
Rehan segera beranjak seraya mengajak sang istri untuk mengikutinya, kemudian Rehan berjalan keluar dengan menggandeng tangan Nabila.
Diikuti oleh ayah Nabila, mama Sekar dan papa Sultan, serta Fatima dan Yusuf yang mengekor di belakang mereka.
Di teras nampak sopir sudah bersiap,,,
Di tengah kebingungan Nabila, tiba-tiba ibu Lin datang dan berbicara di belakang nya, "mbak Billa, kalau liburan nya dah selesai langsung balik Jakarta saja ya... kami tunggu di sana."
"Liburan?"
"Iya mbak, kalian akan di kota ini untuk beberapa hari ke depan. Dan ibu, ayah serta adik-adik akan ikut ke Jakarta besok." Jawab sang ibu menambah kebingungan Nabila.
"Dan, mulai saat ini adik ipar sudah tidak perlu bekerja lagi di butik kakak,, karena suami adik ipar sudah mengajukan surat pengunduran dirimu dan dik Nisa yang akan menggantikan mu," timpal Fatima.
"Emang kita mau liburan kemana bang?" Tanya Nabila masih bingung, "kenapa gak ada yang kasih tahu Billa?"
"Bukan kejutan namanya mbak kalau di kasih tahu,," jawab Nisa seraya tersenyum, "baju-baju mbak Billa udah Nisa packing rapi dan udah masuk di bagasi, jangan lupa dipakai bagaimanapun bentuknya, dah buruan sana pergi," usir nya sambil terkekeh.
Dan disambut oleh yang lain, ikut menertawakan kebingungan Nabila.
"Tapi,,, Kevin?" Seraya menatap putra kecil nya.
"Kevin mau main kembang api sama kak Fira, bang Zaki dan om ganteng,, mommy don't worry ya,,," jawab Kevin dengan tertawa lucu.
"Ayah dan ibu beneran besok ikut ke Jakarta?"
"Iya mbak,, udah sana berangkat, keburu malam," usir sang ibu dengan tatapan lembut.
Rehan kemudian menuntun Nabila untuk segera menuju mobil, "kami berangkat dulu ya semua," pamit Rehan yang diikuti oleh Nabila dengan melambaikan tangan pada semua.
Sopir segera membukakan pintu untuk kedua atasannya itu, "adik ipar tunggu," seru Fatima seraya berlari kecil menghampiri Nabila.
"Ada apa kak?"
"Kakak kasih sebuah rahasia,,," lirihnya berbisik, "bersikap malu-malu pada suami itu bagus, agama kita memang menganjurkannya dan membuat suami juga senang, tapi sesekali menggoda suami akan membuat suami semakin senang," lanjutnya dengan tersenyum simpul.
__ADS_1
"Emm,, apa itu nggak terkesan agresif kak?" Tanya Nabila malu-malu.
"Agresif sama suami sendiri adalah keharusan," jawab Fatima dengan cepat.
"Bun,, jangan ngajari yang aneh-aneh," ucap Yusuf dari tempatnya berdiri.
"Enggak aneh-aneh ayah,,, cuma satu aneh nya," jawab Fatima seraya terkekeh.
Dan ditanggapi yang lain dengan ikutan terkekeh, mereka semua merasa berbahagia seperti kebahagiaan yang dirasakan oleh sang pengantin baru.
Yusuf hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istri nya, dia akui istri nya memang selalu pandai membuat dia ketagihan dan selalu ingin segera pulang saat sedang berjauhan.
Dibalik sikap Fatima yang lembut, dia adalah sosok pemimpin yang tegas dan bertanggung jawab dan itu terbukti dengan usaha butik yang dikelolanya yang memiliki banyak cabang di hampir semua kota besar di Indonesia. Dan di ranjang dia akan berubah menjadi gadis yang sangat manis, dan di saat yang lain dia bisa menjadi liar dan menguasai permainan.
Setelah Rehan dan Nabila masuk kedalam mobil, pak sopir segera melajukan kendaraannya menyusuri jalanan beraspal menuju tempat yang sudah di reservasi oleh sang Asisten.
*****
Mobil yang membawa Rehan dan Nabila telah sampai di tempat tujuan, sebuah hotel yang paling bagus di sebuah tempat wisata di kaki gunung Merbabu.
Rehan memeluk pinggang sang istri serta membawa nya masuk kedalam, di belakang mereka pak sopir mengekor dengan membawa dua koper.
Nampak petugas hotel sudah menyambut kedatangan bos RPA Group itu di lobi, "selamat datang di hotel kami tuan muda Alamsyah," sambut nya dengan ramah, "mari silahkan ikut dengan kami," titahnya seraya menuntun sang tamu kehormatan menuju kamar yang sudah di reservasi sebelumnya.
Kamar yang akan mereka tempati terletak di lantai tiga. Sebuah kamar dengan fasilitas terbaik, direkomendasikan oleh pihak hotel sewaktu Alex me reservasi nya kemarin.
"Disini kamar tuan dan nyonya muda," seraya membuka pintu kamar dan mempersilahkan kedua tamu nya untuk masuk.
Nampak pak sopir yang sedari tadi mengekor ikut masuk dan meletakkan dua koper yang dibawanya di dalam kamar. "Maaf tuan muda, kalau begitu saya permisi," pamit nya dengan membungkuk sopan.
"Ya, terimakasih," jawab Rehan singkat.
"Maaf tuan, nyonya, jika sudah tidak ada yang diperlukan kami mohon undur diri,,, silahkan menikmati istirahat malam tuan dan nyonya," pamit petugas hotel tersebut seraya berlalu meninggalkan mereka berdua.
Ketika petugas hotel hendak menutup pintu, "tunggu,," seru Rehan.
__ADS_1
Rehan menghampiri petugas hotel dan membisikkan sesuatu, setelah petugas itu berlalu.. Rehan kembali masuk kedalam kamar dan tak lupa menguncinya.
Dia melihat sang istri sedang berdiri termangu menatap keluar dari balik jendela kaca. Dengan perlahan Rehan berjalan mendekat dan berdiri di belakang Nabila tanpa disadari oleh istri nya.
Sejenak Rehan terpaku dengan keindahan alam yang disuguhkan di depan sana, gunung Merbabu nampak berdiri dengan kokoh nya menjulang tinggi seakan hendak menggapai bintang-bintang yang bertaburan di atas langit.
Dengan perlahan Rehan memeluk sang istri dari belakang, melingkarkan tangan kekarnya di perut ramping Nabila.
Deg,, lagi-lagi jantung Nabila berdegup lebih kencang, dia yang tidak menyadari kehadiran sang suami di belakang nya dan tiba-tiba saja kini dia sudah berada dalam hangat nya pelukan sang pangeran tampan.
Rona merah nampak jelas terlihat di wajah Nabila,,,
Untuk beberapa saat keduanya diam dalam posisinya dan menikmati debaran jantung masing-masing, "sayang,," bisik Rehan lembut ditelinga sang istri.
"Hem,,," Nabila mendongak menatap netra kebiruan milik sang suami dengan tatapan cinta.
"Apa kamu merasa nyaman?"
"Kenapa abang bertanya seperti itu? Bagi seorang istri tempat ternyaman adalah di samping suami nya, berada di dekatnya, dalam pelukan nya," jawab Nabila dengan lembut. "Billa bahagia bang,,," lirihnya.
"Terimakasih sayang,, abang juga sangat bahagia," balas Rehan dengan tatapan penuh damba.
Rehan mengecup lembut bibir istri nya, kecupan yang hangat dan dalam,,, semakin lama semakin dalam dan sedikit liar, membuat keduanya mendesah pelan.
Tiba-tiba Nabila mendorong pelan tubuh suami nya... "kenapa sayang?" Rehan tampak kebingungan.
Nabila jadi salah tingkah, "maaf bang, Billa gak bermaksud untuk menolak... tapi kita belum sholat isya'," ucap nya lirih.
Rehan tersadar, dan menggaruk kepala nya yang tidak gatal,,,
Keduanya saling pandang dan sama-sama tersenyum malu.
"Abang ke kamar mandi dulu ya," ucap Rehan dengan sedikit tergesa.
Nabila kemudian membongkar koper suami nya, dan menata pakaian sang suami di lemari yang telah tersedia. Dia menyiapkan pakaian sholat untuk suami nya, baju koko dan sarung.
__ADS_1
Rehan nampak keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, Nabila segera memberikan baju koko dan sarung kepada suaminya. "Billa wudhu dulu bentar ya bang,,," seraya berlalu menuju kamar mandi.