Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Sama-sama Ditinggal Pergi


__ADS_3

"Jangan gila pa! Kita akan kehilangan semuanya jika sampai papa membuka rahasia ini!" Hardik mama Wiwit dengan kasar pada sang suami.


"Cinta papa yang sangat besar kepada mama, telah membutakan mata hati papa hingga papa tega mencelakai saudara papa sendiri... itu semua papa lakukan demi menuruti semua keinginan mama!" Terlihat papa Johan meneteskan air mata.


Sesaat suasana hening tercipta,,,


"Dari awal papa sudah tidak setuju dengan ide mama,, tapi saat itu mama meyakinkan papa dan berjanji akan menyayangi Alvian seperti anak kandung, tapi mana buktinya ma?! Mama malah sibuk berfoya-foya dan menghamburkan uang hasil jerih payah Alvian,,, mama juga menebar racun kebencian di hati Sisca untuk abang nya itu, hingga putri kita sama sekali tidak menghargai Alvian sebagai abang."


"Alvian juga harus tahu, kalau dia masih punya kakak kandung yang kemungkinan besar masih hidup,,," sejenak papa Johan menghentikan ucapan nya, "papa harus segera memberi tahu pada Alvian kebenaran ini, dan dia harus bisa segera menemukan kakak nya." Ucap papa Johan dengan menahan sesak di dada, air matanya terus menetes.


"Tidak pa,,, mama tidak akan membiarkan papa merusak semua rencana mama!" Mama Wiwit membentak suami nya.


"Mama tahu, papa pernah bertindak bodoh dengan menyuruh orang-orang papa untuk membantu melindungi sopir keluarga bang Jonny yang membawa kabur Bintang dari pengeroyokan orang-orang suruhan ku. Saat itu Bintang memang berhasil selamat,,," sejenak mama Wiwit menghentikan ucapan nya, "tapi mama ragu, apa dia masih tetap bisa bertahan hidup dengan keadaan yang baik-baik saja." Ucap mama Wiwit dengan senyum kemenangan.


"Apa maksud mama?" Papa Johan nampak sangat khawatir.


"Asal papa tahu, kemungkinan Bintang bisa bertahan hidup sangat lah tipis, karena orang-orang ku telah melacak keberadaan sopir bang Jonny dan dari mulut nya aku tahu bahwa dia meninggalkan Bintang di stasiun kereta api. Papa bisa bayangkan, seorang gadis kecil dan sendirian... pasti lah sindikat mafia yang menjual gadis-gadis kecil sudah memungut nya dan menjual nya kepada para predator," ucap mama Wiwit seraya terkekeh.


Nampak wajah papa Johan memucat, dan dia memegang dada nya.. dia meringis dan nampak sangat kesakitan.


Alvian yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan kedua nya, dan mengintip dari balik tirai,,, ingin segera menghampiri papa Johan dan menolong nya, namun dia urungkan. Dia ingin mendengar lebih lanjut rencana mama Wiwit terhadap diri nya.


Mama Wiwit yang melihat suami nya kesakitan, justru malah mengejek, "dasar tua bangka penyakitan!" Sarkas nya seraya menatap papa Johan dengan pandangan jijik.


Sedangkan papa Johan nampak semakin merasa kesakitan, dia terus menekan-nekan dada nya.


Melihat suami nya kesakitan dan hampir sekarat, mama Wiwit tersenyum seringai.


"Baik lah papa sayang, mama akan berbaik hati kali ini," ucap mama Wiwit lirih, "aku akan mengakui satu hal yang akan bisa membuat mu segera pergi ke neraka dengan tenang,,," mama Wiwit menjeda ucapan nya, "kamu harus tahu bahwa Sisca bukan lah putri kandung mu," ucap mama Wiwit tanpa dosa, dan dengan tertawa lepas.


Mendengar penuturan sang istri yang meskipun di ucap kan dengan sangat lirih, namun mampu mengguncang jiwa papa Johan... Tubuh papa Johan mengejang, namun dia masih sempat berucap meski dengan sangat lirih, "Ya Tuhan, mungkin ini adalah karma yang harus aku terima karena telah membuat keponakan ku Alvian menjadi yatim piatu, dan Bintang entah bagaimana dengan nasib nya? Aku rela menanggung rasa sakit ini Tuhan,, aku tahu ini semua adalah buah yang harus aku panen dari lebat nya pohon kejahatan yang telah aku tanam. Aku tahu, aku adalah orang yang hina dan tak pantas memohon kepada Mu... tapi ijinkan aku bertemu dengan Bintang dan meminta maaf kepada kedua keponakan ku sebelum ajal menjemput ku," papa Johan mengucap kan nya dengan terbata-bata, dan tak lama kemudian papa Johan tak sadarkan diri.


***** Flashback Off

__ADS_1


"Jadi istri om Johan belum tahu kalau kamu mendengar pembicaraan mereka?" Tanya ibu Lin lembut.


Alvian menggeleng,


"Lantas apa rencana bang Vian untuk tante Wiwit dan Fransisca?" Tanya Rehan dengan pelan.


"Gue belum tahu Rey,,, untuk saat ini gue fokus dulu pada kesembuhan papa Johan," jawab Alvian lirih.


"Boleh kah kakak menjenguk om Johan?" Pinta ibu Lin.


Alvian menatap kakak nya,,


"Sebaik nya jangan dulu bu,, nanti malah menimbulkan kecurigaan, dan bisa merusak rencana yang telah kami susun." Sahut Rehan dengan cepat.


"Rencana apa Rey?" Alvian menyelidik menatap netra kebiruan milik sahabat sekaligus keponakan nya itu.


"Jika bang Vian tidak keberatan, kami akan membawa om Johan berobat ke Singapura,,, di sana ada dokter jantung terbaik yang juga menangani papa, dan juga ada bang Yusuf dan kak Fatima yang akan mengurus om Johan. Jadi bang Vian bisa tetap fokus kerja dan menjalankan rencana untuk memberi kan sedikit pelajaran berharga buat tante Wiwit dan putri nya," ucap Rehan panjang lebar.


Alvian terdiam,,, dia nampak bingung dan tak tahu harus bagaimana?


Alvian menoleh kearah sang kakak,, dan ibu Lin mengangguk.


"Baik lah,, gue ngikut aja apa kata kalian," sambil menatap Rehan dan Alex bergantian. "Jujur saat ini pikiran gue buntu, gue masih syok dengan semua yang telah gue dengar tentang kisah tragis orang tua gue juga perjalanan hidup kak Bintang yang tidak mudah," ucap Alvian dengan tatapan sendu memandang kakak nya.


Kembali ibu Lin memeluk sang adik untuk memberikan kekuatan dan ketenangan.


"Kak, please.. jangan tinggalin Vian lagi ya?" Ucap Alvian polos sambil bersandar di bahu sang kakak, dia seperti anak kecil yang ketakutan jika tiba-tiba kakak nya pergi keluar rumah dengan diam-diam untuk bermain bersama teman-teman nya dan tanpa mengajak nya turut serta.


Ibu Lin tersenyum lembut, dan mencium kepala sang adik. "Hey, adik nya kakak bukan nya sudah dewasa? Dan sudah saat nya untuk berumah tangga? Kenapa jadi kolokan begini,,, enggak malu sama calon istri mu?" Goda ibu Lin pada sang adik.


Sontak Alvian menegakkan tubuh nya dan kembali memasang wajah berwibawa nya,,, Ibu Lin terkekeh melihat sikap adik nya itu.


Sedangkan yang lain tersenyum simpul, turut merasa kan kebahagiaan kakak beradik yang baru bertemu setelah lebih dari tiga dasa warsa.

__ADS_1


"Oh ya dik, kamu kan belum ngenalin pacar kamu sama kakak." Protes ibu Lin pada sang adik.


Alvian tersenyum kecut,,, "maaf, Vian lupa kak." Seraya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


Alvian menatap sang kekasih dengan tatapan hangat, "namanya Susan kak, dia sekretaris di perusahaan Rehan." Alvian memperkenalkan Susan pada sang kakak.


Susan mengangguk dan tersenyum manis.


"Dik Susan, sudah lama kah dekat dengan Alvian?" Tanya ibu Lin penuh selidik.


"Cukup lama kak, sekitar..." Susan menatap Alvian meminta dukungan dari sang kekasih.


"Jalan satu tahun kak," timpal Alvian yang mengerti tatapan Susan.


"What?!" Rehan dan Alex terkejut.


"Biasa aja kali,,, kalian berdua ini terlalu lebay," cibir Alvian kepada kedua sahabat nya.


"Bang Vian pacaran di kantor gue dan gue gak tahu apa-apa? Benar-benar permainan kalian berdua sangat halus,,," sindir Rehan.


"Berarti selama ini sering banget keluar masuk RPA selain urusan bisnis juga karena modus?" Timpal Alex, "gue pikir hubungan kalian baru sekitar satu bulan lalu, saat gue memergoki kalian sedang berciuman di dalam lift?"


"Jangan ember lu,,," seru Alvian seraya melempar bantal sofa kearah Alex


Wajah Susan merona karena malu.


"Ups,, sorry... kelepasan," ucap Alex pura-pura menyesal.


Yang lain hanya menjadi pendengar setia, sambil sesekali ikut tersenyum.


"Kalau memang sudah serius, kenapa enggak langsung di lamar aja dik? Kalau perlu dinikahin sekalian,,, seperti keponakan kamu itu?" Titah ibu Lin pada sang adik.


"Vian juga sudah berfikir kearah sana kak, tapi nenek Susan saat ini sedang sakit... jadi untuk sementara waktu kami tunda. Susan ini yatim piatu dan sejak masih bayi diasuh sama nenek dan bibi nya, mereka tinggal di luar Jawa," ucap Alvian lirih, menceritakan tentang keluarga sang kekasih.

__ADS_1


Netra ibu Lin berembun,,, kenapa nasib kalian bisa sama? Sama-sama ditinggal pergi orang tua saat masih membutuhkan kasih sayang? Semoga kalian bahagia dik,, kalian adalah pribadi-pribadi yang tangguh." Do'a tulus ibu Lin dalam hati untuk kebahagiaan adik nya.


__ADS_2