
Part 8
"Lo gak tahu kalau gue bisa baca perasaan orang?" tanya Bima seraya menaikkan kedua alisnya.
"'Kan gue udah bilang sama lo, gue gak tahu dan gak mau tahu tentang lo!"
"Kalau tentang itu?" Bima menunjuk seseorang di belakang Kaila.
Kaila mengerutkan dahinya dan menoleh. "Astagfirullah!" ucap Kaila yang terkejut melihat Kana berada di belakangnya dan menatapnya datar.
"Mau pulang bareng gue?"
"Eh—em!" Bima berdeham mendengar pertanyaan Kana yang menawari Kaila untuk pulang bersama. "Zel, lo gak mau pulang bareng dia?" tanya Bima pada Kaila seraya melirik Kana.
Kaila menggeleng. "Enggak!"
"Yaudah kalau lo gak mau!" ucap Kana dan berlalu pergi.
"Rasain! Rasain lo!" ejek Bima di telinga Kaila setelah Kana berlalu pergi meninggalkan keduanya.
"Apa sih?!" ucap Kaila risih terhadap Bima.
Bima tersenyum dan meraih tangan Kaila. "Ikut gue aja yuk?"
"Ke— kemana?"
"Udah ikut aja. Ntar lo juga bakal seneng!" ucap Bima dan menarik tangan Kaila menuju parkiran.
-o0o-
Kana meraih helm dan mengenakan di kepalanya. Tangannya mengepal saat sepasang muda-mudi yang berjalan melewatinya dan menuju parkiran mobil.
"Jadi lo lebih suka naik mobil daripada naik motor?" lirih Kana saat melihat gadis yang tengah menjadi pusat perhatiannya memasuki mobil bersama laki-laki yang sudah cukup ia kenal lama.
"Oke, liat aja nanti," lirihnya lalu mengaitkan pengait helm dan mulai melajukan motornya keluar dari area sekolah.
-o0o-
"Lo sebenarnya mau ajak gue kemana sih?" tanya Kaila yang sudah berada di dalam mobil Bima.
"Udah diem aja. Nanti juga lo tahu sendiri."
Kaila berdecak. "Gak guna emang nanya sama lo."
Bima tersenyum miring dan melajukan mobilnya keluar dari area sekolah.
"Bye the way, lo tinggal dimana?" tanya Bima yang sepertinya ingin tahu semua tentang Kaila.
"Di tempat yang bisa di tinggalin!"
Bima memutar bola matanya. "Nenek gue juga tahu kali kalau lo tinggal di tempat yang bisa di tinggalin."
"Yaudah, lo nanya Nenek lo aja, gak usah nanya gue." Kaila melipat kedua lengannya di depan dada.
"LO KIRA LO TINGGAL SERUMAH SAMA NENEK GUE? HA?" pekik Bima membuat Kaila menutup telinganya tak tahan.
"Berisik banget tahu gak! Mulut atau toak tahu bulat sih?"
Bima tertawa, namun tetap fokus dengan kemudinya.
"Pokoknya lo harus turunin gue di Jalan Mawar," ucap Kaila.
Bima menoleh. "Itu rumah lo?"
Kaila menggeleng.
"Terus?"
Kaila berdecak. "Kenapa sih lo kepo amat jadi orang?"
"Lah? Emang salah?"
"Bodo amat! Kesel gue sama lo. Perasaan kita gak pernah deket, tapi kenapa sih lo tiba-tiba muncul aja di depan muka gue?"
Bima tersenyum miring dan menghentikan laju mobilnya. "Lo pikir gue kaya gini karena gak ada alesannya?"
Kaila terdiam. "Jadi apa alasan lo?"
__ADS_1
"Ya karena gue pengenlah!" jawab Bima dan turun dari mobil.
"Ih, Bima! Ngeselin banget sih lo!" Kaila menghela napas kesal dan menyadari jika ia berhenti tepat di depan Sekolah Dasar.
"Bima ngapain masuk ke situ?" lirihnya saat melihat Bima memasuki gerbang.
Tak lama, laki-laki berpostur tinggi itu kembali dengan bersama seorang anak kecil yang menggunakan seragam merah putih.
'Ceklek!'
Pintu belakang terbuka membuat Kaila menoleh ke belakang. Senyumnya mengembang saat melihat seorang gadis kecil masuk dan duduk tepat di belakangnya.
"Hai, cantik! Namanya siapa?" Kaila tersenyum menatap gadis kecil yang terlihat cantik dengan rambut yang di ikat di kedua sisi.
Gadis kecil itu tersenyum. "Namaku Kiara."
"Kaira?"
"Kiara, kakak!" pekik gadis kecil tersebut.
"Budek, budek," lirik Bima yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Kiara?" tanya Kaila terkejut.
"Kenapa emang?" tanya Bima yang tengah memasang safety belt.
Kaila menggeleng. "Gak papa. Cantik aja namanya."
Bima tersenyum. "Gue pikir, lo terpesona dengan namanya."
Kaila terkekeh. "Bye the way, adik lo kelas berapa?" tanyanya.
Bima menoleh ke belakang. "Kiara kelas berapa, Dek?"
"Satu, kakak!" jawab Kiara kesal membuat Kaila dan Bima terkekeh.
"Aneh ya Dek, masa kakak sendiri gak tahu adeknya kelas berapa," ucap Kaila mencoba memanasi Kiara.
Kiara mengerucutkan bibirnya dan mengangguk.
"Kiara ngambek ya sama Kak Bima?" tanya Kaila yang langsung mendapat tatapan tajam dari Bima.
"Hah? Masa iya? Kok Kak Bima jahat banget sih? Ih, bikin Kak Kaila takut."
Kiara mengangguk. "Kemaren aja Kiara gak di jemput sama Kak Bima."
Kaila melebarkan matanya. "Beneran? Kok tega banget sih Kak Bima."
"Panasin teros! Panasin aja teros!" sindir Bima membuat Kaila terkekeh.
"Nanti kalau Kak Bima nakal, bilang aja ya sama Kak Kaila, nanti Kakak marahin dia."
Bima tersenyum mendengar ucapan Kaila. "Lo punya adik?"
Kaila menoleh dan mengangguk.
"Umur berapa?"
"Empat belas tahun," jawab Kaila. "Mungkin," lanjutnya dengan sangat lirih.
"Udah besar dong. Pasti sering ribut sama lo," ucap Bima membuat Kaila tersenyum tipis.
Senyum tipis yang mengatakan jika ia amat merindukan adiknya yang mungkin sekarang sudah besar.
"Oh ya, lo siang ini gak ada jadwal kemana-mana 'kan?"
"Ada!" ucap Kaila.
"Kemana?"
"Pokoknya lo anterin gue ke jalan Mawar no 9. Gue mau turun di sana."
Bima mengerutkan dahinya. "Emangnya tempat apa sih itu?"
Kaila berdecak. "Udah lo jangan banyak tanya, tinggal turunin gue, dah, kelar!"
"Yah, jadi Kak Kaila mau langsung pulang? Gak main dulu sama Kiara?" tanya Kiara dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
Kaila tersenyum dan mengusap lembut jemari Kiara. "Kapan-kapan kita main lagi ya? Nanti kalau kakak gak sibuk, oke?"
Kiara mengangguk. "Oke!"
"Emangnya lo mau ngapain sih?" tanya Bima dengan mata yang fokus ke depan.
Kaila menghela napas. "Gue kerja part time."
'Chit!'
Bima mengerem mendadak membuat Kaila dan Kiara terkejut.
"Lo seriusan?" tanya Bima tak percaya.
"Kenapa gue harus bohong?" tanya Kaila dengan wajah datar.
Bima menggeleng. "Ya, maksudnya aneh aja gitu, cewek cantik kaya lo mau kerja."
Kaila tersenyum miring. "Cantik bukan alasan seseorang gak bisa kerja."
Bima mengangguk. "Bener sih kata lo. Cuma, gue salut aja gitu sama lo."
Kaila tertawa. "Gak ada yang perlu di salutin dari seorang gue." Kaila meraih tasnya. "Beberapa meter lagi berhenti ya."
"Dimanaan?" tanya Bima tak paham.
"Itu, yang ada plang Raisa cookies."
Bima membulatkan bibirnya lalu berhenti tepat di depan ruko Raisa.
Kaila mengenakan tasnya dan menoleh pada Kiara. "Kiara, Kakak pergi dulu ya? Dadah!"
"Dadah, Kakak! Besok Kakak jemput Kiara lagi ya?" ucap Kiara dengan senyuman.
Kaila tersenyum memberi rasa lega pada gadis itu.
"Lo," ucap Bima membuat Kaila menoleh. "Gak pamit sama gue?" lanjutnya.
Kaila terkekeh. "Thanks tumpangannya," ucapnya lalu turun dari mobil.
"Dadah, Kak Kaila!" teriak Kiara.
"Dadah, Kiara!" jawab Kaila tak kalah bahagia.
Senyumnya menghilang setelah mobil yang dikendarai Bima menghilang dari pandangannya.
Ia membenarkan posisi tas dan memasuki bangunan berwarna hitam dan kuning tersebut.
"Assalamualaikum," lirihnya dan berjalan melewati para pengunjung toko kue ini.
"Kaila!" teriak Susi membuat Kaila menoleh dan menghampirinya.
"Kenapa ya, Mbak?" tanyanya.
"Kamu dapet orderan dari orang penting. Tapi dia mintanya kamu yang kirim ke sana," ucap Susi.
Kaila mengerutkan dahinya. "Siapa, Mbak?"
"Cucunya Oma Raisa."
Kaila melebarkan mata. "Kana?"
Susi mengangguk dan meraih beberapa plastik. "Ini, punya Kana. Kamu harus anterin ke sana duluan. Pokoknya gak boleh sampai telat semenit pun."
Kaila mengangguk dan meraihnya.
"Dan ini, ini untuk Aji."
"Aji?" tanya Kaila.
Susi mengangguk. "Kalau Aji ini, Oma yang nyuruh." Susi mendekatkan bibirnya ke telinga Kaila. "Pokoknya Aji ini yang harus kamu kasih dengan penuh spesial. Mengerti?"
Kaila mengangguk. "I-iya, Mbak."
Susi tersenyum dan meninggalkan gadis itu.
Kaila mengangkat dua kantong plastik di tangannya. "Satu kasih ke Kana dan gak boleh telat semenit pun. Sedangkan satunya lagi kasih ke Aji dengan penuh spesial." Kaila menghela napas. "Kenapa berat semua sih?"
__ADS_1
...-o0o-...