Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Daster Bergambar Pororo


__ADS_3

Nabila tengah bersiap untuk menemani sang suami ke kantor, sedangkan Rehan nampak sudah rapi. Hari ini Alex tidak masuk kerja di karena kan sedang menemani Nisa dan Ilham pulang ke kampung halaman nya, dan Rehan meminta kepada sang istri untuk menemani nya bekerja.


"Kalau pakai ini,, gimana bang?" Tanya Nabila sedikit kesal, karena ini sudah yang kesekian kali nya dia berganti pakaian. Dan ke semua nya kurang pas di mata sang suami, di bilang terlalu seksi lah, terlihat sangat menarik lah, seperti gadis lah,,, dan alasan-alasan lain yang enggak masuk akal menurut Nabila.


"Itu bagian dada masih agak terlihat mencolok yang,,, coba deh ganti sama yang lebih longgar," jawab Rehan sambil meneliti sang istri yang berlenggak-lenggok di depan nya bak model profesional.


Nabila cemberut, tapi tetap menuruti kemauan sang suami. "Ini terakhir ya.. kalau masih enggak cook juga, Billa akan pakai daster bergambar pororo!" Ancam Nabila sambil berganti baju.


Kembali Nabila berpose di depan sang suami, "gimana abang sayang??" Tanya nya dengan suara mendayu, berharap kali ini dia bisa lolos penjurian.


"Baiklah,,, yang ini aja, dari pada kamu pakai daster bergambar pororo." Ucap Rehan menahan tawa.


"Kenapa tertawa? Abang ngerjain Billa ya dari tadi?!"


"Enggak sayang,, abang cuma ngebayangin kalau kamu pakai daster ke kantor, yang ada abang enggak bakalan fokus ngerjain pekerjaan kantor tapi malah ngerjain kamu," ucap nya seraya terkekeh.


"Ish,,, si abang emang mesum aja pikiran nya," Nabila menggerutu sambil merapikan hijab nya. Dia terlihat manis dan anggun dengan stelan blouse dan rok plisket panjang menutupi mata kaki nya, disempurnakan dengan hijab modis serta polesan make up tipis serta lipstick yang sedikit cerah.


"Udah, jangan tebel-tebel lipstick nya yang,," pinta Rehan nampak tidak suka.


"Kenapa lagi bang? Takut lipstick Billa cepat habis,, dan abang enggak mampu untuk membeli nya?! Bukan nya duit abang segudang??" Ucap Nabila sedikit ketus, berharap sang suami menghentikan aksi protes nya.


"Ck,," Rehan berdecak, "jangan kan lipstick, pabrik nya juga mampu abang beli buat kamu yang,, abang cuma enggak suka aja kamu terlihat cantik di depan umum," Rehan masih saja protes.


"Huh,," Nabila mendesah kasar, "Billa kan pergi nya juga bareng sama abang,,, dan Billa dandan juga buat abang kok, biar enggak malu-maluin. Kalau Billa enggak make up sama sekali, apa kata dunia coba, kalau mereka lihat abang jalan sama gadis buluk?!"


"Tapi kalau abang masih keberatan dengan warna lipstick yang Billa pakai, ya udah,,, silahkan di hapus," ucap nya sambil mengerucutkan bibir.


"Beneran abang yang hapus?" Tanya Rehan sambil mendekatkan wajah nya.


"Eh,, abang mau ngapain?"


"Ya ngapain lagi yang,,, tadi bilang nya abang di suruh hapus tuh lipstick?" Ucap Rehan menggoda sang istri, dengan terus mendekatkan wajah nya.


"Pakai tissue abang,,,!" Seru Nabila, "Billa hapus sendiri aja deh," elak nya segera menjauh dari sang suami.

__ADS_1


Rehan tersenyum puas,,,


Nabila menghapus sedikit lipstick nya, hingga warna nya tidak terlalu terang seperti tadi.


"Nah, gitu kan lebih bagus yang... terlihat lembut dan anggun," ucap Rehan merayu, "ayo kita jalan," dengan mesra Rehan menggandeng tangan sang istri keluar dari kamar mereka.


*****


Di perusahaan RPA Group,,,


Rehan pagi ini memilih menyetir sendiri mobil nya, karena dia ingin punya private time dengan sang istri. Sesampainya di depan lobi, Rehan segera turun dan kemudian berlari kecil memutari mobil nya untuk membukakan pintu bagi sang istri.


Pemandangan yang tak biasa bagi seorang tuan muda Alamsyah, sehingga banyak wanita yang melihat kejadian di pagi itu memandang iri pada sosok Nabila yang berhasil mendapat kan hati pemilik RPA Group itu.


Dengan mesra, CEO muda nan rupawan itu berjalan dengan gagah seraya memeluk mesra pinggang ramping sang istri memasuki gedung perkantoran yang menjulang tinggi milik nya.


Semua karyawan yang berpapasan dengan bos RPA Group itu menunduk hormat, dan tak ada satupun yang berani mendongakkan wajah nya menatap sang atasan.


Rehan menuntun sang istri menuju lift khusus Presdir, dan setelah masuk ke dalam lift nampak Rehan memencet tombol di angka tertinggi gedung tersebut.


"Pagi tuan muda,, pagi nyonya Billa," sapa Susan tersenyum ramah. Begitulah Susan, dia pandai menempatkan diri dengan baik dan bersikap professional.


"Pagi mbak Susan,," ucap Nabila tersenyum hangat.


Susan mengangguk, "Maaf tuan muda, semua dokumen yang harus tuan muda tanda tangani sudah saya letakkan di atas meja. Dan jadwal tuan hari ini, nanti jam sepuluh ada rapat dengan calon klien yang dari Johor dan lunch bersama klien dari Jepang yang kemarin lusa tuan muda tunda." Susan menjelaskan jadwal atasan nya hari ini.


"Oke, makasih," jawab Rehan singkat.


Bos RPA Group itu memang selalu saja pelit bicara pada bawahan nya, apa lagi jika yang dihadapi adalah seorang wanita. Namun Susan kini sudah mulai merasa senang, sebab atasan nya itu sudah mulai sedikit mencair dan mau tersenyum dengan karyawan nya.


Setelah menyampaikan tugas nya, Susan kemudian kembali ke meja kerja nya dan melanjutkan pekerjaan yang masih menumpuk di meja nya.


Sedangkan Rehan bergegas masuk ke dalam ruangan nya dengan masih memeluk sang istri. Setibanya di dalam ruangan, Rehan mendudukkan sang istri di sofa empuk yang terdapat di sudut ruangan. "Tunggu disini bentar ya yang," titah nya pada sang istri, dia kemudian menuju meja kerja nya dan nampak membuka-buka dokumen.


Setelah menemukan yang dicari, Rehan kembali ke sofa dan menyerahkan dokumen itu pada sang istri sambil mendudukkan dirinya di samping istri nya. "Yang, kamu pelajari ini. Nanti ikut abang rapat menggantikan Alex, dan kamu yang bertugas mengevaluasi proposal kerja sama ini. Apapun keputusan kamu nanti, abang ikut." Pinta nya pada sang istri.

__ADS_1


"Kok Billa bang? Billa enggak bisa,,, ini keputusan penting loh, jangan sampai abang nyesel nanti nya karena menyerahkan urusan bukan pada ahli nya!" Ucap Nabila penuh penekanan.


"Abang sudah yakin, dan tidak akan menyesal," ucap Rehan serius.


"Hem,,, baiklah," Nabila pun mengalah dan menyanggupi permintaan sang suami. Karena dia tahu, tak kan ada gunanya berdebat dengan sang suami yang jika sudah memiliki keputusan maka wajib hukum nya untuk dilaksanakan.


Nabila membuka dokumen itu dan mulai mempelajari nya, sedangkan Rehan kembali ke meja nya untuk segera menyelesaikan pekerjaan nya yang sudah menumpuk.


Suasana di dalam ruangan Presdir itu menjadi hening, mereka berdua sama-sama sibuk dengan aktifitas masing-masing.


Di tengah kesibukan nya meneliti dokumen sebelum dia tanda tangani, sesekali Rehan mencuri pandang kearah sang istri. Rehan tersenyum menyaksikan keseriusan sang istri dalam bekerja, wajah manis itu terkadang serius hingga kening nya mengerut dan kadang tersenyum sendiri.


Rehan yang tengah asyik menikmati pemandangan indah nan menggemaskan dihadapan nya itu tak sadar ketika Nabila tahu-tahu sudah berdiri dihadapan nya. "Abang mikirin apa sih? Kok sampai senyum-senyum gitu?" Selidik Nabila penasaran.


Rehan gelagapan, "Eh,, apa yang? Abang cuma lagi mikirin kamu," jawab Rehan jujur.


"Masak sih? Billa enggak percaya!"


"Beneran yang,,, abang enggak bohong." Rehan mencoba meyakinkan sang istri.


Tok,, tok,, tok,,


Di tengah perdebatan kedua nya, terdengar pintu di ketuk, "masuk," titah Rehan pada seseorang yang berada di balik pintu.


Susan membuka pintu dan segera masuk, "maaf tuan muda, rapat akan segera di mulai," Susan menginfokan kepada atasan nya.


"Baik, kami akan segera ke sana." ucap Rehan dengan jelas.


Susan membungkuk hormat, dia segera keluar dari ruangan bos RPA Group untuk menuju ruang rapat. Tak lama kemudian Rehan dan Nabila pun segera beranjak dan mengikuti langkah Susan.


Setibanya di ruang rapat, nampak beberapa orang perwakilan dari perusahaan yang berlokasi di Johor itu sudah hadir. Rehan menyapa semua nya dengan tersenyum tipis dan memasang wajah berwibawa, sedangkan Nabila tersenyum hangat kepada perwakilan dari perusahaan calon klien baru tersebut.


Empat orang berwajah oriental dari perusahaan di Johor yang ke semua nya adalah laki-laki muda, memandang takjub pada Nabila. Mereka terus menatap wanita berhijab nan anggun itu mulai dari pertama masuk ruangan hingga saat Nabila duduk di samping bos RPA Group.


Wajah Rehan tiba-tiba menjadi merah padam, menahan amarah...

__ADS_1


__ADS_2