
Part 35
Perjalanan Kana kali ini memang benar-benar tak terduga. Baru beberapa menit ia tiba di Jakarta, ia harus kembali ke Yogyakarta.
Bukan karena paksaan. Tetapi ini keinginan Kana sendiri. Ia ingin menemui kekasihnya itu dan menguatkannya.
Dan untuk Aji dan Adinda. Kedua sejoli itu ingin menemui Kaila secara langsung dan menyemangatinya.
Perjalanan ketiganya memakan waktu Satu jam lebih sepuluh menit dengan menggunakan pesawat.
“Kan, kamu tahu ‘kan dimana rumah sakitnya?” tanya Adinda saat ketiga sahabat itu sudah berada di taksi setelah sampai di Yogyakarta.
Kana mengangguk. “Kaila udah kirim alamatnya.” Kana menoleh pada supir taksi di sebelahnya. “Ke alamat ini ya, Pak.”
“Siap, Mas.”
-o0o-
Kaila duduk di depan ruang perawatan. Ibunya belum juga sadar sampai sekarang. Dokter telah memeriksa dan beberapa perawat pun mengambil sampel darah untuk dibawa ke ruang laboratorium untuk mengetahui masalah apa yang terjadi pada ibunya.
“Kak.”
Kaila menoleh dan menatap Kiara. “Kenapa sayang?”
“Mama masih lama ya sadarnya?” tanya Kiara dengan mata sembab.
Kaila tersenyum dan memeluk adik bungsunya. “Kita berdoa aja ya, semoga Mama cepet sadar.”
Kiara mengangguk.
‘Drtttt!’
Ponsel Kaila bergetar. Sepertinya ada yang menelpon gadis itu.
“Sebentar ya, Dek.” Kaila meraih ponselnya dan melebarkan mata terkejut melihat siapa yang tengah menelponnya.
Dengan tangan bergetar, Kaila menggeser tombol hijau di ponselnya.
“Ha—halo,” ucapnya dengan dada terasa sesak.
“Mama gimana?”
Kaila menghela napas panjang. “Mama belum sadar, Bim.”
“Kak Bima, Kak?” tanya Kiara saat mendengar Kaila menyebut nama Kakak laki-lakinya itu.
Kaila mengangguk.
“Kamu sekarang di rumah sakit sama siapa?” tanya Bima yang berada jauh di Negara orang.
“Aku sama Kiara.”
“Kamu yang kuat ya. Jagain Adek dan Mama kita. Gak lama lagi aku tiba di sana.”
Kaila mengerutkan dahi. “Kamu mau pulang kesini?”
“Iya, aku udah di Bandara sekarang. Sebentar lagi aku terbang ke Indonesia.”
Senyum Kaila merekah mendengar Bima akan tiba disini.
“Yaudah, aku mau urus ini dulu ya. Kamu hati-hati disana. Jangan lupa makan. Inget, kesehatan kalian sekarang yang terpenting. Jangan sampai sakit juga.”
Kaila mengangguk refleks, dan tanpa ia sadari, air matanya menetes.
Sambungan terputus. Kaila menaruh kembali ponselnya dan menatap wajah Kiara. Ia kembali menitihkan air mata, lalu memeluk gadis kecil itu.
-o0o-
“Berhenti, Pak.” Kezia menghentikan taksi yang dinaikinya dan berhenti di sebuah sekolah. Ia turun dari mobil itu dan menatap bangunan di depannya.
“Kak!” teriak seseorang membuatnya menoleh.
Kezia tersenyum dan menunggu orang yang memanggilnya sampai di depannya.
__ADS_1
“Kakak di suruh Mama buat jemput Gladis?” tanya gadis cantik bernama Gladis tersebut.
Kezia menggeleng. “Sebelum Mama ngamuk, kakak berinisiatif buat jemput kamu.”
Gladis tertawa kecil. Keduanya saling tertawa. Namun, senyum Gladis perlahan memudar.
“Maafin Mama ya, Kak.”
Kezia menaikkan kedua alisnya.
Gladis tersenyum dan meraih tangan Kezia. “Maafin Mama karena udah bersikap gak adil ke aku dan kakak.”
Kezia tersenyum dan mengangguk. “Kakak gak papa kok. Karena kebahagiaan kakak, ngeliat kamu bahagia.”
Gladis tersenyum dan memeluk kakaknya tersebut. “Aku seneng kakak sayang banget sama aku. Tapi aku takut kalau—“
Kezia mengerutkan dahinya. “Takut apa?”
“Kakak pergi ninggalin aku,” ucap gadis itu dengan senyum tipis.
Kezia tertawa dan mengusap pucuk kepala adiknya. “Kamu gak perlu takut. Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi adik kakak.”
Gladis tersenyum. Namun semua percaya jika itu bukan senyuman lega yang muncul dari wajahnya. “Emm— Kak, gimana kalau kita jalan-jalan dulu?”
“Kemana?” tanya Kezia.
Gladis tersenyum. Ia pun teringat suatu tempat yang ingin ia kunjungi. “Gimana kalau kita ke—”
‘Drrtttt!’
“Halo?”
Gladis menaikkan kedua alisnya saat melihat kakaknya menerima sebuah telepon.
“Apa?”
Gladis ikut terkejut melihat perubahan wajah Kezia.
“Sekarang ada dimana? Oke, Oke, aku kesana sekarang.” Kezia mematikan sambungan itu dan menoleh pada Gladis. “Dek, kakak minta maaf banget, tapi kamu pulang sendiri ya?”
Kezia mengangguk.
“Tapi nanti kalau Mama tahu, gimana?” tanya Gladis takut.
Kezia meraih tangan Gladis. “Dia yang terpenting sekarang. Jadi kakak mohon, kamu bantu kakak ya buat jangan bilang ke Mama.”
Gladis mengangguk. “Iya, Kak.”
Kezia tersenyum. “Yaudah, kamu naik taksi ini ya?”
“Terus kakak?”
“Kakak bisa naik taksi lain.”
Gladis mengangguk. “Kakak hati-hati ya? Gladis minta maaf karena gak bisa nemenin kakak.” Gadis itu meraih tangan Kezia mencoba memberi kekuatan.
Kezia tersenyum dan mengangguk. Lalu melangkah pergi dan menghentikan sebuah taksi yang melintas.
Gladis menghela napas dan tersenyum tipis menatap punggung kakaknya. “Gladis pengen liat Kak Kezia bahagia.”
Ia tersenyum dan masuk ke dalam taksi.
-o0o-
“Kai.”
Kaila menoleh dan menatap Wilko yang masih berada disini.
Benar, Wilko memang berada disini. Laki-laki itulah yang membantu Kaila dan Kiara untuk membawa Mama mereka kemari.
“Aku suruh Wilka kesini ya?”
“Gak usah, Ko. Aku gak mau ganggu waktu liburan dia. Lebih baik kamu pulang juga aja. Aku gak papa kok sama Kiara.”
__ADS_1
Wilko menggeleng. “Aku tetep disini sampai Kana atau keluarga kamu sampai sini, Kai.”
“Makasih ya?”
Wilko mengangguk. Ia menatap Kaila dan Kiara dengan tatapan sedih.
“KAILA!”
Kaila, Kiara dan juga Wilko menoleh ke koridor saat mendengar seseorang berteriak memanggil Kaila.
Kaila bangkit berdiri dan tersenyum. Itu adalah Adinda bersama dengan Aji dan juga Kana.
Adinda berlari dan memeluk Kaila.
Dada Kaila terasa sesak. Perasaannya campur aduk sekarang. Antara sedih dan juga senang.
“Lo yang kuat ya?” ucap Adinda setelah melepas pelukannya.
Kaila mengangguk dan menatap gadis itu. “Makasih banyak ya? Lo udah jauh-jauh kesini.”
Adinda mengangguk dengan senyuman. “Gue pengen nebus semua kesalahan gue, Kai. Makanya gue dateng kesini untuk menghibur lo.”
Aji dan Kana tersenyum. Melihat kedua gadis itu menjadi akrab, membuat keduanya bahagia.
Kana menoleh pada Wilko. “Wilko, kok ada disini?”
Wilko tersenyum dan mengangguk. “Gue yang bantu Kaila buat bawa Mamanya kesini.”
Kana menghela napas lega dan tersenyum menatap laki-laki itu. “Makasih banyak ya?”
Wilko mengangguk. “Karena kalian udah disini, gue pamit pulang ya?” ucapnya.
Kaila mengangguk. “Makasih banyak ya, Ko.”
Wilko tersenyum lalu beralih pada Kiara. “Kiara harus kuat. Mama pasti baik-baik aja.”
Kiara mengangguk. “Makasih banyak ya, Kak.”
Wilko mengangguk dengan senyuman lalu berjalan pergi.
“Dia siapa, Kai?” tanya Aji penasaran.
“Dia tetangga sekaligus kembaran sahabatku.”
Aji dan Adinda membulatkan bibirnya mengerti.
“Kita boleh liat Mamamu?” tanya Adinda.
Kaila mengangguk dan mengajak ketiganya untuk masuk ke dalam.
Dan tanpa mereka semua sadari, terdapat seseorang yang terus memperhatikan. Ia tak berani muncul, serta tak ada yang tahu keberadaannya disini. Kecuali satu.
“Kamu udah disini?”
Ia melebarkan mata terkejut saat seseorang berada di belakangnya.
-o0o-
a/n :
Hai! Hai!
Gimana puasanya? Lancar?
Maaf ya udah buat kalian nunggu lama. I’m sorry, but I very busy. :(
Huhuhu
Gimana part ini? Ada ribuan pertanyaankah tentang siapa orang itu?
Atau, kalian udah tahu dan nebak-nebak siapa dia?
Tunggu part selanjutnya ya.
__ADS_1
Maka kalian akan tahu siapa dia.