
Nabila baru selesai membereskan mukena dan sajadah nya, nampak dia tengah duduk di depan cermin rias seraya menyisir rambut panjang nya yang belum begitu kering.
Setelah meletakkan minuman dan makanan di atas meja, Rehan menghampiri istri nya dan membantu menyisir rambut Nabila. Aroma shampoo yang menguar terasa memabukkan indra penciuman Rehan, hingga menuntun laki-laki itu untuk terus menciumi rambut sang istri.
"Abang,,, ih,, hentikan," rajuk Nabila yang merasa gemas melihat tingkah suami nya dari pantulan cermin.
"Rambut kamu harum sayang,,, dan lembut, abang suka," jawab Rehan dengan masih terus menciumi rambut sang istri.
"Abang tadi bawa apa?" Nabila mencoba mengalihkan perhatian Rehan.
"Oh ya sayang, abang pesan susu kambing segar. Minum dulu yuk, mumpung masih hangat," titahnya seraya menuntun sang istri untuk duduk di sofa.
Keduanya duduk berhimpitan dan saling terdiam, hanya mulut mereka yang bekerja mengunyah makanan untuk mengganjal perut yang telah kosong karena energi berlebih yang mereka keluarkan untuk pertempuran semalam.
Mereka menikmati roti bakar dan kentang goreng yang tadi di pesan oleh Rehan hingga tandas tak tersisa, dengan susu kambing segar sebagai pelengkap amunisi sesuai keinginan bos besar.
Di luar, gerimis masih turun dan memanjakan penduduk bumi untuk terus bermalas-malasan. Udara yang dingin dan ditambah dengan gerimis, sangat cocok untuk terus bergelung dibawah selimut tebal dan mendekap guling.
Nabila yang mengenakan gaun lebih tipis dari yang semalam, semakin merapatkan tubuh nya mendekati sang suami. "Dingin yang?" Tanya Rehan dan segera memeluk pinggang sang istri.
"Hem,,," yang hanya ditanggapi dengan gumaman oleh Nabila. "Gaunnya tipis-tipis semua bang," Nabila mengeluh seraya mendekap tangannya di dada.
Tiba-tiba Rehan mengangkat tubuh Nabila dan membawa nya kedalam pangkuannya, Nabila terkejut dan terpekik. "Abang... main angkat-angkat seenaknya, gak kasih kode,," protesnya merajuk.
Rehan terkekeh,,, "kan kamu yang kasih kode ke abang agar dipeluk," kilah nya seraya mendekap erat tubuh sang istri yang berada di atas pangkuannya. "Kalau begini, masih dingin gak?" Tanya Rehan dengan menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
Nabila menggeleng, berada di atas pangkuan dan di peluk erat oleh sang suami benar-benar membuatnya merasa nyaman. Dan jika diijinkan, dia ingin berlama-lama berada di posisi seperti itu.
Namun Rehan yang menyimpan modus lain, tak membiarkan istrinya berlama-lama di atas pangkuan nya. Dari posisi mereka sekarang jelas Rehan menang banyak, dengan leluasa dia menciumi leher jenjang sang istri hingga membuat tubuh Nabila kembali meremang.
__ADS_1
Tak berhenti sampai disitu, tangan kokoh Rehan yang mulai terampil tiba-tiba saja sudah menyusup kedalam gaun tipis sang istri, menyusuri gunung kembar nan kenyal milik istrinya dan meremasnya dengan lembut,,, membuat sang istri mendesah dan memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang dia berikan.
Senyum kemenangan tersungging di sudut bibirnya, Rehan buru-buru membaringkan tubuh istrinya di sofa dan kembali menindihnya. Menatap sang istri dengan tatapan berkabut, "aku mencintaimu sayang," bisik nya sangat lembut di telinga sang istri, dan kemudian mengecup bibir istrinya hingga kembali membuat Nabila merasa melayang.
*****
Pagi menjelang, sang mentari mulai menampakkan sinarnya.
Di kediaman Nabila, kesibukan dari penghuninya tampak sudah terlihat. Mereka tengah sibuk mempersiapkan segala keperluan yang hendak mereka bawa ke Jakarta.
Begitupun di rumah sebelah, mereka juga tengah bersiap untuk kembali pulang ke rumah utama.
Kevin nampak tengah berlari-lari kecil menghampiri Ilham yang tengah duduk santai di teras, dia nampak telah siap dengan stelan jeans dan kaos berwarna biru yang melekat sempurna di tubuh atletisnya, membuat aura kegantengan remaja belasan tahun itu semakin memancar.
"Om ganteng, Kevin pengin pamit dulu sama mommy.. tolong telfon mommy nya Kevin dong?" Pintanya dengan manja.
Deringan pertama, tak ada jawaban... Ilham kembali mendial nomor kakak nya, hingga beberapa kali tak ada jawaban. Ilham mengernyit dan kemudian tersenyum kecut, "mbak Billa dan bang Rehan, mentang-mentang pengantin baru jam segini masih tidur,,,?!" Ilham menggerutu sendiri.
Alex yang tiba-tiba muncul dihadapannya, mendengar adik bungsu Nabila tersebut sedang menggerutu dan menyebut nama bos nya. "Ada apa dik, kenapa dengan bang Rehan?" Selidiknya.
"Ini lho bang, si Kevin pengin ngobrol sama mbak Billa,, eh, malah gak diangkat dari tadi."
Alex sontak tertawa keras,,, hingga membuat Kevin bingung dibuatnya, "om Alex kenapa senang?" Tanya nya polos.
"Enggak sayang, gak ada apa-apa. Oh ya, Kevin mau enggak naik motor keliling kampung sama om Ilham?" Alex mencoba mengalihkan perhatian Kevin, dia tahu persis, bos besar dan istrinya lagi dalam mode gak bisa di ganggu.
Ilham menatap Alex menuntut jawab,,
"Udah, ajak jalan-jalan saja dulu... alihkan perhatiannya, sembari menunggu yang lain siap," titahnya
__ADS_1
Ilham mengangguk mengerti, dan segera mengambil motor nya untuk membawa keponakan kecil nya itu jalan-jalan.
*****
Di dalam kamar nya, nampak Nabila baru saja terjaga. Dia mengerjap matanya berkali-kali agar bisa terbuka dengan sempurna, sinar mentari yang menerobos masuk melalui celah jendela kaca memberi tanda bahwa pagi telah menyapa. Dia melirik kearah jam dinding, dan benar saja waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dua jam mereka berdua tertidur, setelah pergumulan di pagi-pagi buta tadi di atas sofa.
Nabila mencoba menepuk punggung tangan sang suami, yang memeluk tubuh nya dengan sangat posesif. "Abang,,, bangun yuk," lirih nya membangunkan Rehan.
"Hem,,, bentar lagi sayang, abang masih ngantuk," jawab Rehan dengan malas.
"Ya udah, abang silahkan lanjutin tidur,,, tapi lepasin dulu ini, Billa mau ke kamar mandi," rajuk nya.
"Bentar aja sayang, nanti kita mandi sama-sama."
"Enggak mau ah,,, bukannya mandi malah yang enggak-enggak nanti," protesnya masih mencoba melepaskan diri dari pelukan suami nya.
Rehan tersenyum dan kemudian mengalah,,,
Nabila segera beranjak untuk ke kamar mandi, dan mencoba berjalan dengan normal. Sedikit sakit, namun dia tetap memaksanya. Rehan yang sedari tadi mengamati jalan sang istri pun mengernyit, "apa aku terlalu liar?" Gumamnya dalam hati. Sedetik kemudian dia berlari kecil dan segera mengangkat tubuh sang istri dan membawa nya ke kamar mandi.
Nabila sempat terkejut tapi kemudian membiarkan suami nya melakukan yang dia mau. Akhirnya mereka mandi berdua, hanya aktifitas mandi seperti biasa karena Rehan tidak tega melihat kondisi istrinya. Dengan sangat telaten Rehan memandikan tubuh ramping sang istri, hingga keduanya selesai dengan ritual mandi nya.
Selesai berganti pakaian, Nabila mengambil ponselnya yang masih berada dalam tas. Dia terkejut, tatkala mendapati ada banyak panggilan dari sang adik setengah jam yang lalu.
"Ada apa sayang,,, kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Rehan penasaran.
"Ini bang, tadi Ilham telfon Billa berkali-kali,,, ada apa ya?"
"Sudah, jangan menduga-duga. Lebih baik kamu telfon aja, barangkali ada yang mau dia sampaikan. Rencana pagi ini mereka cabut ke Jakarta bukan?" Rehan mencoba menenangkan istri nya.
__ADS_1