
Part 25
Suara motor terdengar jelas di depan kediaman Naira. Kaila yang baru saja bersiap pun, berlari untuk menemui seseorang di luar sana yang sudah ia yakini adalah Kana.
"Tante, Kaila berangkat, Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam," jawab Naira yang terlihat tengah sibuk juga mempersiapkan barang-barang miliknya.
Kaila tersenyum saat melihat Kana sudah bersiap di motornya dengan seragam olahraga yang melekat pada tubuhnya.
"Pagi ini jam olahraga?"
Kana mengangguk dan menyunggingkan senyumnya.
"Ini, makanan yang ke Enam puluh hari." Kaila menyerahkan kotak makan pada Kana.
Kana meraihnya dan segera memasukan ke dalam tas. "Thanks ya?"
Kaila mengangguk dan segera mengenakan helm. "Jadi masih ada Tiga Puluh Satu hari lagi 'kan?" tanya Kaila.
"Yo'i!"
"Jadi Sembilan Puluh Satu harinya beneran nih? Lo beneran ngasih gue hukuman Sembilan Puluh Satu hari?" tanya Kaila tak yakin.
Kana mengangguk membenarkan. "Gue gak pernah main-main soal ucapan gue. Lagipula memang kenapa? Lo gak keberatan 'kan?"
Kaila menggeleng. "Ya enggak sih. Cuma, apa alasannya?"
Kana tersenyum. "Nanti lo sendiri bakal tahu," ucapnya lalu mengisyaratkan Kaila untuk naik ke motornya.
Setelah Kaila naik ke motor, Kana kembali melajukan motornya. Laki-laki itu tetap seperti biasa dalam membawa motor— tenang dan damai.
Kaila tersenyum dan memejamkan mata. Cuaca pagi ini cukup membuat keduanya merasa nyaman. Tidak panas, serta tidak ada tanda-tanda akan turun hujan.
"Kan," panggil Kaila membuat Kana menoleh dan menatapnya dari balik kaca spion.
"Ada apa?"
Kaila berdeham. "Gimana persahabatan lo sama Aji dan Adinda? Udah baikan 'kan?"
Kana menggeleng. "Gue gengsi buat minta maaf duluan."
"Kenapa?"
"Ya gue 'kan gak salah. Gengsilah!"
Kaila menghela napas. "Kenapa harus mentingin gengsi sih, Kan? Hidup lo gak akan merasa lebih baik kalau lo selalu mikirin gengsi."
Kana diam. Ia meminggirkan motornya dan berhenti. "Maaf, Kai."
"Lo gak perlu minta maaf ke gue. Lo harus minta maaf ke mereka, Kana. Gue yakin, pasti mereka kangen banget sama lo. Mereka pasti ingin lo kembali seperti dulu. Seperti yang mereka kenal, Kan."
Kana diam. Ia tampak memikirkan ucapan Kaila. Ucapan gadis itu memang ada benarnya, namun ia tak bisa seperti itu. Rasa gengsi Kana begitu besar membuat ia tak mampu mengembalikan semuanya seperti dulu.
"Kana," lirih Kaila.
Kana menoleh padanya.
"Lo pasti bisa!"
Kana tersenyum. Laki-laki tak yakin dengan ini.
-o0o-
"Bima! Kiara!"
__ADS_1
"Iya, Ma!" jawab Bima dan Kiara yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
Kakak beradik itu berlari menghampiri Mamanya yang sudah siap untuk mengantarkan kedua anaknya menuju sekolah.
"Anterin Adek dulu, baru anterin Bima ya, Ma?" ucap Bima seraya masuk ke dalam mobil.
Nabila mengangguk, lalu melajukan mobilnya. "Oh ya Bim, Mas Joko belum nelpon soal mobil kamu?"
Bima menggeleng. "Mungkin masih rusak, Ma."
"Memang kamu apain sih mobil kamu sampai rusak gitu?"
Bima kembali menggeleng. "Bima sendiri gak tahu, Ma. Mungkin karena udah lama juga."
Nabila mengangguk mengerti. "Kamu kalau mau kemana-mana, bawa mobil ini aja. Mama gak tega liat kamu beberapa hari ini, di rumah terus."
Bima tersenyum. "Iya, Ma. Bima aja bosen, sampai gak bisa ngajakin Kaila pulang bareng."
Nabila tersenyum.
"Mama belum pernah ketemu sama Kaila 'kan?" tanya Bima dengan wajah cerianya.
Nabila menggeleng.
Bima berdecak. "Yah, sayang banget. Yaudah deh nanti aku kenalin calon pacarku itu ke Ma—"
"Oh ya, Bima. Gimana kalau setelah anter Adik kamu sekolah, kamu anter Mama ke Butik? Nanti mobil ini kamu bawa aja."
"Terus Mama pulangnya gimana?" tanya Bima.
"Mama bisa naik taksi, kok."
Bima mengangguk mengerti. "Oke, deh."
Nabila tersenyum dan kembali fokus dengan kemudinya.
-o0o-
Kaila mengangguk. "Inget pesan gue, lo harus baikan sama mereka."
Kana tersenyum dan berjalan pergi.
Beberapa gadis yang berada di koridor pun berteriak histeris saat melihat Kana melewati mereka. Pesona Kana memang benar-benar membuat mereka terpana. Bahkan saat rumor kedekatan Kana dan Kaila meluas pun, mereka tak henti untuk terus mengejar Kana.
Kana menghela napas dan mempercepat langkahnya. Ia tak ingin berlama-lama dengan para gadis itu yang bisa membuat Kaila cemburu. Mau bagaimana pun, ia harus meyakinkan Kaila jika ia memang serius akan perasaannya.
"Kana," panggil Rey— teman sekelas yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Kenapa, Rey?" tanya Kana.
"Lo di cariin Pak Oka."
Kana melebarkan mata. "Memang udah mulai jam olahraga?"
Rey mengangguk. "Udah dari Lima belas menit yang lalu. Kita olahraga di lapangan belakang, sekarang."
Kana mengangguk mengerti. "Terus lo mau kemana sekarang?" tanyanya pada Rey.
"Gue mau ambil bola dulu, kurang."
Kana membulatkan bibirnya lalu berlari menuju lapangan belakang. Untung saja ia sudah mengenakan seragam olahraga, jadi ia tak perlu lagi menggantinya.
"KANA!" teriak Oka yang melihat Kana berjalan menghampiri. "LARI!"
Kana mengangguk dan berlari menghampiri teman sekelasnya yang sudah berkumpul di lapangan.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa bisa telat? 'Kan Bapak udah bilang di grup, kita mulai kelas jam Tujuh lewat Lima belas menit. Memang kamu gak ada HP? Ha? Apa gak ada temen yang ngingetin?"
Adinda berdeham membuat Kana menoleh ke arahnya. Saat Kana menoleh, matanya bertemu dengan Adinda dan Aji yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh arti. Namun sulit untuk Kana artikan. Seperti tatapan kecewa— dan juga rindu.
"Ya sudah, cepet masuk barisan!" seru Oka.
"Baik, Pak."
Kana menghela napas dan berjalan menuju barisan. Di sampingnya, terdapat Aji dan juga Adinda di belakangnya. Kana benar-benar tak tahu harus bagaimana. Diam atau—
"Kana," panggil Aji membuat Kana menoleh.
"Kenapa?" tanya Kana tanpa menatap mata Aji sekalipun.
"Lo kenapa bisa telat?"
Kana mengangguk. "Gue—"
"Kita berdua kangen sama lo, Kan!" potong Adinda membuat Kana diam dan membuang tatapannya.
"Bener yang Adinda bilang, Kan. Kita berdua kangen sama lo. Ini udah Dua bulan kita diem-dieman, dan gue rasa— kita bertiga gak bisa kaya gini terus. Terutama Adinda, dia sedih kita bertiga kaya gak saling kenal."
Kana tersenyum miring.
Aji diam. Ucapannya seperti tak di anggap oleh Kana.
Kana menghela napas dan menatap kedua bola mata Aji. Ia menunjuk dadanya dengan jari telujuk. "Gue—"
Adinda menunduk. Ia tak sanggup lagi mendengar ucapan menyakitkan yang keluar dari bibir Kana.
Kana menatap Aji dengan tatapan luka. "Gue kangen sama kalian berdua!" ucapnya lalu merangkul Aji dan Adinda.
Adinda melebarkan mata dan tersenyum. Ia tak percaya Kana akan mengatakan hal itu. "Lo serius, Kan?" tanyanya tak percaya.
Kana mengangguk dan mengeratkan rangkulannya pada kedua sahabatnya itu.
Tanpa mereka sadari, sebuah senyum terukir indah menatap ketiganya. "Akhirnya."
"Jadi lo ngajakin kesini buat liat mereka baikan?" tanya Elsa pada gadis di sebelahnya.
Kaila mengangguk. "Gue seneng mereka baikan. Dengan itu, gue gak perlu lagi merasa bersalah lagi."
Elsa tersenyum dan memeluk sahabatnya. "Lo memang beda, Kai. Biasanya cewek lain cemburu kalau cowoknya deket sama sahabat cewek. Lah ini, malah pengen mereka deket lagi."
Kaila tertawa. "Gue 'kan gak ada hubungan apa-apa sama Kana. Jadi buat apa gue cemburu?"
"Tapi ada rasa 'kan? Atau lo semakin nyaman sama Aji?"
"Enggak, soal Aji gue udah ada apa-apa. Lagipula gue udah jauh juga sama dia."
"Iyalah. Orang sekarang deketnya sama Kana sama Bima."
Kaila berdecak. "Apaan sih?"
"Apaan sih, apaan sih, tapi suka!"
Kaila terkekeh. "Udah yuk, balik ke kelas."
Elsa mengangguk dan mengikuti langkah Kaila.
"KAILA!"
Kaila menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah lapangan. Di sana terdapat Kana yang melambaikan tangan kepadanya.
Kaila tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya kembali ke kelas.
__ADS_1
-o0o-