Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Kejutan Istimewa


__ADS_3

Kesibukan di rumah Nabila benar-benar terlihat nyata, semua orang nampak serius melakukan pekerjaan dengan bagiannya masing-masing.


Di dapur, ibu Lin dibantu beberapa tetangga wanita tengah sibuk mempersiapkan berbagai macam hidangan, bagi ibu Lin membuat makanan khas daerah di hari istimewa putri nya adalah sesuatu keharusan, meski dia tahu kalau dari pihak besan sudah mempersiapkan catering dari restoran yang bagus dari kota untuk hidangan acara ijab qabul nanti.


Sedangkan di halaman depan, nampak bapak-bapak tengah memasang tenda berukuran sedang dan menata kursi.


Sementara pak Ilyas tak kalah sibuk, beliau bergerak cepat menuju Kantor Urusan Agama untuk mendaftarkan pernikahan putri nya dan Rehan.


Pak Ilyas di temui sendiri oleh Kepala KUA yang tak lain adalah pak Burhan, sahabatnya sewaktu kuliah dahulu, "Kenapa mendadak Yas?" Tanya pak Burhan.


"Ya, mereka sudah cukup umur dan masing-masing juga sudah merasa mantab, tunggu apalagi?" Ucap pak Ilyas seraya terkekeh.


"Kamu benar, gak baik menunda-nunda kebaikan, apalagi dalam hal menikah. Lebih baik nikah dulu baru pacaran," pak Burhan menimpali


"Calon menantuku itu benar-benar serius, dia baru pertama kali datang ke rumah dan langsung menyampaikan niat baik nya untuk menikahi Nabila. Bukan hanya itu, dia juga menunjukkan keseriusannya dengan sudah mempersiapkan semua berkas-berkas nya," lanjut pak Ilyas dengan senyum bahagia.


Pak Burhan terlihat mengangguk-anggukkan Kepala dan ikut merasa senang dengan kebahagiaan sahabatnya.


"Oke, Han,,, aku pamit, untuk nanti sore jangan sampai molor," ucap pak Ilyas mengingatkan.


Dan ditanggapi dengan mengacungkan ibu jari oleh Kepala KUA itu.


*****


Nabila, Rehan dan keluarganya tengah menikmati hidangan makan siang di ruang tengah.

__ADS_1


Ibu Lin sengaja menggelar makan siang bersama itu dengan lesehan, agar kedua belah pihak keluarga besarnya semakin akrab. Dan benar saja, semua terlihat sangat senang menikmati makan siang ala kampung Nabila, tak terkecuali Alex Dan Nisa yang terlihat semakin akrab.


Setelah semua selesai menikmati makanannya, dan piring-piring yang kotor serta makanan yang masih tersisa sudah dibawa ke dapur, Rehan mulai berbicara, "maaf semua nya, saya mohon waktu nya sebentar," seraya melirik kearah Asisten Pribadi nya.


Alex mengangguk, mengerti arti dari tatapan sang bos sekaligus sahabatnya itu.


"Ada apa nak Rehan? Tanya pak Ilyas penasaran.


Rehan nampak ragu-ragu untuk menyampaikan maksud nya, dan dengan segera Fatima berbisik kepada papa nya.


Papa Sultan terlihat tersenyum lebar,,, " jadi begini pak Ilyas, anak-anak kita kan begitu cepat dalam mengambil keputusan untuk menikah. Dan saya pikir itu memang keputusan yang terbaik,,," sejenak pak Sultan menjeda ucapan nya, "tapi sebagai seorang laki-laki yang ingin memberikan yang terbaik untuk calon istrinya, putra saya juga tidak ingin melewati setiap tahapan yang biasanya diterima pihak perempuan dari pihak laki-laki."


Pak Ilyas dan istrinya saling pandang,,


"Saat ini Rehan bermaksud memberikan sesuatu kepada putri pak Ilyas dan Bintang, sebagai simbol pertunangan mereka." Ucap papa Sultan seraya melirik sang putra.


Nabila yang duduk tepat di samping calon imam nya, sedari tadi bertanya-tanya dalam hati. "Kejutan apalagi yang akan kamu perlihatkan padaku bang?" Bisik nya tanpa mengeluarkan kata-kata.


"Maaf, pak, bu,," ucap Rehan dengan sopan, "dulu sewaktu saya menanyakan kesediaan Nabila untuk menjadi istri saya, saya belum memberikan apa-apa sebagai tanda keseriusan untuk membina hubungan ke jenjang yang lebih jauh. Dan saya pikir gak ada istilah kata terlambat untuk memberikan sesuatu yang berharga,,, bukan berharga dilihat dari nilainya tapi dari keseriusan dan ketulusan cinta saya kepada Nabila."


Rehan kemudian mengambil sesuatu dari kantong bajunya, sebuah kotak kecil berwarna merah. Rehan membuka kotak itu dengan pelan, cincin emas putih dengan hiasan batu Ruby terbaik yang berwarna kemerahan tersembul ketika kotak itu terbuka dengan sempurna. "Nabila Ayunda, di depan keluarga besar kita sekali lagi aku bertanya,,," Rehan berbicara dengan suara pelan namun tegas dan berwibawa, "Will you marry me, accompany me in sorrow and joy, spend the rest of your life and grow old with me?" Ucapnya dengan serius seraya menatap lembut manik hitam sang kekasih.


Nabila tergagap,,, lagi-lagi dia mendapatkan kejutan istimewa dari pangeran tampan penakluk hatinya. "Ya, saya bersedia," jawab Nabila mantab seraya tersenyum bahagia.


Rehan terlihat sangat lega, dan dengan segera dia memakaikan cincin sebagai simbol pertunangan itu di jari manis tangan kiri kekasih hatinya.

__ADS_1


Semua mata yang memandang turut berbahagia, ibu Lin tampak menitikkan air mata, begitu juga dengan mama Sekar, "Alhamdulillah, puji syukur tak henti kami ucap kan atas segala kemurahan Mu ya Allah,,, terima kasih karena telah mengirimkan gadis yang baik di kehidupan putra dan cucuku," lirih mama Sekar dalam hati.


"Mbak Billa selamat ya,,," Nisa tiba-tiba saja telah berada di belakang Nabila dan memeluk kakak nya itu.


"Makasih ya dik, kamu pasti akan segera nyusul mbak,,, iya kan?" Goda Nabila pada adik nya.


"Hum,,, enggak tahu tuh," seraya tersenyum malu.


"Tapi saya tahu," timpal Alex cepat.


"Maksud bang Alex?" Tanya Nisa tak mengerti.


Sedangkan Rehan dan papa Sultan terlihat saling pandang,,,


"Maaf sekali lagi pak Ilyas, dan juga Bintang,,, saya sudah menganggap nak Alex seperti anak saya sendiri, terlebih ketika papa nya meninggal... almarhum sempat mengamanahkan kepada saya, agar saya menjaga Alex dan adik nya dengan baik." Papa Sultan menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan, "kini nak Alex sudah dewasa dan sudah bisa menentukan ataupun mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri, saya sebagai orang tua hanya bisa memberikan dukungan dan do'a terbaik untuk nya."


Pak Ilyas dan ibu Lin nampak sangat serius memperhatikan dan mendengarkan setiap ucapan papa Sultan.


"Nak Alex meminta kepada saya meminang Nisa untuk dijadikan istrinya,,," ucap papa Sultan dengan sangat hati-hati.


Deg,, jantung Nisa seakan berhenti berdetak, sekilas dia menatap kearah Alex yang hanga di tanggapi dengan senyuman manis oleh laki-laki yang belum lama dikenalnya. "Ya Allah,,, bagaimana ini? Tadi bang Alex gak ada omongan apa-apa,,, kenapa tiba-tiba memutuskan untuk bertunangan? Bang Alex memang terlihat baik sih, mbak Billa juga bilang begitu kan tadi? Tapi,,, ah, aku bingung?" Nisa bermonolog dalam hati.


"Maaf, mungkin ini terkesan sangat terburu-buru, namun saya pikir akan lebih baik ada ikatan sebagai simbol keseriusan mereka dalam menjalin sebuah hubungan, agar mereka tak lagi main-main dengan hubungan itu sendiri." Ucap papa Sultan mengemukakan pendapatnya, "Bagaimana menurut pak Ilyas dan nak Nisa?"


__ADS_1



Kalian mau jawab apa??? Aku tunggu di kolom komentar ya.... β˜ΊπŸ™πŸ™


__ADS_2