KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 40


__ADS_3

Part 40


Aji terlihat bolak balik tak tentu arah.


Ada sebuah harapan yang menyatu dengan rasa penasaran. Lelaki itu tengah menunggu istrinya di toilet. Menunggu kabar apakah ada seorang bayi yang terkandung dalam perut istrinya.


Aji menghela napas dan mengusap wajahnya gusar.


Tadi, setelah Kana dan Kaila mengatakan apakah Keiza hamil. Sepasang suami istri itu langsung bersemangat untuk pulang ke rumah.


Keduanya ingin mengecek apakah Keiza benar-benar hamil atau tidak.


Dan jika Keiza benar hamil, itu artinya usaha mereka selama ini telah berhasil.


Jantung Aji berdegub kencang. Ia tak sabar menunggu kabar dari Keiza.


'Ceklek!'


Pintu terbuka membuat Aji menoleh.


Keiza menutup pintu toilet dan tersenyum tipis. Menyembunyikan hasil tes pack di belakang tubuhnya sembari menunduk.


Aji sudah tersenyum. Berharap, apa yang mereka harapkan terealisasi.


"Gimana?" Aji menaikkan kedua alisnya sembari menyentuh kedua lengan istrinya.


Keiza yang masih menunduk, memberanikan diri menatap suaminya.


"Hmm?" Aji masih menunggu jawabannya.


"Maaf," lirih Keiza kembali menunduk. "Aku belum bisa kasih kamu kamu anak," ucap Keiza tak enak.


Aji tersenyum dan menarik Keiza ke dalam pelukannya. "Gak papa, sayang. Aku gak marah kok. Lagipula 'kan kita berusaha bareng. Kalau memang belum dikasih, berarti kita harus berusaha lagi."


"Tapi aku udah bikin kamu berharap tadi," ucap Keiza sedih.


Aji terkekeh dan mengeratkan pelukannya. "Gak papa. No problem. Aku sabar kok. Berarti Allah nyuruh kita pacaran lebih lama lagi. Aku gak papa kok. Beneran."


Keiza tersenyum. Menatap Aji dengan tatapan penuh kasih sayang.


Ia senang bisa mendapatkan suami seperti Aji. Yang sayang dan memahaminya.


"Biar gak sedih, kita keluar yuk? Cari makan diluar. Hitung-hitung ngedate," ucap Aji dengan cengiran kuda.


Keiza tersenyum dan mengangguk. "Ayo!"


"Mau makan apa?"


Keiza tampak berpikir. "Sate ayam?"


Aji mengangguk setuju seraya mengacungkan jempolnya. "Aku juga lagi pengen makan sate."


Keiza tersenyum dan merangkul lengan Aji.


"Kuy!"


-o0o-


Tiga bulan kemudian . . .


Kandungan Kaila telah genap berusia Empat bulan. Tentu banyak sekali perubahan yang terjadi. Mulai dari berat badan Kaila yang naik, hingga emosinya yang naik turun.


Kana selalu mengingatkan agar Kaila jangan terlalu kelelahan dalam berkerja.


Namun, bukan Kaila jika tak kenal lelah.


Wanita itu masih tetap bekerja meskipun dengan perutnya yang sudah mulai membesar.


"Kak, kok modelnya kaya gini sih? Aku 'kan minta dominan tile. Tapi kenapa malah kebanyakan kain tipis gini?" ucap kliennya yang mulai mengangguk mood Kaila pagi-pagi.


Kaila mencoba tersenyum. "Kak. Ini namanya tile. Kakaknya minta dominan tile 'kan?"


Klien itu mengangguk. "Tapi aku gak suka kaya gini. Jadi kaya baju kurang bahan."


"'Kan kakaknya sendiri yang minta. Jadi bukan salah saya dong!"


Kliennya melebarkan mata. "Loh, kok gitu sih Kak? Kok gak mau tanggung jawab."


Kaila ikut melebarkan mata. "'Kan kakaknya sendiri yang minta. Saya udah kasih gambarannya. Udah saya tanya waktu itu, kak beneran dominan tile? Kata kakaknya ; iya kak dominan tile. Yaudah, jadi gak salah dong?"


Kliennya menggelengkan kepala. "Bener-bener gak mau tanggung jawab."


"'Kan saya gak salah kak. Kakaknya sendiri ya minta—"


"Saya gak mau tahu, pokoknya saya mau minta dibalikin uang saya."


Kaila melebarkan mata. "Kok gitu? Ya gak bisalah kak."


Kliennya menggeleng. "Gak mau tahu saya. Pokoknya, balikin uang saya atau bikinin ulang!"


'Brakk!'


Kaila menggebrak meja itu membuat kliennya terkejut.


"Maaf, saya terlalu emosi meladeni klien yang gak jelas seperti anda," ucap Kaila dengan tatapan tajam.


Kliennya menelan salivanya dengan susah payah. Ia terkejut melihat Kaila sebegitu marahnya.


Dengan rasa takut, kliennya membawa barangnya kembali dan pergi.


Setelah kliennya pergi, Kaila menghela napas panjang dan mengusap wajahnya gusar.


"Astaga Kaila, lo kenapa bisa seemosi itu sih?" ucapnya pada diri sendiri. Ia berdecak dan meletakkan kepalanya di lipatan lengan.


"Harusnya gue lebih tenang," Kaila bernapas gusar dan memejamkan matanya.


-o0o-


"Wajar kok Kai kalau lagi hamil emosinya naik turun," ucap Keiza pada adiknya.


Kaila dan Keiza telah berjanji untuk bertemu bersama di rumah orangtuanya.


Kaila membulatkan bibirnya. "Gitu ya, kak?"


Keiza mengangguk. "Kondisi tubuh wanita saat hamil sebenarnya hampir mirip dengan situasi wanita menjelang menstruasi pada umumnya, Kai. Mulai dari payudara yang terasa nyeri, perubahan hormon, hingga gangguan mood. Dari sisi emosi, wanita pada masa-masa ini bisa lebih cepat merasa marah ataupun senang menjadi sedih, dan sebaliknya. Itulah kenapa kamu mudah emosi tadi."


Kaila tampak berpikir dan mengangguk. "Jadi wajar 'kan kak kalau tadi aku emosi banget?"


Keiza mengangguk dengan senyuman. "Tapi kamu harus pinter-pinter ngontrol emosi kamu. Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi."


Kaila mengangguk dengan senyuman.


"Ngomong-ngomong, gimana kak? Udah ada tanda-tanda kakak hamil belum?" ucap Kaila dengan hati-hati.


Keiza tersenyum. "Belum, Kai. Padahal udah Lima bulan dari pernikahan. Tapi Kakak belum kasih kepercayaan sama Allah buat punya anak."


Kaila tersenyum dan menyentuh lengan Keiza. "Gak papa kak. Mungkin sebentar lagi."


Keiza tersenyum dan mengangguk. "Kamu doain kakak ya? Biar bisa nyusul kamu."


Kaila tersenyum. "Siap kak."

__ADS_1


"Kaila, Keiza, makan dulu yuk! Papa udah masakin sup telur tauge kesukaan kalian," ucap Angga.


Keiza dan Kaila melebarkan mata dan saling menatap. "Sup telur tauge?"


Angga mengangguk.


"Mauuu!"


Angga terkekeh dan berjalan menuju meja makan untuk menyiapkannya makan bagi kedua putrinya.


Hari ini Angga sedang cuti bekerja karena tahu kedua putrinya akan datang.


Ia begitu senang Kaila dan Keiza datang. Setidaknya hal itu dapat mengobati kerinduannya terhadap dua putrinya.


"Papa seneng banget kalian dateng kesini," ucap Angga setelah kedua putrinya duduk bersamanya di meja makan.


Kaila dan Keiza terkekeh. "Kita juga seneng, Pa," ucap keduanya bersamaan.


Angga terkekeh dan mengambilkan nasi untuk kedua putrinya.


"Kalau boleh tahu Bima sama Kiara kemana, Pa?" tanya Keiza.


"Kiara lagi di sekolah. Kalau Bima gak tahu kemana, pergi dari tadi pagi."


"Assalamualaikum!"


Ketiga orang itu menoleh.


"Lah itu Bima," ucap Angga saat melihat Bima telah kembali.


Bima tersenyum dan menghampiri mereka. "Eh ada kakak dan adik," ucap Bima dengan cengiran kuda.


Kaila terkekeh. "Darimana Kak Bim?"


Bima tersenyum dan menarik kursi untuk ikut duduk di meja makan. "Biasa, nemenin ibu Negara yang bentar lagi wisuda."


Keiza mengerutkan dahinya. "Siska?"


Bima mengangguk. "Siapa lagi," ucapnya tersenyum. "Dia 'kan lagi ambil S2, terus kalau jadi akhir bulan ini dia wisuda."


"Mantaplah!" ucap Kaila. "Memang Siska ambil jurusan apa sih?"


"Bisnis dia mah."


"Di UI?"


Bima mengangguk. "Kayanya dia mau nerusin perusahaan Papanya. Dia 'kan anak satu-satunya. Jadi siapa lagi yang bakal nerusin kalau bukan dia."


Kaila mengangguk. "Iya, sih."


Bima tersenyum dan mengambil piring. "Oh ya, Pa, Kak, Kai," ucapnya membuat seluruh anggota keluarga menoleh ke arahnya.


Bima tersenyum tipis. "Aku kayanya bakal batalin rencana aku buat ajak Kiara ke Jerman."


Ketiga anggota keluarganya tersenyum mendengar hal itu.


Bima terdiam beberapa saat, dan mulai melanjutkan ucapannya. "Setelah aku pikir-pikir, aku kayanya jahat banget kalau mau bawa Kiara kesana. Kebahagiaan Kiara ada disini."


"Gak hanya kebahagiaan Kiara, kebahagiaan kamu juga ada disini, Bim," ucap Keiza.


Bima tersenyum tipis. "Tapi kerjaan aku di Jerman, Kak. Gak mungkin aku mau jadi pengangguran disini."


"Kenapa Kak Bima gak coba cari kerja aja disini?" ucap Kaila.


Bima terdiam. Benar? Mengapa tak dari awal saja Bima cari pekerjaan disini?


Bima menghela napas dan mengambil nasi. "Nanti Bima pikirin lagi," ucapnya dengan senyuman.


-o0o-


Lelaki itu merebahkan tubuhnya ke kasur sembari memainkan ponselnya.


'Tring!'


Sebuah notifikasi pesan masuk.


Bima segera membuka aplikasi WhatsApp miliknya dan membaca pesan yang masuk dari Siska.


Siska : Kak Bima


Bima tersenyum. Semenjak berpacaran, Siska memanggil Bima tak hanya dengan nama, melainkan ada tambahan 'Kak'. Hal itu karena Siska menghargai perbedaan usia keduanya.


Bima tersenyum dan mengetikkan sesuatu disana.


Bima : Iya, sayang?


'Tring!'


Siska : Papa pengen ketemu sama kamu.


Bima mengerutkan dahinya. "Ketemu?"


Bima tersenyum dan membalasnya.


Bima : Ada apa ya, sayang? Kok Papa kamu pengen ketemu aku?


'Tring!'


Siska : Papa lagi gak enak badan.


Bima mengerutkan dahinya semakin bingung. "Gak enak badan, kok pengen ketemunya sama aku? Kenapa gak manggil dokter?" batinnya bingung.


Bima menghela napas dan tersenyum, lalu mengetikkan sesuatu disana.


Bima : Oke, aku bentar lagi OTW.


Bima bangkit dari kasur dan berjalan mengambil jaketnya. Mengambil kunci mobil dan keluar dari kamarnya.


"Mau kemana, Bim?" tanya Angga yang tengah mengobrol bersama dengan Kaila dan Keiza.


Bima tersenyum. "Bima mau ke rumah Siska, Pa. Papanya pengen ketemu aku."


"Asik, ada yang mau ketemu camer nih," goda Kaila.


Bima tersenyum malu.


"Jangan-jangan kamu mau dinikahin, Bim," celetuk Keiza.


Bima melebarkan mata. "Mana ada, Kak? Masa iya, anaknya aja belum kelar kuliah, mau langsung dinikahin aja," ucapnya yang membuat gelak tawa.


"Yaudah, hati-hati ya bawa mobilnya. Santai aja," ucap Angga.


Bima mengangguk seraya mengacungkan ibu jarinya.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."


-o0o-


Aji turun dari mobilnya dan berjalan masuk menuju klinik Bintang.

__ADS_1


"Loh Ji, kok sendiri?" ucap Kevin yang keluar bersama Wilka.


Aji tersenyum dan mengangguk. "Mau ketemu Kana, nih. Kana-nya ada?"


Wilka mengangguk. "Ada. Tadi lagi di ruangannya."


Aji mengangguk dan melambaikan tangannya. "Aku masuk dulu ya?"


Wilka dan Kevin mengangguk sembari melambaikan tangannya dan berjalan menuju parkiran sebelum pulang ke rumah.


"Aku mager banget yang mau masak," ucap Wilka.


Kevin terkekeh. "Kita beli makan aja diluar."


"Oke!" seru Wilka dan merangkul lengan Kevin.


Setelah bersapaan dengan Kevin dan Wilka, Aji terlihat memasuki klinik.


Klinik sore hari ini cukup sepi. Beberapa pasien sudah berada di ruang rawat. Sehingga leluasa untuk Aji masuk ke klinik tersebut.


"Ayu!" teriak Aji yang melihat Ayu baru saja keluar dari ruangan Kana.


Ayu menoleh dan tersenyum. Wanita itu berjalan menghampiri Aji. "Iya, Dok?"


"Kana ada?" tanya Aji.


Ayu mengangguk. "Ada Dok, di dalam."


Aji mengangguk dan langsung masuk ke dalam.


"Widihhh!" seru Aji yang tersenyum dan menghampiri.


Kana hanya terkekeh dan kembali fokus dengan laptopnya.


Aji mengitari pandangannya melihat ruangan Kana. "Lama gue gak kesini, banyak juga ya yang berubah. Ruang rawat penuh, halaman depan jadi lebih luas, keren-keren!"


Kana tertawa. "Iyalah! Mau join gak lo disini?"


Aji melebarkan mata dan mendekat. "Lo nawarin gue kerja disini juga?"


Kana mengangguk. "'Kan dari dulu gue nyuruh lo kesini. Lo-nya yang pengen ke rumah sakit."


Aji tersenyum. "Pengen deh Kan gue pindah kesini. Tapi gimana Keiza, dia udah nyaman di rumah sakit. Apalagi dia udah spesialis. Jelas dia dibutuhin banget di rumah sakit."


"Eh iya Ji, ngomongin spesialis. Kayanya gue butuh Kak Keiza." Kana meminggirkan laptopnya dan menatap Aji. "Kak Kei mau gak ya? Gak usah setiap hari gak papa. Jadi dia disini hari senin sama kamis, gitu," ujar Kana.


"Gak papa sih kalau dia mau. Jadi untuk yang rawat jalan ya?" ucap Aji.


Kana mengangguk. "Ya jalan sama yang rawat juga. Yang penting jadwal untuk spesialis anak seminggu dua kali gitu. Terserah Kak Kei maunya hari apa."


Aji tampak berpikir. "Yaudah deh, ntar gue bilangin ke dia. Siapa tahu dia mau 'kan?"


Kana mengangguk dengan senyuman. "Thanks ya?"


"Yoi!"


"Lo ngapain kesini? Tumben?" ucapKana.


Aji terkekeh. "Gue mau ajak lo ke rumah Papa Angga. Kaila sama Keiza ada disana."


"Sekarang?" tanya Kana.


"Ya kalau lo dah kelar, ayo!"


Kana tertawa dan mengangguk. Mematikan laptopnya dan bangkit. "Yuk!"


"Lo bawa mobil?" tanya Aji.


"Ya bawalah. Kalau gak bawa, gue kesini naik apa."


Kana berdecak. "Yah."


"Ya lagian lo juga ngapain pakai jemput gue segala. Tinggal telpon juga bisa."


Aji tersenyum miring. "Maksud gue 'kan biar moment-nya pas gitu, dua menantu dateng bareng."


"Ah lebay lo! Ayo lah!" seru Kana yang akan mengunci ruangannya.


Aji terkekeh dan ikut berjalan keluar lebih dulu.


-o0o-


Sesampainya dirumah Siska. Bima segera memarkirkan mobilnya dan turun.


Berjalan menyusuri halaman depan rumah Siska dan tersenyum pada gadis yang tengah menunggunya disana.


"Hai!" ucap Siska dengan senyum manisnya.


Gadis itu terlihat cantik dengan rok cokelat selutut dan kaos berwarna putih.


Bima tersenyum dan mendekat pada gadis itu. "Gimana Papa kamu?"


"Itu di kamar. Ayo masuk!" ucap Siska sembari menarik tangan kekasihnya.


Bima terlihat gugub. Ia begitu penasaran. Sebenarnya ada apa ayah Siska ingin menemuinya.


'Ceklek!'


Pintu terbuka dan menampilkan Eric— ayah Siska disana.


"Halo, Bima," ucap Eric.


Eric terlihat begitu pucat. Lelaki itu tengah berbaring di kasur dengan istrinya yang menemani di sebelahnya.


"Makasih ya kamu udah mau dateng," ucap Eric.


Bima mengangguk dengan senyuman. "Iya, Om. Sama-sama."


Eric tersenyum dan membenarkan posisinya dengan sedikit duduk. "Om Eric sengaja minta Siska untuk nyuruh kamu kesini."


"Iya, Om?"


Eric tersenyum. "Jadi Om ini lagi enak badan beberapa hari ini. Dan terpaksa harus ninggalin beberapa pekerjaan, Om. Om bingung mau minta tolong siapa buat ngehandle pekerjaan om sementara. Om gak punya anak cowok. Sebenarnya Siska bisa aja, Cuma dia 'kan lagi sibuk buat urus keperluan wisuda. Jadi tiba-tiba Om kepikiran sama kamu."


Bima terdiam. Ucapan Eric cukup membuatnya terkejut.


"Dari awal lihat kamu, Om udah nyangka kalau kamu orang yang baik. Setelah Om cari tahu, ternyata kamu punya perusahaan ya di Jerman?"


Bima tersenyum. "Perusahaan kecil-kecilan Om."


Eric menggeleng. "Jangan merendah. Meskipun kecil disana, saat kamu kembangin di Indonesia, pasti bakal jadi perusahaan besar, Bima."


Siska tersenyum mendengar hal tersebut.


"Jadi gimana, kamu mau gak? Kalau kamu mau, Om bakal bantu kamu buat pindahin perusahaan kamu ke Indonesia."


Bima melebarkan mata. Bukankah ini adalah hal yang bagus?


Siska tersenyum dan menyenggol lengan Bima.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2