KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 44


__ADS_3

Part 44


"Kaila! Hari ini hari terakhir kita di sini, kok lo gak semangat gini sih?"


Elsa memandang wajah Kaila yang terlihat sedih.


Kaila tersenyum tipis dan menggeleng. Ia menatap sekeliling memandang sekolahnya tersebut. "Gue gak papa kok."


"Lo ada masalah?" Elsa mendekatkan wajahnya pada Kaila. Memastikan jika sahabatnya tersebut baik-baik saja.


Kaila menunduk lalu menegakkan wajahnya memandang Elsa. "Kana gak ada kabar."


Elsa melebarkan matanya. "Ma—maksud lo?"


Kaila menelan salivanya dengan susah payah. "Nomor dia gak aktif."


"Lo udah coba ke rumahnya?"


"Belum."


Elsa tersenyum. "Mungkin aja dia lagi sibuk, makanya belum sempet kabarin lo. Ya 'kan? Bisa jadi 'kan?"


Kaila mengganguk. "Iya sih."


Elsa kembali menyunggingkan senyumnya lalu meraih tangan Kaila. "Yaudah, ayo pake topengnya! Jangan sampai mereka liat muka kusut lo ini."


Kaila mengangguk dan mengenakan topengnya. "Udah." Kaila menyunggingkan senyumnya setelah topeng cantik berwarna ungu terpasang di wajahnya. Menyisahka hidung mancung dan juga bibir mungilnya disana.


"Ayo kesana!" seru Elsa.


Kedua gadis itu memasuki Aula yang sudah di hias semegah mungkin.


Acara malam ini terlihat meriah. Beberapa dari kelas 12 sudah memasuki ruangan Aula untuk menyerahkan secret letter dan mencari pasangan masing-masing.


Pesta topeng kali ini berbeda dengan pesta topeng lainnya. Sebelumnya, mereka sudah diberi bocoran tentang siapa nama samaran pasangan mereka nanti. Namun, mereka sendiri belum diberi tahu siapa nama samaran mereka. Karena itu, sebelum mereka memasuki ruangan, mereka akan di perintahkan untuk menyerahkan secret letter masing-masing, lalu panitia akan memberitahu nama samaran mereka.


"Menurut lo, nama samaran gue apa ya, Kai?" tanya Elsa.


"Sugar Mommy?"


"Hah?" Elsa mengerutkan dahinya.


"'Kan pasangan lo namanya Sugar Daddy, ya kali aja nama samara lo Sugar Mommy," ucap Kaila dengan polosnya.


Elsa tertawa terbahak-bahak mendengar Kaila mengatakan hal tersebut. "Ya kali, Kai."


Kaila terkekeh lalu melanjutkan langkahnya.


"Selamat datang Kak, boleh liat secret letternya?" ucap panitia saat Kaila dan Elsa hendak memasuki ruangan.


Kaila mengangguk dan menyerahkannya.


Panitia itu tersenyum setelah membaca secret letter milik Kaila. "Selamat datang Pemeran Utama."


Kaila terbatuk. "Pemeran Utama?"


Panitia itu mengangguk dengan senyuman. "Nama samaran Kakak Pemeran Utama," ucapnya seraya menyerahkan sebuah pin bertuliskan namanya. "Jangan lupa di pasang di baju ya, Kak."


Kaila meraih pin itu dan menganggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. "Pemeran Utama?" lirih Kaila. "Terus kenapa pasangan gue pemeran pengganti?" lirih Kaila penuh tanya.


"Ayo, Kai!" seru Elsa yang mengajak ke dalam.


Kaila menoleh. "Lo udah tahu nama samaran lo?"


Elsa mengangguk.


"Apa?"


Elsa mendekatkan bibirnya ke telinga Kaila. "Crazy Girl."


Kaila tertawa mendengar nama samaran Elsa .

__ADS_1


"Tuh 'kan, ngejek."


"Sorry, sorry, sorry," ucap Kaila tertawa.


"Lo Putri Tidur bukan?" tanya seseorang laki-laki yang berjalan menghampiri Kaila.


Kaila menggeleng. "Bu—bukan. Gue bukan Putri Tidur."


"Sorry, gue pikir lo Putri Tidur," ucap laki-laki itu lalu berjalan pergi.


Kaila menghela napas panjang. "Seribet itu ya El, cari pasangan."


Diam, tak ada jawaban.


Kaila menoleh, mengitari pandangannya mencari sahabatnya tadi. "Elsa kemana?"


"Kaila!"


Kaila menoleh pada sumber suara.


"Sorry, gue udah nemuin Sugar Daddy gue!" teriak Elsa membuat beberapa orang yang berada di sekitarnya menoleh.


"Lo Kaila?" tanya seseorang di sampingnya.


Kaila menoleh. "Lo?" Kaila menfokuskan pandangannya menatap gadis yang berdiri di hadapannya. "Adinda?"


Gadis itu mengangguk, lalu memeluk tubuh Kaila.


Kaila terdiam melihat Adinda yang memeluknya sangat erat.


"Kai." Adinda melepas pelukannya dan memandang wajah Kaila. "Gue minta maaf kalau selama ini terlihat gak suka sama lo. Memang, gue memang gak suka sama lo, karena lo udah rebut Kana dari gue. Tapi— gue sadar Kai, mau berjuang sampai kapanpun Kana gak bisa jadi milik gue."


"Din?" Kaila menatap Adinda tak mengerti.


Adinda meraih tangan Kaila. "Gue sakit, Kai. Gue gak tahu sampai kapan gue bisa bertahan."


Kaila mengerutkan dahinya memandang gadis itu. Dugaannya selama ini ternyata benar.


"Din, lo!" ucap Kaila terkejut.


Adinda menyeka darah dari hidungnya dan menggeleng dengan senyuman. "Lo gak usah panik. Ini udah biasa buat gue."


Kaila menatap Adinda tak tega. Gadis di hadapannya terlihat lemah.


Adinda menyumpal hidung dengan tangannya. "Gue pergi dulu," ucap gadis itu dan berlalu pergi.


"Adinda!" teriak Kaila memandang punggung Adinda yang mulai menjauh. Tubuhnya gemetar. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi barusan.


"SELAMAT MALAM SEMUANYA!"


Kaila menoleh saat seorang telah berdiri di atas panggung, menandakan acara akan segera di mulai.


Kaila merapihkan topengnya dan berjalan menuju keramaian.


'Brugh!'


Kaila tertabrak seseorang membuat tubuhnya terjatuh.


"Sorry, sorry, gue gak sengaja," ucap seseorang yang telah menabraknya tadi seraya mengulurkan tangannya membantu Kaila untuk bangkit.


Kaila terdiam. Bukannya meraih tangan itu. Ia malah memandang sebuah pin yang terpasang di jas laki-laki yang menabraknya barusan.


"Pemeran Pengganti?" ucapnya membaca nama itu.


"Hah?"


Kaila menggeleng. Ia meraih tangan itu dan bangkit berdiri. Ia membenarkan bajunya dan tersenyum pada laki-laki di hadapannya.


"Jadi lo Pemeran Utama?" ucap laki-laki itu memandang pin yang terpasang di baju Kaila.


Kaila mengerutkan dahinya. Tangannya melepas topeng yang terpasang di wajah laki-laki itu.

__ADS_1


Matanya melebar saat wajah tampan di balik topeng itu menampilkan senyumnya.


"Aji?"


Aji mengangguk dengan senyuman. "Gue pemeran pengganti, Kai."


Kaila terdiam. Ia pikir, pasangannya dalam acara ini adalah Kana.


"Kana." Kaila melebarkan mata dan memandang laki-laki di hadapannya tersebut. "Kana kemana, Ji?"


"Kana?"


Kaila mengangguk. "Iya, Kana. Lo tahu 'kan Kana dimana? Dia ikut acara ini 'kan, Ji?"


Aji diam.


"Ji, jawab!"


Aji tetap diam. Matanya memandang gadis yang kini menatapnya penuh tanya.


"Ji, sebenarnya apa yang terjadi sama Kana? Kenapa dia gak ada kabar."


Aji menunduk. Ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Kaila. Ia sudah berjanji pada Kana untuk tidak memberitahu gadis itu.


"Ji, lo tahu 'kan apa yang terjadi sama Kana?" Kaila menggoyangkan lengan laki-laki itu. Berharap laki-laki itu memberitahu yang sebenarnya.


Aji menghela napas. Ia tak tega melihat Kaila seperti ini.


"Ji, gue mohon."


Aji mengangguk. "Kana—"


"Kana kenapa Ji?"


"Orangtua Kana nyuruh Kana kuliah di Kanada."


Kaila melebarkan matanya mendengar jawaban Aji. Ia seolah tak percaya dengan apa yang laki-laki itu ucapkan.


Kaila menelan salivanya dengan susah payah, lalu berlari meninggalkan tempat tersebut.


"Kaila! Lo mau kemana?" teriak Aji.


Kaila tak menjawab. Gadis itu melepas kedua heelsnya dan berlari.


"Kaila! Tunggu!" Aji mempercepat langkahnya mengejar gadis itu.


Langkah Kaila begitu cepat. Ia tak peduli lagi dengan sakitnya kaki yang ia biarkan tanpa alas.


"Kaila! Gue mohon berhenti!" Aji menahan tangan Kaila agar gadis itu menghentikan larinya.


"Gue mau ke rumah Kana, Ji. Gue mau ketemu dia."


"Percuma."


Kaila mengerutkan dahinya.


"Percuma lo ke rumahnya. Kana udah berangkat ke Kanada Dua hari yang lalu, Kai."


Kaila diam. Ia tak percaya. "Enggak, lo bohong!"


"Untuk apa gue bohong?"


"Terus kalau Kana ke Kanada, untuk apa Adinda minta gue untuk jaga Kana, Ji?"


Aji menghela napas. "Adinda juga gak tahu, Kai. Dia gak tahu kalau Kana bakal pergi ke Kanada. Kana sengaja ngerahasiain ini dari Adinda karena dia tahu Adinda sakit parah."


"Terus gue? Kenapa dia rahasiain ini juga dari gue? Gue salah apa, Ji?" tanya Kaila.


Aji menghela napas. "Lo perempuan yang dia cinta, Kai. Dia gak mau liat lo sedih."


Kaila menggeleng. Ia tak percaya jika alur kisahnya akan serumit ini. Kakinya terasa lemas. Ia tak kuasa lagi menahan air matanya. Detik seletahnya, pandangannya terasa gelap. Semuanya menghitam—

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2