
"Beneran bang besok kita pulang?" Tanya Nabila yang baru saja selesai dari kamar mandi untuk berwudhu, "tadi Billa sempat dengar, abang mengatakan rapat penting, emang di perusahaan lagi ada masalah ya bang?"
Mereka baru saja sampai di kamar hotel setelah acara makan malam yang sempat gagal akibat ulah laki-laki tak bermoral yang bernama Kenzo, saat Nabila masuk ke dalam kamar mandi Rehan membuka ponsel nya dan melihat ada pesan dari sang Asisten untuk menghubunginya.
"Enggak apa-apa kan kalau liburan kita kali ini cuma sebentar yang?" Rehan bertanya dengan tak enak hati pada sang istri, sambil meletakkan kembali ponsel nya di atas nakas. "Dan rapat penting yang kamu dengar itu hanya akal-akalan Alex aja untuk membuat putra kita gak banyak bertanya lagi," lanjut nya seraya terkekeh.
"Oh, kirain ada masalah di sana," ucap Nabila lega, "jadi besok kita pulang kan? Billa seneng dengernya bang,,," ucap Nabila dengan wajah berbinar.
"Jadi maksud nya, kamu enggak suka kita liburan berdua?" Rehan mengernyit.
"Bukan begitu bang,,," Nabila nampak salah tingkah, "Billa hanya merasa kasihan sama Kevin, dia pasti kangen sama daddy nya, iya kan?" Nabila mencoba merayu.
"Ya, abang enggak pernah ninggalin Kevin selama ini. Biasa nya kalau abang pergi jauh dan harus sampai menginap, abang akan mengajak dia serta bersama pengasuh nya. Tapi,,," Rehan mencebik dan sesaat kemudian wajah nya menjadi sendu, "sekarang Kevin enggak kangen sama daddy nya, justru dia kangen nya sama mommy," Rehan nampak cemberut.
"Cie,,, si daddy bisa juga cemburu??" Nabila justru menggoda sang suami.
"Kamu sudah berhasil mencuri hati nya, mencuri perhatian nya,,," sejenak Rehan menjeda ucapan nya, dan menatap dalam netra hitam sang istri, "kamu harus mengganti apa yang sudah kamu ambil, dengan membuatkan abang seorang anak," Rehan tersenyum seringai.
Nabila sejenak terpaku, mencerna ucapan sang suami,, "Billa kan enggak merebut Kevin dari abang tapi membantu mengasuh nya,,, dan itu artinya tuntutan abang enggak berlaku bukan?" Nabila membalas perkataan sang suami dengan senyuman menggoda.
"Wah,, wah,, istri abang semakin malam semakin jago aja menggoda suami," Rehan mulai mendekat. "Kalau begitu malam ini rapat penting kita lanjut kan kalau perlu kita lembur sampai pagi,,," ucap nya lirih di telinga sang istri. "Kita cetak junior sebanyak-banyak nya di sini," lanjut nya seraya berjongkok mencium perut ramping sang istri.
Nabila tertawa kecil karena merasa geli dengan ulah jahil tangan sang suami, "udah bang,, Billa geli."
Tapi Rehan tak mempedulikannya dan terus menciumi perut Nabila, dan sesekali menggigit kecil perut ramping itu. Tangan nya yang kekar tak mau tinggal diam,,, terus ikut menjelajah ke bagian- bagian sensitif sang istri, hingga beberapa saat.
Nabila segera tersadar, "abang,, udah!" Nabila mencoba mundur dan melepaskan diri, "Billa udah wudhu tadi,,, dan karena ulah abang Billa harus wudhu lagi kan sekarang?" Ucap nya dengan cemberut.
__ADS_1
Rehan terkekeh,, "kalau perlu kita mandi lagi juga gak apa-apa kan yang??" Dengan terus mendekati sang istri dan menggoda nya.
"Stop bang, hentikan! Kita sholat dulu,,, selesai sholat kita lembur, oke?" Akhirnya Nabila mengalah dan menyetujui ajakan sang suami untuk lembur. "Ayo bang wudhu dulu, jangan suka menunda-nunda sholat ah," Nabila mengingatkan sang suami mengajak nya untuk segera beribadah.
"Wudhu nya barengan yang,, atau mau sekalian mandi basah?" Rehan masih saja berusaha menggoda.
Tapi Nabila pura-pura tak memperdulikan nya, "huh,, akhirnya bebas juga," bisik Nabila dengan lega, "gak apa-apa deh nyenengin suami untuk lembur sampai pagi, melayani suami kan dinilai ibadah. Lagian ibadah nya gak berat juga kan?" Nabila bermonolog, "dan malah sangat menyenangkan..." gumam nya seraya tersenyum simpul sambil berjalan menuju kamar mandi untuk bersuci.
*****
Di rumah utama, nampak Alex, Nisa, Ilham dan juga tiga bocah kecil sedang menikmati malam yang indah di halaman belakang. Alex sengaja membuat api unggun untuk menambah kehangatan suasana, ketiga anak kecil nampak berlarian dan saling mengejar diiringi canda dan tawa.
Ilham memilih bergabung bersama Zaki, Fira dan Kevin, sengaja memberi ruang pada Nisa dan Alex untuk ngobrol berdua.
"Mbak Nisa,, bang Alex,, jaga jarak aman ya," seru Ilham dengan terkekeh, seraya berlari kecil menghampiri ketiga bocah yang tengah asyik bermain.
"Apaan sih kamu nang,,," seru Nisa menimpali ocehan sang adik.
Ya, meski Nisa adalah adik sepupu Ilham tapi karena sejak umur satu tahun dia sudah diasuh oleh ibu Lin dan pak Ilyas serta diperlakukan seperti layaknya putri kandung, maka Nisa pun menganggap Ilham adalah adik nya.
"Ilham itu nyenengin ya anak nya, sopan sama orang tua dan sama anak kecil care banget," puji Alex sama Ilham.
"Mas Alex benar, kami semua sangat sayang sama Ilham. Ayah dan ibu dulu sengaja memberi jarak kehamilan yang cukup lama antara mbak Billa dan Ilham, karena usia Nisa dan mbak Billa hanya selisih setahun jadi repot nya kayak ngurus anak kembar,,, selain itu menurut ayah ibu biar kami berdua bisa merasakan kasih sayang sepuasnya sampai waktu nya tiba kami punya adik. Kehadiran Ilham sangat kami tunggu-tunggu, dan ketika dia sudah lahir Nisa dan mbak Billa sering berebut ingin menggendong nya dan berusaha mencari perhatian nya." Nisa bercerita dengan wajah yang selalu tersenyum, membayangkan kebahagiaan masa kecil nya berada di tengah keluarga Nabila.
"Mereka kelihatan nya sayang banget sama kamu ya dik?"
"Iya mas, Nisa mendapatkan kasih sayang yang utuh dari ayah dan ibu. Juga keluarga yang lengkap dan saling menyayangi, ada kakak dan adik yang sangat sayang sama Nisa seperti mbak Billa dan Ilham. Jadi meski pun Nisa yatim piatu tapi Nisa tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang,,," lirih nya seraya menatap Alex.
__ADS_1
"Dan mas akan melengkapi kebahagiaan mu dik,,, mas enggak akan janji, tapi mas akan membuktikan nya," ucap Alex sungguh-sungguh menatap netra bulat Nisa sambil menggenggam kedua tangan gadis berhijab modis itu.
"Ehm,,," dehaman Fatima mengagetkan kedua nya.
"Kak Fatima, ngagetin aja," gerutu Alex seraya melepaskan tangan Nisa dari genggaman nya.
Nisa tersipu malu dan menundukkan pandangan.
"Tahan dulu Lex,,, sabar,,," ucap Fatima seraya terkekeh, Fatima kemudian duduk di hadapan Alex dan Nisa. "Nanti setelah resepsi Rehan selesai di gelar, giliran kamu dan Nisa. Kakak sendiri yang akan mengurus semua, seperti kakak mengurus resepsi pernikahan Rehan. Karena kamu adalah bagian dari keluarga Alamsyah," ucap Fatima dengan menatap Alex.
"Makasih kak, Alex tahu kalian semua sangat baik sama Alex dan menyayangi serta memperlakukan Alex sama seperti Rehan," ucap Alex sendu.
"Udah ah,,, gak usah sentimentil gitu? Malu tuh sama calon istri," Fatima tersenyum menatap kedua nya bergantian.
Nisa hanya tersenyum mendengar kan obrolan kedua nya.
"Oh ya Lex, lusa kakak balik Singapura karena papa harus terapi. Kakak tadi sudah bicara sama Wedding Organizer yang akan menghandle resepsi Rehan, gedung dan lainnya sudah Fix. Nanti tolong kamu pantau aja gimana perkembangan nya, pihak WO udah kakak kasih nomor kamu jadi kalau ada apa-apa mereka akan menghubungi nomor kamu langsung."
Alex mengangguk-angguk menyimak setiap kata yang di ucapkan Fatima.
"Untuk undangan nya gimana?" Tanya Fatima.
"Sudah di cetak kak, dan mulai minggu depan sudah bisa di sebar," jawab Alex. Semua relasi dan teman-teman dekat Rehan juga sudah Alex masukkan kedalam daftar list, paling tinggal nambahin dari teman-teman Nabila mungkin?"
"Oke, berarti udah fix semua ya?"
"Bun,,, ayah cariin disini ternyata," suara bariton mengalihkan pandangan mereka menuju sumber suara, nampak Yusuf sedang berjalan menghampiri sang istri.
__ADS_1