "Mama sama Papa gak bisa berkata apa-apa lagi. Jadi, lanjutin aja gimana mau kamu. Kita ikutin."
Aji mengangguk dan memeluk kedua orangtuanya. "Makasih, Ma, Pa. Apa yang Aji pilih ini, beneran bisa bikin Aji bahagia kok."
__ADS_1
Nana mengangguk dan mengusap kepala Aji. "Mama sama Papa dukung kamu."
Melihat pemandangan itu, membuat Kana tersenyum. "Akhirnya, idenya membuahkan hasil."
-o0o-
Waktu terus berputar.
Langit malam mulai memperlihatkan batang hidungnya.
Di sebuah rumah, terlihat sebuah keluarga telah berkumpul.
"Kak," lirih Kaia seraya menyentuh tangan Keiza.
Keiza menoleh dan menaikkan kedua alisnya.
"Deg-degan."
Keiza terkekeh dan menggenggam tangan Kaila. "Aku tahu gimana perasaan kamu." Keiza tersenyum dan mengeratkan genggamannya pada tangan Kaila.
Kaila tersenyum. "Kak, aku duluan gak papa 'kan?"
Keiza terkekeh. "Gak papa, sayang. Aku gak papa kok kamu nikah duluan. Itu artinya kamu lebih dulu menemukan kebahagiaan kamu."
Kaila tersenyum. "Tapi kakak juga 'kan udah nemuin kebahagiaan kakak juga."
Keiza tersenyum.
"Ngomong-ngomong, Aji udah hubungin kakak?"
Keiza menggeleng. "Dia belum hubungin kakak hari ini. Padahal kakak kangen pengen denger suara dia. Bahkan di rumah sakit tadi pun, dia gak dateng." Keiza menghela napas dan menatap Kaila. "Dia gak mainin kakak 'kan?"
Kaila tertawa. "Ya enggaklah! Aji itu orangnya setia, Kak. Dia itu cowok baik-baik. Gak mungkin dia mainin kakak. Memangnya Kak Bima," ucap Kaila seraya menoleh pada laki-laki yang saat ini tengah memainkan ponselnya.
Keiza tertawa. "Hush!"
"Memang iya 'kan? Bima itu dari dulu gak tobat mainin cewek, Kak. Tau deh, sampai kapan dia tobat."
"Tapi dulu waktu deket sama kamu, gak gitu 'kan?"
Kaila menggeleng. "Sebentar tapi. Abis aku jadian sama Kana, dia kumat lagi."
Keiza tertawa dan menoleh pada Bima.
Kaila menghela napas panjang dan menoleh pada jam yang terus berdenting di dinding. "Semakin deg-degan."
Saat ini keluarga Angga sudah berkumpul di ruang tamu sembari menunggu keluarga Kavin datang.
Angga dan Bima sudah terlihat rapih dengan kemeja batik yang membuat mereka terlihat gagah dan juga tampan.
Jika diperhatikan, Angga memang masih terlihat tampan. Lelaki berusia 54 tahun itu masih terlihat gagah dan tampan. Jika kembali ke masa lalu, Angga merupakan salah satu most wanted di kampusnya tepatnya di Jakarta dulu.
Namun setelah menyelesaikan pendidikannya di Jakarta, ia kembali ke Jogja untuk bekerja dan menikah dengan Nabila di usianya yang baru genap Dua puluh empat tahun.
Tentu saja karena perjodohan yang orangtuanya berikan.
Meskipun demikian, tak ada penyesalan baginya telah menerima perjodohan itu. Walaupun ia sadar, ia telah gagal menjadi suami bagi Nabila. Namun ia berusaha akan menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya, termasuk Bima dan Kiara yang bukan darah dagingnya.
"Keren gak, Pa?" tanya Bima di sampingnya yang menunjukkan sebuah foto padanya.
Angga mengerutkan dahinya dan mendekat ke ponsel itu. "Itu kamu?"
Bima mengangguk. "Ganteng gak?" Bima menaikkan kedua alisnya.
"Ganteng!" ucap Angga.
Bima terkekeh. "Iya dong, kaya Papa Angga!" ucapnya membuat Angga tertawa.
"Papa dulu primadona kampus lho!" bisiknya.
"Oh ya?" Bima menaikkan kedua alisnya.
Angga mengangguk.
Bima tersenyum takjub. "Pantes aja sekarang masih keren!"
"Ah, kamu ini bisa aja!" ucapnya tertawa.
"Ngomongin apa sih, Pa?" tanya Kiara yang sedari tadi memperhatikan kedua pria itu.
"Obrolan pria. Gak boleh tau!" ucap Bima membuat Kiara merengut kesal.
'Tok! Tok! Tok!'
Kaila melebarkan mata dan mengeratkan genggamannya pada Keiza.
"Itu kayanya mereka." Angga bangkit berdiri untuk membukakan pintu.
"Biar Bima aja, Pa." Bima sudah lebih dulu bangkit dan berjalan menuju pintu.
Semuanya tersenyum gugub sembari menunggu Bima membukakan pintu.
"Kana, lo harus berterima kasih. Gue udah bukain pintu untuk lo," lirih Bima meskipun tak terdengar oleh siapapun.
'Ceklek!'
Senyum bahagia merekah pada wajah mereka saat pintu terbuka dan menampilkan wajah-wajah yang telah di tunggu.
Namun, ada hal yang membuat keluarga Angga janggal.
"Kak, kok ada orang lain?" bisik Kiara pada Keiza.
Keiza menggeleng.
Tunggu!
Mereka siapa? Siapa yang bersama orangtua Kana?
Kaila melebarkan mata dan memegang lengan Keiza. "Itu Om Anan sama Tante Nana."
Keiza mengerutkan dahinya. "Siapa?"
Keiza tak mengenalnya, dan juga belum bertemu dengan mereka sebelumnya. Tentu saja hal itu membuat Keiza bingung.
"Itu orangtuanya Aji."
Keiza melebarkan mata dan terbatuk.
"O— orangtuanya Aji?"
Kaila menggangguk.
Benar apa yang Kaila katakan. Orangtua Kana datang bersama orangtua Aji.
"Selamat malam," ucap Kavin pada Angga.
Angga tersenyum pada Kavin. "Silahkan duduk, Pak Kavin." Angga tersenyum dan menoleh pada laki-laki di samping Kavin.
"Anan?"
Anan tertawa dan bangkit berdiri untuk memeluk Angga.
"Hah? Mereka kenal?" ucap Keiza bingung.
Kaila menggeleng tak tahu.
"Loh, kalian berdua sudah kenal?" tanya Kavin.
Anan tertawa. "Ini Angga. Dulu satu kampus sama aku waktu di Trisakti. Satu organisasi malah ya, Ngga?"
Angga mengangguk membenarkan. "Makanya aku tadi kaya gak asing gitu pas Anan masuk. Kaya kenal gitu."
Kavin tertawa. "Aku juga bingung tadi, kok Anan nyengar-nyengir pas masuk. Ternyata oh ternyata."
"Jadi? Kita mau besanan nih?" ucap Anan diiringi gelak tawa.
Angga terlihat bingung. "Jadi ini yang mau nikah—?" Angga sungguh terlihat bingung.
Kavin terkekeh. "Oke! Kita bikin santai ajalah ya! Gak usah tegang dan formal gitu."
Semuanya mengangguk setuju.
"Ini aku jadi yang ngomong ya?" ucap Kavin pada Anan.
Anan mengangguk dan menyerahkan semuanya pada Kavin.
Kavin terkekeh dan menghela napas. "Duh, deg-degan malah."
Semua tertawa.
Kavin tersenyum dan melanjutkan ucapannya. "Jadi gini Pak Anan." Kavin mengerutkan dahinya. "Kok Pak Anan sih?"
"Pak Angga, maksdunya?" ucap Angga.
Kavin mengangguk. "Haduh malah saya yang gugub, 'kan."
"Udahlah, saya aja yang ngomong," ucap Anan mengambil alih.
Semua mengangguk dan menunggu Anan memulai bicara. "Jadi gini, Angga. Saya orangtua Aji. Nah, Aji ini pacarnya Keiza. Dan Kavin selaku orang itu Kana. Nah, Kana ini pacar Kaila." Angga memberi jeda sebentar pada ucapannya. "Maksud dan tujuan saya bersama istri dan anak saya, serta Kavin bersama istri dan anaknya, berniat baik untuk meminang anak Angga. Si Kaila dan Keiza."
Keiza melebarkan matanya terkejut. Tentu saja ia bahagia.
"Kak," bisik Kaila. "Kejutan yang luar biasa."
Keiza mengangguk, tersenyum haru dan memeluk Kaila.
"Sebenarnya ini terlihat mendadak, tapi jika sudah cinta, apa boleh buat. Betul 'kan?" ucap Anan.
Angga mengangguk setuju. "Tapi jujur, saya memang terkejut. Tapi bahagianya luar biasa! Akhirnya kedua putri saya dilamar sama orang-orang hebat seperti anak kalian."
Kana dan Aji tersenyum malu. Keduanya saling memandang dan ber-tos ria.
"Jadi tujuan kami untuk meminang anak Angga, diterima?" tanya Anan.
Angga menoleh pada kedua anak gadisnya. "Semua anak di tangan kalian berdua, gimana? Diterima gak?"
Kaila dan Keiza saling memandang dan mengangguk bersama.
"Alhamdulillah."
Semua tersenyum lega dan di iringi tawa bahagia.
__ADS_1
-o0o-