Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Siraman Rohani


__ADS_3

"Eit,, jangan pulang sekarang ya?" Reflek Alex mencegah nya.


Kevin mengernyit, "kenapa om?" Tanya Kevin penasaran.


"Kevin enggak kangen ya sama om Alex, kan kita udah dua hari enggak ketemu?" Bujuk Alex sambil merentangkan kedua tangan nya.


Kevin mengerti, dia segera beranjak dari pangkuan sang nenek dan menghambur kedalam pelukan sahabat daddy nya itu.


Alex memberi kode pada Nisa melalui tatapan mata nya, dengan cepat Nisa mengangguk. "Kevin semalam bobok sama siapa?" Tanya Nisa menirukan gaya anak-anak.


"Sama daddy dan mommy," jawab Kevin setelah melerai pelukan nya.


"Cuma ditemani bobok aja, atau di peluk sampai pagi?" Kembali Nisa bertanya.


Yang lain mengernyit, masih belum paham arah pembicaraan Nisa. Sedangkan Alex nampak mengetikkan sesuatu, "segera jemput anak lu jika urusan lu sama istri udah selesai" dan kemudian mengirimkan nya kepada big bos nya. Tak berapa lama, dia menerima balasan, "dua tiga jam lagi" begitu lah yang tertulis di layar ponsel Alex.


"Di peluk sampai pagi dong tante,,, mommy sama daddy bobok di kamar Kevin," Kevin menjelaskan kepada tante nya dengan polos.


"Kalau begitu, sekarang Kevin bobok nya sama tante ya? Atau mau sama om Ilham? Atau sama nenek?" Rayu Nisa.


Kevin menggeleng,, Alex yang masih memangku putra kecil bos nya itu nampak panik, sedangkan Ilham yang paham hanya tertawa cekikikan.


"Om Ilham kenapa tertawa sendiri?" Tanya Kevin.


"Enggak apa-apa sayang,, paling om Ilham lagi keinget sama kartun lucu yang di tonton nya semalem waktu di kampung," jawab Nisa asal, dia tahu adik nya pinter mengalihkan perhatian anak kecil.


"Asyik,, Kevin mau lihat om," sambil beranjak dan berlari kearah Ilham, "ayo om.." ucap Kevin antusias, sambil menarik-narik tangan Ilham.


"Lah, kok Ilham mbak?!" Protes nya.


"Siapa lagi? Kamu kan pinter merayu anak kecil dik?? " Bujuk Nisa.


"Enggak lama kok dik, paling dua atau tiga jam lagi dia dijemput," timpal Alex seraya menunjuk Kevin dengan dagu nya dan tersenyum puas.


"Yah, apes deh... mereka yang makan nangka nya, Ilham yang ngurus anak nya," Ilham menggerutu.


Sontak semua nya tertawa, tak terkecuali pak Ilyas dan ibu Lin. "Oalah,, dari tadi tuh kalian lagi mengalihkan perhatian tuh bocah agar enggak minta pulang?" Tanya Alvian sambil menahan tawa.


Alex dan Nisa hanya mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Santai Ham, kalau lu udah punya SIM om akan bujuk daddy nya untuk membelikan mobil sport buat lu kuliah," ucap Alvian sambil mengacungkan jempol nya.


"Serius om,,?" Tanya Ilham tak percaya.


"Mau yang tipe apa dik? Tinggal bilang aja, nanti bang Alex yang pesankan," timpal Alex menyemangati Ilham.


"Eh, jangan diajarin sogok menyogok!" Protes ibu Lin, "biar dia belajar melakukan sesuatu dengan ikhlas," lanjut nya mengingat kan.


"Yah ibu,, enggak asyik," protes Ilham seraya cemberut.


"Benar kata ibu nang, lakukan sesuatu pekerjaan dengan hati yang ikhlas. Kalau niat membantu juga harus dengan ikhlas, dan jangan pernah mengharap balasan apapun dari manusia.. karena nanti nya kamu akan kecewa jika ternyata apa yang kamu harap kan tidak sesuai dengan keinginan mu."


"Tapi berbeda jika kamu melakukan nya dengan ikhlas dan hanya mengharap ridho Nya, kamu tidak akan pernah merasa kecewa. Dan ingatlah, bahwa Allah maha mengetahui dan maha pemurah. Sekecil apapun kebaikan yang kamu lakukan, Allah akan mengetahui nya dan memberi kan ganjaran sesuai dengan janji Nya," ucap pak Ilyas panjang lebar menasehati sang putra.


Ilham mengangguk, mengerti nasehat ayah nya.


"Ayo om,, kalau ngobrol terus kapan nonton film lucu nya?!" Protes Kevin nampak tak sabar, "nanti Kevin bilangin deh sama daddy, biar om ganteng di kasih hadiah mobil... kalau hadiah beda kan kek sama itu, apa kata nenek tadi?" Kevin mencoba mengingat-ingat.


"Yang mana?" Tanya ibu Lin yang tak mengerti maksud dari cucunya.


"Yang sogok,,:sogok,, itu nek...?" Ucap Kevin mengingat kan.


Ilham segera membawa keponakan nya masuk kedalam kamar.


Sementara pak Ilyas hanya tersenyum dan menggeleng kan kepala nya, "anak itu sangat cerdas, kita harus hati-hati jika bicara dengan nya... jangan sampai kita meracuni pikiran nya dengan ucapan yang tidak baik dan menyesatkan." Lirih nya setelah Kevin tak nampak lagi dari pandangan nya.


Mereka berlima pun melanjutkan obrolan hingga cukup lama, dari membahas masalah pekerjaan, paviliun, hingga tentang keadaan om Johan yang masih belum sadar dari koma nya.


Begitu asyik mereka ngobrol, hingga tanpa terasa waktu telah menunjuk kan pukul sembilan lewat.


Alex yang merasa sudah lelah, karena seharian ini sudah melewatkan banyak sekali kejadian dan juga telah melakukan perjalanan panjang bersama Nisa dan Ilham pun pamit untuk kembali ke apartemen nya.


Baru saja Alex hendak beranjak, terdengar Rehan dan Nabila mengucap salam... yang di jawab serempak oleh semua nya.


Wajah Rehan nampak begitu segar dan rambut nya masih basah, mereka berdua langsung duduk bersama yang lain. "Kevin mana?" Tanya Nabila seraya mengedarkan pandangan nya.


"Di kamar Ilham," jawab Nisa singkat.


"Seger amat wajah lu Rey,, beda sama tadi pas ketemu klien?!" Sindir Alex pada sahabat sekaligus atasan nya.

__ADS_1


"Biasa aja," jawab Rehan kalem.


"Emang tadi kayak gimana Lex?" Tanya Alvian mulai memancing.


"Kayak kanebo kering, kucel dan di tekuk gak bisa dibuka," jawab Alex asal.


"Tadi kan belum dapat siraman rohani," balas Rehan sekena nya sambil tersenyum lebar.


Pak Ilyas dan ibu Lin hanya tersenyum, mereka bahagia melihat kemesraan putri sulung dan suami nya.


"Bu, seperti nya ayah juga butuh siraman rohani," ucap pak Ilyas menatap hangat sang istri, dan kemudian beranjak dari tempat duduk nya.


Sontak adik, anak, menantu dan calon menantu nya saling pandang dan kemudian tertawa terbahak-bahak.


Pak Ilyas segera menggandeng mesra tangan ibu Lin dan bergegas meninggalkan mereka yang masih tertawa tanpa menoleh lagi.


"Ish,, mas Ilyas dan kak Bintang! Ada yang jomblo mas... jangan pamer ngapa?!" Protes Alvian sedikit berteriak, karena sang kakak sudah menuruni anak tangga.


Kevin muncul dari kamar Ilham mendengar ada keributan di luar, dia tersenyum riang saat melihat sang daddy telah berada di sana, "daddy,,," seru nya seraya menghambur kearah sang daddy dan kemudian naik ke pangkuan daddy nya.


"Hai, anak daddy kenapa belom bobok? Kan sudah malam?" Tanya Rehan dengan lembut.


"Kevin nonton film lucu sama om Ilham," ucap nya seraya menunjuk kamar Ilham.


"Oh ya, film apa?" Tanya Nabila sambil mencubit dengan gemas pipi gembil Kevin yang berada di pangkuan sang daddy.


"Tom and Jerry," jawab Kevin dengan mata berbinar.


"Wah,, pasti seru," ucap Nabila.


"Benar mommy,, tapi masak kucing di film itu kalah terus sama tikus kecil. Harus nya kan yang memiliki tubuh besar dia yang menang?!" Protes Kevin sedikit kecewa.


"Tidak juga nak, yang tubuh nya besar dan kuat belum tentu dia pemenang. Karena kekuatan otot bisa di kalahkan dengan mudah oleh kekuatan otak atau kecerdasan. Jadi meskipun si kucing memiliki tubuh yang lebih besar tapi karena dia bodoh, maka dengan mudah si tikus yang kecil namun pintar itu dapat mengalah kan nya." Balas Nabila yang mencoba menjelaskan sesuai dengan pemahaman anak seusia Kevin.


Kevin pun mengangguk mengerti, "Kevin mau jadi anak pintar, biar bisa mengalah kan semua orang..." ucap nya penuh semangat, "termasuk mengalahkan om Alex dan opa Vian yang tubuh nya besar-besar," lanjut nya dengan gaya yang menggemaskan.


"Kok om Alex, kenapa enggak mengalahkan daddy? Tubuh nya kan lebih besar dan kekar?" Tanya Alex pada bocah itu.


"Hush,, si om, kita kan enggak boleh melawan orang tua sendiri om? Kata kakek kalau kita berani melawan orang tua itu namanya kita jadi anak durhaka, dan itu dosa! Kevin mau jadi anak yang baik dan nurut sama daddy dan mommy," ucap nya mengingat tausiyah dari sang kakek seraya memeluk daddy dan mommy nya.

__ADS_1


__ADS_2