
Part 42
Kana menggerutu kesal. Perjalanan ke rumah sakit terhalang karena kemacetan yang cukup panjang yang membuatnya harus berlama di jalan.
"Pak, bisa ngebut sedikit gak ya?" ucapnya pada supir taksi tersebut.
"Maaf, Mas. Tapi jalanannya macet banget. Kita gak bisa balam mereka."
Kana berdecak. Ia meraih ponselnya dan mencoba menelpon Kaila. Namun gadis itu tak mengangkatnya.
Kana memejamkan mata dan terus berdoa agar Nabila baik\-baik saja.
"Mas, gimana kalau kita lewat jalan lain aja? Sepertinya gak macet kalau lewat situ."
Kana mengangguk. "Iya, Pak. Gak papa. Kita lewat situ aja."
Supir taksi itu mengangguk lalu membelokan mobilnya ke sebuah persimpangan.
Perjalanan kali ini jauh lebih cepat. Selain jalanan sepi, jarak ke rumah sakit pun lebih dekat.
"Sudah sampai, Mas."
Kana tersenyum lega saat ia telah sampai di depan rumah sakit itu. Setelah menyerahkan uang kepada supir taksi tadi, Kana berlari pelan memasuki rumah sakit untuk melihat keadaan Nabila saat ini.
-o0o-
"Gimana? Udah di urus semuanya?" tanya Keiza saat melihat Kaila kembali setelah mengurus segala administrasi rumah sakit.
Kaila mengangguk. "Kita bisa bawa Mama pulang sekarang, Kak. Bima dimana?"
"Bima lagi urus buat keberangkatan kita sore ini."
Kaila mengangguk. Ia menggigit bibir bawahnya dan menunduk.
"Kai," panggil Keiza yang melihat Kaila terlihat memikirkan sesuatu.
Kaila menoleh dan menaikkan kedua alisnya.
"Kamu gak papa 'kan?" tanya Keiza memastikan.
Kaila mengangguk. "Gak papa, kok," jawab Kaila dengan senyuman.
"Kamu masih berat ya buat terbang ke Jerman?"
Kaila tersenyum tipis. "Enggak kok, Kak. Aku gak keberatan. Lagipula, ini juga cuma sementara. Kita pasti balik lagi kesini."
Keiza tersenyum dan meraih tangan Kaila. "Sebelum kita pergi, kamu kabarin Kana dulu ya?"
Kaila tersenyum dan mengangguk.
"Ayo!" ucap Bima yang sudah kembali.
"Sekarang?" tanya Kaila.
Bima mengangguk. "Jadwal terbang ke Jerman Satu jam lagi. Jadi mau gak mau kita harus cepet."
Kaila menghela napas dan mengangguk. "Oke!"
"Kalian mau kemana?" ucap Kana yang sudah berada di belakang mereka.
Kaila menoleh dan menatap Kana. Ada perasaan berat disana. Namun, Kaila tak bisa apa\-apa. Ini semua demi kebaikan Ibunya.
__ADS_1
"Kami akan ke Jerman," ucap Keiza.
Kana melebarkan mata. "Sekarang?"
Kaila mengangguk.
"Semuanya?" tanya Kana sekali lagi.
Ketiganya mengangguk.
"Tapi kenapa buru\-buru?" tanya Kana yang masih tak mengerti.
"Keadaan Mama semakin buruk. Kita harus cari cara terbaik."
"Dan ke Jerman cara terbaik?" tanya Kana.
Bima, Keiza dan Kaila mengangguk membenarkan.
Kana menunduk lalu menatap Kaila.
Merasa di perhatikan, Kaila pun menoleh dan menatapnya berat.
"Ini cuma sementara 'kan?" ucap Kana pada Kaila.
Kaila mengangguk. "Sementara."
Kana menghela napas dan mengangguk. "Oke! Kalian hati\-hati ya?"
Kana mengangguk. "Jaga Kaila ya?"
Bima mengangguk siap lalu memeluk Kana layaknya seorang kakak kepada kekasih adiknya.
"Gue anter sampai bandara ya?"
Semuanya mengangguk membuat Kana tersenyum lega.
-o0o-
Suasana Bandar Udara Internasional Yogyakarta cukup ramai siang ini. Banyak dari mereka akan terbang baik dalam maupun luar negeri.
Kaila, Keiza, Bima, Kiara dan juga Nabila telah berada di Bandara sejak tadi. Tentu saja dengan Kana yang mengantarkan.
Dan kini, tinggal menghitung menit, mereka akan segera terbang ke Jerman dan meninggalkan tanah kelahiran untuk beberapa pekan.
"Temuin Kana dulu gih, dia kayanya masih berat buat ditinggal lo," ucap Bima pada Kaila yang berada di sampingnya.
Kaila berbalik badan dan melihat Kana masih berdiri di sana.
"Samperin gih," timpa Keiza.
Kaila mengangguk dan melangkahkan kaki mendekati laki-laki itu.
"Jangan lama-lama, Kai. Waktu kita tersisa dua menit lagi."
Kaila menghela napas dan mengangguk.
Kana tersenyum saat Kaila berbalik dan menatap ke arahnya. Ia melihat gadis itu berjalan ke arahnya dengan sedikit berlari.
Kana mengulurkan tangannya, membiarkan gadis itu berlari ke dalam pelukannya.
"Maafin aku ya?" ucap Kaila saat tepat berada dalam pelukan Kana.
Kana mengangguk dengan senyuman. "Aku gak papa kok. Kamu cuma sebentar 'kan?"
"Aku pasti sebentar kok." Kaila tersenyum dan melepas pelukan itu. "Doain ya supaya Mama cepet sembuh?"
Kana mengangguk. "Aku akan selalu berdoa dan menunggu sampai kamu balik lagi kesini. Aku bakal nunggu kamu di tempat ini juga."
Kaila tersenyum dan menoleh pada jam besar yang berada di dekat mereka. "Satu menit lagi."
"Kenapa semuanya terasa cepet ya, La."
__ADS_1
Kaila mengangguk, lalu menghela napas dan tersenyum. "Jangan lupa telpon aku ya."
Kana mengangguk. "Aku bakal selalu telpon kamu."
Kaila tersenyum. "Janji?"
Kana mengangguk.
"Tunggu aku disini ya?"
"Siap, pacar Kana!" ucap Kana seraya mengusap pucuk kepala Kaila dengan manja.
Kaila terkekeh malu. "Aku berangkat dulu ya?"
Kana mengangguk dan membiarkan gadis itu berjalan pergi.
Punggung Kaila mulai menjauh. Ada perasaan sedih di hati Kana. Ada perasaan tak rela yang menganjal disana. Namun Kana harus mengikhlaskan dan membiarkan Kaila pergi untuk sementara waktu.
"La!" teriak Kana membuat Kaila menoleh.
"Cepet pulang!"
Kaila mengangguk dan melambaikan tangannya.
Kana menghela napas panjang dan tersenyum. "Semoga semuanya cepat membaik," ucapnya lalu berjalan meninggalkan tempat tersebut.
-o0o-
Beberapa jam telah berlalu. Kana telah berada dirumahnya. Sepulang dari Bandara tadi, Kana bergegas mandi dan mengemas barang-barangnya kembali sebelum esok berangkat ke Jakarta.
Benar, besok pagi Kana akan kembali ke Jakarta untuk sementara waktu. Setidaknya, meluapkan kesedihannya yang ditinggal oleh Kaila ke Jerman.
Kana sudah menghubungi orangtuanya dan memberitahu semuanya. Tentang Nabila yang di bawa ke Jerman untuk mendapatkan pengobatan.
Orangtua Kana cukup terkejut dengan hal tersebut. Namun, mereka hanya bisa mendoakan supaya keadaan Nabila cepat membaik dan mereka bisa kembali ke Indonesia.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Kana berjalan menuju dapur. Membuka tudung saji dan membuka kulkas. Namun sayangnya, laki\-laki itu tak menemukan sedikit pun makanan disana.
Kana mengusap wajahnya. "Oh iya, 'kan udah gue habisin semua ya."
Kana berdecak dan berjalan menuju kamar untuk mengambil kunci motornya. Laki-laki itu hendak keluar untuk mencari makanan.
"Mas Kana."
Kana menoleh saat melihat tetangganya tengah tersenyum ke arahnya.
"Loh, bukannya Mas Kana udah berangkat ke Jakarta ya kemarin?"
Kana tersenyum. "Iya, Bu. Saya balik lagi kemarin," ucapnya.
"Oh iya, orang kaya mah bebas ya?"
Kana tersenyum tipis, namun dengan perasaan kesal. "Dasar mulut tetangga," lirihnya kesal seraya mengeluarkan motornya.
Kana menstater motornya dan bergegas pergi.
Selama di jalan, mata Kana mengitari jalanan guna mencari makanan apa yang ingin ia makan untuk sore dan malam hari nanti.
"Makan sate kayanya enak," ucapnya yang melihat penjual sate tengah mengipasi daging tusukannya.
Kana menghampiri penjual itu dan menstandarkan motornya. "Satu porsi ya, Pak!" serunya saat turun dan berjalan menghampiri gerobak sate tersebut.
"Mau makan disini atau bawa pulang, Mas?"
Kana tampak berpikir. "Makan sini satu porsi, bungkus bawa pulang satu porsi ya? Tapi yang dibawa pulang, bumbu kacangnya di pisah ya?"
Penjual sate itu mengangguk. "Siap, Mas. Silahkan di tunggu ya!"
Kana tersenyum dan berjalan menunju bangku yang telah di sediakan.
"Beli sate juga 'kan?" ucap seseorang yang sudah berada disitu sembari menunggu sate.
"Gisele? Lo disini?"
Gisele menunjukkan deretan giginya. "Sate disini memang enak. Enak lagi kalau makannya gak sendiri."
Kana bergedik ngeri. "Hehe, iya."
"Tumben sendirian. Biasanya sama pacar lo. Pacar lo kemana?" tanya Gisele membuat Kana risih dibuatnya.
"Ini Mas satenya!" ucap penjual sate yang sudah berada di samping Kana.
Kana menggigit bibir bawahnya. "Maaf Pak, sate ini saya bayar buat bapak aja. Saya bawa pulang yang di bungkus aja."
Gisele melebarkan mata. "Loh, gak jadi makan disini, Kan?"
Kana menggeleng. "Lain kali aja," ucapnya lalu meraih sate yang sudah dibungkus dengan kertas dan kantong plastik.
Gisele menghela napas panjang melihat Kana yang berlalu pergi. "Padahal udah seneng tiba-tiba ada dia disini," ucapnya dengan wajah sebal.
-o0o-
__ADS_1