KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 32


__ADS_3

Part 32


Setelah pertemuannya dengan Nabila Dua minggu yang lalu, kini Kavin tak pernah lagi bertemu dengan mantan kekasihnya tersebut. Hal itu karena Hendry yang tak lagi mengajak Nabila dan mereka juga lebih sering melakukan meeting via zoom.


"Yang, sini geh!" seru Alina.


Kavin menoleh dan menghampiri istrinya yang sedang memilih buah-buahan untuk di bawa pulang.


Ya, saat ini keduanya tengah berada di sebuah swalayan. Tadi, sehabis menjemput Alina berjumpa dengan para penggemar, Kavin pun langsung mengantarkan istrinya ke sebuah swalayan yang kebetulan tak terlalu jauh dengan rumah mereka.


"Kenapa Yang?" tanya Kavin pada istrinya tersebut.


"Mau buah apa?" Alina meraih keranjang di bawahnya dan hendak memilih beberapa buah untuk di bawa pulang.


Kavin mengedarkan pandangan. "Apel enak, pir juga enak, pisang juga enak. Ah itu!" Kavin menunjung buah yang berada di paling ujung. "Mangga!"


"Mau mangga, apel, pir, apa pisang?" tanya Alina bingung.


"Dah ambil semua aja. Biar gak pusing," ucap Kavin yang membuat Alina terkekeh.


Alina menggelengkan kepala dan langsung memilih buah yang Kavin maksud. "Aku pilih yang seger ya?"


Kavin mengangguk mengiyakan. "Aku ke kamar mandi bentar ya?" ucap Kavin yang terlihat sudah tak tahan untuk buang air.


"Jangan lama-lama tapi ya?" ucap Alina.


"Siap!" seru Kavin dan berjalan mencari toilet.


Untunglah laki-laki itu langsung melihat ruangan kecil yang berada di ujung. Ia segera berlari dan memasuki ruangan yang bertuliskan 'TOILET' tersebut.


Setelah lega membuang air, Kavin segera merapihkan bajunya dan berjalan keluar.


"Hampir aja kencing di celana. 'Kan gak lucu."


"Kavin."


Kavin tersentak dan refleks mundur beberapa langkah. "Nabila? Kamu ngapain disini?"


Nabila tersenyum. "Aku gak sengaja liat kamu sama Alina tadi. Jadi aku ikutin kamu kesini."


Kavin melebarkan mata. "Tapi—"


"Aku tahu kamu takut Alina lihat 'kan?" Nabila tersenyum. "Kamu tenang aja. Aku nemuin kamu bukan untuk merusak rumah tangga kalian. Tapi aku mau minta tolong sama kamu."


Kavin mengerutkan dahinya. "Minta tolong apa?"


Nabila menoleh ke sekeliling. Ia hendak memastikan jika tidak ada yang mengenalnya.


"Minta tolong apa?" tanya Kavin tak sabar untuk segera menghindari wanita di hadapannya.


Nabila diam. Ia sebenarnya ragu untuk mengatakan ini. Namun hanya Kavinlah yang bisa menolongnya saat ini.


"Kalau gak ada yang mau di omongin, aku mau nemuin istri aku," ucap Kavin dan berlalu pergi.


"Tolong fitnah suami aku!" ucap Nabila membuat Kavin menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Kavin menoleh pada wanita itu dan menatapnya tak mengerti. "Maksud kamu?"


Nabila mengangguk. Ia mendekat pada Kavin. "Tolong fitnah suami aku. Tolong buat dia masuk penjara."


"Kamu gila?!" pekik Kavin tak habis pikir.


Beberapa pengunjung menoleh ke arah keduanya setelah mendengar suara Kavin.


Nabila meraih lengan Kavin memohon. "Tolong selamatin aku. Tolong selamatin aku dari laki-laki itu, Kavin."


Kavin menggeleng tak percaya. "Aku gak ngerti maksud kamu, Bil."


"Kamu akan ngerti setelah kamu dengerin penjelasan dari aku. Jadi tolong Vin, bantu aku."


Kavin terlihat bingung. Ia tak mengerti dengan wanita di hadapannya.


Nabila kembali meraih lengan Kavin. "Tolong."


"Sayang!" teriak seorang wanita membuat Kavin melebarkan mata. Itu adalah suara Alina. "Sayang, kamu ngapain di—" Alina menatap wanita di samping suaminya. "Nabila?"


Nabila menggigit bibir bawahnya dan menunduk.


Kavin meraih lengan istrinya. "Sayang, aku—"


Alina mengangguk. "Ayo pergi."


Nabila menoleh dan memandang sepasang suami istri di hadapannya.


Alina tersenyum pada Nabila. "Kami pergi dulu ya?" ucapnya dan mengajak Kavin untuk meninggalkan tempat ini.


Alina mengangguk. "Gak usah kamu jelasin, aku tahu itu Nabila." Alina tersenyum dan berjalan menuju mobil.


"Kamu gak jadi beli buah?" tanya Kavin melihat istrinya sudah masuk ke dalam mobil.


Alina tak mendengarkan. Wanita itu sudah berada di dalam dan duduk di kursi belakang.


Kavin berdecak dan ikut masuk ke kursi belakang. "Kamu ngambek?"


Alina menggeleng tanpa memandang suaminya.


"Kamu ngambek 'kan?"


"Enggak. Aku gak ngambek. Lagipula kita juga udah tua, ngapain ngambek-ngambekan." Alina menatap Kavin kesal seraya melipat kedua lenganya di depan dada.


Kavin mengacak rambutnya frustasi. "Udah, aku udah yakin, kamu pasti marah karena aku gak sengaja ketemu Nabila."


Alina tak mendengarkan. Wanita itu meraih earphone dan menyumpalkan di telinga.


"Kamu marah 'kan?" tanya Kavin sekali lagi.


Alina berdecak dan mendorong pelan lengan Kavin. "Udah kamu ngapain disini. Kamu 'kan yang nyetir mobil."


Kavin menggeleng. "Enggak, aku gak mau nyetir mobil kalau kamu marah sama aku."


Alina berdecak dan melepas earphone dari telinganya. "Yaudah aku aja kalau kamu gak mau nyetir!" ucap Alina dan bangkit untuk keluar.

__ADS_1


"Enggak!" Kavin menarik lengan hingga istrinya kembali terduduk.


Alina sedikit kaget dengan perlakuan Kavin. Suaminya itu benar-benar membuatnya semakin emosi.


"Aku gak mau kita pulang dengan masalah. Kita selesain semuanya disini," ucap Kavin.


Alina menghela napas dan memandang suaminya. "Apa yang mau di selesain?"


"Kamu marah 'kan karena aku gak sengaja ketemu Nabila di belakang? Iya 'kan?" tanya Kavin menatap mata istrinya.


Alina menghela napas dan mengangguk. "Aku bukan marah. Tapi aku takut kamu beralih lagi sama perempuan itu."


Kavin menggeleng tak percaya. "Aku gak mungkin beralih sama dia, sayang. Aku udah gak ada rasa lagi sama dia. Lagipula semuanya udah berlalu puluhan tahun. Gak mungkin aku bakal beralih sama dia."


"Meskipun dia masih berharap sama kamu?"


Kavin mengangguk. "Aku cuma sayang sama kamu, sama Kana. Gak mungkin aku beralih sama dia."


Alina menyunggingkan senyumnya dan menoleh ke arah lain.


"Kamu gak marah lagi 'kan?" tanya Kavin dengan lembutnya.


Alina diam. Pipinya tengah merona kali ini.


"Sayang," panggil Kavin seraya mengalungkan lengannya di pundak istrinya. "Kamu gak marah lagi 'kan?"


Alina menoleh dan menggelng.


Kavin tersenyum dan memandang istrinya lekat. Senyum keduanya merekah saat keduanya saling menatap. Suami istri itu benar-benar seperti remaja yang sedang kasmaran.


Alina mengerucutkan bibirnya. "Jangan—"


'Cup!'


"Gak akan!" ucap Kavin yang baru saja mencium pipi istrinya.


"Aku belum selesai ngomong, Kavin!" pekik Alina membuat Kavin tertawa.


"Yaudah yuk pindah ke depan," ajak Kavin.


Alina menggeleng. "Kamu aja. Aku udah nyaman di belakang," ucap Alina membuat Kavin terkekeh.


"Yaudah, aku depan ya?" ucapnya.


Alina mengangguk dengan senyuman.


Kavin terkekeh dan turun dari mobilnya untuk pindah ke depan. Namun saat ia turun dan menoleh ke sisi kanannya, ia melihat Nabila tengah menatapnya seperti memohon.


Kavin tak tahu harus bagaimana. Laki-laki itu segera masuk ke ke dalam dan mulai mengemudikan mobilnya.


Meskipun terlihat fokus mengemudi, sebenarnya Kavin tengah memikirkan ucapan Nabila tadi.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama rumah tangganya?" ucap Kavin bergelut dengan pikirannya.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2