KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 23


__ADS_3

Part 23


Sepanjang perjalanan pulang, Kaila terus tersenyum menatap cincing yang terpasang di jari manisnya.


Semua ini benar-benar terjadi tanpa dugaannya.


Kana, yang ia pikir tak peka dan tak memikirkan perasaannya, akhirnya pun melamar.


Kaila tersenyum. "Bener-bener kejutan."


Kana yang mendengarnya pun terkekeh dan menoleh. "Iya, sayang. Aku harap dengan aku lamar kamu, kamu semakin yakin kalau aku memang serius."


Kaila mengangguk dan kembali menatap cincin itu dengan senyuman.


Kana terlihat lega. Tak sia-sia ia melamar Kaila dengan semangkuk seblak.


"Keajaiban seblak memang ada," ucap Kana membuat Kaila terkekeh.


Kaila menoleh ke samping dan melihat jalanan menuju rumahnya. "Jalanan udah mulai sepi, Na."


Kana mengangguk. "Udah malem juga, La."


Kana mengeremkan mobilnya dan berhenti tepat di depan rumah Kaila.


"La, aku gak mampir gak papa ya? Titip salam aja ke Papa Angga, Kak Keiza, Bima dan Kiara."


Kaila tersenyum dan mengangguk. "Iya, Na. Nanti aku salamin ke mereka. Aku juga mau kasih kabar bahagia ini ke mereka."


Kana mengulum senyumnya. "Duh, aku jadi gugup mau ketemu sama Pak Angga."


Kaila tertawa. "Gugup kenapa, ih?"


"Ya gugup lah, La. Bayangin aku baru aja ngelamar anak gadisnya."


Kaila terkekeh lalu terdiam beberapa saat. "Tapi aku gugup juga sih mau ketemu Om Kavin dan Tante Alina."


Kana ikut tertawa, lalu meraih tangan Kaila dan menggenggamnya. "Tarik napas, hembuskan!"


Kaila mengangguk dan mengikuti arahan Kana.


Keduanya pun menghela napas panjang dan menghembuskannya, lalu di ikuti dengan gelakan tawa.


Kana tertawa dan mengusap pucuk kepala Kaila. "Nurut banget."


"Abisnya, serius banget nyuruhnya," ucap Kaila mengerucutkan bibirnya. Ia pun meraih tas dan memegang lengan Kana. "Aku turun ya?"


Kana mengangguk. "Aku juga langsung pulang ya?"


Kaila tersenyum dan turun dari mobil Kana. "Hati-hati pulangnya!"


Kana mengangguk dan melambaikan tangannya. "Assalamualaikum."


"Waalikumsalam."


Kaila tersenyum lebar dan masuk ke dalam rumahnya.


"Astaga Bima! Kamu ini punya pacar gak dikenalin sama Papa!" teriak Keiza yang terdengar sampai diluar.


Kaila menggelengkan kepala. "Pasti lagi pada kumpul."


"Pacar aku di Jerman, Kak. Jauh juga kalau mau dibawa kesini dan dikenalin ke Papa."


"Bima udah pulang?" ucapnya mendengar suara Bima.


Kaila menoleh pada garasi dan melihat mobil Bima telah terparkir di sana.


Kaila tersenyum lebar dan mengetuk pintu.


'Tok! Tok! Tok!'


"Assalamualaikum."


"Kak Kiara!" teriak Kiara dari dalam.


Kaila terkekeh dan menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.


"Tuh 'kan, Kak Kaila!" teriak Kiara yang telah membukakan pintu untuknya.


Kaila tersenyum dan masuk ke dalam. "Lagi pada kumpul ya?"


"Kai! Sini, makan jagung bakar!" Bima mengangkat jagung bakar miliknya dan menunjukkan pada Kaila.


Kaila mengangguk dan menghampiri. "Wah, jagung bakar!"


"Di Jerman gak pernah makan ini kita, Kai," ujar Bima sembari mengunyah.


Kaila mengangguk. "Udah delapan tahun dong kalau gitu gak makan jagung bakar?"


Bima tertawa dan mengangguk.


"Kok dilihat-lihat wajah kamu ceria banget, Kai," ujar Keiza yang sedari tadi memperhatikan wajah Kaila.


"Namanya juga abis jalan sama pacar, ya ceria dong!" ucap Bima membuat Angga dan Kiara terkekeh.


Kaila tersenyum malu. "Sebenarnya—" Kaila menunduk dan menatap cincin di tangannya.


Kiara melebarkan mata. "Cincin?"


Keiza terkejut dan menutup mulutnya.


"Kamu dilamar?" tanya Bima spontan.


Kaila menggigit bibir bawahnya dan mengangguk, lalu menoleh pada Angga. "Pa, Kana ngelamar Kaila. Dia bilang, besok dia sama orangtuanya mau kesini."


"Alhamdulillah," ucap Angga tersenyum lebar.


Keiza menoleh pada Angga dengan tatapan takjub.

__ADS_1


"Papa seneng banget, Kak," bisik Kiara di telinga Keiza.


Keiza mengangguk membenarkan.


"Papa seneng dengernya. Akhirnya setelah penantian panjang, hilal hubungan kalian udah terlihat," ucap Angga membuat semua yang ada dirumah itu pun tertawa.


"Ngomong-ngomong yang sulung, kapan nih nyusul? Jangan kalah dong," ucap Bima seraya menaikkan kedua alisnya dengan tersenyum jahil.


Keiza mengulum senyumnya malu.


"Baru juga jadian tadi," ucap Kiara yang langsung mendapat tatapan tajam dari Keiza.


"Siapa bilang?!" ucap Keiza.


Kiara melebarkan mata. "Memang belum?"


"Sama siapa sih? Aji?" tanya Bima pada Kiara.


Kiara mengangguk. "Tadi 'kan Kak Aji ajak jalan."


"Aji siapa?" tanya Angga.


"Aji sepupunya Kana, Pa," jawab Kaila.


Angga membulatkan bibirnya. "Coba Kei, suruh dia lamar kamu juga," godanya.


"Ih, Papa!" Keiza berdecak. "Ya gak maulah. Kita berdua aja belum ada kepastian."


"Baru PDKT gitu lho, Pa," ucap Bima menyimpulkan.


Angga tertawa dan mengelengkan kepala, lalu menoleh pada Kaila. "Jadi besok keluarga Kana mau kesini?"


Kaila mengangguk membenarkan. "Tapi baru mau ngobrolin masalah acara pertunangan sih, Pa."


Angga mengangguk semangat. "Oke! Oke!" Angga menghela napas. "Duh, gak Papa jadi gak sabar 'kan mau ketemu mereka."


Bima terkekeh, begitupun yang lainnya.


-o0o-


Setelah menghabiskan waktu bersama keluarga di ruang tv. Mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena waktu yang telah menunjukkan pukul setengah 12 malam.


Keiza meregangkan tubuhnya dan merebahkannya di kasur.


Tangannya meraih ponsel di atas nakas dan memainkannya sembari menunggu rasa kantuk.


Semua notifikasi masuk setelah ia menghidupkan data seluler.


Termasuk beberapa pesan Aji yang tertahan sejak satu jam yang lalu.


Keiza pun membuka pesan itu dan membaca.


Aji : Keiza


Aji : Tau gak?


Aji : Astaga aku lupa! Kaila 'kan adik kamu, pasti dia udah cerita. :D


Aji : Akhirnya ya, setelah penantian panjang!


Keiza terkekeh dan membalas pesan Aji.


Setelah pesan itu terkirim, tiba-tiba Aji menelponnya.


Keiza melebarkan dan langsung menekan tombol hijau untuk mengangkatnya.


"Halo," lirih Keiza pelan karena takut mengganggu keluarga yang lain.


"Kamu belum tidur?" tanya Aji.


Keiza tersenyum dan menggeleng. "Kamu sendiri?"


"Belum dong! 'Kan ini lagi telponan sama kamu."


Keiza terkekeh. "Kalau gitu sama dong!"


Aji tertawa dan terdengar suara helaan nafasnya. "Keiza."


"Iya?"


"Denger Kana ngelamar Kaila, kok aku jadi kaya gimana gitu ya?" ucap Aji di seberang sana.


Keiza tersenyum dan merebahkan kepalanya. "Maksudnya gimana?"


"Aku langsung jadi kaya—" Aji berdecak. "Ah, gimana sih nyebutinnya? Kaya ada perasaan terdahului dan gak mau kalah gitu loh! Kaya, duh, Kana ngelamar Kaila. Terus gue kapan gitu?"


Keiza tertawa kecil mendengar ucapan Aji. "Jadi maksudnya kepengen juga gitu?"


Aji kehabisan kata-kata.


"Ya, bukan kepengen juga sih. Tapi—"


"Tapi apa?" ucap Keiza tertawa.


Aji terkekeh malu di seberang sana. "Keiza," panggilnya lagi.


"Iya, Aji? Aku disini kok. Gak kemana-mana."


"Hehe," Aji terkekeh. "Mau tanya boleh?"


"Tanya apa tuh?"


"Tipe ideal kamu gimana sih?" tanya Aji membuat Keiza terdiam mematung.


Perempuan itu menggigit bibir bawahnya bingung. Untuk apa Aji menanyakan hal itu.


"Memang kenapa?"

__ADS_1


Aji terkekeh. "Pengen tahu. Siapa tahu aja bisa memantaskan."


Keiza tersenyum.


"Keiza."


Keiza menghela napas. "Iya, Aji?"


"Kamu gak pernah mempermasalahin cowok yang lebih muda dari kamu 'kan?" tanya Aji.


Keiza mengerutkan dahinya. Tiba-tiba suasana menjadi hening.


Keiza mengerti arah pembicaraan Aji ini.


"Maksudnya, usia kita berdua?" tanya Keiza.


"Kebaca ya arah pembicaraanku?"


Keiza terkekeh. "Sangat kebaca."


"Aduh, jadi malu 'kan!" ucap Aji dengan gelak tawa. "Oke! Oke! Serius." Aji menghela napas dan kembali dengan nada serius. "Kamu beneran gak mempermasalahin usia, Kei?"


Keiza menggeleng spontan. "Bagi aku, usia bukan point penting sih. Karena menurutku, usia bukan hal yang mengatakan orang itu dewasa atau enggaknya. Aku lebih suka dia yang lebih muda dari aku tapi bisa mengerti aku, daripada dia yang lebih tua dari aku tapi egois dan gak lebih mentingin perasaan dia sendiri!" ucap Keiza seraya membayangkan wajah Erkan.


"Kok nada kamu kesel gitu?"


Keiza melebarkan mata. "Astaga! Apa iya?"


Aji tertawa. "Iya, Keiza."


"Sorry, Ji. Aku kebawa emosi."


"Iya, iya, gak papa. Jadi kesimpulannya?" tanya Aji.


Keiza mengerutkan dahinya tak mengerti dan memberi jeda agar Aji melanjutkan ucapannya.


"Kamu mau gak menua bareng aku?"


Keiza menutup mulutnya tak percaya.


"Ma— maksud kamu?" tanya Keiza yang masih tak mengerti dengan maksud ucapan Aji.


"Duh, gimana ya bilangnya. Aku sebenarnya gak enak ngomongin ini di telpon. Cuma mau ketemu langsung, udah malem. Dan kalau harus ngunggu besok. Aku gak bisa, Kei. Perasaan ini bener-bener gak bisa di tahan lagi."


Keiza mengulum senyumnya menahan tawa.


"Kei. Kamu masih disitu 'kan?"


Keiza tertawa. "Iya, aku masih disini kok."


Aji menghela napas dan melanjutkan ucapannya. "Aku suka sama kamu, Kei."


Keiza kembali menutup mulutnya. Entah mengapa, ia benar-benar bahagia dan rasanya ingin berteriak sekarang juga.


"Aji."


"Iya?" tanya Aji dengan rasa berharap.


"Eum— tanpa aku bilang pun, kamu udah tahu 'kan jawabannya?"


"Jadi, kamu mau nerima aku buat jadi pendamping kamu?"


Keiza mengangguk. "Tentu!"


"Ahhhhh! Akhirnya!" teriak Kiara dan Kaila membuat Keiza terkejut.


"Kalian? Dari kapan disini?" bisik Keiza bingung, takut Aji mendengarnya.


"Itu Kiara sama Kaila ya?" tanya Aji di seberang sana.


Keiza mengangguk malu. "Iya."


"Yaudah Kei, aku tutup ya telponnya. Udah malem juga. Bye the way, makasih banyak udah terima aku. Aku sayang Kei sama kamu."


Keiza tersenyum malu. "Iya, aku juga."


Kaila dan Kiara menahan tawa dan saling memandang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Alhamdulillah," ucap Kaila dan Kiara yang langsung merebahkan tubuhnya di kasur Keiza.


"Kalian dari kapan disini?" tanya Keiza bingung.


"Dari tadi kali, waktu Kak Keiza menghadap ke sana," ucap Kiara. "Kita tuh tadinya mau pinjem tensimeter. Terus denger Kak Kei lagi telponan sama Kak Aji," lanjutnya.


Kaila mengangguk. "Tadinya mau pergi, tapi penasaran," ucapnya diikuti gelak tawa.


"Memang ya kalian berdua ini!" ucap Keiza seraya mencubit telinga Kaila dan Kiara pelan.


"Jadi udah resmi nih?" tanya Kaila dengan senyuman jahilnya.


"Asik, traktirannya dong!" timpa Kiara.


Keiza menggelengkan kepala dan memutar bola matanya.


"Ada apa sih? Rame amat?" tanya Bima yang berdiri ambang pintu.


"Ini Kak Kei—" ucap Kiara namun di tutup mulutnya oleh Keiza.


"Di tembak Aji," ceplos Kaila.


Keiza menghela napas. "Yang ditutup mulut Kiara, yang nyebarin mulut Kaila."


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2