Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Kejutan untuk Sahabat


__ADS_3

Seusai menelpon sang adik, Devan duduk tepat di depan Rehan. Netra nya menatap tajam pada sahabat nya itu, "bisa lu jelaskan sekarang?" Pinta nya tanpa basa basi.


Rehan tersenyum, "gimana kalau dibalik?"


"Maksud lu?" Devan mengernyit.


"Lu belum pernah ngenalin calon pengantin wanita lu, dan tiba-tiba aja ada undangan atas nama lu di meja kerja gue? Apa lu sengaja mau bikin kejutan untuk sahabat?" Selidik Rehan, seraya tersenyum seringai.


Devan tersenyum kecut,, "awal nya iya, tapi seperti nya gue yang akan terkejut... karena tuan muda Alamsyah yang sedingin kutub selatan ternyata sudah punya gandengan," ucap nya seraya melirik Nabila.


"Jangan curi-curi pandang sama istri gue!" Seru Rehan pura-pura marah.


Alvian dan Alex hanya tersenyum, menyaksikan drama Rehan dan Devan


"What?! Istri,,,?!" Seru Devan sangat kaget, "tunggu... bukan nya kamu sudah memiliki tunangan di kota asal mu?" Tanya Devan menatap Nabila.


Nabila hanya tersenyum.


"Cerita apa calon istri lu tentang istri gue?"


"Banyak,,," jawab Devan singkat.


Rehan mengernyit, menatap Devan menuntut penjelasan.


"Lusi sering cerita tentang sahabat nya di kantor, dia bilang sahabat nya itu sosok yang manis, baik, ramah, bla.. bla.. bla.. kadang sampai panas kuping gue mendengarnya." Devan terlihat tersenyum, "bahkan gue sempat pernah marah sama Lusi gara-gara dia selalu menceritakan Nabila, gue juga pernah cemburu sama sosok istri lu yang belum pernah gue lihat," Devan terkekeh.


"Tapi setelah gue ketemu sama dia di butik, gue membenarkan apa yang semua Lusi bilang tentang Nabila." Ucap Devan mengagumi sosok istri sahabat nya itu.


Rehan melotot kearah Devan.


Devan yang paham dengan tatapan sahabat nya hanya menggeleng, "gue hanya mengagumi sifat nya, bukan orang nya! Lagian bentar lagi gue nikah, istri gue juga cantik dan baik!?" Ucap nya dengan bangga.


"Beruntung banget dong lu?" Rehan mencibir, "tapi gue kasihan sama calon istri lu, dapet cowok play boy kayak lu,," ledek Rehan tersenyum puas.


"Serah lu,,, dasar sohib tengil!" Umpat Devan kesal.


Ketiga sahabat Devan tertawa melihat wajah Devan yang frustasi.


Untuk sejenak, suasana menjadi hening.


"Jadi gimana cerita nya, lu bisa nikah sama Nabila? Kenapa Lusi enggak tahu?" Tanya Devan menuntut jawab.


"Dan tentunya sekretaris lu juga pasti tahu bukan? Apa lu juga sudah tahu bang? Dan ikut merahasiakan nya sama gue?" Tuduh Devan menatap Rehan, Alvian dan Susan bergantian.

__ADS_1


Susan hanya tersenyum,,


"Lu tahu sendiri kan Susan seperti apa? Dia enggak akan mau menceritakan tentang urusan pekerjaan ataupun urusan pribadi bos nya, karena dia tahu itu bukan wewenang nya dia," ucap Alvian membela sang kekasih. "Dan gue juga terkejut saat kemarin mengetahui nya," lanjut Alvian.


Devan mencebik,,, gue akui tuan muda Alamsyah selalu rapi dalam bertindak," ucap Devan menatap Rehan penuh selidik, "So,, bisakah berbagi cerita?" Devan masih menuntut.


"Ceritakan dulu perjalan cinta lu sama calon istri lu?" Titah Rehan dingin.


"Ck,,," Devan berdecak, seakan enggan untuk bercerita. "Tapi lu harus janji, akan bercerita setelah gue!" Tuntut nya pada Rehan kemudian setelah sejenak berfikir, rasa kepo nya yang tinggi akan kehidupan percintaan sahabat nya yang dingin itu memaksa Devan untuk menyetujui keinginan Rehan.


Rehan hanya pasang muka datar,,


Devan merasa jengkel dibuat nya, "dasar, beruang salju!" Umpat nya kesal, hingga mengundang gelak tawa yang lain nya. Rehan pun ikut tersenyum menikmati kejengkelan sahabat nya itu.


"Gue dikenalin sama sepupu gue, si Nina... Lusi itu sohib nya Nina waktu SMA. Awal ketemu gue langsung suka, dia cantik, orang nya juga baik. Lantas gue ajak dia untuk serius menjalin hubungan, Alhamdulillah dia terima," ucap Devan menceritakan secara singkat kisah cinta nya.


"Bukan nya lu suka sama gadis-gadis kaya dan terkenal?" Tanya Alvian memancing.


"Hahaha,,," Devan tergelak, "kalau sekedar untuk pacaran, mereka oke lah.. tapi untuk dijadikan istri, big no!" Tolak nya. "Gue cari istri yang nanti nya bisa ngertiin gue dengan segala kesibukan gue, dan juga ibu yang akan mendidik anak-anak kami kelak. So, kalau gue memperistri gadis-gadis yang suka dengan kehidupan glamor dan manja, apa jadi nya rumah tangga gue?!"


"Kali ini gue setuju dengan pemikiran lu Dev,, tumben lu cerdas," ucap Alex memuji tapi sekaligus mengejek Devan.


"Lu sama aja tengil nya sama bos lu,,, dasar Asisten absurd," gerutu Devan, namun dalam hati dia senang karena sahabat-sahabat nya meski kadang saling mengejek tapi mereka tak pernah benar-benar menjatuhkan.


Nina kemudian menyalami sahabat laki-laki Devan, dan berpelukan dengan pasangan dari masing-masing sahabat Devan. "Silahkan di minum,, maaf, Nina tinggal dulu ya semua," pamit nya sambil berlalu meninggalkan tamu abang sepupunya.


"Yuk, minum dulu," titah Devan pada tamu nya.


"Sekarang giliran lu Rey?" Pinta nya pada Rehan sesaat setelah mereka minum.


"Beneran lu mau cerita Rey? Wah, lu curang... kemarin aja gue minta lu untuk cerita tapi lu nolak, katanya bukan untuk konsumsi publik?" Alvian merajuk.


Rehan terkekeh,,, "oke, kalau gitu gue ralat. Gue akan cerita kalau bang Vian sudah menceritakan kisah nya dengan Susan," ucap Rehan dengan senyum kemenangan.


"Gak bisa gitu dong...!!" Tolak Alvian dan Devan bersamaan.


Sontak semua nya tertawa melihat ekspresi kecewa Alvian dan Devan.


"Lu benar-benar ponakan yang gak punya sopan santun, masak ngerjain om sendiri?" Gerutu Alvian pada Rehan.


Rehan hanya tersenyum, begitupun dengan Nabila.


"Barusan lu bilang apa bang? Ponakan? Siapa ponakan bang Vian?" Devan semakin bingung.

__ADS_1


Semua mata saling pandang dan tersenyum, hanya Devan yang seperti orang bodoh diantara mereka berenam.


Melihat sahabat nya kebingungan, Alvian kemudian menceritakan pertemuan nya dengan kakak kandung nya yang telah terpisah selama tiga dasa warsa lebih.


Devan mengangguk-angguk,, "tragis ternyata kisah hidup keluarga lu bang, tapi lu masih beruntung karena diberi kesempatan untuk bertemu dengan kakak lu. Jadi, kalian bertiga sodaraan dong?" Tanya Devan yang enggak butuh untuk di jawab.


Alvian mengangguk,, "gue bahagia sekarang, selangkah lagi hidup gue sudah lengkap. Gue juga akan segera menikahi Susan dalam waktu dekat," lanjut nya dengan mantap.


"Good luck bang,,," ucap ketiga sahabat Alvian bersamaan.


"Sekarang lu cerita deh bang,,, gue benar-benar penasaran sama kisah nya si beruang salju," pinta Devan pada Alvian, seraya melirik Rehan dengan sinis.


Rehan hanya tersenyum menanggapi nya.


"Hmm,, baiklah, gue juga penasaran dengan kisah Rehan dan keponakan gue yang manis ini." Ucap Alvian menyetujui.


Alvian kemudian memulai kisah nya, sambil menatap mesra sang kekasih. "Mungkin cinta kami bersemi berawal dari sering nya komunikasi, kerja sama yang terjalin antara PT. Bintang Kejora dan RPA Group yang membutuhkan banyak waktu gue untuk sering bertandang ke kantor Susan."


"Susan sebagai sekretaris, selain Asisten Alex dia juga banyak tahu hal tentang kerja sama kami. Dan karena kesibukan Alex di luar kantor, akhirnya memaksa gue untuk bertemu Susan jika butuh sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan. Dan, ya begitulah,, mengalir aja, kami merasa sama-sama nyaman dan cocok satu sama lain."


"Wah,, itu artinya lu berhutang budi sama gue om..." ucap Alex.


"Maksud lu?!" Alvian tak mengerti.


"Ya, karena gue pura-pura sibuk di luar? Sengaja... jadi kalian punya kesempatan untuk sering bertemu hanya berdua saja," ucap Alex tanpa dosa.


Rehan terkekeh, mendengar penjelasan absurd Asisten Pribadi nya.


Sedangkan Alvian melotot tajam kearah Alex, "masih mau lanjut sama ponakan gue atau cukup sampai di sini!" Seru Alvian pura-pura marah.


"Ampun bang,,, ampun,,, enggak lagi-lagi deh ngerjain lu bang,,," ucap Alex tersenyum getir.


Yang lain tertawa menyaksikan drama kedua bersahabat itu.


Persahabatan yang terjalin diantara mereka benar-benar tulus dan tanpa tendensi apa pun. Jika salah seorang di antara mereka merasa kan sakit, maka yang lain nya akan ikut menjerit. Pun sebalik nya, jika salah satu di antara mereka mendapatkan kenikmatan maka yang lain turut berbahagia.


Sahabat sejati, tidak akan pernah memandang kekayaan, kekuasaan ataupun kepopuleran.


Untuk sesaat, suasana menjadi hening, masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri.


Waktu terus bergulir, dan tanpa mereka sadari waktu maghrib akan segera tiba. "Ck,,, gue harus segera siap-siap, kamar kalian bertiga udah gue siapin," ucap Devan memecah kesunyian.


"Dan anda, yang terhormat tuan muda Alamsyah... anda masih tetap berhutang penjelasan!" Ucap Devan dengan penuh penekanan.

__ADS_1


__ADS_2