Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Abang Bule


__ADS_3

Fatima bergegas masuk kedalam rumah Nabila, menyusul anggota keluarganya yang sudah terlebih dahulu masuk. Dengan diiringi pak sopir yang mengekor di belakangnya, membawakan oleh-oleh yang telah Fatima siapkan untuk keluarga Nabila.


Nampak Nabila dan sang adik sedang menyiapkan minuman dan camilan ringan untuk keluarga papa Sultan.


"Mari silahkan diminum teh nya, mumpung masih hangat," ucap Nabila ramah.


"Sudah nak Billa, nak Ilham, gak perlu repot-repot,,, duduk saja disini," titah mama Sekar menepuk bangku kosong di sebelahnya.


"Maaf non, ini ditaruh dimana?" Tanya pak sopir yang baru saja masuk.


"Oh iya pak, sini biar Billa saja yang menyimpannya di dalam," pinta nya seraya mengambil alih barang tersebut dari tangan pak sopir. "Bapak silahkan duduk ya," ucap Nabila dengan ramah.


"Terimakasih non, saya tunggu di luar saja," jawab pak sopir dengan sopan, dan kemudian segera undur diri keluar menuju halaman.


Nabila bergegas masuk kedalam, setelah menyimpan oleh-oleh Nabila kembali ke ruang tamu dan duduk di samping sang adik, "nang, ayah sama ibu udah lama perginya?" Nabila bertanya pada Ilham.


"Lumayan sih mbak, paling bentar lagi juga pulang," jawab Ilham seraya melirik jam di dinding ruang tamu tersebut.


"Mbak, Ilham ajak main adik-adik di luar aja ya,,," pamitnya seraya beranjak dari tempat duduk nya, dan membujuk ketiga anak kecil itu untuk ikut bermain dengannya di halaman rumah nya yang asri dan sejuk.


"Adik-adik yang cakep dan cantik, ikut main sama om Ilham di luar yuk,,, om Ilham punya binatang-binatang yang lucu loh, kalian pasti suka," bujuknya dengan gaya syok imut.


Mendengar Ilham menyebut kata binatang, sontak anak-anak yang memang suka sama binatang itupun segera mengiyakan ajakan Ilham dan berlari kecil mengikuti langkah Ilham menuju halaman.


Ya, Ilham memang penyuka anak kecil dan pandai mengambil hati mereka. Semua anak kecil di lingkungan sekitar senang bermain dengannya, meskipun sering berbuat jahil kepada mereka tapi Ilham tidak segan-segan untuk membelikan jajanan, sehingga anak-anak itu menyukainya.

__ADS_1


Fatima dibuat takjub dengan sikap Ilham, "loh, tumben Fira langsung mau diajak main? Padahal baru bertemu? Gak biasanya loh dia cepat dekat sama laki-laki asing?" Ucap Fatima menunjukkan keheranannya.


"Ya, bunda benar,,, Fira kan biasa kamu ajarkan untuk menjaga jarak dengan laki-laki yang bukan muhrimnya," timpal Yusuf kepada istrinya.


"Benar ayah, anak perempuan kan memang harus di ajarkan hal-hal seperti itu sejak masih dini. Jadi ketika nanti mereka sudah beranjak remaja, mereka bisa menjaga kehormatan diri sendiri dan juga keluarganya bukan?" Ucap Fatima meminta persetujuan sang suami.


"Kamu memang luar biasa bunda, ayah makin sayang sama bunda," ucap Yusuf menatap hangat istrinya, seraya mengusap lembut punggung tangan Fatima.


Nabila yang menyaksikan kemesraan keduanya, hatinya Menghangat,, "so sweet banget sih kak Fatima dan bang Yusuf," gumamnya dalam hati.


Papa Sultan tersenyum bahagia mendengar obrolan putri sulungnya dan sang suami, "itu artinya anak kamu sudah menganggap nak Billa dan keluarganya seperti keluarga sendiri," ucap papa Sultan turut menimpali ucapan Fatima mengenai putri nya yang langsung bisa akrab dengan Ilham.


Mama Sekar mengangguk, menyetujui ucapan suaminya.


Dan obrolan hangat diselingi canda tawa itu terus mengalir di ruang tamu tersebut, hingga suara deru mesin kendaraan mengalihkan perhatian mereka.


Terlihat papa Sultan memberikan kode pada Fatima agar mengikuti Nabila.


Di halaman rumah Nabila, terlihat wanita paruh baya turun dari mobil, dan diikuti oleh pria yang lebih tua dari wanita tersebut. Nabila mendekat kearah mereka berdua, "Assalamu'alaikum bu,,," sambut Nabila dengan mengucap salam kepada ibunya seraya menjabat tangannya, dan mencium punggung tangan ibunya.


"Wa'alaikumsalam mbak, Alhamdulillah akhirnya kamu pulang juga," ucap sang ibu seraya memeluk putri sulungnya dengan erat.


Nabila kemudian menyalami ayah nya dan mencium punggung tangan laki-laki tersebut sesaat setelah melerai pelukannya dengan sang ibu, "kamu sehat-sehat saja kan nak?" Tanya sang sang ayah yang nampak khawatir terhadap putri sulungnya.


"Alhamdulillah,, Billa sehat-sehat aja yah," jawab Nabila seraya memeluk sang ayah.

__ADS_1


"Mbak, itu mobil siapa?" Tanya sang ibu mengagetkan Nabila, yang masih dalam pelukan hangat sang ayah.


Nabila segera melerai pelukannya, "Oh itu,,,"


"Assalamu'alaikum bu,,," terdengar suara wanita yang tiba-tiba hadir menghampiri mereka bertiga. "Maaf bu, perkenalkan saya Fatima," ucap nya memperkenalkan diri, seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan ibunya Nabila dan tersenyum manis.


"Oh, wa'alaikumsalam," jawab sang ibu seraya menjabat tangan Fatima. Nampak ibu Nabila sedikit terkejut dan terpana menatap wajah Fatima, hingga beberapa saat lamanya.


"Ibu,,, ada apa?" Tegur Nabila yang menyaksikan sang ibu diam terpana menatap Fatima.


"Eh, enggak,, enggak apa-apa," jawab sang ibu sedikit terkejut dan kemudian melepaskan jabat tangan mereka. "Iya mbak Fatima, saya ibu Lin, ibunya Nabila," lanjutnya memperkenalkan diri pada Fatima.


Terlihat ibu Lin mengerutkan kening, nampak mengingat-ingat sesuatu, "Emm,,, ibu tuh kayak pernah lihat sama mbak Fatima, tapi kapan dan dimana nya ibu kok lupa? Maklumlah mbak, ibu sudah tua," ucap nya seraya terkekeh.


Fatima ikut tersenyum menanggapinya, dan kemudian pandangannya beralih pada laki-laki yang berdiri di samping Nabila. Fatima mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan laki-laki yang merupakan ayah nya Nabila, "perkenalkan pak, saya Fatima," ucap nya sopan seraya tersenyum.


"Saya pak Ilyas, ayah nya Nabila," jawab pak Ilyas menjabat tangan Fatima dan tersenyum hangat.


"Oh ya ayah, ibu, di dalam ada keluarganya kak Fatima yang sudah menunggu," ucap Nabila seraya mengajak Fatima dan kedua orang tuanya untuk masuk kedalam rumah.


Bu Lin dan pak Ilyas mengikuti langkah Nabila dengan menyimpan tanya di benak masing-masing.


"Assalamu'alaikum," sapa pak Ilyas ramah, memberi salam kepada tamu-tamunya begitu menginjakkan kaki di ruang tamu rumahnya. Pak Ilyas nampak mengedarkan pandangan dan tersenyum hangat kepada tamu nya. "Maaf, sudah lama menunggu kah?" Tanya pak Ilyas dengan tak enak hati, seraya menyalami satu persatu tamunya.


"Belum begitu lama kok pak," jawab papa Sultan dengan senyum ramah nya. "Maaf jika kedatangan kami sekeluarga mengejutkan bapak dan ibu," lanjutnya merasa sungkan.

__ADS_1


"Tidak mengapa pak, saya malah merasa terhormat dengan kehadiran bapak dan ibu sekalian," jawab pak Ilyas mencoba mencairkan suasana. "Oh ya, perkenalkan saya Ilyas,,, ayah nya Nabila," lanjutnya memperkenalkan diri.


Setelah suaminya duduk, bu Lin kemudian mengikuti apa yang di lakukan oleh suaminya dengan menyalami satu persatu tamunya. Dan tatkala dia mengulurkan tangan untuk menyalami papa Sultan, matanya menyipit, seakan memastikan bahwa apa yang ditangkap oleh indra penglihatannya tidak lah salah. "Abang,,, abang bule kah?" Ucap nya terbata-bata, seperti menahan sesuatu yang membuncah di dadanya.


__ADS_2