Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Kamar Keyla


__ADS_3

"Lex,,, lu malam ini menginap disini saja, besok pagi kan kita ada meeting di kantor dengan klien baru," titah Rehan pada Asisten Pribadinya, "kalau lu pulang ke apartemen takutnya kesiangan," lanjutnya memperingatkan kepada Alex.


Alex hanya mengangguk menyetujui.


"Pak Rudi juga sebaiknya menginap disini, dan besok barulah Pak Rudi pulang." Menghentikan sejenak ucapannya, "dan untuk Pak Rudi, besok Bapak saya kasih cuti satu hari untuk beristirahat," lanjutnya sambil menepuk bahu sopirnya itu.


"What,,,?!" Protes Alex dengan nada seru, "kenapa selalu Pak Rudi yang dapat prioritas? Secara gue kan Asisten kesayangan lu Rey?" Masih dengan nada protes mencoba merajuk, "gue kapan dikasih liburnya?" Sambil berjalan lesu menuju kamarnya yang telah disiapkan oleh Anton. "Kalian,,, bawa barang-barang gue ke kamar," titah Alex kepada para pelayan di rumah utama, yang masih setia berdiri di tempatnya tanpa menoleh sedikitpun.


Pak Rudi yang mendapatkan kompensasi dari tuan muda nya itupun tersenyum senang, "terimakasih banyak tuan muda," ucapnya dengan membungkuk kan sedikit badannya, dan memberikan senyuman terbaiknya untuk atasannya itu.


Rehan yang menyaksikan sikap Alex segera berseru, "nanti kalau lu nikah, gue kasih libur satu bulan penuh untuk honeymoon..." ucapnya memberikan angin segar untuk Asisten Pribadinya, meski Rehan tahu betul Alex hanya berpura-pura merajuk.


"Plus tiket nya ya?" Pinta Alex segera membalikkan badannya menghadap Rehan, dan menaik turunkan kan kedua alisnya memohon seperti anak kecil.


Rehan hanya mengangkat tangannya, memberikan kode oke kepada Asisten kepercayaan sekaligus sahabat sejatinya itu.


Dengan masih menggandeng tangan Nabila, Rehan segera mengajak gadis itu untuk naik ke lantai dua menuju kamar mereka.


Sedangkan Pak Rudi dibantu oleh pelayan-pelayan di rumah utama, terlihat merapikan barang-barang bawaan mereka tadi dan segera membawa ke kamar masing-masing pemiliknya.


Dan Alex, setelah mendapatkan angin segar dari sahabat nya tadi langsung memasuki kamarnya dengan bersenandung ria.


Setelah sampai di lantai dua, Rehan menunjukkan sebuah kamar untuk Nabila. "Billa sayang, ini kamar kamu," sambil membukakan pintu kamar untuk kekasihnya itu.


Rehan diikuti oleh Nabila yang mengekor dibelakangnya segera melangkah masuk kedalam kamar, sebuah kamar yang cukup luas berukuran 4 x 5 meter. Ditengah kamar terdapat sebuah ranjang berukuran king size yang terbuat dari kayu jati berukir, terlihat sangat elegan. Meja Rias dengan warna coklat mengkilap senada dengan warna ranjang, nampak berdiri anggun di samping tempat tidur. Dua buah sofa panjang dan terlihat sangat empuk menghiasi sudut kamar, yang menghadap ke sebuah home teater.


"Wow, luas sekali kamarnya," lirih Nabila takjub.


"Apa kamu suka?" Selidik Rehan pada kekasihnya.


"Iya, seperti nya sangat nyaman, tapi..." Nabila menghentikan sejenak ucapannya, "ini terlalu luas untuk Billa jika tidur sendirian," ucap Nabila sedikit ragu. "Apa semua kamar seluas ini?" Tanya Nabila polos.


"Tidak sayang, beberapa kamar tamu yang ada di lantai bawah tidak seluas ini." Jelas Rehan sambil menatap hangat mata Nabila, "apa kamu takut sendirian? Atau mau aku temani?" Goda Rehan pada kekasih hatinya dengan lirikan nakal.


"Ih,,, apaan sih abang, belum halal tau!" Ketus Nabila sambil mengerucutkan bibirnya dan segera membuang pandangan matanya kearah lain.

__ADS_1


Rehan yang menyaksikan sikap Nabila, yang menganggap candaannya sebagai sesuatu yang serius sontak terkekeh,,, "aku halal kan sekarang saja ya, biar aku panggil penghulu kesini, mau kan sayang?" Ucap Rehan semakin menggoda Nabila. "Lihat tuh bibir kamu, sepertinya sudah pengin di,,," Rehan sengaja tidak melanjutkan bicaranya, sekilas melirik nakal pada kekasihnya itu dan kemudian kembali terkekeh.


"Abang,,, kenapa sih becanda melulu dari tadi," protes Nabila yang sudah mulai putus asa, dia terus mengalihkan wajahnya enggan menatap Rehan karena merasa malu dan ingin menyembunyikan warna pipinya yang merah merona. "Billa berani kok sendiri, " lanjutnya lagi ingin segera mengakhiri perbincangan yang sangat memalukan menurutnya.


"Baiklah sayang, tapi kalau kamu merasa kurang nyaman sendirian tidur disini, gimana kalau kamu tidur di kamar,,," sejenak menghentikan ucapannya.


"Jangan bilang kalau abang mau mengajakku untuk tidur di kamar abang? No way ya bang,,," Tukas Nabila dengan cepat dan menatap Rehan dengan tatapan yang tajam.


Rehan tersenyum penuh arti menanggapi perkataan gadis yang telah bertahta di hatinya, "aku juga tahu kok sayang, kamu wanita seperti apa? Dan asal kamu tahu, aku tidak akan melampaui batasan ku sebagai kekasih, Ucap Rehan dengan tenang. "Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, dan aku akan menjagamu dengan seluruh hidupku," lanjutnya dengan tegas mencoba meyakinkan kekasihnya itu. "Kamu bisa tidur dikamar Kevin jika mau,,," Rehan kemudian menjelaskan maksud ucapannya tadi.


"Oh,,, seperti itu," lirih Nabila tersipu malu, "Billa kirain apa?" Gumamnya lagi sambil menggelengkan pelan kepalanya.


"Memang apa yang sedang kamu pikirkan sayang?" Tanya Rehan pura-pura tidak mengerti dan tersenyum jahil pada gadis pujaan hatinya itu.


"Hehehe,,, tidak ada kok bang," jawab Nabila dengan tertunduk, menyembunyikan rona merah wajahnya dari pandangan Rehan yang terus saja menggoda nya.


Sesaat suasana kembali menjadi hening, masing-masing tenggelam dengan pikirannya sendiri-sendiri.


"Bang, Billa disini saja tidak apa-apa deh," lanjutnya kemudian memecah kesunyian. "Kamar mandi di sebelah mana ya bang, Billa pengin segera bersih-bersih," lanjutnya bertanya pada sang empunya rumah.


Rehan kemudian melangkah lagi menuju pintu yang lain di sisi sebelahnya, "yang ini ruangan untuk ganti baju," Rehan menunjukkan sebuah ruangan khusus untuk berganti kepada gadis yang masih setia mengekor di belakangnya.


"Ruangan untuk berganti seluas ini?" Gumam Nabila lirih, sambil melangkah membuka satu-satunya almari penyimpanan yang terbuat dari kayu, terlihat berbeda dengan almari lain yang terbuat dari kaca transparan.


Melihat Nabila membuka almari, "Kamar ini dulunya kamar Keyla, dan almari almari itu sudah kosong karena semua pakaian dan barang-barang milik Keyla sudah diberikan kepada yang membutuhkan," Rehan menjelaskan dengan suara yang bergetar, kesedihan nampak menghiasi wajahnya yang tampan.


Mendengar ada yang berbeda dengan suara dari laki-laki yang telah mengisi hatinya, Nabila pun mendekati Rehan, "maaf,,, Billa tidak bermaksud membuka luka lama abang," sesal Nabila dengan lirih sambil menepuk lembut punggung tangan pangeran tampan yang telah berhasil meluluh lantakkan dinding tebal di hatinya.


"Huh,,," Rehan membuang kasar nafasnya, "kenapa harus minta maaf Bill, kamu tidak salah kok sayang," lirih Rehan meluruskan, "semua tentang Keyla selalu membuatku sedikit sensitif," lanjutnya lagi, "tapi sekarang aku senang, karena sudah ada kamu yang mau menghiburku dan menemaniku untuk melewati semuanya," Rehan tersenyum hangat pada kekasih pujaan hatinya.


Tok,,, tok,,, tok,,, terdengar suara ketukan di pintu kamar.


Rehan dan Nabila saling tatap, "sepertinya pelayan datang untuk mengantarkan barang-barang kamu yang kita beli di pusat perbelanjaan tadi, " Rehan mencoba menebak, "yuk sayang kita keluar," sambil menggandeng tangan Nabila dan keduanya segera keluar dari walk in closed.


"Duduk dan tunggulah di sana," titahnya pada Nabila sambil menunjuk sofa yang berada di sudut ruangan, "biar abang yang bukakan pintu," Rehan bergegas membuka pintu kamar.

__ADS_1


"Maaf tuan muda, jika saya mengganggu," ucap Anton salah seorang pelayan di rumah utama dengan membungkuk hormat, "saya kemari, mengantarkan barang-barang milik nona," lanjut Anton sopan.


"Tolong langsung kamu bawa masuk kedalam saja," titah Rehan pada Anton.


Dengan segera Anton membawa masuk barang-barang milik Nabila kedalam kamar, dan meletakkannya di atas sofa yang kosong, "makasih ya mas," ucap Nabila sopan pada pelayan laki-laki di rumah Rehan tersebut.


Anton membungkuk memberi hormat, "sama-sama nona, sudah menjadi tugas saya," ucapnya sopan, "kalau sudah tidak ada lagi yang tuan muda dan nona butuhkan, saya mohon undur diri," Anton pamit dan segera berlalu meninggalkan kamar dimana Rehan dan Nabila berada.


"Mau di bongkar sekarang? Abang bantuin ya?" Ucap Rehan hendak membantu Nabila membuka barang belanjaannya.


"Tidak perlu abang,,, ini sudah sangat larut, sebaiknya abang istirahat saja," pinta Nabila mendorong pelan tubuh Rehan agar segera berlalu dari kamarnya.


"Jadi, abang diusir nih, dari rumah abang sendiri?" Goda Rehan pada gadis berhijab itu.


"Iya, apa anda keberatan tuan muda?" Seloroh Nabila yang menirukan panggilan untuk Rehan dari para bawahannya, dan tersenyum usil.


"Pintar ya sekarang," ucap Rehan sambil mengusap lembut pucuk kepala Nabila yang tertutup hijab, "baiklah sayang, abang mengaku kalah kali ini dan abang akan keluar," lanjutnya kemudian dan segera berlalu menuju pintu kamar.


"Kalau ada apa-apa, kamarku di sebelah sana," Rehan menjelaskan pada Nabila yang masih mengikutinya sampai ke depan pintu, dan menunjuk sebuah pintu yang terletak paling ujung. "Sedangkan kamar Kevin, tepat berada di samping kamar ini," lanjut Rehan.


Nabila mengangguk tanda mengerti.


"Oke sayang, have a nice dream,,," lirih Rehan menatap dalam bola mata Nabila dan tersenyum hangat, kemudian segera berlalu menuju kamarnya.


Nabila melangkah masuk kedalam kamar, setelah menutup pintu dia segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.




Dear reader kesayangan,,,


Untuk part ini dan satu part lanjutannya, saya buat lumayan panjang ya... hampir 1500 kata, semoga kalian tambah suka dengan cerita Nabila dan babang Rehan.


Salam hangat,,, 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2