
Keesokan hari nya, keluarga besar Nabila tengah bersiap hendak kembali ke tanah air. Ibu Lin dan pak Ilyas yang tadinya hendak tinggal dua sampai tiga hari untuk menemani papa Johan pun akhir nya ikut pulang, begitu mendengar putri sulung mereka tengah mengandung.
Fatima mendukung keinginan mertua dari adik nya itu dan dia serta suami nya bersedia untuk mengurus papa Johan hingga dua hari ke depan, karena kondisi papa Johan memang sudah mulai membaik dan beliau hanya butuh istirahat untuk pemulihan.
Setelah berpamitan dengan papa Johan di rumah sakit tadi siang, kini mereka berpamitan dengan keluarga besar Rehan. Mama Sekar dan papa Sultan pun sebenar nya ingin ikut pulang ke Jakarta, namun mengingat masih ada papa Johan yang sedang menjalani pemulihan di rumah sakit Singapura, mereka pun menunda keinginan itu.
"Besan, tolong jaga putri kita dan kandungan nya ya? Sampai kan salam ku untuk menantu kesayangan ku itu," ucap Mama Sekar, melepas kepergian ibu Lin.
"Pasti mbak Bunga, nanti aku sampai kan salam dari mbak. Dan mbak enggak perlu khawatir, aku akan menjaga nya dengan baik. Lagi pula suami Billa itu kan sayang banget sama Billa, pasti nak Rehan juga tidak akan membiarkan sesuatu hal yang buruk terjadi pada Billa."
"Kamu benar Bintang, aku bisa melihat dengan jelas cinta yang besar di mata Rehan untuk putri manis mu itu. Bahkan saat mereka belum jadian saja, Rehan sudah mengirimkan foto putri mu kepada kami dan sering menceritakan tentang kebersamaan mereka. Rehan pasti akan melakukan apa pun untuk bisa membahagiakan menantu ku itu," papa Sultan menimpali.
Pak Ilyas nampak tersenyum bahagia,,
Yang lain pun, ikut berpamitan dengan papa Sultan dan mama Sekar. "Mama tunggu kabar baik dari kalian," ucap mama Sekar kepada Devan, Alex dan Alvian.
Mereka bertiga serempak mengangguk dan tersenyum hangat, mengerti dengan apa yang di maksud oleh mama dari sahabat nya itu.
Kevin nampak bergelayut manja pada sang opa, "hai bocil,,, ikut pulang enggak?" Tanya Alex pada bocah kecil yang selalu bisa membuat nya kewalahan.
"Mau dong om, Kevin mau lihat dedek bayi nya Kevin. Tadi oma bilang, Kevin bentar lagi akan punya adik,,," ucap nya dengan penuh semangat.
"Masak sih? Kok Ilham enggak tahu?" Ilham menatap yang lain mencari jawab. Ya, saat semalem mereka video call sama Rehan dan Nabila, Ilham dan krucil krucil nya tengah asyik bermain di halaman belakang. Jadi, Ilham tidak tahu kabar bahagia dari kakak perempuan nya itu.
"Iya nang, kamu akan jadi om," jawab Nisa mewakili semua.
"Om ganteng,,, coba tebak, nanti adik nya Kevin cewek apa cowok?" Tanya Kevin pada Ilham.
"Cowok cewek dong,, yang cowok ganteng kayak om Ilham dan yang cewek cantik kayak nenek," jawab Ilham asal sambil memeluk sang ibu.
"Enggak bisa gitu dong om,,, adik Kevin enggak boleh punya wajah kayak om, harus seperti daddy Kevin yang tampan," protes Kevin sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
"Gantengan om Ilham lah dari pada daddy nya Kevin," Ilham masih saja menggoda keponakan nya itu.
"Enggak,, mommy selalu bilang kalau daddy yang paling tampan, dan adik nya Kevin pasti tampan rupawan seperti daddy." Bantah Kevin.
"Sudah,, sudah,, yang penting adik nya sehat," ibu Lin menengahi kedua nya.
Sedangkan geng tampan bersama pasangan masing-masing, nampak tengah asyik ngobrol bersama Yusuf dan sang istri.
"Dik Vian, kita jadi pulang enggak ini?" Protes ibu Lin yang melihat mereka masih saja asyik mengobrol.
"Ya ayo kak, kita aja nunggu kakak yang sedari tadi masih asyik ngobrol sama mama Sekar,, " jawab Alvian tak mau kalah.
Perdebatan kecil kakak adik yang terpisah tiga puluh tahun lebih itu, hanya ditanggapi dengan senyuman oleh yang lain.
Akhir nya, mereka pun berangkat menuju bandara dengan diantar kan oleh sopir keluarga Yusuf menggunakan dua mobil.
Setelah berjibaku dengan pengendara lain di jalanan kota singapura, sampailah rombongan keluarga pak Ilyas di bandara Changi. Mereka akan terbang menggunakan pesawat pribadi milik Yusuf, yang sudah bersiap untuk lepas landas.
Sementara di villa milik keluarga Alamsyah yang berada di puncak, Rehan dan sang istri tengah bersiap untuk pulang ke apartemen. Sengaja mereka pulang lebih awal, karena mereka ingin menyambut ayah dan ibu serta yang lain nya.
Kini mereka berdua telah berada dalam mobil, Pak Maman segera melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan yang berkelok-kelok.
Lagi-lagi mereka terjebak di jalanan yang yang padat merayap karena long weekend telah berakhir, dan semua orang berlomba-lomba hendak kembali ke rumah masing-masing.
Rehan nampak selalu siaga menjaga sang istri, "yang,, rebahan aja sini biar enggak pegal pinggang nya," titah Rehan menepuk pahanya.
Nabila menggeleng,,, "nanti aja bang, Billa masih ingin lihat pemandangan di luar," tolak nya dengan halus. Nabila terus saja mengedarkan pandangan nya keluar jendela mengikuti gerak laju mobil yang berjalan sangat lambat, tiba-tiba netra nya menangkap penjual rujak yang berada di pinggir jalan.
"Bang, Billa mau itu," pinta nya sambil menunjuk penjual rujak buah keliling.
Rehan menengok kearah yang ditunjuk sang istri, dan dia melihat penjual rujak yang di maksud sang istri. "Jangan rujak itu yang... nanti saja di apartemen, abang akan telpon bi Surti agar menyiapkan nya untuk mu. Itu enggak sehat yang,,, lihat aja, dia meracik nya dengan tangan telanjang padahal tadi abang lihat dia habis pegang-pegang uang," tolak nya sambil mengamati pedagang rujak itu.
__ADS_1
Nabila cemberut, "Billa mau nya yang itu?!" Dia menekuk wajah nya sambil menggerutu.
"Yang,, mengertilah,, ini demi kebaikan kamu dan juga anak kita yang, abang enggak mau kalian kenapa-napa jika makanan yang kamu konsumsi tidak sehat." Rehan mencoba memberi penjelasan.
"Ck,, bilang aja abang udah enggak sayang lagi sama Billa," Nabila mulai terisak,,, dia sendiri bingung, kenapa hanya masalah sepele seperti ini bisa membuat air mata nya begitu saja keluar tanpa bisa dia kendalikan.
"Bukan seperti itu yang,,," Rehan mulai frustasi.
Pak Maman yang mendengar perdebatan kecil itu segera menepikan mobil nya dan ikut bersuara, "maaf tuan muda, jika saya lancang... sejauh yang saya tahu, wanita hamil itu sangat sensitif. Apa tidak sebaik nya keinginan nyonya muda dituruti saja?" Ucap pak Maman dengan hati-hati.
Sejenak Rehan berfikir, dengan menepuk lembut punggung tangan sang istri dia berkata, "baik lah, abang akan belikan. Mau satu atau dua?" Tanya Rehan menatap hangat netra sang istri.
"Beli tiga ya bang, buat pak Maman juga," jawab nya antusias.
Rehan segera keluar dan berlari kecil kearah penjual rujak yang berada cukup jauh di belakang sana, beberapa saat kemudian dia sudah kembali dengan menenteng kresek di tangan nya. Nampak keningnya bercucuran keringat, dan nafas nya sedikit memburu tidak beraturan. Dia menghirup udara dalam-dalam untuk mengisi penuh rongga paru-paru nya dengan oksigen dan kemudian menghembus nya perlahan, setelah dirasa cukup tenang Rehan kemudian masuk kedalam mobil.
Saat melihat apa yang di ingin kan ada di depan mata, Nabila bersorak kegirangan dan dia langsung memeluk sang suami dengan perasaan bahagia. Nabila buru-buru melerai pelukan nya, dia membuka plastik kresek yang tadi dibawa oleh Rehan. Nabila mengambil satu bungkus rujak dan kemudian memberi kan nya pada pak Maman, "ini buat bapak, silahkan bapak makan di luar sana dulu ya,," titah Nabila sambil menunjuk sebuah bangku panjang di bawah pohon rindang.
Pak Maman mengangguk patuh,, dan segera keluar dari mobil.
Rehan mengernyit, belum bisa menebak kejutan apalagi yang akan diberikan oleh istri tercinta nya.
Sesaat setelah pak Maman keluar, "kita makan rujak nya yuk bang,, tapi sebelum makan rujak buah, Billa mau rujak yang ini," tanpa malu-malu Nabila langsung melahap bibir sang suami dan ******* nya dengan penuh perasaan.
Rehan yang awal nya terkejut,,, langsung dapat menguasai keadaan dan membalas ciuman istri nya dengan senang hati, dalam hati dia tertawa bahagia.
Setelah beberapa lama, Nabila melepaskan diri nya dan langsung bersembunyi di dada bidang sang suami. "Abang, maafin Billa,,," ucap nya lirih.
"Hey, kenapa minta maaf hem?" Balas Rehan tak mengerti sambil mengecup lembut puncak kepala sang istri.
"Billa malu,,, Billa merasa seperti wanita penggoda," jawab Nabila masih dengan menyembunyikan wajah nya.
__ADS_1
"Enggak apa-apa asal yang kamu goda itu abang, justru abang senang jika kamu berani seperti tadi. Sekarang kita pulang ya,,, abang tunggu kejutan dari kamu di rumah," ucap Rehan sambil tersenyum bahagia.