
Alvian bersama Susan nampak tengah berjalan menuju apartemen Rehan, memenuhi janji nya kemarin yang menyetujui untuk bertemu dengan seseorang di masa lalu keluarga nya.
Nampak Rehan dan sang istri telah menunggu Alvian di pintu apartemen milik nya, karena tadi saat akan menaiki lift Alvian sudah memberitahu tentang kedatangan nya.
"Silahkan masuk bang Vian, mbak Susan," Nabila mempersilahkan kedua tamunya dengan ramah dan menuntun mereka menuju sofa yang berada di ruang tamu.
Nabila bergegas menuju dapur untuk mengambil kan minuman dan juga makanan ringan untuk kedua tamu nya, dan sedetik kemudian Nabila sudah muncul kembali dengan makanan ringan dan minuman di tangan nya, "silahkan di minum dulu bang Vian, mbak Susan, mumpung masih hangat."
"Iya,,, terimakasih." Ucap Susan dengan tersenyum. sopan.
"Oh ya Rey,, mana orang yang mau bertemu dengan gue?" Tanya Alvian nampak tidak sabar.
"Bentar lagi datang, tadi gue udah kirim pesan ke Alex," jawab Rehan pelan.
"Assalamu'alaikum,,," baru saja Rehan selesai bicara, Alex dan beberapa orang yang mengekor di belakang nya memberi salam dan segera masuk.
"Wa'alaikumsalam,," jawab Rehan dan Nabila bersamaan, "silahkan duduk ayah, ibu,," Rehan segera berdiri dan memberikan jalan untuk kedua mertuanya agar duduk dekat dengan Alvian dan juga Susan.
Nisa memilih berdiri di samping Alex.
"Bang Vian, kenalin... beliau berdua ini mertua gue," Rehan mengenalkan mertuanya kepada Alvian.
Alvian kemudian mengulurkan tangan kepada pak Ilyas, "saya Alvian, sahabat nya Rehan," ucap nya memperkenalkan diri.
"Saya Ilyas, ayah dari Nabila," ucap pak Ilyas sambil menjabat tangan Alvian.
Alvian kemudian menyalami wanita yang duduk di sebelah pak Ilyas, "saya Alvian," ucap Alvian singkat sambil menatap wanita yang terus menyunggingkan senyuman kepada nya, hati Alvian terasa menghangat. Alvian terus menatap wanita itu, hingga suara lembut wanita itu membuyarkan lamunan nya.
"Ada apa dik?" Ibu Lin menyelidik,
Alvian buru-buru melepaskan jabat tangan nya.
"Saya ibu nya Nabila, orang-orang biasa memanggil saya ibu Lin," ucap ibu Lin memperkenalkan diri nya sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Alvian mengangguk, dan sedetik kemudian nampak dia berbicara, "maaf, apa bapak dan ibu yang ingin bertemu dengan saya?" Ucap Alvian merasa bingung dan penasaran.
"Benar dik," ibu Lin menyahut. "Sebenar nya saya ingin bertemu dengan om Johan juga, tapi nak Rehan bilang om Johan sedang sakit," lanjut ibu Lin.
"Apa ibu mengenal papa saya?" Tanya Alvian sambil mengernyit.
"Maaf dik, sebelum saya jawab... boleh kah saya bertanya sesuatu?" Pinta ibu Lin dengan lembut.
"Iya, apa itu bu?" Tanya Alvian penuh selidik.
"Tadi dik Alvian bilang kalau om Johan adalah papa kamu, apa nama om Johan juga tertera di akte kelahiran kamu sebagai ayah?" Ibu Lin menatap dalam netra Alvian.
Sejenak Alvian terdiam, dia seakan ragu untuk menjawab pertanyaan wanita di depan nya. Tapi dia ingin tahu kebenaran tentang masa lalu keluarga nya, yang baru-baru ini secara tak sengaja dia dengar dari orang yang selama ini dia panggil papa dan mama. Akhir nya Alvian memberanikan diri untuk berkata jujur, "tidak bu," jawab nya singkat.
Nampak ibu Lin menghela nafas dengan lega, "apakah nama ayah kamu yang tertera di akte kelahiran adalah Jonny Antonio? Dan ibu kamu Andini Purnama? Dan hari ulang tahun kamu bertepatan dengan hari raya Natal?" Tanya ibu Lin dengan perasaan berharap-harap cemas.
Alvian menatap intens manik mata teduh milik ibu Lin, hatinya bergemuruh,, dia seakan kehabisan kata-kata, bagaimana bisa wanita di hadapan nya yang sama sekali tak dikenal nya itu mengetahui dengan detail identitas nya? Alvian hanya sanggup mengangguk, sedangkan pandangan mata nya tak bisa lepas dari ibu Lin.
Alvian segera menerima kertas putih itu, dan menelitinya dengan seksama. Dahinya nampak berkerut, dan sedetik kemudian kembali menatap ibu Lin. "Apa hubungan orang yang nama nya tertera di akte ini dengan ibu?" Suara Alvian terdengar bergetar.
"Duplikat akte itu milik saya dik Alvian, Bintang Kejora... itu adalah nama kecil saya sebelum tragedi yang memilukan terjadi menimpa keluarga saya, dan kemudian saya berganti nama menjadi Lintang untuk menghindari ancaman dari orang-orang yang ingin membunuh saya," ucap ibu Lin dengan bergetar, netra nya menatap Alvian dengan tatapan sendu.
Sejenak hening menyapa ruang tamu tersebut,
Ibu Lin kemudian menceritakan secara detail tragedi yang merenggut kedua orang tua nya, serta sang adik yang saat itu baru berumur satu tahun dan berada di mobil yang sama dengan orang tua nya namun tak diketahui bagaimana nasib nya, karena jasad nya tak ditemukan pada saat kejadian naas itu.
Juga bagaimana dia dibawa kabur dari rumah oleh sopir kepercayaan orang tuanya demi keselamatan nyawanya, dan kemudian dibawa ke suatu tempat yang sangat jauh dari ibukota, hingga akhirnya dia bertemu dengan dua orang baik yang kemudian merawat nya dengan penuh kasih sayang.
Ibu Lin bercerita sambil sesekali menyeka air matanya, sedangkan yang lain nampak mendengarkan dengan khusyuk.
Pak Ilyas nampak tak henti mengusap lembut punggung sang istri, untuk memberikan ketenangan dan kekuatan pada wanita yang sangat dicintai nya.
Sedangkan Alvian nampak mengerutkan dahi dan sesekali menghela nafas panjang, dan di lain kesempatan dia mencuri pandang pada ibu Lin.
__ADS_1
Susan menatap lembut sang kekasih dan mengusap punggung tangan Alvian, mencoba memberikan ketenangan pada kekasih nya yang nampak tegang.
"Jadi ibu adalah kakak kandung saya?" Tanya Alvian dengan tatapan menuntut jawab.
Ibu Lin menggeleng,,, "saya akan dengan senang hati jika kamu mau semudah ini mengakuinya dik Alvian, karena itu yang saya harapkan dari kemarin saat nak Rehan mengatakan bahwa dik Alvian bersedia menemui saya." Sejenak ibu Lin terdiam, "tapi saya sarankan jangan gegabah dalam mengambil keputusan, lebih baik nunggu om Johan sadar dari komanya terlebih dahulu untuk mengetahui kebenaran nya secara pasti," lanjut ibu Lin dengan bijak.
"Bu,,," Rehan dan Nabila menggeleng, nampak tidak setuju dengan ibu Lin.
"Kita enggak tahu sampai kapan menunggu om Johan tersadar dari koma bu, kalau saat ini bang Vian sudah mantap meyakini kebenaran bahwa ibu adalah kakak kandung nya, bukankah itu bagus bu?" Tanya Nabila tak mengerti dengan pemikiran sang ibu.
"Bagaimana kalau bang Vian dan ibu melakukan tes DNA?" Rehan memberi saran, "agar tidak ada keragu-raguan lagi diantara kalian berdua,,," lanjut Rehan menjelaskan.
"Ide bagus itu nak Rehan, ayah setuju," pak Ilyas menimpali perkataan sang menantu.
Derrt,, derrt,, derrt,,
Dering ponsel Alex bergetar di dalam saku celananya, buru-buru Alex mengambil nya dan sekilas melirik layar ponsel nya dan terlihat nama 'orang suruhan', dengan segera Alex menggeser tombol hijau di layar ponsel nya untuk menerima panggilan tersebut.
"Bos, telfon dari rumah sakit," Alex berbisik memberitahukan pada Rehan, siapa yang telah menghubungi nya.
Rehan mengangguk,,,
"Iya,, ada berita penting apa?" Tanya Alex pada seseorang yang berada di ujung telfon.
Nampak Alex dengan serius mendengarkan pembicaraan orang suruhan nya tersebut, dan sesekali terlihat dahi nya mengerut.
Semua mata yang berada di ruang tamu tersebut tertuju kearah Alex, dan menyimpan tanya dalam hati masing-masing,,, siapa kah yang saat ini menghubungi Alex?
"Lakukan yang terbaik, gagalkan rencana nya dan pastikan keadaan pasien tetap aman dan selalu dalam pengawasan kalian." Ucap Alex dengan nada serius, "kamu tambah saja anggota mu untuk memperketat keamanan di ruang pasien," titah Alex pada orang suruhan nya yang berada di ujung telfon.
Nampak Alex kembali mendengarkan suara di ujung telfon, sesekali terlihat dia mengangguk-angguk.
"Bagus,,, awasi terus kedua orang itu, dan batasi ruang gerak nya! Jangan sampai kalian lengah!" Alex memberi perintah, dan kemudian segera menutup telfon nya.
__ADS_1