
"Billa sayang,,," ucap Rehan lembut menatap dalam manik mata Nabila, "matamu enggak bisa bohong,,, bahkan abang sudah bisa menebaknya, saat pertama kali melihatmu tadi," lanjut Rehan mencoba mencari tahu kegundahan hati kekasihnya, dengan menelisik kedalam bola mata gadis manis itu.
"Huh,,," terdengar helaan berat nafas Nabila, "tadi Saras telepon Billa, dan kata-kata yang dia ucapkan,,," Nabila menghentikan ucapannya, terngiang kembali sarkasme dari Saras yang mampu menembus ke kedalaman hati dan melukainya.
"Memangnya apa yang dia sampaikan?" Rehan menuntut jawaban dari kekasihnya.
Sejenak suasana hening, terdengar Nabila mengatur nafasnya yang sedikit memburu menahan gemuruh di dadanya. Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Nabila menceritakan semua yang dikatakan oleh Saras tentang dirinya melalui sambungan telepon dinihari tadi.
Rehan menyimak dengan seksama apa yang disampaikan oleh gadis pujaan hatinya itu, sesekali terdengar dia menarik nafas dalam untuk memenuhi rongga paru-paru nya dan kemudian menghembus nya perlahan.
"Kamu tahu sayang,,, kalau kamu bukanlah wanita yang seperti itu bukan? Kamu enggak perlu mikirin apapun yang dikatakan orang lain tentangmu,,, kamu pasti tahu kan salah satu kata mutiara Sahabat Nabi, 'Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak akan percaya itu'. Cukuplah menjadi dirimu sendiri, menjadi wanita yang lembut dan baik hati seperti yang abang kenal selama ini," tutur Rehan lembut menasehati kekasihnya.
"Iya bang, Billa juga sudah enggak terlalu mikirin perkataan Saras kok," ucap Nabila lirih, "meski awalnya, apa yang dia sampaikan itu sempat membuat Billa down dan merasa insecure,,," lanjut Nabila sendu.
"Kenapa?" Rehan bertanya dengan penasaran.
"Ya,,, Billa ngerasa enggak pantas saja buat abang, abang tampan dan juga kaya," ucap Nabila mulai serius, "meski Billa enggak pernah tahu kenyataan tentang kekayaaan abang, karena awalnya Billa pikir abang sama seperti orang kebanyakan dan Billa juga enggak melihat sosok abang dari sisi itu," sejenak Nabila terdiam, "Billa juga enggak tahu, kenapa bisa Billa secepat ini jatuh cinta sama abang?" Lanjutnya lirih.
"Hei baby,,," goda Rehan sambil menoel hidung mancung Nabila, "makasih ya sudah mengakui kalau abang ini tampan," ucap Rehan dengan memainkan kedua alisnya menggoda gadisnya itu.
"Ih,,, abang, jangan godain Billa terus dong?" Rajuk Nabila manja, "iya, abang memang tampan,,," ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kok kayak enggak ikhlas gitu sih ngucapin nya?" Protes Rehan pada kekasihnya.
"Huh,,," Nabila mendesah kasar, "Billa ikhlas kok ngucapin itu, abang Rehan yang sangat tampan,,," ucap Nabila balik menggoda Rehan.
"Tambah pinter menggoda abang ya sekarang,,," ucap Rehan sambil tersenyum penuh arti, "tapi abang senang kok kalau kamu seperti ini, Nabila abang yang ceria sudah kembali," lanjut Rehan bahagia.
Keduanya kini sama-sama terdiam, hingga beberapa saat lamanya...
"Nanti ikut abang ke kantor ya,,," Pinta Rehan memohon, "tidak ada penolakan," lanjutnya lagi dengan sedikit memaksa.
"Abang,,," seru Nabila dengan cemberut, "sukanya gitu deh,,," rajuk nya dengan manja.
__ADS_1
"Tapi kamu suka kan?" Goda Rehan dan segera beranjak dari tempatnya, membenahi sajadah yang tadi dipakainya untuk bersujud dan melipatnya dengan rapi.
Nabila pun ikutan membenahi sajadah nya dan menaruhnya di tempat semula, "bang, habis ini Billa ke kamar Kevin ya?" Nabila meminta ijin.
"Boleh saja, nanti kalau kamu butuh apa-apa abang ada di halaman belakang, mau olahraga pagi," ucap Rehan memberitahu gadisnya itu. "Abang balik ke kamar duluan ya,,," sambil bergegas keluar dari kamar Nabila, setelah sebelumnya memberikan senyum termanis nya.
Sepeninggal Rehan, Nabila segera melepas mukena nya dan kemudian menggantinya dengan hijab rumahan yang sempat dia beli kemarin. Setelah mematut diri sebentar di depan cermin, Nabila bergegas keluar dari kamarnya menuju kamar Kevin.
Nabila membuka pintu kamar yang tidak terkunci, dan dengan perlahan masuk kedalam kamar bocah kecil menggemaskan yang telah berhasil mencuri perhatian nya itu.
"Tante mommy,,," seru Kevin yang baru saja terbangun dari tidurnya, segera duduk sambil menyandarkan kepalanya dan mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa dia tidak salah lihat.
"Assalamu'alaikum sayang,,, selamat pagi anak sholeh," sapa Nabila dengan tersenyum hangat, seraya menghampiri Kevin dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
"Ini beneran tante mommy kan?" Tanya Kevin masih tak percaya.
"Iya nak, ini tante,,, kenapa kok kayak enggak percaya begitu?" Selidik Nabila menatap ke dalam bola mata bening bocah kecil itu.
"Emang kamu mimpi apa nak? Dan kita ketemu dimana?" Tanya Nabila mulai kepo.
Tanpa mereka sadari, sudah cukup lama Rehan berdiri diambang pintu dan menatap intens kehangatan mereka berdua. "Adem rasanya melihat kebersamaan kalian, semoga keinginanmu untuk memiliki seorang mommy segera terwujud nak," do'a nya dalam hati.
"Dalam mimpi Kevin, tante mommy, Daddy dan Kevin sedang mengunjungi opa dan oma di luar negeri. Kita bertiga naik pesawat pribadi milik daddy,,, dan sepanjang jalan tante mommy peluk aku terus," celoteh bocah itu menceritakan tentang mimpinya semalam dengan mata berbinar-binar.
"Kevin rindu ya sama opa dan oma?" Pertanyaan Rehan berhasil mengejutkan Nabila dan juga Kevin yang tengah asyik bercerita.
Nabila segera menoleh kearah sumber suara, "sejak kapan abang disini? Katanya mau olahraga di halaman belakang?" Cecar Nabila yang masih kaget dengan kehadiran Rehan yang begitu tiba-tiba.
Sedangkan Kevin terlihat sangat senang dan dengan antusias menjawab pertanyaan daddy nya, "iya daddy, Kevin rindu sama oma dan opa,,, kapan kita ke sana lagi?" Tanya Kevin sambil merajuk.
"Iya, nanti ya,,, daddy atur jadwal pekerjaan daddy dulu, biar kita bisa agak lama mengunjungi oma dan opa," jawab Rehan dengan bijak.
"Hore,,," seru Kevin senang, dan segera beranjak untuk menghambur ke pelukan daddy nya.
__ADS_1
"Ih,,, bau asem,,," goda Rehan pura-pura menutup hidungnya sambil mencoba melepaskan pelukan Kevin.
"Ah daddy,,," Kevin merajuk dengan bibir mengerucut dan semakin mempererat pelukannya.
Rehan tergelak mendapatkan reaksi seperti itu dari putranya, hingga beberapa saat, "tidak,, tidak,, putra daddy selalu wangi," ucapnya lembut, sambil menciumi pucuk kepala putranya.
Senyum manis terbit di bibir tipis Nabila kala menyaksikan kemesraan ayah dan anak itu, "anak yang beruntung memiliki seorang hot daddy," bisik nya sangat lirih.
Meskipun diucapkan dengan sangat lirih, Rehan yang posisinya berada tak jauh dari Nabila dengan samar dapat mendengarnya. Dia menatap Nabila dan tersenyum penuh arti pada gadisnya itu, "bukan hanya hot daddy,,, tapi abang juga akan menjadi hot husband untukmu sayang," sambil menuntun putranya mendekat kearah Nabila.
Nabila yang ketahuan keceplosan bicara, dibuat tersipu malu karena ulah Rehan yang terang-terangan memproklamirkan diri akan menjadi hot husband untuk nya.
Suasana di kamar itu sesaat menjadi hening,,,
"Abang tadi belum jawab pertanyaan Billa," rajuk nya mengalihkan pembicaraan.
"Oh,,, itu, tadinya pengin main golf di halaman belakang sama Alex, tapi dia malah masih molor," Rehan menjelaskan dengan nada sedikit kecewa.
Tok,, tok,, tok,,
Pintu terdengar di ketuk oleh seseorang, bersamaan dengan itu bi Ani muncul di ambang pintu yang tidak tertutup. "Maaf tuan muda, jika saya mengganggu," ucapnya dengan sopan sambil membungkukkan sedikit badannya, "sudah waktunya den Kevin untuk mandi pagi," lanjutnya sambil menghampiri anak asuhnya yang berada di samping Rehan.
Rehan menatap kearah jam dinding, waktu telah menunjukkan pukul enam lebih. "Nak, mandi dulu sana sama bibi," titahnya pada putranya.
"Oke daddy,,," jawab Kevin dengan mengacungkan ibu jarinya, "Kevin mandi dulu ya tante mommy," pamit Kevin dan segera berlalu ke kamar mandi mengikuti bibi pengasuhnya yang sudah masuk terlebih dahulu.
"Yuk sayang, kita juga harus siap-siap sekarang," ajak Rehan menuntun langkah Nabila dan bergegas meninggalkan kamar Kevin menuju kamar mereka masing-masing.
\_\_\_ Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak akan percaya itu \_\_\_ (Sayyidina Ali bin Abu Thalib, R. A)
__ADS_1