
Part 21
"Makasih ya, kalian semua udah bantuin aku,” ucap Kaila saat keempatnya telah kembali di Yogyakarta.
Wilka yang tengah meaih barang-barangnya pun tersenyum. “Sama-sama, Kaila. Semoga untuk kakakmu, cepet dapet petunjuk ya dimana keberadaannya. Nanti kalau udah ada petunjuk, aku sama Kevin siap berpetualang lagi kok.”
Kevin mengangguk membenarkan. “Tenang aja, Kai. Selagi ada kita berdua, urusan pencarian pasti terselesaikan.”
Kaila mengangguk dan tertawa kecil. “Seneng banget bisa kenal temen-temen kaya kalian.”
“Harus dong!” ucap Kevin membuat Kana yang berada di situ ikut tersebut.
“Yaudah, kita berdua pulang dulu ya?” ucap Wilka dan diikuti oleh Kevin.
Kaila mengangguk. “Hati-hati ya! Kabarin kalau udah sampai rumah.”
“Elah, rumah cuma beberapa langkah,” ucap Wilka membuat Kaila dan Kana tertawa.
Setelah kedua sahabatnya tak terlihat lagi, Kaila menoleh pada Kana. “Masuk dulu yuk? Ketemu Mama,” ucap Kaila.
Kana mengangguk dan mengikuti langkah Kaila memasuki rumah tersebut.
“Assalamualaikum,” ucap Kaila member salam.
Nabila yang tengah duduk di sofa pun menoleh. “Eh, Kaila Kana.” Nabila bangkit dari duduknya dan menghampiri keduanya. “Gimana? Kalian berhasil?” tanya Nabila penasaran.
Kaila menghela napas dan memeluk Nabila. “Maafin Kaila, Ma. Kaila cuma ketemu Papa.”
“Papa?”
Kaila mengangguk.
“Gimana kabar dia?” tanya Nabila.
Mau bagaimana pun, wanita itu penasaran dengan mantan suaminya tersebut.
“Papa baik, Ma. Papa juga titip ini buat Mama,” Kaila menyerahkan sebuah surat.
Nabila meraih surat itu dan menggenggamnya. Ia akan membaca surat itu nanti.
“Jadi kalian gak ketemu Kirana disana?”
Kaila menggeleng dan mulai menjelaskan semuanya. Tentang apa yang Angga katakana padanya.
Mendengar penjelasan Kaila, membuat hati Nabila terasa teriris. Air matanya tak dapat ia bendung lagi.
“Maafin Kaila, Ma. Kaila belum bisa cari kakak.”
Nabila menggeleng. “Ini bukan salahmu, nak. Orangtua kalian yang udah salah. Kalau seandainya saat itu Mama gak egois, pasti kalian gak ada terpisah kaya gini.”
Kaila menggeleng dan memeluk Nabila. “Mama jangan nyalahin diri lagi. Ini semua udah terjadi, Ma. Gak ada lagi yang perlu di sesali.” Kaila melepas pelukannya dan menatap wajah ibundanya. “Kiara udah tenang di surga dan Kak Kirana udah bahagia sama keluarga angkatnya. Kita berdoa aja yang terbaik untuk mereka, Ma.”
Nabila mengangguk.
Kaila tersenyum dan menyeka air mata Ibunya. “Mama tahu gak?”
Nabila menaikkan kedua alisnya, menunggu Kaila melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Papa itu masih sayang sama Mama. Bahkan kalau Mama tahu, sampai sekarang Papa belum menikah. Papa belum bisa ngelupain Mama dari hati Papa.”
Nabila menatap mata Kaila. “Dia bilang gitu?”
Kaila mengangguk. “Papa sendiri bilang gitu. Papa bahkan bilang itu di depan Kana juga,” ucap Kaila yang menoleh pada Kana.
Kana mengangguk membenarkan. “Bener, Tan. Om Angga bilang sendiri.”
Nabila menghela napas dan mendongak ke atas, berusaha agar air matanya tidak jatuh. “Kalau dia beneran gak bisa lupain, kenapa dia gak dateng buat nemuin.”
Kana tersenyum. Ia menyenggol lengan Kaila membuat gadis itu menoleh dan tersenyum.
-o0o-
“Jadi menurut kamu, Mamaku bakal kasih harapan buat Papa?”
Kana mengangguk. “Aku yakin banget.”
Kaila tersenyum dan memegang kedua pipinya sendiri.
“Aku berdoa na suami calon mertuaku bisa utuh lagi,” ucapnya membuat Kaila terkekeh.
“Pulang gih, udah malem.”
“Yah, ngusir,” ucap Kana.
“Udah malem, sayang. Besok kita kuliah,” ucapnya seraya mendorong Kana ke gerbang.
Kana menghela napas dan akhirnya mengangguk. “Iya, iya. Besok aku jemput ya berangkatnya?”
“Oke, siap!”
“Kana, ih!”
Kana hanya menyengir kuda dan melangkah pergi.
“Hati-hati, ya!” teriak Kaila.
Kana mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
Setelah Kana tak terlihat lagi, Kaila pun menyentuh pipinya yang merah padam. Bisa-bisanya Kana menciumnya di pinggir jalan seperti ini.
“Ah, Kana!” teriaknya mengingat hal tadi.
Kaila menggelengkan kepala dan berlari ke dalam.
-o0o-
Senin adalah hari yang sangat melelahkan. Selain ada jadwal kuliah yang padat. Senin juga adalah hari dimana mahasiswa tingkat Satu fakultas kedokteran harus melanjutkan kuliah sore harinya dengan praktek bimbingan.
“Capek,” ucap Wilka yang menyusuri koridor untuk menuju laboratorium yang berada di lantai atas.
Kaila hanya terkekeh melihat sahabatnya yang terus mengeluh itu.
Wilka berdecak. “Capek loh. Udah kuliah full, tugas banyak, di lanjut praktek pula. Ya Allah, pengen nikah aja!”
“Heh! Kalau ngomong!” ucap Kevin yang berada di sebelahnya. “Sok-sok mau nikah, masak aja enggak bisa.”
__ADS_1
“Memangnya kalau mau nikah harus bisa masak? Hmm?” Wilka menaikkan kedua alisnya pada Kevin. “Aku itu mau jadi istri, bukan daftar jadi koki!”
“Yaudah, kalau gitu entar aku suruh Flero untuk cepet nikahin,” ucap Kevin dan melangkah pergi.
Kaila menggelengkan kepala. “Kayanya kalian tiada hari ya tanpa berantem.”
“Ya gitulah, Kai. Mereka memang gitu,” ucap Gisele yang mengimbangi langkah Kaila dan Wilka.
Kaila tersenyum tipis. Entah mengapa, melihat Gisele berbicara padanya, membuat Kaila tidak nyaman.
“Oh ya, gue denger, kalian kemarin ke Jakarta?” tanya Gisele pada kedua gadis di sebelahnya.
Wilka mengangguk. “Jadi kemarin itu kami liburan dalam rangka anniversary Kaila Kana,” jawab Wilka dengan raut cerita.
Gisele tersenyum tipis. Mendengar hal tersebut, membuat gadis itu kesal.
“Tahu gak sih, Sel? Menurut aku ya, Kana itu cowok terso-sweet yang pernah aku lihat. Apalagi perlakuannya ke Kaila itu. Manis banget! Aku gak ngerti lagi sih.”
Gisele memutar bola matanya, lalu menoleh pada Kaila. “Selamat ya?”
Kaila mengangguk. Gadis itu tahu Wilka sedang memanas-manasi Gisele.
“Nak! Nak! Nak!” teriak seorang dosen yang menghampiri mereka.
“Kenapa ya, Bu?” tanya Wilka dan juga Kaila.
“Kalian yang mau praktek bimbingan sore ini ‘kan?” tanya dosen tersebut.
“Iya, Bu. Ada ketuanya ‘kan? Tolong ketuanya bon alat dulu ya. Karena yang bimbingan bukan hanya kelas kalian saja,” ucapnya
“Maaf Bu, tapi ketuanya lagi menghadap koordinator mata kuliah,” ucap Kaila.
“Oh ya sudah, carikan pengganti ketuanya.”
“Saya wakil ketuanya, Bu!” seru Gisele.
“Cari kawan Satu lagi ya,” ucap dosen tersebut dan berlalu pergi.
Gisele tersenyum dan menoleh pada Kaila. “Ayo, Kai. Lo ‘kan sekretaris.”
Kaila mengangguk dan mengkuti langkah Gisele.
Kaila tak banyak bicara saat beriringan berjalan dengan Gisele. Gisele pun demikian. Gadis itu tak mengeluarkan sepatas kata pun. Namun matanya terus melirik ke arah Kaila.
“Lo kenapa sih bisa pacaran sama Kana?” ucap Wilka membuat Kaila mengerutkan dahinya dan menoleh.
“Kenapa bisa?” tanya Kaila.
Gisele mengangguk.
“Ya Krena Kana cinta sama guelah,” ucap Kaila.
Gisele tersenyum miring. “Asal lo tahu, Kai. Cowok itu gak selalu macarin cewek karena dia cinta."
“Terus maksud lo, Kana macarin gue bukan dasr rasa cinta? Ya cintalah. Ya kali enggak. Dan sorry, gue tahu lo suka sama cowok gue, jadi gue gak akan terperangkap sama hasutan lo,” ucap Kaila dan berjalan lebih dulu.
“Kaila, gue belum selesai ngomong sama lo!” teriak Gisele.
__ADS_1
-o0o-