
Sejenak Rehan nampak berpikir, "satu kali gaji kalian deh," ucap Rehan dengan tanpa beban.
"Asyik,,," seru Alex dengan senangnya sambil melompat-lompat kegirangan, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.
Sedangkan Pak Rudi yang mendengar ucapan tuan mudanya tak kalah girang, dia terus memainkan jemarinya dan mulai menghitung sambil mulutnya komat kamit mengucapkan sesuatu.
Rehan yang melihat sikap aneh sopirnya itupun bertanya keheranan, "Pak Rudi kenapa?"
"Anu tuan muda,,," Pak Rudi gelagapan mendengar suara bariton Bos nya itu yang tiba-tiba saja membuyarkan konsentrasinya, "itu,,, saya,,, sedang menghitung kebutuhan untuk istri dan anak-anak saya," jawabnya terbata dan tersipu malu.
Terlihat Rehan mengangguk anggukkan kepala, "kalau begitu, khusus untuk Pak Rudi, jatahnya dua kali gaji Bapak," sambil menepuk bahu laki-laki paruh baya yang telah setia bekerja di perusahaan miliknya itu selama belasan tahun.
"Yang benar tuan muda," Pak Rudi terperangah, seakan tak percaya dengan pendengaran nya.
"Iya Pak Rudi," jawab Rehan santai, "ayo pak buruan kita masuk, nanti keburu tutup loh," titahnya sambil berlalu dengan menggandeng tangan Nabila.
"Tunggu Rey," Alex berseru dari tempatnya berdiri.
"Apalagi??" Rehan menelisik melihat tingkah Asistennya itu.
"Kok Pak Rudi dapat jatahnya dua? Lah gue, kok cuma satu?" Protes Alex sambil menunjuk hidungnya sendiri dengan jari telunjuk nya.
"Nikah dulu sana,,, nanti kadonya dua kali gaji lu," ucap Rehan malas, namun sedetik kemudian segera terkekeh ketika melihat raut lucu Asisten Pribadinya.
Ya, Alex kini tengah berpose memasang wajah cemberut dengan bibir mengerucut, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Nabila yang berada di samping Rehan dan sedari tadi mendengarkan percakapan antara Bos dan bawahan nya itupun ikutan terkekeh, "bang Alex lucu juga ya ternyata," ucap Nabila masih dengan suara menahan tawa.
"Jadi belanja gak nih?" Seru Rehan mengingatkan sahabatnya yang masih manyun itu sambil menepuk keras bahu Alex.
__ADS_1
"Ya jadilah,,, gratisan, siapa juga yang nolak!" Segera berlalu menerobos ketengah Rehan dan Nabila hingga berhasil melepas genggaman tangan sejoli yang tengah kasmaran itu, "hehehe,,, sorry ya, sengaja," seru Alex mencibir dan buru-buru berlari memasuki pusat perbelanjaan untuk menghindari amukan atasannya.
"Huh,,," terlihat Rehan mendesah kasar, seraya menggelengkan kepalanya. "Dasar Asisten sinting," umpat nya dalam hati, "Yuk kita masuk,,," sambil menggandeng kembali tangan kiri Nabila, dan berjalan bersisian dengan gadis pujaan hatinya itu untuk memasuki pusat perbelanjaan.
Pak Rudi mengekor di belakang mereka dengan wajah yang terlihat sumringah, bagai mendapatkan lotre dengan nominal yang fantastis.
*****
Kendaraan yang dikemudikan oleh Pak Rudi melaju dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata sesuai perintah dari tuan mudanya, "agak cepat dikit ya pak, kasihan sepertinya Nabila sudah kecapean," titahnya dari jok belakang.
Nabila yang duduk disampingnya sudah terlihat kelelahan dan mengantuk, sedangkan perjalanan masih cukup panjang.
"Sandaran sini," titah Rehan menunjuk bahunya pada kekasih hatinya yang sudah mulai sedikit memejamkan mata.
Nabila sekilas melirik, "boleh?" tanyanya malu-malu.
Tanpa banyak protes Nabila hanya bisa menurut, dia benar-benar sudah tak kuasa lagi menahan rasa kantuknya. Tak lama kemudian, Nabila pun sudah terlelap dengan kepala bersandar di bahu sang pujaan hati yang terasa nyaman itu.
Sedangkan Asisten Alex nampak langsung tertidur, begitu menemukan sandaran nyaman di jok tempat duduknya. Dia tak peduli lagi dengan orang-orang di sekitarnya, yang penting bisa segera terlelap agar nanti bisa menggantikan Pak Rudi walaupun hanya sebentar.
Pak Rudi masih tetap fokus melajukan mobilnya di jalan raya berbayar yang terlihat sangat ramai, "pulang kemana tuan muda?" Tanya Pak Rudi memecah kesunyian.
"Ke rumah utama saja Pak, kemarin saya sudah nyuruh bibi Ani untuk mengajak Kevin menginap di rumah utama," Jawab Rehan dengan detail.
"Siap tuan muda," sambil menganggukkan kepala tanda mengerti, "tuan muda kalau mau istirahat silahkan, saya sudah biasa nyetir dan melek sendiri kok," ucap Pak Rudi sekilas menatap atasannya itu dari pantulan kaca spion.
"Hem,,, baiklah," gumam Rehan dan segera mengambil posisi nyaman dengan sangat perlahan, agar pergerakannya tidak mengganggu tidur gadisnya. Tak berapa lama, Rehan pun telah tertidur.
Lalu lalang kendaraan saling berebut dan menyalip untuk menjadi yang terdepan, begitupun dengan mobil yang dikendarai oleh Pak Rudi, yang tak mau ketinggalan dalam berpartisipasi untuk menguasai jalanan. Pak Rudi mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata, menyalip kendaraan-kendaraan lain yang berjalan di depannya.
__ADS_1
Hingga beberapa jam kemudian, Pak Rudi berhasil membawa laju mobilnya memasuki kawasan elit di Jakarta Selatan.
Mobil yang dikemudikan pak Rudi mulai berjalan perlahan melintasi deretan bangunan perumahan mewah dan terlihat megah dengan halaman masing-masing yang sangat luas, beberapa blok terlewati hingga akhirnya mobil memasuki sebuah gerbang yang menjulang tinggi. Satpam yang bertugas segera membukakan pintu gerbang begitu mengenali mobil tuan mudanya, dan mempersilahkannya untuk memasuki halaman.
"Kita sudah sampai ya Pak," tanya Rehan kepada sopirnya begitu dia membuka matanya dan langsung mengenali halaman rumah tempat dia dibesarkan.
"Benar tuan muda," jawab Pak Rudi lirih, dan segera membawa mobil itu hingga berhenti tepat di depan pintu rumah utama.
"Billa sayang,,, hei bangun, kita sudah sampai," lirih Rehan membangunkan gadis manis berhijab biru itu dengan sangat lembut, sambil menepuk punggung tangan Nabila pelan.
Nabila menggeliat, dia mengerjap kan matanya mencoba memindai keadaan sekitar. "Eh, sudah sampai ya bang," lirih nya tersipu malu, begitu menyadari mobil telah terparkir dan Pak Rudi serta Alex sudah tak nampak lagi di tempat duduknya. "Maaf, Billa tidurnya pulas," lanjutnya masih dengan malu-malu.
"Duh,,, gemesin banget sih kamu sayang kalau lagi seperti itu," gumam Rehan dalam hati. "Yuk kita turun," Rehan segera turun dan berlari kecil mengitari mobil untuk membukakan pintu buat Nabila.
Pak Rudi dan Alex terlihat sibuk menurunkan barang-barang dari bagasi mobil, yang jumlahnya berkali-kali lipat dibanding saat mereka berangkat kemarin. Ya, lantaran Alex dan Pak Rudi belanja dengan gelap mata karena dapat traktiran dari big bosnya. Begitupun dengan Rehan, dia belanja sangat banyak untuk memanjakan gadis pujaan hatinya. Padahal Nabila sudah menolak nya, tapi Rehan kekeh dengan keinginannya.
"Bang, ini kita dimana?" Nabila memindai sekeliling tempat nya berdiri, dan semua terlihat sangat asing.
"Kita pulang ke rumah utama, rumah orang tuaku." Jawab Rehan pelan, dan segera melanjutkan penjelasannya tatkala matanya menangkap kebimbangan gadis di sampingnya, "Kevin juga menginap disini dari kemarin."
Nabila menganggukkan kepala tanda mengerti,,,
"Yuk kita masuk," sambil menggandeng tangan Nabila, Rehan memasuki pintu rumah utama dengan langkah tegap.
"Selamat datang tuan muda,,, selamat datang nona,,," sambut beberapa pelayan laki-laki yang berjaga malam dengan membungkuk hormat, menyapa tuan mudanya yang tiga tahun terakhir jarang pulang ke rumah utama itu.
"Malam,,," jawab Rehan dan Nabila kompak, "Anton, tolong kamu siapkan kamar untuk Pak Rudi dan juga Alex," titahnya pada salah seorang pelayan laki-laki yang terlihat paling muda.
"Baik tuan muda," Anton membungkuk hormat dan bergegas meninggalkan tempat itu untuk melaksanakan perintah junjungannya.
__ADS_1