
Hari berikut nya, Alex dan Nisa menemani Ilham ke sekolahan untuk mengurus kepindahan nya dan sekaligus pamit pada guru dan kawan-kawan nya. Setelah selesai mengurus administrasi di kantor TU, Alex dan Nisa memilih menunggu sang adik di dalam mobil bersama pak sopir. Sedang kan Ilham langsung menuju ke kelas nya, dan tak berapa lama kemudian nampak dia sudah kembali dengan wajah yang sedih.
"Kenapa di tekuk gitu wajah nya nang?" Tanya Nisa pada sang adik.
"Enggak apa-apa kok mbak, hanya sedikit belum rela aja tiba-tiba ninggalin mereka semua," jawab Ilham jujur.
Sesaat suasana menjadi sunyi, seperti hati Ilham yang kini terasa hampa.
Sopir mulai melajukan kendaraan nya meninggalkan area sekolahan Ilham, sesuai perintah Alex.
"Bukan karena ada seseorang yang membuat kamu merasa berat untuk pergi kan nang?" Tanya Nisa memecah kesunyian, dan ingin memastikan pada sang adik.
Ilham menggeleng pelan, "enggak ada mbak, semua hanya teman baik kok. Bukan nya, mbak Nisa sama mbak Billa selalu cerewet ya kalau Ilham dekat sama teman wanita?! Dan karena itu mbak, Ilham selalu menjaga jarak dengan mereka."
"Bagus lah nang, jika kamu nurut apa kata kami." Balas Nisa bangga sama sang adik, "yang penting saat ini kamu harus fokus sama pelajaran dahulu, jangan mudah terbawa arus pergaulan anak jaman sekarang. Bebas bergaul dengan lawan jenis, bermain-main di luaran sana yang enggak jelas dan tidak bermanfaat."
"Bukan nya mbak melarang kamu untuk bergaul, tapi pandai-pandai lah memilah dan memilih kawan,,, sebab lingkungan pergaulan dapat mempengaruhi pembentukan akhlak, perilaku, karakter, dan sifat seseorang." Nisa menasehati sang adik, panjang lebar.
"Siap mbak ku yang cantik,,," ucap Ilham menggoda sang kakak.
Sedangkan Alex yang sedari tadi mendengarkan obrolan mereka berdua, tersenyum bangga pada sang kekasih.
"Dik, ini masih mau mampir-mampir lagi atau kita langsung pulang?" Tanya Alex sama Nisa dan Ilham.
"Em,,, kayak nya udah beres semua deh mas," jawab Nisa, "kita langsung balik Jakarta kan nang?" Tanya Nisa memastikan sama sang adik.
Ilham mengangguk, "iya, Ilham ikut aja sama mbak Nisa dan bang Alex," jawab nya tak bersemangat.
Derrt,,, derrt,, derrt,,
Terdengar ponsel Alex bergetar di saku kemeja nya, buru-buru dia mengambil nya dan terlihat nama om Bayu di layar ponsel nya. "Om Bayu telpon dik, abang angkat ya,,," Alex langsung menggeser tombol hijau di layar ponsel milik nya.
"Halo om,, iya, wa'alaikumsalam," jawab Alex.
Alex mendengarkan dengan seksama suara om Bayu dari sambungan telpon, cukup lama dia mendengarkan.
Nampak kemudian dia mengangguk-angguk, "baik om, kami akan segera ke sana." Ucap nya menyetujui, "tolong om sharelok aja ya,," pinta nya pada om Bayu. Dan kemudian Alex menutup sambungan telpon nya.
__ADS_1
"Om Bayu butuh bantuan kita dik, enggak apa-apa kan kita bantu sebentar sebelum pulang?" Pinta Alex pada Nisa, "om Bayu menunggu kita di Semarang," lanjut nya menginfokan.
Nisa mengangguk, "iya mas," jawab nya singkat.
Alex mengarahkan pada sopir, untuk membawa mereka ketempat yang alamat nya sudah dikirimkan om Bayu melalui ponsel nya.
"Om Bayu tidak berhasil membujuk Saras untuk memeriksakan kandungan nya, dan siang ini beliau berniat untuk menemui Saras di rumah nya." Alex menceritakan apa yang dia dengar dari om Bayu tadi melalui telpon, sesaat setelah sopir berbelok arah sesuai petunjuk dalam map.
Nisa mengernyit,,
"Ada apa?" Tanya Alex yang mengerti bahwa ada sesuatu yang mengganjal di benak Nisa.
"Cuma bertemu sama mbak Saras atau sama Hendra juga?" Tanya Nisa menyelidik.
Alex menggeleng, "mas kurang tahu kalau soal itu," jawab Alex.
"Kalau menurut Nisa sih, baik nya ada Hendra juga.. jadi biar saja terbongkar semua kebusukan mbak Saras," ucap Nisa sinis.
Nampak Alex mengangguk-angguk, "tapi ini kan hari kerja, mungkin dia masih di tempat kerja nya kan kalau jam segini?" Tanya Alex entah pada siapa, dan sedetik kemudian dia tersenyum lebar.
"Pak Hasan, iya,, mas akan telpon pak Hasan untuk memastikan apakah Hendra hari ini masuk kerja atau tidak." Ucap Alex antusias.
Cukup lama Alex ngobrol dengan GM di Perusahaan cabang Semarang itu, hingga kemudian dia mengakhiri panggilan nya dengan tersenyum puas.
"Beres," ucap Alex singkat.
Mereka berdua terdiam, masing-masing sibuk dengan pikiran nya. Di bangku depan, Ilham mulai tertidur, sedangkan pak sopir fokus melajukan kendaraan nya membelah jalanan ibukota propinsi Jawa Tengah menuju tempat yang tertera dalam peta.
*****
Mereka telah tiba di tempat tujuan, nampak om Bayu telah menunggu di belokan jalan menuju rumah Saras. Alex membuka kaca jendela mobil, dan melambai kan tangan kepada om Bayu.
"Rumah nya, tak jauh dari sini." Ucap om Bayu yang telah menghampiri Alex. "Om ke sana duluan aja atau gimana?" Tanya om Bayu meminta pertimbangan.
Alex menoleh pada Nisa, "gimana dik sebaik nya?"
"Sekalian aja sih kalau menurut Nisa, syukur-syukur kalau suami nya juga ada di rumah." Jawab Nisa dengan tak sabar, ingin segera memberikan pelajaran buat Saras.
__ADS_1
"Dia pasti sudah di rumah," ucap Alex dengan yakin.
Om Bayu hanya mengernyit,, "apa yang kalian rencanakan?" Tanya om Bayu penasaran, sambil menatap Alex dan Nisa bergantian.
"Hanya memberi nya sedikit pelajaran," ucap Alex seraya tersenyum seringai. "Mari om, silahkan masuk... biarkan sopir om menunggu disini," titah nya pada om Bayu.
"Terserah kalian aja deh, om ikut gimana baik nya," ucap nya seraya naik kedalam mobil bersama Alex dan Nisa.
Setelah dua ratus meter, mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan rumah dua lantai milik Saras dan Hendra. Nampak ada sebuah mobil terparkir di garasi dan satu sepeda motor dengan sebuah helm menggantung di kaca spion terlihat baru saja di parkir.
Om Bayu, Alex dan Nisa bergegas turun dari mobil, sedangkan Ilham memilih untuk tetap tinggal di dalam mobil menemani pak sopir.
Nisa memencet tombol bel rumah yang terpasang di sebelah pintu, tak lama kemudian nampak seseorang membukakan pintu rumah nya. Ternyata Hendra yang muncul di balik pintu, dan dia nampak tidak terkejut mengetahui siapa yang datang. "Selamat datang di kediaman saya tuan Asisten, suatu kehormatan buat saya anda bersedia berkunjung," ucap Hendra basa-basi. "Silahkan duduk," ucap Hendra mempersilahkan tamu nya setelah menyalami mereka bertiga.
"Maaf tuan Asisten, ada perlu apa hingga tuan Asisten meminta saya untuk segera pulang? Apakah Saras membuat masalah lagi dengan nyonya Rehan?" Tanya Hendra yang menyimpan rasa penasaran sejak tadi, ketika dia dihubungi langsung oleh GM nya dan disuruh untuk segera pulang.
"Tidak ada kaitan nya dengan nyonya muda, tapi memang kami perlu bicara dengan istri anda. Apakah nyonya Saras ada?" Tanya Alex pada tuan rumah.
"Iya,, tunggu sebentar," Hendra segera berlalu masuk kedalam, dan tak berapa lama dia kembali bersama sang istri yang mengekor di belakang nya.
Saras nampak terkejut, ketika melihat siapa tamu nya. Dia terdiam dan hanya berdiri mematung,,
"Silahkan duduk nyonya Saras, kami perlu bicara baik-baik," titah Alex pada nyonya rumah.
Dengan gugup Saras pun menurut dan duduk di samping suami nya. Saras terus menundukkan wajah nya, hanya sesekali dia melirik kearah om Bayu. Ada banyak tanya memenuhi benak nya, namun dia tak punya keberanian untuk memulai percakapan. Dia masih ingat saat terakhir melakukan kesalahan, hingga mengharuskan nya berhadapan dengan Asisten dari suami Nabila itu.
"Nyonya Saras,, anda mengenal beliau bukan?" Tanya Alex dengan menunjuk om Bayu.
Saras hanya sekilas melirik, namun tetap membisu dan membuang pandangan nya.
"Om Bayu, apakah ada yang hendak om sampaikan?" Tanya Alex setelah beberapa saat menunggu tapi Saras masih saja terdiam.
"Tidak tuan Asisten, saya tidak mengenal nya!" Sergah Saras dengan cepat dan suara lantang.
Om Bayu terkejut mendengar pengakuan Saras, tapi berbeda dengan Nisa dan Alex yang sudah tahu betul dengan kelicikan Saras.
Sedangkan Hendra hanya diam, menyimak tanpa ingin berkomentar... nampak dia sudah tak peduli dengan apapun yang dilakukan oleh istri nya itu.
__ADS_1
"Saras, kenapa kamu bilang kalau tidak mengenal om? Bukan nya kamu selama ini menuntut om agar secepat nya menikahi mu?!" Tanya om Bayu yang tak mengerti dengan pengakuan Saras.
Hendra sedikit terkejut,,, "menikah? Maksud nya?!" Netra nya menatap tajam Saras menuntut jawab.