Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
OTW Kawin


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Fatima Dan Yusuf, nampak terlihat kesibukan dari seluruh penghuni rumah termasuk Nabila.


Ya, pagi ini mereka bermaksud mengantar Nabila pulang ke kampung halamannya dan sekaligus berniat meminang Nabila untuk Rehan.


Dua orang pelayan terlihat sibuk memasukkan barang-barang bawaan ke dalam dua bagasi mobil yang berbeda, keluarga Yusuf dan Fatima akan membawa dua mobil untuk mengantarkan keluarga besarnya menuju bandara.


Nampak semua telah bersiap, Nabila, Kevin dan kedua orang tua Rehan menaiki mobil yang sama, sedangkan Fatima, Yusuf dan kedua anak nya menaiki mobil yang lain.


Kedua mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadi keluarga Yusuf, segera melaju beriringan menyusuri jalanan kota menuju bandara internasional Changi.


Jam menunjukkan pukul delapan waktu setempat, ketika rombongan keluarga besar itu tiba di bandara. Dengan bergegas, Yusuf menuntun keluarga besarnya untuk segera menaiki jet pribadi miliknya yang telah bersiap untuk lepas landas menuju tempat tujuan.


Jet pribadi tipe Boeing 747-8 VIP sangat cocok untuk mengangkut keluarga dengan banyak personil, terdapat sofa yang empuk dan nyaman dengan fasilitas home teater yang memanjakan keluarganya.


Pesawat pribadi tersebut juga memiliki kamar mandi modern sekelas hotel bintang lima, dan terdapat fasilitas tambahan kamar tidur pribadi yang besar dan mewah yang kemudian dipergunakan oleh papa Sultan dan mama Sekar untuk beristirahat sepanjang perjalanan.


Hanya membutuhkan waktu satu jam tiga puluh menit, pesawat mendarat dengan sempurna di bandara Ahmad Yani, lebih cepat tiga puluh menit dari pesawat komersial.


Mereka tiba di Semarang pukul delapan lebih tiga puluh menit WIB, karena selisih waktu singapura - dan WIB sekitar satu jam.


Sopir dari perusahaan cabang di Semarang sudah stand by di pintu kedatangan, menyambut keluarga besar Bos RPA Group.


Setelah menaiki mobil jemputan, Nabila mengarahkan Sopir menuju alamat tempat tinggal nya. Akan membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam untuk sampai di kediaman Nabila, yang terletak di kaki gunung Merbabu.


Di sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Fatima dan keluarga berdecak kagum melihat pemandangan dari kaca jendela mobil, nampak luasnya hamparan sawah dengan tumbuhan padi yang menguning memanjakan mata. Ditambah dengan deretan gunung yang menjulang tinggi di kejauhan, semakin menyempurnakan keindahan alam yang terhampar nyata.


Berbeda dengan Nabila, sepanjang perjalanan dia terus terngiang apa yang disampaikan ibunya semalam melalui sambungan telfon. "Kira-kira ibu masih marah gak ya sama Billa? Terus gimana reaksi ayah dan ibu nanti lihat Billa pulang diantar sama orang sebanyak ini? Duh,,, Billa jadi pusing mikirnya," Nabila bermonolog dalam diam.


Kendaraan yang mereka tumpangi berbelok menuju jalan pedesaan yang masih nampak asri, udara sejuk langsung menerpa kulit tatkala kaca jendela di buka. Jalanan beraspal terlihat lengang, hanya nampak beberapa motor yang berpapasan di sepanjang jalan menuju kediaman Nabila.


Beberapa menit kemudian, mobil yang membawa rombongan keluarga besar itu tiba di depan pagar kayu rumah Nabila. Rumah dengan dinding kayu kuno yang terkesan klasik, dan memiliki halaman luas yang di kanan kirinya terdapat tanaman buah-buahan, menambah kesejukan dan keasrian suasana di sekitar rumah itu.


*****

__ADS_1


Sementara itu di Denpasar Bali, tepatnya di sebuah kamar hotel tempat dimana bos RPA Group menginap terlihat Rehan tengah bersiap.


Dengan bergegas Rehan keluar dari kamar hotel dan menemui Asistennya yang sudah setia menunggu di lobi hotel, "sudah siap Lex?" Tanpa menunggu jawaban sang Asisten, Rehan segera berjalan mendahului sang Alex menuju pintu keluar.


Nampak mobil perusahaan cabang Denpasar yang akan membawa Rehan telah siap di depan lobi, sopir yang bertugas dengan segera membukakan pintu untuk atasannya. Alex yang mengekor dibelakang Rehan, memilih duduk di samping sahabatnya itu.


Sesaat setelah mobil melaju di jalanan kota Denpasar, "Rey, lu utang penjelasan sama gue. Kenapa tiba-tiba lu nyuruh gue untuk cancel keberangkatan ke Makasar? Dan ada urusan apa lu ngajak gue ke Semarang?" Tanya Alex penuh selidik.


"Ya, sorry gue belum sempat cerita semalam," jawabnya datar. "Jadi semalam sebelum lu telfon gue, kami sekeluarga udah berencana untuk silaturrahim ke keluarga Nabila."


"Kenapa mendadak Rey,,," seru Alex mengernyit, "jangan bilang lu sudah berlaku macam-macam sama Nabila, dan kemudian dia menuntut lu untuk mempertanggung jawabkan perbuatan lu itu," ucap Alex asal.


"Sialan lu!" Ketus Rehan seraya melayangkan tinju ke lengan sahabatnya, "lu pikir gue cowok apaan?" Gerutu Rehan sedikit emosi.


Mereka berdua beberapa saat terdiam, hingga kemudian Rehan menceritakan kejadian semalem diawali dengan ibunya Nabila yang menelfon putrinya dan kemudian rencana keluarga besarnya untuk mengantar Nabila pulang dan sekaligus untuk meminang kekasihnya itu.


"Itu wanita benar-benar keterlaluan ya,,, udah merebut tunangan sahabatnya, sekarang malah memfitnah dan mengadu domba Nabila sama orang tuanya, benar-benar dia itu wanita ular!" Seru Alex dengan geram.


"Ya, lu benar Lex,,, dia pantas disebut demikian," balas Rehan.


"Nikah bro! Kawin,,, kawin,,, emang lu,,, tukang kawin tapi gak mau nikah?" Tukas Rehan.


"Eits,,, siapa bilang? Gue masih ori tau,,," Alex mengelak, "yah, meski gue akui sering gonta-ganti cewek tapi gue juga tahu batasannya bro,,,"


"Good boy,,," ucap Rehan seraya mengacak puncak kepala Alex.


"Apaan sih, emang gue Kevin!" Alex marah, tidak suka diperlakukan seperti anak kecil.


Rehan terkekeh melihat tingkah sahabatnya yang lagi ngambek itu.


Suasana kembali hening,,, "di setiap kejadian pasti ada hikmah yang mengiringinya," ucap Rehan lirih dan tersenyum bahagia.


Mobil yang membawa mereka berdua kini memasuki area bandara, dengan sigap Alex menuntun atasannya itu untuk segera menaiki pesawat pribadi milik Bos RPA Group.

__ADS_1


Pesawat yang mereka tumpangi lepas landas tepat pukul delapan waktu setempat, Rehan terlihat sangat antusias dengan perjalanan udaranya kali ini dan bibirnya selalu menyunggingkan senyum kebahagiaan.


Kurang dari satu jam, pesawat pribadi milik Rehan mendarat cantik di bandara Ahmad Yani Kota Semarang.


Keduanya bergegas keluar menuju mobil jemputan yang telah dipersiapkan oleh perusahaan cabang di Semarang, yang akan membawa mereka menuju tempat tujuan.


Sebelum menuju rumah Nabila, Alex terlebih dahulu mengarahkan sopirnya untuk menuju ke salah satu proyek Mall terbesar yang sudah rampung digarap di Kota itu. Sesuai dengan informasi yang dia terima dari GM perusahaan cabang, bahwa pagi ini Mall tersebut akan diresmikan. Dan Rehan selaku CEO RPA Group, dimohon kesediaannya untuk meresmikannya.


*****


Di lobi hotel, Jessica terlihat menekuk wajahnya, "lu itu bodoh apa bego sih!" Serunya dengan sangat emosi, "kenapa lu bocorkan rahasia gue!"


Vincent hanya diam membisu, mendengarkan ocehan Jessica yang sedang marah.


"Gue juga sudah bilang kemarin, lu harus ambil alih hak asuh Kevin dari Rehan bagaimanapun caranya ... dan dengan begitu lu bisa memimpin kembali perusahaan disini!" Serunya kesal.


"Jika lu bisa berkuasa kembali, akan sangat mudah bagi kita untuk memanipulasi data dan mengalihkan dana ke perusahaan baru yang akan kita buat bukan?!" Jessica masih saja mengomel.


"Awalnya gue emang tertarik dengan ide gila itu Jess,, tapi setelah bertemu dengan bang Rehan dan gue ngobrol dengan nya, mata gue jadi terbuka bahwa selama ini gue sudah banyak melakukan kesalahan," ucap Vincent sendu. "Gue sudah menyakiti Keyla, menyia-nyiakan dia dan bayi kami. Dan kini gue telah bertekad untuk memperbaiki diri dan menjadi orang yang lebih baik lagi, gue hanya ingin suatu saat nanti Kevin bisa menerima gue sebagai ayahnya," ucap Vincent dengan tekad bulat.


"Dasar pecundang!" Gerutu Jessica


"Terserah apa kata lu,,, gue cabut," Vincent tak mempedulikan lagi Jessica, dengan langkah mantab dia meninggalkan lobi hotel dengan menyeret travel bag miliknya untuk segera terbang menuju Ibukota mengunjungi makam Keyla.


Sementara Jessica masih termenung seorang diri, "gue sudah kehilangan tambang emas,,, apa yang harus gue lakukan sekarang? Kembali ke New York untuk menemui laki-laki botak dengan perut buncitnya itu, cih... bahkan melihat nya saja gue sudah muak! Dia memang cukup kaya, tapi apa iya gue harus berbagi harta dengan empat istrinya? Oh, big no!!" Jessica menjerit histeris...


"Gue benar-benar hancur sekarang, persaingan di dunia model juga semakin ketat dan agensi lebih memilih mereka yang usianya masih belia,,, sedangkan gue??" Jessica mulai terisak, terlihat jelas bulir bening luruh membasahi pipinya.




...Penyesalan memang selalu datang terakhir... karena yang pertama adalah pendaftaran....

__ADS_1


...Eh, maksud nya... Kesadaran,,, sadar dalam mengambil setiap langkah ataupun keputusan....


__ADS_2