
Extra Part 1
Tak terasa, sudah empat tahun semua berlalu. Banyak sekali hal yang berubah dari kehidupan cerita ini. tentunya hal baik yang membuat siapa pun mendengar hal tersebut turut bahagia. Tak terkecuali kita yang dapat disebut saksi Bisu kehidupan Kana dan Kaila hingga saat ini.
Dan dalam ekstra part ini, kita dapat melihat beberapa perubahan yang terlihat dari semua tokoh cerita ini.
Di mulai dari Naka dan Kala yang sudah berusia Lima tahun dan masuk ke bangku taman kanak-kanak, Bima dan Siska yang sudah resmi menikah dan memiliki seorang anak laki-laki berumur satu tahun, Kiara yang sudah masuk ke bangku perkuliahan dengan mengambil jurusan Hukum, serta anak Keiza dan Aji yang sudah empat tahun.
Semuanya berjalan begitu cepat.
Dan di rumah bernuansa Jerman ini, Kaila terlihat masuk ke dalam kamarnya dengan berkacak pinggang. Wanita itu baru saja selesai memasak untuk mempersiapkan bekal makanan untuk kedua anaknya.
"Nana! Bangun, sayang!"
Teriakan Kaila memenuhi ruangan persegi tersebut.
Wanita itu tengah membangunkan suaminya untuk segera mengantarkan kedua anaknya yang sekarang sudah memasuki bangku taman kanak-kanak.
"Nana, bangun, ih!" teriak Kaila sembari terus menarik lengan suaminya tersebut.
Kana hanya membuka matanya sebentar, tersenyum dan kembali memejamkan mata. sungguh menyebalkan, pikir Kaila.
"Nana, bangun sayang!" teriak Kaila sembari terus menarik lengan suaminya kembali. "Mau bangun nggak sih? Udah siang ini, nanti kalo anak anak telat sekolahnya gimana?"
Tak ada respon dari Kana.
Kaila menghela napas, memegang dadanya untuk bersabar. "Nana!" teriaknya akhirnya.
Kana tersenyum. Membalikan badannya dan menatap Kaila dengan mata sayu. Antara ingin bangun, dan ingin tidur kembali.
"Bangun, sayang."
"Cium dulu," ucap Kana dengan senyuman menggoda.
Kaila melebarkan mata, berkacak pinggang dan menatap suaminya tersebut dengan tatapan kesal. "Cium?"
"Cium dulu, sayang." Kana mengerucutkan bibirnya.
Kaila menghela napas dan mendekat lalu mencium suaminya dengan sangat kilat.
"Nah, gitu dong!" seru Kana lalu bangun dari tempat tidur.
Kaila menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya tersebut. "Bangun aja pakai minta cium segala."
Kana terkekeh, mendekat pada istrinya dan memeluknya. "Kok udah siang aja sih, padahal masih capek banget aku."
"Papa!" teriak Naka membuat Kana refleks melepas pelukannya.
Laki-laki itu menoleh pada putranya dan tersenyum. "Iya, sayang?"
Naka melipat kedua lengannya. "Ayo, Papa, berangkat!" Naka berdecak. "Kala udah ngambek tuh! Dia marah, katanya kalau Papa gak anter sekarang, Kala mau jalan kaki aja."
Kaila tertawa. "Kala bilang gitu?"
__ADS_1
Naka mengangguk. "Tuh dia lagi di depan sekarang."
Kaila tertawa dan menggelengkan kepala. Ada-ada saja tingkah yang Kala tunjukkan.
"Ngambekan kaya Mamanya dia," ucap Kana sembari mencubit pipi istrinya.
"Enak aja!" seru Kaila.
Naka berdecak. "Papa, ayo!"
Kana terkekeh. "Iya, iya, sebentar lagi Papa ke depan."
"Beneran ya?" ucap Naka.
Kana terkekeh. "Iya, sayang."
Naka mengangguk lalu melangkah pergi. "Naka tunggu di depan."
Kana tertawa dan menoleh pada istrinya. "Kala ngambek, gimana dong?"
Kaila terkekeh. "Kamu sih, bangunnya siang banget. Seharusnya tadi abis sholat subuh gak usah tidur lagi."
"Ya gimana geh, badanku capek banget."
Kaila menggelengkan kepala dan berjalan menuju lemari untuk mengambil baju suaminya.
"Anak-anak udah siap, 'kan La?" tanya Kana meraih baju dari istrinya.
Kaila mengangguk dengan senyuman. "Udah, mereka udah siap dari tadi. Yaudah gih, cepet ganti baju. Aku mau ambil bekal anak-anak dulu."
Di dapur, Kaila tengah mengambil bekal yang sudah ia siapkan sejak pagi tadi.
Ia mengambil dua bekal tersebut dan berjalan keluar menemui kedua anaknya yang sudah menunggu di depan.
"Ma, Papa lama banget, sih?" ucap Kala dengan wajah kesalnya. "Padahal Kala udah bangun pagi-pagi supaya bisa dapet bangku di depan. Malah, Papanya yang lama. Ck!" Kala berdecak dan melipat kedua lengannya di depan dada.
"Tuh 'kan Ma, marah-marah mulu Kalanya," ucap Naka.
Kaila terkekeh dan gemas melihat tingkah anak-anaknya. "Kala jangan ngambek ya, Papa itu kecapean, sayang."
"Kecapean?" ucap Naka.
Kaila mengangguk, meraih tas kedua anaknya dan memasukkan bekal ke dalam tas tersebut.
"Nih, Mama udah siapin makanan untuk bekal kalian. Jangan lupa di makan ya?"
Naka dan Kala mengangguk.
"Yuhu! Ayo sayang, kita berangkat!" seru Kana yang baru saja keluar.
Kaila menoleh dan terkekeh. "Ditungguin anak-anak dari tadi, tuh."
Kana mengangguk. "Sayang, aku anter anak-anak dulu ya?" ucap Kana.
__ADS_1
Kaila mengangguk lalu mencium punggung tangan suaminya. "Hati-hati ya?"
Kana mengangguk. "Ayo!" serunya pada kedua anaknya.
Naka dan Kala mengangguk, lalu mengikuti ayahnya yang berjalan menuju mobil.
Kana tersenyum dan bukan mobil untuk kedua anaknya. "Hati-hati naiknya."
setelah semuanya masuk ke dalam mobil. Kana pun berjalan dan ikut masuk ke dalam mobil untuk membawa mobil tersebut menuju sekolah anaknya.
"Kata Mama, Papa kecapekan?" tanya Naka yang sepertinya terlihat khawatir dengan ayahnya tersebut.
Kana tertawa kecil dan menoleh pada putranya yang berada disampingnya. "Mama bilang gitu?"
Naka mengangguk, lalu menoleh pada adiknya yang berada di kursi belakang. "Iya 'kan, Kala?"
Kala mengangguk. "Capek kenapa, Pa? Bukannya kemarin papa pulang dari klinik siang ya?"
Naka mengangguk. "Terus pulang dari klinik papa langsung tidur."
Kana terkekeh. Kedua anaknya ini begitu penasaran. "Papa abis main sama Mama."
Naka melebarkan matanya dan menetap ayahnya dengan tatapan bingung. "Main apa?"
"Masak-masakan," ucap Kana tertawa, lalu kembali fokus dengan kemudinya.
Naka tersenyum penuh arti dan menoleh pada adiknya.
Mendapat tatapan dari kakak nya, Kala pun tertawa kecil dan menutup mulutnya.
"Kenapa?" tanya kana bingung tak mengerti melihat kedua anaknya yang tengah saling tersenyum.
"Eum-- Papa kalau mau buat adik untuk kita berdua, nggak apa apa kok," ucap Kala yang mendapat anggukan setuju dari Naka.
Naka mengangguk. "Tenang aka, Pa. Kita berdua setuju kok. 'Kan kita juga bisa jaga adik."
Kana melebarkan mata. "Memang kalian berdua pengen punya adik?"
Naka dan Kala mengangguk dengan bersamaan. Hal itu membuat Kana tertawa dan menggelengkan kepala.
"Beneran?" tanya Kana sekali lagi.
Naka dan Kala mengangguk.
Mendapat persetujuan dari kedua anaknya, Kana pun tersenyum. Ia tak sabar untuk mengabarkan berita ini kepada istrinya.
"Tapi kita maunya kembar," ucap Kala.
Kana melebarkan mata. "Kembar lagi?"
Kala mengangguk. "'Kan biar sama-sama kembar. Biar ruma rame, Papa. Lagipula nggak adil dong kalo kita berdua kembar terus adik kita nggak kembar? Nanti kalau dia marah gimana?"
Kana menggelengkan kepala dan tertawa. "Ada-ada aja sih kalian berdua ini."
__ADS_1
-o0o-