
"Setuju," ucap mama Sekar, ibu Lin dan Fatima bersamaan, dan sejenak mereka saling lempar pandang dan kemudian tertawa bahagia.
Nabila terlihat malu-malu dan menundukkan wajah nya, dia meremas kuat kedua tangannya untuk mencoba mengurangi rasa gugup. Sesekali dia melirik kearah pangeran tampan yang justru nampak tersenyum puas,,,
Kalau para nyonya sudah bilang setuju, ya itu artinya perintah buat kita para bapak untuk tidak menolaknya," ucap pak Ilyas. Bukankah seperti itu pak Sultan? Mas Yusuf?" Lanjutnya mencoba bercanda.
"Ya pak Ilyas, karana wanita itu selalu benar," timpal papa Sultan seraya terkekeh.
Yusuf yang sedari tadi hanya jadi pengamat pun ikut terkekeh.
Untuk sesaat suasana kembali hening,,,
"Bagaimana nak Rehan? Apa kamu sudah benar-benar siap menikahi Nabila?" Tanya pak Ilyas menatap intens manik kebiruan milik Rehan, seakan menyelidik mencari keseriusan dari laki-laki yang mencintai putrinya.
"Insyaallah jika bapak merestui, Saya siap menikahi Nabila sore ini juga," jawab Rehan dengan mantab.
Nabila menatap Rehan, seakan menuntut jawab.
Rehan mengangguk dan tersenyum lembut.
"Jika demikian, persiapkan diri nak Rehan untuk acara nanti sore jam empat. Saya akan undang penghulu untuk menikah kan kalian,,," ucap pak Ilyas dengan yakin.
"Alhamdulillah,,," ucap syukur keluarga Rehan serentak, dan tersenyum bahagia.
"Yes,,, akhirnya menuju halal, dan gue terbebas dari satu tugas," seru Alex sangat lega.
"Tugas apa Lex?" Tanya Fatima penasaran.
"Tugas mengusir gadis-gadis yang suka nempel kalau si Bos sedang di luar kak,," jawab Alex seraya nyengir.
"Tapi gak lu ambil kan?" Cecar Fatima.
"Ih,,, amit-amit deh kak, mereka tuh gak tahu malu banget kak, kayak sudah putus urat malunya," jawab Alex merasa jijik.
Fatima terkekeh mendengar jawaban Alex.
Berbeda dengan lain nya yang tengah berbahagia, Nabila justru nampak panik, "bu, kenapa secepat ini... Billa kan belum persiapan apa-apa?" Bisik Nabila pada ibu nya.
Fatima yang menangkap kegelisahan calon adik iparnya pun ikut bicara, "jangan khawatir adik ipar, kakak udah nyiapin kebaya untukmu," ucapnya seraya tersenyum.
"Benar kah? Kok bisa?" Tanya Nabila penasaran.
__ADS_1
"Ya nak, kami sudah merencanakannya kemarin. Dan kak Fatima sudah membelikan semua keperluan mu," timpal mama Sekar.
"Benar dek, kakak sama bang Yusuf yang nyiapin semua," timpal Fatima seraya memandang wajah ganteng dan tegas sang suami.
Yusuf tersenyum hangat menanggapi ucapan istri cantiknya.
Sedangkan Nabila tengah menatap sang kekasih dengan tatapan tajam, yang hanya ditanggapi dengan senyum kemenangan oleh Rehan.
"Assalamu'alaikum,,," terdengar suara centil seseorang dari balik pintu, tak berapa lama kemudian muncul seorang gadis manis dengan hijab modis menutup kepalanya. "Eh,, banyak tamu rupanya, siapa yang dilamar bu?" Tanya gadis itu cengengesan seraya menyalami ibu Lin, mencium punggung tangannya dan kemudian memeluk nya.
"Kamu yang dilamar nduk, mau kan?" Goda ibu Lin, seraya melerai pelukannya.
"Ibu tuh suka nya ngeledek,,," rajuk nya sambil menyalami pak Ilyas, "Ayah sehat?" Dan kemudian memeluk nya.
"Ayah sangat sehat nduk," jawab pak Ilyas sambil mengusap lembut puncak kepala gadis itu.
"Dik, kamu enggak kangen sama mbak?" Rajuk Nabila.
"Enggak tuh," ucapnya seraya mencibir, dan sedetik kemudian menghambur kearah Nabila dan memeluk nya dengan erat, "I miss you so much mbak Billa ku sayang," ucapnya dengan manja.
"Hem, lebay,,," ucap Nabila dengan mengelus punggung gadis itu.
"Pelukannya udah dulu mbak, nduk,,," pinta ibu Lin. "Salim dulu gih sama keluarga calon suami mbak Billa," titah ibu Lin setelah dua gadis itu melerai pelukannya.
Ibu Lin mengangguk dan tersenyum. "Gak apa-apa," ucap bu Lin bijak.
Gadis itu kemudian menyalami semua yang hadir dan mencium punggung tangan mereka dengan takdzim, "dia Nisa adik nya Nabila," ibu Lin memperkenalkan gadis itu.
"Oh, jadi ini reader yang mau dijodohin sama gue?" Gumam Alex dalam hati, "Nisa,,, nama yang manis, semanis orang nya," Alex terus menatap gadis itu tanpa berkedip.
"Woi,,, jangan kelamaan memandangnya!" Seru Rehan mengejutkan Alex.
"Sialan lu Rey,,," gerutu Alex tersenyum kecut.
Nisa kemudian duduk di samping Nabila.
"Nak Nisa masih kuliah?" Tanya mama Sekar.
"Iya, tapi tinggal nunggu wisuda," jawab Nisa pelan.
"Billa sama Nisa ini usianya hanya selisih setahun mbak, tingginya hampir sama, warna kulit juga, makanya kalau kemana-mana bareng sering dikira kembar,,, " ucap ibu Lin sambil tersenyum kearah anak-anak gadis nya.
__ADS_1
"Maaf, tapi jangan di bully ya tante,,, kalau wajah kami gak mirip, sebab ayah ibu kami juga tak sama," ucap Nisa seraya terkekeh.
"Ngomong apaan sih dek," ucap Nabila seraya memeluk pundak Nisa.
Nampak wajah-wajah penasaran tentang hubungan Nisa dan Nabila, terutama Alex yang sejak awal melihat Nisa langsung terpesona.
"Nduk, kok kamu ngomong nya gitu tho,,, bagi ayah dan ibu, kamu sama mbak Billa itu gak ada bedanya. Kami sayang kalian berdua sama besar nya," ucap ibu Lin menatap lembut netra Nisa.
"Iya ibuku sayang,, Nisa tahu kok, Nisa kan cuma becanda," jawab Nisa sambil memeluk lengan ibu Lin.
"Nisa ini putri dari adik saya,,," pak Ilyas menjawab rasa penasaran tamunya, "dia ditinggal mati oleh kedua orang tuanya saat usianya belum genap setahun," lanjut nya menceritakan tentang Nisa.
Sejenak suasana menjadi hening,,,
"Nak Nisa sudah punya calon kah?" Tanya mama Sekar memecah kesunyian.
"Belum tante,," jawab Nisa tersipu malu.
"Jangan bohong dik,,," bisik Nabila di telinga sang adik.
"Udah bubar mbak, dia manja dan gak mau kerja,, apa iya Nisa harus makan cinta," jawab nya lirih seraya terkekeh pelan.
"Kalau begitu sama nak Alex aja,,, gimana, mau kan?" Tanya ibu Lin.
"Benar mbak, saya juga mikir seperti itu tadi,,, tapi nak Alex nya mau ndak?" Tanya ibu Lin pada Alex.
"Wah, kesenangan dia bu,,, gak bakal nolak pasti," timpal Fatima seraya tersenyum melirik Alex.
"Yes,, gue juga dapet kembang desa," bisik nya di telinga Rehan.
"Hum,,, belum tentu juga dia mau!" Cibir Rehan.
"Gimana nduk?" Tanya ibu Lin pada Nisa.
Nisa tersipu malu, dan melirik Nabila.
"Bang Alex baik kok dik, mbak sudah kenal lumayan lama."
"Biar mereka saling kenal dulu bu,,," ucap pak Ilyas dengan bijak.
"Kalau begitu bang bule, mbak Bunga dan keluarga bisa beristirahat dulu di rumah sebelah,,, kebetulan rumah itu kosong sejak kepergian bapak dan ibu mertua." Bu Lin mempersilahkan tamunya untuk beristirahat.
__ADS_1
Sana nduk kamu bantu mbak Billa beberes di rumah mbah," titah bu Lin pada kedua putri nya.