KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 27


__ADS_3

Part 27


Senyum lebar merekah pada bibir Kaila.


Gadis itu tersenyum lebar dan menatap kagum sebuah gaun di depannya.


"It's Amazing!"


Ia menghela napas dengan senyuman lalu memotretnya menggunakan kamera ponsel.


"Akhirnya ya, Kai. Setelah begadang semalaman, hasilnya memuaskan," ujar Elsa yang masih setia menemaninya.


Kaila terkekeh dan menoleh. "Makasih ya El, udah setia disini, walaupun cuma tidur doang."


Elsa tersenyum dan menyengir kuda. "Sama-sama. Dah, setelah ini tinggal urusin gaun pernikahan lo."


Kaila terkekeh lalu melanjutkan aktifitasnya memotret gaun tersebut.


'Ding! Dong!'


Suara bel, berbunyi membuat keduanya menoleh ke arah yang sama.


"Siapa ya Kai pagi-pagi kesini?" tanya Elsa bingung.


Kaila menggeleng lalu menyipitkan matanya. "Kayanya Bibi uduk


depan deh. Semalem gue nelpon minta anterin kesini untuk kita sarapan."


Elsa membulatkan bibirnya lalu menoleh ke sekeliling. "Kak Kei udah berangkat ke rumah sakit?"


Kaila mengangguk. "Pagi banget dia berangkat, katanya mau mampir ke rumah dulu ambil baju."


"Yaudah, kalau gitu gue ambil dulu ya nasi uduknya?" ucap Elsa lalu meraih dompetnya.


"Pakai uang ini aja, El." Kaila menyerahkan satu lembar uang dua puluh ribuan pada Elsa.


Elsa menyengir kuda, lalu meraih uang tersebut. "Makasih Kaila cantik!"


Kaila terkekeh dan menggelengkan kepala.


Setelah Elsa pergi untuk mengambil nasi uduk, Kaila menoleh pada ponselnya yang tergeletak di atas meja.


Disana, terlihat sebuah notifikasi masuk.


Kaila tersenyum lebar membaca notifikasi itu.


Karena itu adalah notifikasi pengingat, mengenai acara pertunangan yang akan di selenggarakan lusa.


"Semangat Kaila, setelah ini kita buat gaun pertunangan dan disusul gaun pernikahan!"


-o0o-


Siang harinya, setelah menghabiskan waktu di galeri selama sehari penuh, akhirnya Kaila pulang ke rumah dengan menggunakan taksi.


Perempuan itu turun dari taksi sembari membawa gaun yang telah ia selesaikan untuk ia berikan pada kliennya malam nanti.


"Kak, baru pulang?" tanya Kiara yang tengah duduk di gazebo di temani laptop dan beberapa makanan di hadapannya.


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Kamu lagi apa di depan?"


"Lagi zoom nih."


Kaila melebarkan mata.


"Tenang, aku unmute kok," ucap Kiara dengan cengiran kuda.


Kaila tersenyum lega dan masuk ke dalam untuk merebahkan tubuh sebentar sebelum ikut mengantarkan Bima ke bandara.


Benar, siang ini Kaila dan juga Kiara akan mengantarkan Bima pulang ke Jerman. Namun, keduanya hanya akan mengantarkan sampai bandara saja.


Sebenarnya keduanya ingin sekali ikut ke Jerman, selain untuk liburan, mereka ingin mengunjungi makam Nabila yang berada di sana.


Nabila sendiri yang menginginkan untuk dimakamkan disana. Selain karena Jerman adalah Negara impian Nabila, Jerman juga merupakan Negara yang membuat Nabila merasa tenang dan bebas dari semua masalah yang ada.


"Satu jam lagi ya Kai, kita ke bandara," ucap Bima yang keluar dari kamarnya seraya mengeluarkan koper.


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Yang nganterin Cuma aku sama Kiara aja gak papa 'kan? Papa sama Kak Kei belum pulang kerja."


Bima tertawa. "Gak papalah! Aku sendiri aja gak papa kok."


Kaila mengerucutkan bibirnya dan menggeleng. "Gak ah! Orang Kak Bima punya keluarga, masa mau ke bandara sendiri."


"Yaelah, memangnya gue manja, minta di anter segala."


Kaila tetap mengerucutkan bibirnya. "Pokoknya aku anter!"


"Iya, iya. Astaga, adik gue ini," ucap Bima seraya mengusap kepala Kaila.


"Pokoknya pas Kaila dan Kak Keiza nikah nanti, Kak Bima pulang ya?" ucap Kaila seraya menunjuk wajah Bima.


Bima mengangguk. "Siap!"


"Ajakin juga pacar kakak."


Bima terkeke. "Iya, aku janji bakal bawa dia kesini. Aku beneran serius kok sama dia. Jadi kamu tenang aja."


"Janji?"


Bima mengangguk.


"Jangan mainin cewek lagi ya? Kak Bima tahu 'kan, karma itu berlaku. Memang Kak Bima gak takut, apa yang udah Kak Bima lakuin bisa berdampak ke aku dan Kiara."


Bima menghela napas, tersenyum dan menarik Kaila ke dalam pelukannya. "Iya, Kaila. Kak Bima janji. Kak Bima gak akan mainin cewek lagi."


Kaila berdecak. "Awas aja kalau cuma omong doang!"


Bima terkekeh. "Enggak loh!"


Kaila mengangguk dan melepaskan pelukan itu. "Yaudah, Kaila mau istirahat bentar di kamar. Nanti bilangin ya, kalau udah mau berangkat ke bandara."


Bima mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya.


-o0o-


Di gazebo, Kiara terlihat tengah mendengarkan gurunya yang tengah menjelaskan materi hari ini.


Sebenarnya hari ini ia harus berangkat sekolah, namun karena gurunya yang sedang berada di luar negeri. Karena itu gurunya memutuskan untuk mengajar via zoom.


"Baik, Ibu rasa cukup materi hari ini. Ada yang ingin di tanyakan?" tanya gurunya.


'Tring!'


Ponsel Kiara berbunyi. Gadis itu pun segera meraihnya dan membaca pesan yang masuk dari temannya.


"Laura ngapain ngechat?" ucapnya lalu menoleh ke layar laptop dan melihat jika Laura, teman sekelasnya tidak menghidupkan kamera.


Kiara segera menggeser layarnya dan membaca pesan yang masuk dari Laura.


Laura : Kiara, gawat.


Kiara mengerutkan dahinya. "Kenapa sih?"


Kiara segera menekan beberapa huruf alphabet untuk membalas pesan Laura.


Kiara : Kenapa?


Laura : Lo dimana?


Kiara : Di rumahlah. 'Kan keliatan di kamera zoom kalau gue dirumah.


Laura : Oh iya, gak liat.


Kiara : Lo dimana sih, Ra? Kok off cam?


Laura : Gue lagi di Mall. Lo tahu gak?


Kiara menggeleng refleks. "Gak tahu, lah. Orang dia gak bilang." Kiara berdecak dan kembali membalas pesan itu.


Kiara : Apaan?


Laura : Bentar. Gue send pict.


Kiara menghela napas dan menunggu gambar apa yang akan Laura kirimkan sampai gadis itu mengatakan gawat.


'Tring!'


Laura : *Mengirimkan gambar*


Kiara segera mengunduh gambar itu. Namun, koneksinya tiba-tiba tidak stabil.


Kiara berdecak. "Astaga! Ayo dong!"


Senyum Kiara mereka saat gambar itu berhasil di undur. Namun— perlahan senyumnya memudar.


Kiara menggelengkan kepala.


"Gak mungkin."


'Drttttt!'


Laura menelpon.


Kiara segera mematikan kamera zoomnya dan mengangkat telpon Laura.


"Halo?" Kiara membuka telepon itu.


"Kiara, gue minta maaf. Gue bukan mau manas-manasin. Tapi lo perlu tahu itu. Gue ngeliat Aldo lagi nonton di bioskop sama cewek. Mana gandengan lagi."


Kiara terdiam. Tangannya bergetar. Ia segera meletakkan ponsel itu dan menangis.


Gadis itu segera keluar dari zoom dan berlari ke kamar. Ia benar-benar tak bisa menahan sakitnya.


Aldo, laki-laki yang ia anggap menyayangi dan mencintainya, telah menghianatinya.


'Tring!'


Laura : Kenapa lo keluar dari zoom?


Kiara tak merespon. Gadis itu melemparkan tubuhnya ke kasur dan menangis sejadi-jadinya.


'Tok! Tok! Tok!'


"Dek, lo kenapa?" tanya suara Bima dari luar.


Kiara hanya menoleh. Ia tak menjawab ataupun membukakan pintu.


"Kiara kenapa?" tanya Kaila yang terdengar menghampiri.


"Gak tahu. Tiba-tiba dia lari ke kamar sambil nangis."


'Tok! Tok! Tok!'


"Dek, ini Kak Kaila. Kamu kenapa?"


Kiara menghela napas panjang, meraih tisu dari atas nakas dan mengusap air matanya. "Kiara gak papa!" teriaknya.


"Dek, buka dulu pintunya. Kami mau masuk," ujar Bima.


Kiara melirik ke arah pintu. Tiba-tiba ia terdiam. "Apa yang terjadi sama aku ini, karma karena Kak Bima sering mainin cewek?"


"Dek, Kiara," lirih Bima yang masih berada di depan itu.

__ADS_1


Kiara mengusap wajahnya gusar dan berjalan untuk membuka pintu.


'Ceklek!'


"Dek—"


"Kak Kaila aja yang masuk," ucap Kiara seraya menarik tangan Kaila untuk masuk.


"Tapi kakak pengen tahu," ujar Bima.


Kiara menggeleng dan langsung menutup pintunya.


Kiara memejamkan mata dan berjalan menuju kasur.


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Kaila bingung.


Kiara masih memejamkan mata dengan air mata yang ikut menetes. Ia menelan salivanya dengan susah payah. "Kiara di permainin cowok."


Kaila melebarkan matanya. "Maksudnya?"


Kiara menatap atas menahan agar air matanya tidak jatuh kembali, lalu menatap Kaila. "Kiara di selingkuhin sama pacar Kiara."


Kaila cukup terkejut. Karena ia tak tahu jika adiknya tersebut mempunyai pacar.


"Gak mau nuduh, tapi aku ngerasa apa yang terjadi sama aku bisa aja karena karma dari apa yang udah Kak Bima lakuin. Kak Kaila percaya karma 'kan?"


Kaila mengangguk.


Kiara kembali memejamkan mata dan menangis.


Kaila tak bisa tinggal diam. Ia menarik tubuh Kiara dan memeluknya.


'Tok! Tok! Tok!'


"Dek, Kakak masuk ya?" ucap Bima di depan sana.


Kiara menatap Kaila dan menggeleng.


Kaila tersenyum dan mengangguk. "Kakak tahu gimana perasaan kamu, tapi kamu gak bisa nyalahin Kak Bima. Kak Bima gak tahu apa-apa, sayang."


"Tapi aku yakin Kak, semua ini karma karena apa yang udah Kak Bima lakuin."


Kaila menghela napas. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana lagi kepada Kiara. Ia begitu menyalahkan Bima atas apa yang telah terjadi dengannya.


"Kita ke depan yuk, kita temuin Kak Bima. 'Kan Kak Bima bentar lagi pulang ke Jerman."


Kiara menggeleng. "Kiara gak mau ketemu sama Kak Bima. Kak Kaila aja yang anter Kak Bima ke Bandara."


Kaila tersenyum tipis dan menyentuh wajah Kiara. "Kiara sayang, mau gimana pun kamu gak boleh menyalahkan Kak Bima. Kak Bima gak tahu apa-apa, sayang."


"Tetep aja, Kiara gak mau ketemu sama Kak Bima. Kak Kaila aja yang anter. Kiara mau tidur," ucapnya dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur dengan menarik selimut untuk menutupi wajahnya.


'Tok! Tok! Tok!'


Kaila menoleh ke arah pintu, Bima masih berada di luar sana.


"Kakak temui Kak Bima dulu ya?" lirik Kaila.


Tak ada respon dari Kiara.


Kaila menghela napas dan bangkit dari duduknya untuk menemui Bima.


'Ceklek!'


"Kenapa Kiara?" tanya Bima panik.


Kaila menarik tangan Bima dan mengajaknya keluar.


"Kenapa sih?" tanya Bima saat keduanya berada di gazebo.


Kaila menghela napas dan menatap Bima. "Kiara disakitin cowok."


"Disakitin?" tanya Bima yang langsung mengepalkan tangannya. "Siapa yang berani sakitin adik gue? Siapa?" tanya Bima dengan emosi yang meluap.


Kaila menggeleng dan menenangkan Bima. "Bukan itu permasalahnya sekarang."


"Terus?"


Kaila diam. Ia bingung, apa ia harus mengatakan ini kepada Bima. Tetapi ia takut jika yang ada hanya akan menyakiti perasaan Bima.


Kaila menunduk. Haruskah ia mengatakannya?


"Kai, kenapa?" tanya Bima penasaran.


Kaila menghela napas dan menoleh pada Bima. "Kiara berpikir apa yang terjadi sama dia itu karma karena Kak Bima sering mainin cewek."


Bima terdiam. "Kenapa gitu?"


Kaila diam beberapa saat dan menatap Bima. "Kak Bima inget 'kan kata-kataku tadi, sebelum kejadian ini?"


Bima terdiam.


"Jangan mainin cewek lagi ya? Kak Bima tahu 'kan, karma itu berlaku. Memang Kak Bima gak takut, apa yang udah Kak Bima lakuin bisa berdampak ke aku dan Kiara? Dan sekarang terjadi 'kan?"


Bima masih diam. Ia menghela napas dan bangkit.


"Mau kemana, Kak?" tanya Kaila.


"Aku harus ke bandara sekarang," ucapnya dan masuk ke dalam.


Kaila menatap punggung Bima. Ia masih merasa bersalah mengatakan hal tadi. Namun, apa yang sudah Bima lakukan selama ini memang patut di beritahu. Bima tak boleh memainkan perasaan perempuan seenaknya saja.


-o0o-


Suasana bandara siang ini terlihat begitu ramai. Banyak dari mereka yang akan bepergian baik dalam Negeri maupun keluar Negeri.


Disini pun, terlihat Kaila yang tengah mengantarkan Bima.


Hanya Kaila, benar. Tak ada anggota keluarga lain yang mengantarkannya kecuali Bima.


"Kamu kenapa nganterin aku sih?" tanya Bima pada Kaila saat keduanya sampai di Bandara.


"Aku gak mungkin biarin Kak Bima pergi tanpa satu orang pun yang nganterin."


"Aku bukan anak kecil."


Kaila menghela napas dan mengangguk. "Aku tahu. Tapi pikiran Kak Bima lagi gak baik-baik aja. Pasti Kak Bima masih mikirin Kiara 'kan?"


Bima menoleh. "Aku jahat ya, Kai?"


Kaila diam dan ia tak tahu harus mengatakan apa.


"Kakak minta maaf ya? Bilangin juga sama Kiara, semua ini salah kakak. Mungkin kalau selama ini kakak gak mainin perasaan cewek, Kiara gak akan kena imbasnya."


Kaila diam. "Aku gak tahu kak harus ngomong apa. Aku juga bingung. Aku percaya karma, tapi aku gak bisa nyalahin Kak Bima."


Bima tersenyum. "Kakak beneran gak tenang mau pergi ini. Tapi mau gimana, tiket udah di pesan."


Kaila mengangguk mengerti.


Bima menoleh pada jam yang melingkar di tangannya. "Nanti Kak Bima bakal telpon Kiara dan ngomong langsung." Bima tersenyum dan meraih tangan Kaila. "Jaga kesehatan ya? Bentar lagi kamu akan menikah. Kakak pasti pulang kok. Kakak juga janji bakal bawa pacar kakak kesini."


Kaila tersenyum. "Janji ya?"


Bima mengangguk. "Bulan depan kak pernikahannya?"


Kaila mengangguk.


"Yaudah, sembari nunggu, kakak juga mau cari uang supaya bisa kasih kado buat kamu dan kak Kei. Kamu mau kado apa?" tanya Bima.


Kaila tersenyum dan memeluk Bima. "Gak perlu kado. Yang penting Kak Bima kembali dengan selamat."


Bima tersenyum dan mengangguk. Ia meraih sesuatu dari dalam sakunya dan menyerahkannya pada Kaila.


"Kunci mobil?" tanya Kaila.


Bima mengangguk. "Itu mobil yang kakak beli begitu kemarin sampai di Indonesia. Niatnya mau dikasihin ke kamu, tapi malah nabrak anjing. Jadi nanti kakak beliin yang baru lagi. Yang ini sementara bawa aja. Kamu 'kan pasti sering pergi-pergi. Gak enak juga kalau tiap hari naik taksi. Dan gak mungkin juga minta jemput Kana tiap hari."


Kaila mengangguk dan tersenyum. "Makasih ya, Kak?"


Bima mengangguk dan mengusap kepala Kaila.


"Tunggu Kakak satu bulan lagi."


Kaila tersenyum dan kembali memeluk Bima.


"Sayang banget sama adik aku yang ini," ucap Bima seraya mengusap punggung Kaila. "Walaupun dulu aku gak rela kamu jadi adik aku, tapi sekarang aku bersyukur. Sangat bersyukur."


"Aku juga bersyukur Kak Bima jadi kakak aku."


Bima terkekeh dan melepaskan pelukannya. "Aku pergi dulu ya?"


Kaila mengangguk. "Hati-hati!"


Bima tersenyum dan menarik kopernya, lalu pergi meninggalkan Kaila sendiri.


"Kak Bima!" teriak Kaila.


Bima menoleh ke belakang, tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Aku tunggu satu bulan lagi!"


Bima mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


-o0o-


'Ceklek!'


Pintu terbuka.


Kiara berjalan keluar dari kamarnya dan menoleh ke sekeliling.


Sepi. Tak ada seorang pun di rumah.


Kiara menghela napas dan duduk di sofa. Ia terdiam memikirkan sesuatu. "Kak Bima pasti udah berangkat."


Kiara memejamkan mata dan menunduk. "harusnya aku gak keterluan kaya tadi. Gimana kalau Kak Bima malah kepikiran disana."


Kiara mengusap wajahnya dan berteriak. "Aldo! Semua ini karena Aldo! Buat apa lo kasih gue jagung, kalau cinta aja gak lo kasih!"


Kiara kembali menangis. Tangis semakin pecah. Dan semakin pecah.


-o0o-


"Huft!" Keiza meregangkan tangannya setelah menyelesaikan pekerjaannya hari ini.


"Mau langsung pulang, Dok?" tanya Clara yang berada di sebelahnya.


Keiza tersenyum. "Iya, dong. Kamu sendiri? Gak pulang?"


Clara menggeleng dengan merengut. "Aku double shift. Ganti shift kemaren."


Keiza terkekeh. "Duluan ya?"


Clara mengangguk dan duduk di mejanya.


"Sayang!" teriak Aji yang menghampiri Keiza.


Clara melebarkan mata, begitupun yang lainnya.


"Dokter Aji manggil Dokter Keiza sayang?"

__ADS_1


"Mereka pacaran?"


"Hush! Pelan-pelan. Kalian gak tahu apa kalau mereka udah lamaran."


"Hah beneran?" tanya Clara terkejut.


Aji dan Keiza hanya mengulum senyumnya. Mereka mendengar apa yang rekan-rekan mereka katakana.


"Yuk!" ucap Aji.


Keiza mengangguk dan berjalan mengimbangi langkah Aji.


Sesampainya di parkiran, keduanya langsung naik ke dalam mobil. Melepaskan jas mereka dan menaruhnya di kursi belakang.


"Jadi 'kan?" tanya Aji.


Keiza mengangguk. "Aku gak sabar."


Aji tersenyum dan mulai melajukan mobilnya.


Untunglah jalanan sore ini tak semacet seperti biasanya.


Hal ini membuat Aji menjadi leluasa untuk mengendari mobilnya.


"Kita beli bunga dulu ya?" ucap Keiza.


Aji menoleh dan menatap Keiza tak percaya.


"Kenapa sih?"


Aji menggeleng dengan senyuman. "Gak papa."


Keiza terkekeh dan menyandarkan kepalanya.


"Itu ada toko bunga!" Keiza menunjuk sebuah toko bunga yang berada di depan.


Aji segera menghentikan mobilnya dan turun bersama dengan Keiza.


"Mau pilih bunga apa?" tanya Aji pada kekasihnya.


"Adinda sukanya bunga apa?" tanya Keiza penasaran.


Aji tersenyum menatap Keiza. "Adinda mirip kamu. Dia suka Lili putih."


Keiza melebarkan mata. Ia benar-benar tak tahu jika ia memiliki banyak kesamaan dengan Adinda.


Selama ini, Aji juga sudah banyak menceritakan tentang Adinda. Dan ia tahu jika banyak sekali kemiripan yang keduanya miliki.


"Kita beli bunga Lili putih kalau gitu," ucap Keiza.


Aji mengangguk dan langsung memilih bunga Lili.


Setelah membeli sebuah buket bunga Lili dan juga bunga tabor untuk mempercantik makam Adinda. Mereka pun berjalan ke mobil.


"Kei," lirih Aji setelah keduanya sampai di mobil.


"Iya?" tanya Keiza bingung.


"Ada satu hal yang belum kamu tahu. Sebenarnya aku gak mau kamu tahu ini. Tapi mau bagaimana pun, kamu memang harus tahu."


Keiza mengerutkan dahinya. "Ada apa?"


"Kita bahas disini aja ya?" ucap Aji yang belum melajukan mobilnya.


Keiza mengangguk setuju.


Aji menghela napas, meraih tangan Keiza dan menatap mata gadis itu. "Sebenarnya setelah meninggalnya Adinda Empat tahun yang lalu, aku gak pernah berhenti ke makam dia. Aku selalu ke makam dia minimal seminggu sekali untuk bersihin makan dia gak kasih dia bunga. Dan itu masih aku lakuin sampai sekarang." Aji menghela napas dan mengeratkan genggamannya pada Keiza. "Aku janji kok sama kamu, setelah ini aku gak akan ke makam dia lagi untuk kasih bunga."


Keiza melepas tangannya Aji dan menggeleng. "Kamu gak boleh gitu."


Aji bingung. Ia tak mengerti maksud Keiza.


Keiza meraih tangan Aji dan kini ia menggenggamnya. "Kamu gak boleh gitu. Kamu harus tetap ke makam Adinda. Kamu udah janji 'kan sama dia?"


Aji mengangguk.


Keiza tersenyum. "Kalau gitu, kamu harus lakuin. Tapi kali ini beda, mulai sekarang aku bakal ikut. Kita sama-sama rawat makan Adinda."


Aji tersenyum lebar. Tanpa terduga, air mata mengalir dari mata Aji. Aji tak bisa lagi menahannya. Ia benar-benar bahagia.


Laki-laki itu langsung menarik tubuh Keiza ke dalam pelukannya. "Aku gak tahu mau bilang apa. Intinya aku beruntung punya kamu, Kei. Kamu bener-bener berpikir dewasa. Kamu bener-bener perempuan terbaik yang pernah aku kenal."


Keiza tersenyum. "Aku yang beruntung punya kamu. Kamu bener-bener lelaki yang bertanggung jawab sama janji kamu. Aku bangga punya kamu."


Aji tersenyum dan mengeratkan pelukannya, lalu melepasnya dan mengusap pipi Keiza.


"Kita berangkat sekarang ya?"


Keiza mengangguk.


-o0o-


Setelah sampai di makam di daerah Jakarta Pusat, sepasang kekasih itu langsung turun dari mobil dan menuju tempat berdominasi hijau tersebut.


"Ayo!"


Aji meraih tangan Keiza dan menghampiri makam Adinda.


"Ini?" tanya Keiza saat keduanya berhenti di sebuah nisan bertuliskan nama Adinda.


Aji mengangguk dan keduanya bergandengan menghampiri makam tersebut.


"Assalamualaikum, Din," lirih Aji.


"Assalamualaikum, Adinda," lirih Keiza ikut menyapa makam tersebut.


"Din, aku dateng sama Keiza. Lo tahu Keiza 'kan? Perempuan yang gue ceritain minggu lalu. Perempuan yang berhasil mengisi hati gue setelah kepergian lo, Din."


Aji tersenyum dan menatap Keiza.


"Keiza cantik ya, Din?"


Keiza tersenyum dan mengeratkan pegangannya pada Aji.


"Satu bulan lagi gue bakal menikah Din sama Keiza. Lo pernah bilang 'kan sama gue, kalau nanti lo pergi, gue harus tetap menikah meskipun bukan sama lo." Aji memberi jeda pada ucapannya. "Dan bulan depan, gue akan memenuhi permintaan lo, Din. Gue bakal menikah sama Keiza."


Keiza mengangguk. "Tapi lo tenang aja, Din. Aji bakal tetep kesini kok. Kasih bunga untuk lo."


Aji mengangguk. "Iya, Din. Keiza juga bakal ikut kesini temuin lo." Aji tersenyum. "Keiza perempuan yang baik ya, Din?"


"Aji juga laki-laki ya Din. Lo beruntung bisa kenal Aji dari kecil," ucap Keiza.


Aji tersenyum dan merangkul Keiza dan menyentuh nisan Adinda. "Kalian berdua, perempuan hebat yang aku temuin di dunia ini."


Keiza tersenyum haru. Begitupun Aji.


"Doain pernikahan kami lancar ya, Din. Untuk tanggalnya belum pasti, karena kami juga harus bergantian sama Kana Kaila."


Aji melebarkan mata.


"Astaga Din, aku lupa bilang. Kana juga mau menikah. Ah, tapi pasti kamu udah tahu ya, Din? Akhirnya ya Din, sahabat kita yang satu itu menikah juga."


Keiza menyentuh lengan Aji membuat laki-laki itu menoleh.


"Menurut aku, sekarang Adinda lagi tersenyum di atas sana," lirih Keiza.


Aji mengangguk dengan senyuman.


"Bunganya," lirih Keiza yang masih memegang bunga Lili yang mereka beli.


Aji melebarkan mata. "Aku lupa." Aji segera meraih bunga itu dan meletakkan bunga Lili tersebut di depan nisan Adinda. "Din, ini bunga Lili seperti biasanya. Tapi kali ini spesial, Keiza yang milih bunga ini buat kamu, Din. Ternyata dia juga suka bunga Lili kaya kamu. Aku seneng Din, kalian berdua punya kesamaan."


Aji menghela napasnya dan menatap langit. "Kalau kamu lagi liat kami dari atas sana, doain pernikahan kami lancar ya, Din. Aku kesini juga karena mau minta izin sama kamu." Aji menoleh pada Keiza dan menggenggamnya. "Aku pamit pulang ya, Din. Sekarang udah sore banget. Aku harus segera anterin Keiza pulang."


"Aku pamit ya, Din. Semoga lo di atas sana," ucap Keiza dan berdiri.


"Assalamualaikum, Adinda."


-o0o-


"Waalaikumsalam."


Kana tersenyum pada kedua orangtuanya.


"Baru pulang, Kan?"


Kana mengangguk lalu menoleh pada laki-laki yang duduk bersama kedua orangtuanya. "Papa Angga?"


Angga tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Papa udah dari tadi disini?" tanya Kana yang langsung duduk di samping Angga.


Angga mengangguk. "Udah dari tadi, Kan."


Kana membulatkan bibirnya, lalu menatap Kavin, memberi kode apa alasan Angga berada disini.


"Jadi gini, Pak Angga datang kesini untuk membicarakan tanggal pernikahan kalian."


Kana mengangguk memberi jeda agar Kavin melanjutkan ucapannya.


"Berhubungan Keiza dan Kaila kakak beradik, dan jadwal pernikahan yang mepet. Pak Angga berniat ingin pesta pernikahan kalian bersamaan."


Kana melebarkan matanya.


Angga tersenyum. "Sebenarnya ini baru rencana. Saya juga gak memaksakan. Karena mau bagaimana pun, keputusannya ada ditangan kalian."


Kana mengangguk mengerti.


"Jadi gimana Kana, kalau seandainya dibarengin, kamu keberatan gak?" tanya Alina.


Kana tersenyum lebar dan menggeleng. "Enggak, Ma. Kana gak keberatan. Kana malah senang!"


"Alhamdulillah."


"Jadi, kita tinggal minta keputusan dari keluarga Anan ya?" ucap Angga.


Kana mengangguk, begitupun yang lainnya.


"Kana mau kabarin Kaila, Aji sama Kak Kei!"


-o0o-


"Dibarengin?" tanya Aji dan Keiza terkejut saat mengangkat telpon dari Kana.


-o0o-


"Apa? Dibarengin?" tanya Kaila setelah mengangkat telpon dari Kana.


"Iya, sayang. Papa Angga barusan ke rumah, dan mereka bahas soal ini. Menurut kamu gimana?"


Kaila menggigit bibir bawahnya dan tampak mengulum senyumnya. "Aku sih seneng banget! Terus kalau Kak Kei sama Aji gimana?"


"Mereka juga seneng banget. Katanya ini ide bagus. Selain menghemat waktu, jelas tamu undangan pun akan lebih banyak. Nah, karena itu kita sewa gedung terbesar yang cocok buat acara pernikahan. Ini moment spesial, La. Jelas banyak banget yang dateng. Apalagi profesi aku, Aji dan Kak Kei sebagai dokter, dan kamu sebagai designer, pasti bakal banyak banget rekan kerja kita yang harus kita undang."


Kaila mengangguk setuju. "Aku setuju sih apa kata kamu."


"Gimana kalau malam nanti kita ketemuan sama Aji dan Kak Kei, kita bahas mengenai pernikahan kita. Karena aku pengen banget La, pernikahan kita nanti gak ada campur tangan uang orangtua kita."


Kaila mengangguk. "Kamu bener, Na. Aku setuju. Yaudah, nanti kita kumpul di galeri aku aja ya? Di galeri aku 'kan ada ruangan yang nyaman buat kita berempat obrolin."


"Oke! Nanti aku kabari Aji kalau gitu."

__ADS_1


"Oke! See you."


-o0o-


__ADS_2