
Part 38
‘Tok! Tok! Tok! Tok!’
Naira dan Kaila saling memandang saat terdengar suara ketukan pintu.
“Siapa ya?” ucap Naira seraya bangkit dari duduknya.
Kaila menggeleng dan ikut bangkit. “Kaila aja, Tan.”
Naira mengangguk dan mengurungkan niatnya. Ia kembali duduk dan meraih ponsel di meja.
Kaila yang bangkit, berjalan menuju pintu. Sesampainya di sana, gadis itu segera membukanya. Senyumnya melebar saat melihat Tiga orang yang kini tengah tersenyum ke arahnya.
“Mama,” lirih Kaila dengan senyum bahagia.
Bagaimana tak bahagia. Di saat seperti ini, seseorang yang tengah ia rindukan hadir menemuinya.
Nabila tertawa kecil dan langsung memeluk putrinya. “Mama kangen banget sama kamu, nak. Makanya Mama minta anterin Bima kesini.”
Kaila mengangguk dan menikmati pelukan Nabila. “Kaila juga, kangen— banget sama Mama.”
Nabila terkekeh dan mencubit pelan hidung Kaila.
“Kakak.” Kiara menarik ujung baju Kaila membuat Kaila menoleh ke arahnya.
Kaila tersenyum dan beralih pada gadis kecil tersebut. “Kiara, apa kabar? Kak Kaila kangen banget sama kamu.”
Kiara mengangguk. “Kiara juga kangen Kakak. Kangen banget. Kiara seneng ternyata Kak Kaila kakak Kiara.”
Kaila melebarkan mata dan memandang Nabila.
Nabila mengangguk dengan senyuman. “Mama udah ceritain ke Kiara kalau kamu kakaknya juga. Dan Kiara seneng banget. Ya ‘kan, nak?” tanyanya pada Kiara.
Kiara mengangguk membenarkan. “Iya dong!”
Kaila kembali tersenyum dan menarik Kiara dalam pelukannya. “Kiara, Kiara, kenapa kamu semakin bikin Kakak gemes sih.”
Kiara tertawa lalu melepas pelukan Kaila dan menyentuh pipi kakanya tersebut. “Kiara seneng banget punya kakak kaya Kak Kaila. Dan, Kaila juga seneng karena sekarang Kiara punya Dua kakak.” Kiara meraih tangan Kaila. “Kak Kaila—” lalu meraih tangan Bima. “Dan Kak Bima!”
Kaila tersenyum. Begitupun Bima. Namun, senyum Bima nampak berbeda. Laki-laki itu berusaha tersenyum dengan luka yang tak dapat ia tutupi.
“Makasih ya Ma udah kasih Kiara Dua kakak,” ucap Kiara pada Nabila.
Nabila tersenyum dan mengangguk. “Iya, sayang. Kamu bahagia ‘kan?”
“Bahagia banget.”
Kaila terkekeh. Ia menyentuh pucuk kepala Kiara dan mengusapnya lembut.
“Kaila! Ada siap—” Naira melebarkan mata saat melihat seseorang yang berada di hadapan Kaila. “Kak Bila?”
Nabila menoleh dan menatap Niara dengan penuh kerinduan. “Naira.”
Naira memandang Nabila tak percaya.
Nabila tersenyum. Ia mendekat dan memeluk adiknya tersebut. “Maafin Kakak, Nai. Maafin Kakak.”
Naira menggeleng dan melepas pelukan kakaknya. “Kenapa Kak Bila tega?”
Bima dan Kaila terkejut melihat Naira yang nampak belum bisa menerima Nabila. Keduanya pun mencoba menarik Kiara dan menggenggam tangannya.
Nabila memandang adiknya dengan tatapan menyesal. Ia mendekat dan memohon maaf. “Maafin Kakak, Nai. Kakak sadar Kakak salah.”
__ADS_1
“Memang Kakak salah!” bentak Naira membuat Kiara ketakutan.
“Kak, Kiara takut,” lirih Kiara yang bersembunyi di belakang Bima.
Naira menatap Nabila dengan tatapan kecewa. “Kakak gak pernah tahu ‘kan gimana sulitnya Kaila saat dia cari-cari Kakak?”
Nabila diam dan menunduk. Hatinya benar-benar sakit.
“Apa Kakak tahu gimana menderitanya Kaila saat di culik dan di perlakukan semena-mena sama suami baru Kakak?!”
Nabila tetap diam. Mendengar kalimat itu saja cukup membuatnya semakin sakit.
“Apa Kakak pernah mikirin gimana nasib Kaila di tinggal orangtuanya saat dia butuhin kasih sayang orangtua? Apa Kakak pernah mikirin itu?!”
Nabila menangis.
“Kakak gak pernah tahu rasanya jadi Kaila, Kak,” ucap Naira dengan suara parau.
Kaila sendiri yang mendengar ucapan Naira pun ikut menangis. Namun mau bagaimanapun ia sudah memaafkan Nabila. Ia tak ingin memendam benci padanya Ibunya sendiri. Bagaimana pun Nabila-lah yang telah melahirkannya ke dunia ini. Dan berkat Nabila juga, Kaila mengerti bagaimana pahitnya sebuah hidup. Namun Kaila juga harus berterima kasih, karena perlakuan orangtuanya lah yang membuatnya tumbuh menjadi gadis yang kuat.
“Kak, apa Kakak pernah mikirin—”
“Tante, cukup,” lirih Kaila.
Naira menggeleng. “Mama kamu perlu tahu gimana sulitnya kamu, Kai.”
Nabila menangis dan meraih tangan Naira. “Kakak minta maaf, Nai. Kakak sadar Kakak udah salah.”
Naira menghela napas kasar dan membuang tatapannya ke arah lain.
“Tante, tolong maafin Mama. Mama ngelakuin itu pasti karena ada alasannya.”
“Dan ngebiarin kamu di culik suaminya pun karena ada alasannya?!” tanya Naira kesal.
Naira menghela napas dan menatap Nabila dengan dinginnya. “Jangan pernah bangga jadi seorang Ibu kalau Kakak sendiri gak berhasil jadi Ibu yang baik buat Kaila!”
“Nai, maafin Kakak,” pinta Nabila.
Naira tak bergeming. Ia melipat kedua tangannya di depan dada tanpa berani menatap mata Nabila.
“Naira, Kakak mau bicara serius sama kamu. Tolong kamu dengerin Kakak ya?” pinta Nabila dengan sangat.
Naira menghela napas panjang. “Apa lagi?”
“Tolong, Nai. Tolong dengerin Kakak. Kakak mau bicara sama kamu.”
Naira mengangguk. “Yaudah kita bicarain di dalem.”
Nabila mengangguk lalu menoleh pada Kiara. “Kiara, kamu sama Kak Bima dan Kak Kaila ya?”
Kiara mengangguk. “Iya, Ma.”
Nabila tersenyum dan mengikuti Naira masuk ke dalam.
“Kak, Kak Bima, Kak Kaila,” panggil Kiara.
Bima menoleh. “Ada apa, Dek?” tanyanya.
“Kiara pengen ke taman yang waktu itu. Kiara takut disini.”
Bima menaikkan kedua alisnya lalu menoleh pada Kaila. “Gimana Kai? Kiara pengen ke taman.”
Kaila mengangguk. “Ayo!”
__ADS_1
“Asik!” seru Kiara seraya menggandeng tangan kedua kakaknya.
-o0o-
Naira memandang Nabila dan membiarkan wanita itu berbicara. Senyum Naira bahkan belum tercipta. Sebenarnya, ia begitu rindu dengan Nabila. Namun, rasa marah dan kesalnya melebihi apapun. Sebab, ia bisa merasakan bagaimana sulit dan pedihnya Kaila menjalani semuanya.
Namun, melihat Kaila dapat memaafkan. Naira tak bisa apa-apa.
Nabila menggigit bibir bawahnya dan menghela napas. “Kakak minta maaf Nai atas apa yang udah Kakak lakuin selama ini.”
Naira diam. Ia tak bergeming sedikit pun.
“Kakak tahu dan sadar kalau udah Kakak salah ninggalin Kaila. Kakak adalah Ibu yang paling jahat bagi Kaila. Kakak sendiri ngerasa gak berhasil jadi Ibu buat Kaila. Kakak udah tega ninggalin Kaila sendiri tanpa adanya sosok Ayah dan Ibu.”
Naira mengangguk. Itu semua memang benar.
“Tapi Naira, sekarang Kakak bersyukur, karena Kaila gak merasakan apa yang udah di alami adiknya.”
Naira mengerutkan dahinya. “Maksud Kakak?” Naira melebarkan mata. Ia baru teringat sesuatu. Sejak tadi ia tidak melihat keponakannya yang lain. Kiara, adik Kaila yang saat itu ikut bersama Nabila pergi. “Kiara mana, Kak?”
Nabila menunduk, raut wajahnya pun berubah. Air matanya jatuh dan tak dapat ia bendung lagi.
“Kak! Jawab! Kiara mana?!” teriak Naira seraya menggoyangkan tubuh Nabila.
Nabila menangis. Tangisnya begitu pecah.
Naira semakin di buat bingung dengan Kakaknya. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?
“Kak.” Naira semakin tak tega. Ia mendekat dan menarik Nabila ke dalam pelukannya. “Sebenarnya apa yang udah terjadi, Kak? Kemana Kiara?”
“Kiara udah pergi ninggalin kita.”
Naira melebarkan mata. “Maksud Kakak? Kiara udah—”
Nabila mengangguk. “Kiara udah meninggal, Nai.”
“Kenapa bisa meninggal, Kak? Apa yang udah terjadi sama dia?”
“Kiara kecelakaan, Nai. Kiara kecelakaan di hari yang sama saat Kakak ninggalin Kaila.”
Naira melebarkan mata. “Bagaimana bisa, Kak?”
Nabila menangis. Wanita itu seperti tak mampu menceritakan semuanya.
“Kak. Jawab.”
Nabila menyenderkan kepalanya di kursi dan menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. “Saat kami sampai di Jakarta, kami berhenti di sebuah halte. Kakak waktu itu gak tahu harus minta bantuan siapa. Akhirnya Kakak coba nelpon temen-temen Kakak yang kebetulan tinggal di Jakarta. Tapi, saat Kakak lagi telponan, Kakak gak tahu kalau Kiara udah gak ada di samping Kakak. Pas Kakak sadar, dia di tengah jalan. Kakak coba ngejar, tapi semua terlambat.”
Naira menggeleng. Ia mengerti arah kelanjutannya.
“Sebuah mobil dengan kecepatan kencang menabrak Kiara. Tubuh Kiara tempental jauh. Dia meninggal di tempat, Nai.”
Naira mengeleng. Ia memandang wajah Nabila. “Siapa yang udah nabrak Kiara, Kak?”
Nabila menunduk.
“Kak. Jawab! Siapa yang udah nabrak Kiara?!”
“Papanya Bima. Suami Kakak sekarang.”
Naira melebarkan mata dan menutup mulutnya tak percaya.
...-o0o-...
__ADS_1