Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Cinta itu Anugerah


__ADS_3

Di rumah utama, nampak Nabila baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri. Kini tubuhnya terasa lebih segar, setelah semalaman tadi menempuh perjalanan jauh sepulang dari menghadiri resepsi pernikahan mantan tunangannya.


Nabila mengenakan mukena hendak menjalankan sholat hajat dua rakaat sebelum tidur, namun dia urungkan tatkala terdengar dering ponselnya dari atas nakas. Nabila melirik kearah jam dinding yang berada di kamar, waktu menunjukkan pukul dua dini hari. "Jam segini siapa yang telepon?" Gumam Nabila pada dirinya sendiri sambil berjalan kearah nakas dan mengambil ponselnya.


Tertera nama sahabat nya di layar ponsel yang saat ini masih bergetar, "Saras,,, ada apa ya?" Lirih nya menautkan kedua alisnya, dan kemudian segera mendudukkan diri disisi tempat tidur.


"Halo,,, assalamu'alaikum," sapa Nabila memberikan salam kepada seseorang di ujung telepon, sesaat setelah dia menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Nabila Ayunda,,," suara seorang wanita yang sudah sangat familiar di telinganya, terdengar menyebutkan namanya dengan lengkap dan dengan nada yang sangat ketus tanpa membalas salam dari Nabila terlebih dahulu. "Apa yang sudah kamu berikan untuk laki-laki kaya dan tampan dengan wajah blasteran itu, hingga dia mau bertekuk lutut dan mengakui kamu sebagai istrinya? Pasti kamu sudah menjual dirimu kepadanya bukan? Dan pastinya demi uang!" Tuduh Saras mengejek dengan suaranya yang lantang dan terdengar mencibir.


Sejenak suara hening, Nabila mencoba mengatur nafasnya yang sudah mulai nyesek di dadanya.


"Hendra suamiku, bahkan tidak pernah menyangka bahwa kamu akan secepat itu berpaling," ucap Saras pura-pura sedih, "dimata suamiku, kamu adalah wanita yang tidak setia dan tidak memiliki harga diri, wanita yang dengan mudahnya bisa segera melupakan kekasih nya dan jatuh ke dalam pelukan laki-laki lain," lanjutnya melontar kan kata-kata fitnahan, padahal sebenarnya bukan Hendra yang mengatakan.


Saras terdengar mencoba mengatur deru nafasnya yang memburu, sedangkan Nabila hanya terdiam sambil menggigit bibirnya.


"Asal kamu tahu Billa, wanita seperti dirimu tidak pantas bersanding dengan orang kaya seperti laki-laki itu," Saras melanjutkan ucapannya dan masih mencoba mendobrak pertahanan Nabila dengan memberikan kata-kata negatif. "Palingan juga habis manis sepah kamu langsung bakalan di buang di jalanan, jadi siap-siap saja untuk menjadi ****** di pinggir jalan," Saras terus mengeluarkan kata-kata sarkas sambil tertawa terbahak-bahak.


Mendengar tuduhan yang sama sekali tidak benar itu membuat tubuh Nabila lemas seketika, bibirnya bergetar tidak mampu mengucapkan kata-kata. Sekuat tenaga dia mencoba untuk tetap duduk di posisi nya, tangannya terlihat gemetaran memegang ponsel yang masih menempel di telinganya. "Tidak Saras, itu semua tidaklah benar," lirih nya berucap.


Air matanya tidak dapat dibendung, jatuh begitu saja membasahi pipinya. Seiring ponselnya yang terjatuh terjun bebas ke lantai, karena tangannya tidak mampu lagi untuk menggenggam nya.

__ADS_1


Beberapa saat telah berlalu, Nabila masih belum bergeming dari tempatnya. Suara isak masih sesekali terdengar keluar dari mulutnya, "apakah benar aku wanita yang tidak setia, karena dengan mudah telah jatuh cinta lagi? Tapi bukankah cinta itu anugerah? Apa aku harus menolaknya tatkala dia datang begitu saja tanpa aku minta? Bukankah orang bijak bilang, cinta adalah anugerah terindah jika kita tahu dimana dia harus berlabuh? Dan cintaku pada bang Rehan tidak salah bukan? Aku tidak merebutnya dari siapapun,,," dengan lirih Nabila bermonolog, mencoba mengembalikan kepercayaan dirinya yang sempat runtuh.


Nabila bergegas bangkit dari tempat duduknya, melepaskan mukena dan segera berlalu menuju kamar mandi. Setelah beberapa saat, nampak dia berjalan gontai keluar dari kamar mandi. Nabila mengenakan kembali mukena nya, segera menggelar sajadah menghadap kiblat untuk melaksanakan sholat sunah seperti niatnya semula.


Setelah mengucapkan salam, Nabila beristighfar memohon ampunan kepada Sang Pencipta dan kemudian berdzikir mengagungkan asma Allah selaku Pemilik Kehidupan. Beberapa saat kemudian terlihat Nabila menengadahkan kedua tangannya menghadap langit dan berdoa, "Ya Allah, Engkaulah Sang Pemilik kehidupan, maka aku pasrahkan takdir hidupku kepada Mu. Engkaulah yang Maha membolak-balikkan hati manusia, maka aku pasrahkan takdir hatiku kepada Mu, bimbing hatiku agar tidak salah dalam berlabuh dan tuntun langkahku agar bisa mendapatkan seorang imam yang bisa membawaku ke Surga Mu, Aamiin..."


Selesai mengaminkan do'a nya, Nabila bergegas mengambil Al-Qur'an kecil dari dalam tas selempang nya. Ya, Nabila selalu membawa kitab sucinya kemanapun dia pergi, agar sewaktu-waktu dia bisa mengkaji nya meskipun sedang bepergian.


Nabila mulai membuka kitab suci Al-Qur'an dan segera melantunkan nya dengan suara lirih, dia terus membacanya dari satu halaman ke halaman berikutnya. Hingga tidak terasa waktu terus berlalu, dan suara adzan subuh terdengar berkumandang dari Masjid kejauhan.


"Maha benar Allah dengan segala firman Nya," Nabila telah mengakhiri tadarus nya, menutup kembali kitab sucinya dan menciumnya tiga kali. Saat telinganya menangkap alunan merdu suara adzan, "Alhamdulillah, sudah adzan subuh," lirih nya bergumam, "kalau begitu aku sekalian sholat saja, baru setelah nya aku beristirahat sebentar," Nabila berbisik lirih pada dirinya sendiri.


Tok,,, tok,,, tok,,,


"Siapa ya pagi buta begini mengetuk pintu?" gumamnya, sambil melanjutkan langkahnya untuk menaruh kitab sucinya keatas nakas, dan segera berbalik untuk membukakan pintu.


Cek lek,,,


"Bill,,," Rehan menyapanya begitu pintu terbuka, "kamu sudah sholat subuh?" Selidik Rehan tatkala melihat Nabila sudah rapi dengan mukena nya.


Nabila menggelengkan kepalanya, "belum bang, baru selesai tadarus sebentar tadi," ucapnya lirih. "Abang sudah sholat?" Tanya Nabila balik sambil menelisik pakaian yang dikenakan Rehan dari atas kebawah.

__ADS_1


"Kenapa? Kok liatnya sampai gitu? Apa abang terlihat lebih tampan dengan koko dan sarung ini?" Rehan memuji dirinya sendiri sambil tersenyum menggoda kepada gadis perebut hatinya.


Nabila yang kedapatan tengah terpesona dengan penampilan laki-laki tampan dihadapannya kini, hanya tersenyum tersipu malu.


Rehan mengusap lembut kepala Nabila yang tertutup mukena, "Sholat jama'ah yuk,,," ajak Rehan kemudian sambil menerobos masuk kedalam kamar Nabila, tanpa meminta persetujuan gadis itu terlebih dahulu.


Nabila hanya bisa menurut, segera bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya mengikuti langkah Rehan. Rehan menggelar sajadah yang dibawanya untuk Nabila, dan kemudian dia menempatkan diri sebagai imam sholat untuk memimpin jamaah sholat subuh bersama calon bidadari surganya.


Mereka berdua menjalankan jama'ah sholat subuh dua rakaat dengan khusyuk, setelah mengucapkan salam Rehan memimpin membaca istighfar, sholawat dan dzikir. Rehan kemudian mengakhirinya dengan menengadahkan kedua tangannya menghadap ke langit untuk berdo'a, dan setiap ucapan do'anya diamini oleh Nabila.


Setelah selesai dengan ritual ibadah nya, Rehan membalikkan tubuhnya menghadap Nabila. Mengulurkan kedua tangannya untuk salim, Nabila menerima uluran tangan sang pujaan hati tanpa mencium punggung tangannya. Rehan masih terdiam, seperti menunggu sesuatu... Nabila yang mengerti maksudnya, segera berkata, "maaf bang, Billa belum bisa cium punggung tangan abang sekarang," sambil menatap Rehan dengan tatapan hangat.


"Tidak mengapa sayang, suatu saat nanti kamu pasti akan melakukan nya," lirih Rehan berucap dengan tatapan yang tak kalah hangat. "Bill,,, bolehkah abang tahu, kenapa kamu menangis?" Tanya Rehan penuh selidik.


Nabila tergagap, "eh,, nangis,, Billa enggak nangis kok bang," sangkal Nabila sambil mengalihkan pandangan, mencoba menyembunyikan matanya yang sembab.




\_\_\_ Cinta adalah anugerah terindah yang diberikan oleh Allah kepada setiap makhluk-Nya dan cinta tak pernah salah jika dia berlabuh ditempat yang semestinya \_\_\_ (Nabila)

__ADS_1


__ADS_2