
"Yaelah bang, baru juga ditinggal bentar sama kak Fatima udah kelimpungan aja nyariin?" Alex ngeledek Yusuf.
"Hahaha,,," Yusuf tertawa lepas.
"Kamu nanti juga bakalan seperti itu Lex," cibir Fatima membela suami nya.
Alex melirik pada Nisa, sedangkan yang dilirik pura-pura enggak ngeliat.
"Alexander JeJe,,, bagaimana kabar perusahaan kamu?" Tanya Yusuf setelah mendudukkan diri nya di samping sang istri. "Abang dengar sekarang kemajuan nya semakin pesat," lanjut Yusuf.
"Alhamdulillah bang, sejak Sandra dibantu sama suami untuk mengelola nya, sekarang perusahaan semakin maju."
Nisa sekilas melirik sang tunangan, dahinya nampak mengernyit.
"Beruntung sekali ya adik mu Sandra memiliki suami yang bertanggung jawab, tidak seperti adik ku Keyla," ucap Fatima sendu.
"Udah deh bun, setiap orang memiliki takdir dan kisah nya masing-masing, jangan terus-terusan di sesali. Udah jadi jalan hidup Keyla adikmu harus seperti itu, sekarang tugas kita bagaimana ikut serta membesarkan Kevin agar bocah itu tidak merasakan kekurangan kasih sayang," Yusuf menasehati istri nya, seraya mengelus punggung sang istri.
"Bunda hanya teringat aja yah, sejak kecil mereka selalu bersama kemana-mana,,, udah kayak saudara kembar, dimana ada Keyla pasti ada Sandra, persis kayak Rehan dan Alex gitu." Fatima tersenyum tipis mengenang Keyla.
Sejenak suasana menjadi hening,,,
"Sebenarnya kemajuan pesat yang dicapai JeJe Corporate tak lepas dari tangan dingin Rehan," ucap Alex pelan.
"Rehan? Kok bisa?" Selidik Fatima.
"Ya kak, selama ini Rehan ikut memantau perkembangan perusahaan yang di kelola adikku itu. Dia juga menempatkan orang-orang yang ahli di bidangnya dan dapat dipercaya di pos-pos yang strategis, Rehan juga yang memberi suntikan dana hingga perusahaan aku itu bisa seperti sekarang." Alex menjelaskan dengan panjang lebar.
__ADS_1
Fatima dan Yusuf mengangguk-angguk..
"Persahabatan yang luar biasa, kalian bisa saling mengisi saling memberi tanpa mengharap balasan apapun. Meski kamu memiliki perusahaan sendiri tapi kamu bersedia mendampingi dan membantu Rehan dengan tulus dan totalitas,,, kakak salut," ucap Fatima seraya menitikkan air mata.
Hening kembali menyapa, masing-masing larut dengan pikirannya sendiri.
"Em,,, mas Alex punya adik?" Lirih Nisa ragu-ragu.
"Iya dik Nisa, maaf mas Alex belum sempat cerita tentang keluarga mas," jawab Alex merasa tak enak hati. "Lagian kemarin pas di rumah kamu, dia gak bisa ikut hadir karena sedang hamil tua dan dokter menganjurkan kepada nya untuk bed rest." Lanjut Alex menatap sang kekasih.
"Jangan-jangan kamu juga belum menceritakan sama dik Nisa kalau kamu adalah CEO dari JeJe Corporate?" Cecar Fatima.
Alex tersenyum kecut, "belum kak, kami belum sempat ngobrol banyak tentang keluarga, teman-teman atau pun hal-hal yang lain," jawab Alex jujur.
"Lantas bagaimana bisa kalian langsung memutuskan untuk bertunangan secepat kemarin?" Fatima nampak penasaran.
"Ya, enggak tahu juga kak,," jawab Alex dan Nisa bersamaan, dan kemudian kedua nya saling pandang dan saling melempar senyum.
"Seperti nya kita memang harus memberi mereka banyak waktu agar bisa berdua dan ngobrol lebih banyak hal," ucap Yusuf, "yuk bun kita tinggal kan saja, dan biarkan mereka berdua," lanjut Yusuf seraya berdiri yang diikuti oleh sang istri.
"Hem,,, modus nya bang Yusuf tuh kak, padahal bang Yusuf sendiri yang pengin berduaan sama kak Fatima," Alex mencibir.
"Hahaha,,," Yusuf tertawa senang, "maka nya buruan nikah, enak tahu kalau pacaran sama yang sudah halal,,, bebas mau ngapain aja," Yusuf segera berlalu seraya memeluk pinggang sang istri, sengaja memamerkan kemesraan kepada Alex dan Nisa.
Fatima tersenyum simpul,,,
Sedangkan Alex mendengus kesal, "bang Yusuf paling suka pamer kemesraan, udah tahu gue belum boleh ngelakuin hal seperti itu juga?! Nanti kalau si bos sudah selesai liburan pasti dia juga akan melakukan hal yang sama... hah, apes deh gue, hanya bisa ngeliat tapi belum boleh menyentuh." Alex bermonolog.
__ADS_1
"Mas Alexander JeJe,,," suara Nisa yang lembut mampu membuyarkan Alex dari lamunan nya.
"Hah,,, barusan dik Nisa panggil mas apa?" Tanya Alex terkejut.
"Itu tadi nama panjang mas Alex kan?" Nisa balik bertanya.
Alex tersenyum lebar, seraya mengusap pucuk kepala Nisa yang tertutup oleh hijab. "Ya, JeJe itu singkatan dari Jonathan Junior."
"Papa mas bernama Jonathan, beliau bersahabat baik dengan papa Sultan sejak mereka masih kecil. Setelah sama-sama dewasa, atas ajakan papa Sultan, papa ikut bekerja di perusahaan opanya Rehan. Dan ketika papa Sultan berhasil mendirikan perusahaan sendiri, papa Sultan mengajak papa untuk membantu di perusahaan yang baru di rintis nya." Alex mulai mengisahkan persahabatan papa nya dan papa Rehan.
"Ketika perusahaan papa Sultan semakin berkembang dan maju pesat, papa Sultan menawarkan bantuan modal sama papa mas untuk membuka perusahaan sendiri. Awalnya papa menolak, tapi papa Sultan terus mendesak nya. Akhirnya atas bantuan serta dorongan dari papa Sultan, papa berhasil mendirikan perusahaan milik nya sendiri, hingga semakin berkembang dan maju."
"Waktu masih kuliah, mas ikut bantu papa mengelola perusahaan. Ketika papa Sultan jatuh sakit dan Rehan harus menggantikan nya untuk memimpin RPA Group, maka papa meminta mas untuk membantu Rehan. Papa merasa banyak berhutang budi pada papa Sultan, meski papa Sultan tak pernah menganggap semua bantuan nya sebagai hutang. Papa Sultan itu orang nya tulus, dan sifat itu menurun pada putra putri beliau."
Nisa nampak khusyuk mendengarkan cerita dari Alex, sesekali dia mengangguk-angguk. "Dan mas Alex langsung bersedia membantu bang Rehan?"
"Tentu saja, mas tahu persis proses bagaimana dulu papa merintis perusahaan dari awal. Papa Sultan yang berdiri di belakang papa mas dan menyokong semua nya, bukan hanya modal dan manajemen nya tapi papa Sultan juga yang dengan tegas menyingkirkan rival bisnis papa yang berlaku curang. Hingga perusahaan yang papa dirikan bisa tetap eksis sampai sekarang."
"Papa Sultan itu orang yang luar biasa, naluri bisnis nya sangat hebat. Mas belajar banyak dengan beliau,,," nampak senyum Alex mengembang, ingatan nya tertuju pada papa Sultan dengan segala kelebihan yang beliau miliki. "Dan mas sudah berjanji pada diri mas sendiri, mas akan tetap mendampingi Rehan selama yang dia mau," tekad Alex dengan sungguh-sungguh.
"Nisa bangga sama mas Alex," lirih Nisa dengan wajah berbinar. "Dan persahabatan kalian dari generasi ke generasi sungguh patut di contoh," lanjut Nisa merasa takjub.
Alex tersenyum lebar, hatinya senang karena mendapat dukungan dari gadis yang akan menjadi pendamping hidup nya.
"Papa Sultan dan mama Sekar memperlakukan mas dan Rehan sama persis, kami bersekolah di tempat yang sama dan kuliah pun di perguruan tinggi dan mengambil jurusan yang sama pula. Mas dan Rehan sudah seperti kakak adik, persahabatan kami benar-benar tulus. Meski kadang saling mencela tapi itu dengan niatan demi kebaikan, tak jarang pula kami berantem karena perbedaan pendapat tapi kemudian segera berakhir dengan canda tawa."
"Begitupun dengan Rehan, papa dan mama mas sangat menyayangi nya layak nya putra kandung." Nampak Alex menarik nafas panjang dan menghembus nya perlahan, "saat papa mas meninggal Rehan menangis, bahkan kesedihan yang dia rasakan lebih besar dari pada mas. Rehan sangat dekat dengan papa, terlebih di saat dia sedang mengalami masa-masa sulit dimana Rehan harus mengurus Keyla adik nya yang tengah mengandung sekaligus harus menggantikan papa Sultan mengurus perusahaan. Papa mas yang selalu mendampingi nya," bulir bening nampak di sudut mata Alex, dia teringat kembali perjuangan sahabat terbaik nya dalam merawat sang adik.
__ADS_1
"Rehan laki-laki yang hebat dan bertanggung jawab. Dia juga telah membuktikan bahwa dia mampu menjadi singgel parent yang baik untuk Kevin,,,"
"Om Alex,,," suara melengking Kevin yang berlari dari kejauhan menghentikan obrolan mereka berdua.