
Waktu terus bergulir, dua hari menuju resepsi pernikahan CEO tampan pemilik perusahaan besar RPA Group yang akan digelar secara meriah... keriuhan di rumah utama semakin terasa.
Berkumpul nya geng tampan beserta pasangan masing-masing, serta pasangan Fatima dan Yusuf yang sifat nya sebelas dua belas dengan yang lain menambah ramai suasana di rumah itu.
Nabila dan Rehan nampak sangat berbahagia, di kelilingi oleh keluarga dan sahabat-sahabat yang care satu sama lain. Namun jauh di lubuk hati Rehan, dia merasa kan ada yang hilang... dia tak lagi punya banyak waktu untuk berduaan saja dengan sang istri.
"Yang,, nanti kalau yang lain sudah pada berangkat, kita pulang ke apartemen bentar ya,,, abang kangen," lirih nya di telinga sang istri di tengah-tengah acara sarapan bareng keluarga besar nya.
Nabila mencubit pelan paha sang suami, "puasa dulu sampai hari H resepsi," balas Nabila sambil berbisik.
"Enggak tahan yang,,," Rehan merajuk.
"Iya, iya,," jawab Nabila akhirnya menyetujui, daripada berkepanjangan pikir nya.
Seusai sarapan hangat ala keluarga papa Sultan, ketiga sahabat Rehan hendak berangkat beraktifitas,, begitu pun dengan pasangan mereka masing-masing. Lusi, yang memang tidak diijinkan bekerja kembali oleh sang suami setelah menikah diajak Devan untuk menemani nya ke kantor. Mereka bertiga segera kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap.
"Dev, jadi lu ajak bini lu ke kantor?" Tanya Alvian sesaat setelah mereka sampai di teras depan rumah utama, menunggu pasangan mereka bertiga.
"Ya jadi lah bang,, dia kan mau menjalankan ibadah rahasia kayak gue waktu itu," sahut Rehan seraya tersenyum menggoda pada sahabat nya.
Alex mengernyit,,, ya, Alex tak tahu menahu tentang ibadah rahasia Rehan di kantor bersama sang istri. Pasal nya saat itu Alex sedang mengantar calon istri nya dan juga Ilham pulang ke kampung halaman untuk mengurus kepindahan Ilham dan juga wisuda nya Nisa.
"Lu harus minum jamu dulu Dev,, biar tok cer, kayak si Rehan," saran Alvian menyesatkan.
"Jamu? Lu minum jamu apa Rey?" Tanya Devan polos.
"Jamu beranak,," jawab Rehan dengan wajah serius.
"Beneran,, beli dimana? Gue mau dong? Bisa jamin langsung hamil kan bini gue?" Cecar Devan nampak tidak sabar ingin segera membeli jamu beranak, yang dalam otak nya jamu itu adalah jamu untuk vitalitas dan kesuburan.
Alex yang akhir nya bisa menangkap kemana arah pembicaraan sahabat-sahabat nya pun menahan tawa, "di apotik juga banyak Dev," dia memberikan info.
"Oke, gue Akan mampir ke apotik dulu nanti," ucap Devan dengan penuh semangat.
Yang ditanggapi dengan gelak tawa dari ketiga sahabat nya.
__ADS_1
"Kalian ngerjain gue lagi?!" Protes Devan pura-pura marah.
"Yuk ah, berangkat.. nanti keburu macet jalanan nya," ajak Alvian pada kedua sahabat nya, begitu melihat pasangan mereka sudah bersiap.
"Rey, ingat.. bini lu kandungan nya masih rentan, jangan sering-sering di jenguk," ucap Devan sok menasehati.
"Emang adik bayi Kevin, yang ada dalam perut mommy bisa di jenguk ya om?" Tanya Kevin yang tiba-tiba muncul bersama sang mommy, sambil menatap om Devan menuntut jawab.
Mereka semua terdiam dan saling melempar pandang, Alex mengurut pelipis nya.. dia tahu betul kecerdasan otak Kevin, dan para orang dewasa itu harus menyiapkan jawaban yang pas untuk anak seusia nya.
"Kok pada diam?" Tanya Kevin kembali setelah beberapa saat menunggu tak ada yang menjawab.
"Emm,, bisa nak, tapi nanti beberapa bulan ke depan. Nanti si adik bisa bang Kevin lihat melalui layar monitor yang lebar, posisi adik nya bobok dalam perut mommy," Jawab Rehan dengan sangat hati-hati sambil mengelus perut sang istri, dan berharap putra nya mengerti.
Kevin terdiam,,, "tapi tadi om Devan bilang nya, jangan sering-sering..? Bukan kah itu arti nya boleh di jenguk kapan saja dad? Benar kan mommy?" Protes Kevin, merasa tak puas dengan jawaban daddy tampan nya.
"Nak, maksud om Devan tadi itu, menjenguk dengan cara mengelus perut mommy dan mengajak adik bayi berbicara," Alvian mencoba ikut menjelaskan.
Kevin nampak mengangguk-angguk, "memang adik bayi nya bisa bicara ya opa?" Tanya Kevin polos.
"Belum nak, tapi adik bayi yang dalam perut bisa mendengar.. maka nya harus sering-sering di ajak ngobrol," Alex pun turut menjelaskan.
"Ya harus dong bro.. kita kan calon suami siaga," balas Alex dengan mantap seraya melirik mesra calon istri nya, yang terlihat imut dengan balutan dress simpel dan hijab modis
"Udah,, udah,, buruan berangkat gih!" Usir Rehan dengan halus.
Ketiga sahabat Rehan bersama pasangan masing-masing pun berlalu dari rumah utama menuju kantor untuk beraktifitas.
"Daddy enggak kerja?" Tanya Kevin pada sang daddy.
"Kerja nak, habis ini daddy berangkat bareng mommy. Kevin di rumah aja ya, sama oma dan nenek..." bujuk Rehan pada putra kecil nya, seraya mengerling nakal pada sang istri.
"Siap bos," jawab Kevin sambil mengangkat tangan nya bergaya hormat pada sang daddy. "Kevin masuk dulu ya dad, mau minta di buatin kue sama oma," pamit nya seraya berlari kecil masuk ke dalam rumah.
Baru saja Rehan dan Nabila hendak beranjak dari tempat nya, muncul Yusuf dan Fatima dari dalam rumah utama, "kakak mau kemana?" Tanya Rehan mengernyit.
__ADS_1
"Kakak ada urusan sedikit di butik, dan sekalian mau ngecek ke WO sudah sejauh mana persiapan nya untuk acara lusa." Jawab Fatima.
"Nah, kalian sendiri mau kemana? Kok udah rapi aja?" Tanya Fatima menyelidik.
"Enggak kemana-mana kak, palingan kami mau ke apartemen sebentar," jawab Rehan.
"Awas aja kamu dik, kalau sampai kamu buat adik ipar kecapekan!" Ancam Fatima yang bisa menebak tujuan sang adik, "kenapa enggak puasa dulu sih,, kan kasihan dik Billa kalau harus melayani kamu terus? Belum lagi lusa acara nya mengharuskan adik ipar untuk berdiri?" Fatima mengingatkan.
"Iya kak, Rehan juga tahu itu. Rey enggak akan buat mommy nya anak-anak Rey kecapekan, tapi keenakan," jawab Rehan asal.
Nabila menunduk dan tersipu malu.
"Nah,,, benar banget itu Rey, itu baru nama nya suami siaga. Harus sedini mungkin membantu membuka jalan lahir untuk anak kita," Yusuf menimpali ucapan adik ipar nya seraya terkekeh.
"Halah,, kalian berdua sama-sama tukang modus!" Cibir Fatima pada suami dan adik nya.
"Eh,,, bunda lupa ya? Atau pura-pura lupa? Bunda kalau hamil kan yang selalu menggoda ayah duluan?" Ucap Yusuf mengingatkan sang istri dengan tatapan menggoda.
"Yang benar bang?" Tanya Rehan penasaran, dia teringat bahwa akhir-akhir ini libido sang istri seakan meningkat.. hingga membuat Nabila tak malu-malu lagi untuk memulai.
"Abang,,, apaan sih nanya-nanya hal privasi kayak gini?" Bisik Nabila protes.
"Enggak apa-apa dik," jawab Fatima yang masih bisa mendengar bisikan adik ipar nya, "anggap saja kita sedang ada kelas diskusi," lanjut nya seraya terkekeh.
"Apa yang dibilang bang Yusuf emang benar ada nya, dan perlu kamu tahu dik.. masing-masing ibu hamil itu memiliki pengalaman yang berbeda, gejala-gejala pada awal kehamilan bisa menurunkan hasrat seksual ibu hamil karena adanya perubahan hormon, merasa lelah, mual, muntah dan payudara jadi sensitif." Fatima mulai menjelaskan.
"Tapi kakak mu tidak mengalami semua itu, dia enjoy dengan kehamilan nya dan gairah **** nya meningkat,,, dan itu yang membuat istri ku yang cantik ini selalu ingin di manja dan enggak bisa jauh-jauh dari abang," Yusuf menimpali seraya melirik mesra sang istri.
"Oh, pantesan aja,,," gumam Rehan.
"Billa seperti kakak,, begitu kah?" Tebak Fatima yang mendengar adik nya bergumam sendiri.
Rehan hanya mengangguk dan tersenyum lebar,,
"Wow,, itu berita bagus dik, kamu harus sering-sering mengunjungi anak kalian," ucap Fatima antusias seraya mengelus perut rata adik ipar nya. "Karena berhubungan intim selama kehamilan adalah cara yang baik untuk tetap terhubung secara mental, emosional, dan fisik. Dan itu sangat bagus untuk menjaga emosi ibu hamil agar merasa nyaman dan selalu di perhatikan oleh pasangan," lanjut nya menjelaskan berdasarkan pengalaman nya.
__ADS_1
Nabila semakin merah wajah nya,, dia merasa sangat malu membahas masalah pribadi seperti ini, tapi dia juga membenarkan ucapan kakak dan kakak ipar nya bahwa dia emang selalu ingin dekat dan menempel terus dengan sang suami.
"Nak, seperti nya kamu sangat menyayangi daddy tampan mu, sampai-sampai permintaan mu untuk selalu di kunjungi membuat daddy mu bahagia," gumam Nabila dalam hati.