
Part 41
'Kring… Kring…Kring…'
Suara bel masuk berbunyi nyaring membuat seluruh murid berlari ke kelas masing-masing.
Hari ini seluruh murid SMA kelas 12 datang datang ke sekolah. Mereka semua datang untuk mengumpulkan berkas-berkas yang sekolah mereka berikan.
“Gais, udah denger belum kalau SMA kita mau ngadain promnight?” ucap Ajeng saat teman sekelasnya berkumpul.
Elsa melebarkan mata. “Seriusan? Demi apa lo? SMA kita ngadain promnight? Tumben amat!”
“Memang tahun-tahun sebelumnya gak di adain ya?” tanya Kaila yang menyadari dia adalah murid baru.
Elsa menggeleng. “Boro-boro ngadain promnight, ngadain acara sampai malem aja di bubarin sama kepala sekolah.”
Kaila membulatkan bibirnya mengerti.
“Terus kapan Jeng acara promnight-nya?” tanya Selly, teman sekelas mereka.
“Katanya sih barengan sama pengumuman kelulusan dan SNMPTN.”
Kaila melebarkan mata. “Lusa?”
Ajeng mengangguk. “Dan hebohnya, acara promnight kita bakal di lengkapi dengan pesta topeng. Dan lebih asiknya lagi, kita semua di buat berpasang-pasangan gais. Kita gak bisa milih pasangan kita. Karena itu bakal di buat random dan, yah! Ini bakal jadi kejutan buat kita!”
Elsa mengerutkan dahinya. “Kok lo bisa tahu, sih?”
Ajeng tertawa. “’Kan adek gue OSIS SMA ini.”
Teman sekelasnya membulatkan bibir.
“Jadi OSIS yang ngadain?”
Ajeng mengangguk. “Tumben banget ‘kan OSIS kita pengertian,” ucap Ajeng membuat mereka semua tertawa.
Kaila tersenyum dan kembali ke mejanya.
Melihat Kaila duduk di meja, Elsa pun mengikuti. “Pasti lo berharap bisa psangan sama Kana ‘kan?” tanyanya dengan senyum menggoda Kaila.
Kaila tertawa kecil. “Semoga aja ya?”
Elsa mengangguk. “Aamiin.” Elsa meraih ponsel dari dalam sakunya. “Oh ya Kai, kemarin gue ketemu Bima.”
“Terus dia bilang apa?”
Elsa menggeleng. “Dia gak bilang apa-apa. Dan gue lihat-lihat, dia lebih dingin dari biasanya. Bahkan saat ketemu gue pun, dia gak nyapa gitu. Gak kaya biasanya, Kai.”
Kaila terdiam beberapa saat. “Kenapa dia jadi gitu ya?”
Elsa menggeleng tak tahu. “Lo udah coba bicara lagi sama dia?”
“Belum. Setiap gue ke kelasnya, dia gak pernah ada. Dan kalau ketemu di jalan, dia tetep ngehindar gitu dari gue.”
Elsa menghela napas dan mengusap lembut pundak Kaila. “Lo yang sabar ya?”
Kaila mengangguk dengan senyuman.
-o0o-
Adinda berjalan memasuki kelasnya. Ia melihat Aji sudah duduk di bangkunya dan terlihat fokus dengan ponsel di genggaman.
__ADS_1
Rasa tak enak masih Adinda rasakan. Meskipun kejadian itu sudah terlewat beberapa waktu lalu. Rasa canggung sangat terasa jelas di antara Adinda dan Aji. Keduanya sendiri tak pernah lagi berangkat sekolah bersama ataupun pergi bersama lagi. Meskipun hanya ke rumah Kana.
“Ji,” panggil Adinda yang sudah berada di hadapan Aji.
Aji menaruh ponselnya di atas meja dan menoleh. “Kenapa?”
Adinda menunduk dan melirik bangku kosong di samping Aji.
“Kana gak masuk.”
“Kenapa?” tanya Adinda penasaran.
Aji menggeleng. “Ada urusan keluarga katanya.”
Adinda membulatkan bibirnya dan berjalan menuju mejanya.
“Lo kesini cuma nanyain Kana doang?” tanya Aji membuat Adinda menghentikan langkahnya.
Adinda menoleh dan kembali menghampiri Aji. “Gue— gue minta maaf soal itu. Tapi gue—”
Aji mengangguk. “Gak perlu di perjelas gue udah tahu kok. Sampai kapan pun juga perasaan lo gak akan pernah ada buat gue.”
Adinda mengangguk dan kembali ke mejanya.
Aji menghela napas dan mengepalkan tangannya. Rasanya sangat berat mengetahui orang yang dia cintai tak bisa membalas perasaannya.
“Adinda!” teriak beberapa teman sekelasnya membuat Aji menoleh ke belakang.
Aji melebarkan mata melihat Adinda yang terjatuh pingsan. Ia menghampiri dan mengangkat tubuh gadis itu.
“Ayo Ji bawa ke UKS,” ucap Clara teman sekelas mereka.
Aji mengangguk dan membawa Adinda dengan sedikit berlari.
Beberapa dari mereka yang tengah berada di koridor pun memberi celah untuk Aji. Mereka semua juga terkejut dan penasaran. Karena ini bukan pertama kalinya Adinda pingsan. Gadis itu sudah sering pingsan, bahkan saat jam pelajaran sedang berlangsung.
“Gue rasa, kayanya tuh orang punya penyakit deh,” ucap beberapa murid yang tak sengaja melihat Adinda di bawa oleh Aji.
“Wah jangan ngadi-ngadi lo!” ucap teman yang berada di sebelahnya.
“Gue rasa sih gitu, karena ini bukan pertama kalinya dia pingsan. Bahkan gue pernah lihat dia di toilet mimisan.”
Mereka yang berada di situ pun menutup mulutnya tak percaya.
“Lo seriusan?”
“Iya, beneran!”
Dan masih banyak lagi yang membicarakan perihal Adinda.
-o0o-
Aji meletakkan tubuh gadis itu di ranjang UKS dan membiarkan perawat memberikan beberapa tindakan agar Adinda sadar.
“Maaf, kamu tunggu di luar ya?” ucap salah seorang perawat pada Aji.
Aji mengangguk dan berjalan keluar. Perasaannya masih tak tenang. Ia penasaran, sebenarnya apa yang terjadi pada Adinda?
Aji menghela napas dan mengusap wajahnya gusar.
“Aji!” teriak seseorang membuat Aji menoleh.
__ADS_1
“Kaila?” ucap Aji yang melihat Kaila berjalan menghampirinya.
“Lo ngapain di sini?” tanya Kaila melihat Aji tengah berada di depan UKS.
“Adinda pingsan.”
“Adinda pingsan lagi?” tanya Kaila terkejut.
Aji mengangguk membenarkan.
Ya, Kaila juga mengetahui jika Adinda sering sekali pingsan. Bahkan saat itu pernah sekali ia dan Kana yang mengantarkan Adinda. Meskipun ia sempat cemburu melihat Kana menggendong Adinda, tetapi Kaila harus sadar jika ia bukan siapa-siapa Kana.
“Oh ya Ji, lo liat Kana?” tanya Kaila yang terlihat membawa kotak makan untuk Kana.
Aji mengerutkan dahinya. “Memang Kana gak bilang apa-apa sama lo?”
Kaila menggeleng. “Dia gak masuk sekolah?”
Aji mengangguk. “Katanya sih ada urusan keluarga, cuma— gue gak tahu deh urusan apa.”
Kaila membulatkan bibirnya. “Kok Kana gak ngabarin gue ya?” lirih Kaila seraya memandang chat terakhirnya dengan Kana.
Pintu UKS di buka bersamaan dengan Adinda yang keluar dari ruangan tersebut.
“Adinda, lo udah gak papa?” tanya Aji dengan paniknya.
Adinda tersenyum tipis dan mengangguk. Kini matanya bertemu dengan Kaila yang tengah menatap ke arahnya. Ia tersenyum miring saat melihat kotak makan yang Kaila bawa. “Kana gak berangkat.”
Kaila mengangguk. “Gue udah tahu.”
“Bagus deh kalau lo udah tahu,” ucap Adinda dan berjalan meninggalkan Aji bersama Kaila.
“Gue pergi dulu ya, Kai,” ucap Aji dan mengejar Adinda yang sudah melangkah jauh.
Kaila tersenyum tipis memandang punggung Aji dan Adinda, lalu beralih pada kotak makan di tangannya.
-o0o-
Kana memandang kedua orangtuanya yang tengah fokus dengan kertas yang mereka siapkan. Kana tak mengerti dengan rencana orangtuanya.
Kana menghela napas dan menghampiri. “Ma, Mama serius dengan keputusan Mama?”
Alina mengangguk. Ia bangkit dari duduknya dan memegang kedua pundak Kana. “Ini keputusan terbaik, Kana.”
“Tapi, Ma—”
Alina menggeleng. Ia menyunggingkan senyumnya dan memandang kedua bola mata Kana. “You can! Okay?”
“Tapi Kana udah besar, Ma. Kana bisa menentukan sendiri apa yang terbaik buat Kana.”
“I know. Mama tahu, sayang. Papa juga tahu. Please, ikutin kemauan kami ya? Kamu ingat ‘kan? Dulu saat kamu kecil kamu pengen banget—”
‘Ceklek!’
Sebuah pintu terbuka membuat keluarga kecil itu menoleh ke arahnya.
“Maaf Pak, Bu, silahkan masuk,”
Alina mengangguk. Ia meraih beberapa kertas di dalam map tadi dan menoleh kepada suami dan anaknya.
“Ayo!” seru Alina.
__ADS_1
Kana menghela napas malas dan mengikuti langkah kedua orangtuanya.
...-o0o-...