Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Calon Pengantin


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Nabila bekerja di butik milik kakaknya Rehan sebagai manager, kecerdasan yang dimilikinya serta sifatnya yang pekerja keras dan pantang menyerah membuat Nabila tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam mengemban amanah dari calon kakak iparnya itu.


Juga karena keramahan dan kerendahan hati Nabila, hingga membuat semua karyawan lama yang bekerja di Butik Putri Alamsyah itu tak segan untuk membantunya.


Dan siang ini butik itu kedatangan pelanggan setia yang beberapa waktu lalu telah memesan gaun untuk acara resepsi pernikahan, "Selamat siang tuan Devan,, selamat siang nona," sapa salah seorang pegawai butik yang mengenali pelanggan nya tersebut.


"Siang mbak Jihan," sapa gadis cantik yang berada di samping laki-laki tampan yang bernama Devan.


"Kehadiran tuan dan nona sudah ditunggu sama kak Nina di ruangannya," ucap Jihan ramah, "mari saya antar," Jihan berjalan menuntun pelanggan setia butik nya.


Tok,, tok,, tok,, Jihan mengetuk pintu ruang kerja khusus desainer, "Kak Nina, ini Jihan," sambil mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka.


"Iya Jihan, masuk saja," jawab suara dari dalam dengan sedikit berteriak.


Jihan melangkah masuk dengan masih menuntun kedua tamu butik tersebut, "Silahkan duduk tuan Devan,, nona,," Jihan mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa yang berada di sudut ruang kerja tempat Nina dan Tiwi berkreatifitas.


Nina yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya segera mendekat, "selamat siang tuan dan nona calon pengantin," ucapnya seraya memeluk erat Devan.


"Ish,, ngeledek melulu sukanya, dasar gadis jahil," lirih Devan seraya menyentil kening Nina.


"Aw,,, sakit tau kak," protes Nina pada Devan yang dia panggil kakak.


"Salah sendiri, jadi anak suka usil," jawab Devan sambil mencibir.


"Kakak ipar,,, kak Devan tuh, kebangetan," rajuk nya pada gadis yang bersama Devan.


Gadis itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, sepertinya dia sudah sangat paham dengan kedua orang yang sedang saling olok itu.


"Jihan, tolong kau ambilkan gaun kakak ipar ku" titahnya.


"Baik kak Nina," Jihan segera berlalu untuk mengambilkan gaun yang dimaksud.


Tak berapa lama, Jihan datang dengan membawa dua gaun pengantin ditangan nya.


"Silahkan kakak ipar, coba yang ini dulu," Nina mengambil gaun pertama berwarna putih dan membawakannya untuk sang kakak ipar menuju tempat berganti.


Nina membantu gadis yang merupakan calon istri Devan mengenakan gaunnya, "wow,,, kakak ipar sungguh sangat cantik, dan gaunnya sangat pas ditubuh kakak," ucapnya bersorak sesaat setelah gaun itu melekat sempurna di tubuh sang gadis, "mari kak, kita tunjukkan sama kak Devan," seraya menarik lengan calon kakak iparnya untuk memperlihatkan hasil karyanya pada Devan.


Keduanya berjalan menghampiri Devan yang tengah sibuk dengan ponsel di tangannya, "kak Devan, lihatlah kakak ipar," seru Nina dengan suaranya yang melengking hingga mengagetkan Devan.


Laki-laki itu mendongak menatap kearah calon istrinya, yang tengah berdiri dengan santai sambil menyunggingkan senyuman manisnya.


"Calon pengantin ku,,, kamu,,, cantik sekali sayang," dan segera beranjak dari tempat nya duduk untuk menghampiri calon pengantinnya. Devan semakin mendekat dan hendak memeluk gadis itu,


"Stop,,," seru Nina dan segera mendorong tubuh tegap Devan menjauh dari calon istrinya, "kakak gak sabaran banget sih, main peluk - peluk aja," gerutu Nina.

__ADS_1


Devan tersenyum kecut sambil mengusap tengkuknya.


Sedangkan gadis yang mengenakan gaun pengantin itu terkekeh, merasa geli melihat tingkah dua bersaudara itu.


Waktu terus berlalu, tamu pelanggan butik itupun telah menyelesaikan fitting baju pengantin dan mereka nampak sangat puas dengan hasil karya Nina selaku perancang busananya.


Jihan nampak sibuk melipat gaun pesanan tamu butik itu, agar bisa segera dibawa pulang oleh sang empunya.


"Makasih ya dek, rancangan kamu sangat bagus dan kakak suka banget," ucap gadis itu memuji kehebatan Nina.


"Ah,,, kakak ipar berlebihan deh," ucap Nina tersipu malu.


"Hemm,,, pura-pura malu, padahal dalam hati bersorak kegirangan," ledek Devan seraya mengacak pucuk kepala Nina.


"Kakak!" Teriak Nina dengan sewot, "rambut Nina rusak nih," rajuk nya sambil mengerucutkan bibir.


Tepat disaat bersamaan, Tiwi masuk dengan diikuti oleh Nabila. "Eh ada kak Devan," seru Tiwi dan segera menghampiri Devan untuk menyalami laki-laki tersebut.


Nabila yang berjalan mengekor di belakang Tiwi nampak terkejut tatkala pandangannya tertuju pada gadis yang duduk di samping Devan.


Begitupula dengan gadis itu, matanya terbelalak ketika bertemu pandang dengan Nabila, "Billa,,," serunya seraya beranjak dari tempat duduknya dan menghambur memeluk Nabila.


Mereka berpelukan sangat erat, dan sejenak kemudian saling melerai pelukan masing-masing.


Ya, gadis cantik yang bersama Devan adalah Lusi, sahabat Nabila sewaktu masih bekerja di Perusahaan Garmen milik tuan Yuda.


"Oh ini, gue sama Devan ngambil gaun yang udah gue pesan bulan lalu," jawab Lusi tersipu, "nah lu sendiri ngapain?" Tanya Lusi penasaran dengan menautkan kedua alisnya.


"Kakak ipar kenal sama mbak Billa?" Sela Nina penuh selidik, "mbak Billa kan manager baru disini kak," jawab Nina mendahului Nabila.


Nabila hanya tersenyum menanggapi perkataan Nina.


"Wah, selamat ya Bill,,, gue ikut senang dengernya," ucap Lusi.


"Iya dek, Billa ini sahabat terbaik kakak. Billa bekerja sebagai sekretaris di perusahaan yang sama dimana kakak pernah bekerja," Lusi menjelaskan panjang lebar kepada Nina.


"Oh,,," nampak Nina menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Oh ya Bill,,, kenalin ini Devan," Lusi memperkenalkan calon suaminya kepada Nabila.


Mendengar namanya disebut oleh calon istrinya, Devan segera beranjak dan mengulurkan tangannya Kepada Nabila.


"Devan," ucapnya datar memperkenalkan diri.


Nabila menyambut uluran tangan laki-laki itu, "saya Nabila," jawab Nabila tersenyum ramah.

__ADS_1


"Mari silahkan duduk kembali," ajak Nabila ramah kepada kedua calon pengantin yang merupakan pelanggan setia di butik nya itu, "terus hubungan kamu sama Nina?" Tanya Nabila kemudian kepada sahabatnya.


"Nina itu sepupunya Devan, iya kan sayang?" jawab Lusi seraya meminta persetujuan calon suaminya.


"Iya, betul nona Nabila," jawab Devan, "adik sepupu yang menyebalkan," lanjutnya seraya tersenyum menggoda pada Nina.


"Ih,, kak Devan apaan sih," seru Nina merajuk, "orang punya adik manis, imut dan menggemaskan begini malah dibilang menyebalkan," Nina menggerutu sambil melemparkan bantal sofa yang ada di dekatnya kearah Devan.


"Idih,,, sok imut, sok manis, apa pula itu... menggemaskan? dilihat dari Hongkong," saut Tiwi mencibir.


Devan tergelak mendengar tanggapan dari sahabat adik sepupunya itu, "nah benar itu Wi,, dia manis dan imut kalau dilihat dari Hongkong," ucap Devan masih tergelak.


Tiwi pun ikut terkekeh mendengar persetujuan Devan.


Sedangkan Lusi, dan Nabila hanya menggelengkan kepala dan tersenyum simpul.


"Iya,, iya,, puas kan kalian," Nina cemberut sambil melotot kearah sahabat dan kakak sepupunya bergantian.


"Sudah, sudah,, kalian ini kalau bertemu selalu ribut," ucap Lusi akhirnya menengahi.


"Kak Nina, gaunnya sudah siap," ucap Jihan sambil meletakkan tiga paper bag di meja tamu.


"Makasih Jihan," ucap Lusi ramah kepada pegawai butik itu.


"Sama-sama nona Lusi," balas Jihan membungkukkan sedikit badannya dan kemudian segera berlalu meninggalkan ruangan itu.


Sejenak suasana di ruang khusus desainer itu menjadi sunyi.


"Bill,, makan siang bareng yuk?" Ajak Lusi pada sahabatnya, "sudah lama lho kita gak makan siang bersama? Lanjutnya memohon.


"Kita makan siang bareng Billa, gak apa-apa kan sayang?" Pintanya pada Devan.


Devan mengangguk dan tersenyum manis, "boleh," jawabnya.


"Aduh,, gimana ya Lus... aku sudah ada janji sama seseorang," ucap Nabila tak enak hati, "sebenarnya aku juga kangen banget loh makan bareng sama kamu," lanjutnya sendu.


"Enggak apa-apa Billa,,, toh masih bisa kita agendakan dilain waktu kan?" jawab Lusi menenangkan sahabatnya, meskipun dia juga merasa sedikit kecewa.


"Makasih ya Lus, kamu sahabat terbaik," seraya memeluk sahabatnya.


"Oke Bill,,, kami pamit dulu ya," pamit Lusi pada sahabatnya.


"Mari nona Nabila," Devan mengangguk kepada Nabila dan segera bergegas keluar dari ruangan itu dengan menggandeng tangan calon istrinya.


Nabila membalas dengan melambaikan tangan dan tersenyum hangat pada pasangan calon pengantin itu.

__ADS_1


__ADS_2