Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Memanjakan Pasangan


__ADS_3

Dengan yakin ibu Lin mengangguk, dan kemudian memeluk om Johan kembali, "iya pa, papa adalah orang tua bagi kami." Ucap nya seraya melerai pelukan nya, dan menghapus sisa air mata di wajah om Johan, "papa jangan nangis lagi ya, dan jangan berpikir yang berat-berat agar kita bisa segera pulang," ucap ibu Lin dengan lembut.


Om Johan tersenyum bahagia, dan mengangguk.


"Sekarang papa istirahat dulu ya,," titah Alvian seraya membetulkan letak bantal sang papa dan membantu nya untuk merebahkan diri dengan nyaman.


"Kami akan tunggu papa di sana," ucap ibu Lin sambil menunjuk sofa di sudut ruangan.


*****


Sementara itu Fatima mengajak yang lain nya untuk jalan-jalan di pusat perbelanjaan yang terdekat, Orchard Road adalah tujuan nya. Tak berapa lama, mereka tiba di kawasan tersebut.


Orchard Road memang didesain senyaman dan semenarik mungkin bagi wisatawan yang berbelanja. Deretan pusat perbelanjaan dilengkapi jalur pejalan kaki yang lebar, serta banyaknya pohon yang teduh membuat nyaman bagi wisatawan yang hendak berbelanja atau sekedar untuk cuci mata. Lampu-lampu indah saat malam hari, dan berbagai atraksi menarik di sepanjang jalan, menambah daya tarik Orchard Road bagi siapapun yang datang berkunjung ke sana.


Devan nampak tengah memanjakan pasangan nya dengan berbelanja barang-barang branded, di tangan nya sudah ada beberapa paper bag yang berisi pakaian milik sang istri. Devan juga ingin membelikan istri nya tas, namun dengan tegas Lusi menolak nya. Alasan nya, koleksi tas nya sudah sangat banyak... bahkan kado dari Nabila juga belum pernah dipakai nya.


Devan kemudian mengajak sang istri kembali berkeliling, hingga dia berhenti di store khusus jam tangan, "honey lihat lah, yang ini sangat bagus,,, kita beli ya," ucap Devan sambil menunjuk couple jam tangan mewah salah satu brand ternama.


Lagi-lagi Lusi menggeleng, "koleksi jam tangan abang kan sudah sangat banyak, enggak baik menyimpan barang hanya untuk di tumpuk,,, mendingan kita beli sesuatu yang lebih bermanfaat, atau uang nya di tabung," ucap Lusi mengingatkan.


Devan tersenyum, "kamu benar honey,, abang makin sayang sama kamu," balas Devan seraya mengecup kening sang istri dengan hangat.


"Abang,, malu ih, di tempat umum.." protes Lusi sambil mengerucutkan bibir.


Di dekat mereka, Alex juga tengah merayu ingin memanjakan tunangan nya. "Dik, pilih aja yang mana yang kamu suka," pinta Alex menunjuk deretan sepatu dan tas yang tertata cantik di etalase.


Nisa menggeleng, "gak perlu mas, Nisa sudah punya," jawab Nisa kalem.


"Perempuan kan biasanya suka kalau diajak shoping dik,," ucap Alex yang sedikit kecewa, pasal nya sang kekasih hanya mengambil satu set kebaya untuk wisuda diantara puluhan barang yang dia tawarkan.


"Itu kan perempuan lain mas, bukan Nisa," jawab Nisa tegas. "Nanti kalau kita sudah menikah, Nisa juga enggak akan menolak kok kalau mas mau beliin banyak barang. Karena itu adalah kewajiban mas untuk menafkahi istri, bahkan mungkin Nisa yang akan meminta nya sendiri tanpa perlu mas Alex membujuk Nisa."


Alex mengangguk dan tersenyum, dia semakin kagum dengan kepribadian Nisa yang sederhana dan tidak banyak menuntut. Namun Alex tetap ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk calon istri nya itu, akhirnya dia mengajak Nisa untuk menuju store perhiasan.


Nisa hanya menurut, dan nampak malas-malasan saat Alex memintanya untuk memilih cincin. "Enggak usah lah mas, kan Nisa juga udah pakai cincin?" Nisa kembali protes.


"Kan beda dik, itu cincin tunangan? Mas pengin kasih hadiah buat kamu masak gak mau terima sih,,, " Alex memasang wajah cemberut.

__ADS_1


"Kebaya ini kan juga sudah termasuk hadiah dari mas Alex,,," balas Nisa masih tetap menolak.


Sejenak Alex berpikir, "dik, kalau kita beli mas kawin aja gimana?"


"Mas kawin?" Tanya Nisa sedikit terkejut.


"Iya, mas kawin. Enggak apa-apa kan kita beli sekarang, toh nanti selesai dik Nisa wisuda kita akan langsung menikah," jawab Alex dengan mata berbinar.


Nisa terdiam, dan sedetik kemudian dia mengangguk.


"Yes,," ucap Alex sangat senang, "ayo dik, kamu pilih aja yang mana?" Alex memanggil penjaga toko yang sedari tadi menawarkan diri untuk melayani nya dengan sangat antusias. "Mbak, tolong cariin kami satu set perhiasan berlian model terbaru untuk mas kawin," pinta Alex pada wanita itu.


"Baik tuan, tunggu sebentar," balas wanita tersebut sambil tersenyum ramah dan mempersilahkan Alex dan Nisa untuk duduk.


Tak berapa lama, wanita tersebut muncul dengan beberapa kotak perhiasan koleksi store tersebut, "yang ini bertahtakan berlian murni," ucap nya sambil membuka sebuah kotak perhiasan dan menunjukkan koleksi nya kepada konsumen nya.


Perhiasan yang berkilauan dan sangat indah terlihat di depan mata, Nisa nampak sangat kagum.


"Gimana dik, kamu suka?" Tanya Alex yang memperhatikan ekspresi sang kekasih.


Nisa hanya mengangguk,,


"Kemudian wanita tersebut membuka kotak yang lain, "kalau ini batu nya batu saphire," ucap nya seraya menunjukkan koleksi nya.


"Kalau yang ini gimana dik?" Tanya Alex, "atau, kamu mau lihat yang lain nya lagi?"


"Tidak mas, cukup.. nanti Nisa jadi bingung, pilih yang mana," tolak Nisa sambil tersenyum.


"Kalau suka, ambil semua enggak apa-apa dik," ucap Alex menawarkan.


Nisa menggeleng, "yang ini aja ya mas, Nisa suka sama model nya," sambil menunjuk kotak perhiasan yang pertama.


Alex mengangguk dan menyetujuinya, "ya, itu bagus," Alex membenarkan pilihan sang tunangan.


"Mbak, ambil yang ini ya.." ucap Alex sambil menyodorkan kredit card milik nya.


Wanita itu pun menerima kredit card dan kemudian segera berlalu untuk menyiapkan pesanan konsumen nya.

__ADS_1


Di lain tempat tak jauh dari store yang dikunjungi Alex dan Nisa, nampak Fatima tengah membujuk Ilham untuk memilih-milih sepatu dan tas untuk sekolah. Dengan setengah memaksa Fatima memilih kan nya, padahal Ilham sudah menolak nya dengan halus.


Ilham tengah duduk sambil mencoba sepatu yang disodorkan kepada nya, "pas kan dik?" Tanya Fatima meneliti kaki Ilham.


"Iya kak, ini ukuran nya pas," jawab Ilham mengangguk.


"Sip, berarti ambil yang itu ya.. sekarang kita pilih tas nya yuk?" Ajak Fatima sambil menyeret pelan lengan Ilham.


"Sepatu aja deh kak, tas Ilham masih bagus dan jarang di pakai juga," kembali Ilham menolak.


"Beneran nih,,?"


"Mau aja dik, mumpung ada yang traktir," seru Devan dari kejauhan yang sedang menemani Kevin, Zaki dan Vira.


Ilham hanya tersenyum, "udah cukup bang, udah banyak kok... nih," Ilham menunjukkan beberapa paper bag di tangan nya yang berisi t-shirts, celana jeans serta kemeja. Semua nya adalah pilihan Fatima, dan dengan sedikit paksaan dari kakak ipar dari Nabila itu.


Karena Ilham menolak, Fatima memutuskan untuk mengakhiri belanja nya dan mengajak Ilham menghampiri Devan serta Lusi dan anak-anak.


Tak lama kemudian Alex dan Nisa bergabung, "sudah selesai dik?" Tanya Fatima sambil menatap Nisa dan Alex bergantian.


"Sudah kak," jawab kedua nya serempak.


Kemudian Fatima menyodorkan dua paper bag yang sedari tadi di tenteng nya kepada Alex dan Devan, "buat kalian," ucap Fatima seraya tersenyum menggoda.


Alex mengernyit, "dari senyuman kak Fatima gue udah bisa nebak isinya," ucap Alex curiga, dan kemudian mengintip isinya. Dan benar saja, Fatima membelikan piyama tidur untuk Alex, dan lingerie untuk Nisa.


"Yang warna merah untuk dik Nisa, kamu kasih kan nanti kalau sudah sah," ucap Fatima seraya terkekeh.


"Apaan sih Fa, isinya?" Tanya Devan yang kepo ingin tahu milik Alex.


"Buka aja punya lu sendiri,," titah Fatima pada sahabat nya itu.


Devan kemudian membuka dan mengeluarkan isinya, "wow,,, gue suka gaya lu Fa, pantes aja bang Yusuf tergila-gila sama lu," ucap Devan begitu melihat isinya, yang sama dengan milik Alex, hanya beda warna dan model saja.


"Segera beri gue keponakan, tapi yang manis kayak istri lu, jangan yang absurd kayak kalian.." balas Fatima seraya menunjuk Alex dan Devan.


"Yuk ah, kita cari makan," mereka pun kemudian berlalu dari tempat itu.

__ADS_1


Fatima mengajak mereka semua makan di The Rice Table Restaurant. Satu-satunya restoran di Singapura yang menawarkan Belanda Rijsttafel, yang merupakan cara penyajian dengan hamparan berbagai hidangan makanan Indonesia di atas meja. Cara penyajian hidangan makanan seperti ini sudah sangat langka di temui.


Mereka menikmati makanan sambil ngobrol dan bercanda ria.


__ADS_2