Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Menjebak Saras 3


__ADS_3

"Malam itu di bar aku minum banyak sekali, hingga kepalaku menjadi pusing dan tubuh ku lemas. Aku masih sadar ketika pria bule itu membawa ku ke sebuah kamar, tapi aku tak memiliki tenaga untuk melawan nya. Aku juga sadar ketika dia menyetubuhi ku tapa memakai pengaman,," sejenak Saras menghentikan ucapan nya.


"Aku takut hamil, sedangkan aku sama sekali tidak mengenal pria itu. Dan dua hari kemudian, seperti biasa Hendra datang ke rumah untuk mengerjakan skripsi bersama.. saat itulah terbersit niatan untuk menjebak Hendra dengan memberinya obat perangsang. Agar jika aku hamil ada yang mau mengakui nya," ucap Saras dengan pelan, tampak kejujuran dari sorot matanya.


"Aku akui caraku memang salah, tapi aku tidak menyesal telah menjebak Hendra. Sebab, sudah sangat lama aku menyukai nya.. tapi sayang nya dia malah jadian sama sahabat ku, Nabila. Aku sangat senang ketika akhir nya kami bisa menikah, dan membuat Nabila sakit hati." Kali ini Saras mengatakan nya dengan sangat senang.


"Aku pikir Nabila akan benar-benar sakit hati dan terpuruk, tapi ternyata aku salah. Dia malah berhasil menggaet pengusaha kaya dan menikah dengan nya, entah.. cara licik apa yang dipergunakan Nabila untuk menjebak pengusaha kaya itu?!" Ucap Saras dengan geram.


"Cukup! Mbak Billa bukan perempuan licik seperti yang kamu tuduhkan!" Sanggah Nisa dengan intonasi meninggi.


"Sudah dik,, biarkan saja dia bicara sepuas nya, kita dengarkan saja ocehan nya," ucap Alex lembut, mencoba meredakan emosi Nisa.


Hendra membuang nafas nya kasar, dia pun sangat marah terhadap Saras. Namun Hendra masih bisa mengendalikan emosi nya, karena menghargai keberadaan kedua mertua nya.


Sedangkan om Bayu hanya menggeleng-gelengkan kepala, dan menatap miris pada Saras. "Kasihan Saras, karena iri hati dan dengki telah merusak jiwa dan akal sehat nya. Sebenar nya dia butuh psikiater untuk bisa lepas dari perasaan itu, aku nanti akan coba bicara dengan suami nya." Gumam nya dalam hati.


Untuk sejenak suasana menjadi hening, isak tangis mama Anita, mama nya Saras juga sudah tidak terdengar.


"Dan aku sengaja menjebak om Bayu untuk menikahi aku, karena aku menginginkan warisan perusahaan nya. Aku akan menjadi wanita kaya raya dengan memiliki dua perusahaan besar, hahaha,,," Saras tertawa terbahak-bahak.


Pak Gun sudah lemas, dan tak sanggup lagi berkata-kata. Hanya bulir bening yang menetes di sudut mata nya.


Sedangkan Saras masih saja tertawa, dan kemudian dia menatap sang papa. "Anak papa hebat kan pa? Papa enggak perlu lagi bekerja keras, karena menantu menantu papa yang akan menjadi mesin penghasil uang untuk kita," ucap nya sambil menunjuk Hendra dan om Bayu.


Om Bayu tercekat, dia kesulitan menelan saliva nya.


Alex dan Nisa saling pandang, dan sesaat kemudian pandangan mata mereka tertuju pada mama nya Saras yang sudah tergolek lemas bersandar pada sofa.


Nisa segera beranjak dari duduk nya, dan menghampiri wanita paruh baya itu. Tapi ternyata mata mama nya Saras telah terpejam, "Tante, tan...bangun tan, tante," Nisa mencoba menepuk-nepuk pipi nya dan memanggil wanita itu dengan lembut, namun tak ada respon sama sekali.


"Mas, seperti nya tante pingsan," ucap Nisa panik.

__ADS_1


Alex, Hendra dan om Bayu bergegas mendekati mama nya Saras, dan mencoba melakukan hal yang sama dengan yang Nisa lakukan tapi masih belum berhasil.


"Baringkan ke sofa," ucap om Bayu pada Hendra yang hendak mengangkat tubuh mama mertua nya.


Nisa melirik Saras dan papa nya yang tak merespon sama sekali dengan kejadian pingsan nya mama Anita, dan Nisa dibuat terkejut saat mendapati pak Gun dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Sedangkan Saras hanya menatap sang ayah dengan air mata yang terus berjatuhan, entah apa yang dia rasakan saat ini.


"Mas Alex, tolong pak Gun.." seru Nisa panik.


"Kita bawa kedua nya ke rumah sakit," ucap om Bayu memberi perintah. "Tolong mama nya kamu angkat ke mobil kami, biar ditemani dik Nisa. Dan papa nya biar bersama Alex, aku akan bawa mobil mereka.


Dengan bergegas Alex dengan di bantu om Bayu mengangkat tubuh pak Gun dan membawa nya kedalam mobil milik pak Gun. Sedangkan Hendra mengangkat tubuh mama mertua nya dan membawa nya menuju mobil Alex. Nisa berlari kecil untuk segera membukakan pintu kedua mobil tersebut.


"Kami akan membawa nya ke rumah sakit terdekat, kamu urus dulu istrimu dan hubungi keluarga mu yang lain agar segera menyusul kami," titah om Bayu yang terlihat paling tenang diantara mereka semua.


Hendra hanya mengangguk pasrah, dan segera masuk kedalam rumah ketika kedua mobil yang membawa mertua nya telah meninggalkan halaman rumah nya.


Sesampai nya di dalam, Hendra melihat istri nya masih duduk di tempat yang sama seperti tadi. Namun kali ini sudah tak ada air mata yang mengalir membasahi wajah nya, bahkan wajah itu kini terlihat sinis menatap suami nya.


Hendra hanya diam, dengan tenang dia mendudukkan dirinya tepat di hadapan Saras. Hendra menatap wajah yang nampak sangat menyedihkan itu dengan iba.


"Kamu pasti menertawakan aku kan Hendra? Kamu pasti menertawakan kebodohan ku bukan?" Tanya Saras dengan suara terisak.


Hati Hendra teriris, meski dia sangat benci dengan sikap dan perilaku Saras tapi melihat kondisi istri nya yang terpuruk seperti ini hati nya tetap saja ikut sedih. Bagaimanapun juga Saras adalah istri nya, terlepas dari berapa banyak rasa kecewa yang telah Saras berikan kepada nya tapi saat ini Saras masih menjadi tanggung jawab nya.


"Gantilah pakaian mu, kita ke rumah sakit sekarang," ucap Hendra dengan melembutkan suara nya.


Saras mengangguk patuh, dan bergegas menuju kamar nya untuk berganti pakaian.


Sementara menunggu istri nya berganti, Hendra menghubungi keluarga nya agar segera menuju rumah sakit.


****"

__ADS_1


Setiba nya di rumah sakit, pak Gun dan mama Anita segera di bawa ke IGD untuk mendapatkan penanganan medis. Dengan sigap dokter-dokter yang bertugas memeriksa kondisi kedua pasien di ruangan yang tertutup rapat itu, sedangkan om Bayu, Alex dan Nisa menunggu di luar ruangan dengan cemas.


"Maaf, jika boleh tahu siapa Nabila? Kenapa Saras terlihat sangat membenci nya? Dan seperti nya dia juga iri pada Nabila itu?" Tanya om Bayu memecah kesunyian.


Alex menatap Nisa, dan Nisa mengangguk. "Nabila kakak saya om, mereka dulu nya bersahabat sejak awal kuliah. Dan setelah wisuda, mbak Billa dan mas Hendra bertunangan. Tapi ketika mbak Billa kerja di Jakarta, mas Hendra malah menghamili mbak Saras dan menikahi nya."


"Disaat Nabila sedang terpuruk, dia bertemu dengan Rehan. Dengan kesabaran dan kesungguhan Rehan, akhir nya Nabila luluh dan mereka menikah." Alex ikut menambahkan.


"Rehan Putra Alamsyah? Sahabat kamu kah?" Tanya om Bayu menyelidik.


"Benar om," jawab Alex singkat.


"Kenapa enggak ada kabar berita nya, dan kenapa om juga enggak di undang?" Om Bayu mengernyit.


"Rencana resepsi nya akan di gelar dua minggu lagi, sepulang om dari sini pasti undangan nya sudah ada di meja kerja om," jawab Alex seraya tersenyum.


Om Bayu nampak mengangguk-angguk.


Terdengar pintu ruangan IGD dibuka dari dalam, nampak dua orang dokter keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang muram. "Apa kalian keluarga kedua pasien?" Tanya dokter yang lebih senior, menatap om Bayu, Alex dan Nisa bergantian.


Tepat di saat yang sama, Hendra dan Saras datang menghampiri meraka. "Kami keluarga nya dok, saya menantu nya," jawab Hendra dengan nafas yang tidak teratur, karena dari tempat parkir tadi dia berlari kecil agar bisa cepat sampai ke tempat tujuan.


Dokter senior itu mengangguk, "ayah kalian mengalami serangan jantung,,,"


Saras merasakan kepala nya berdenyut, pandangan matanya mulai kabur. Nisa yang menyadari wajah Saras memucat dan tubuh nya mulai lemas, langsung menghampiri nya dan membawa nya untuk duduk di bangku panjang yang ada di depan IGD.


Nisa tak dapat mendengar dengan jelas apa yang di katakan oleh dokter tentang kondisi pak Gun dan mama Anita, tapi Nisa menangkap raut kecemasan di wajah Hendra dan dia dapat menyimpulkan bahwa kondisi pasien tidak sedang baik-baik saja.


Hendra dengan ditemani om Bayu, mengurus semua administrasi nya sesuai perintah perawat agar pasien dapat segera dipindahkan ke ruangan khusus.


Setelah Saras cukup tenang, Nisa menghampiri Alex yang terduduk dengan lesu di bangku yang lain. "Mas, gimana kondisi mereka?" Tanya Nisa pelan.

__ADS_1


Alex menggeleng lemah dan menghembus kasar nafas nya, "pak Gun kena serangan jantung dan mengakibatkan beliau mengalami stroke, sedangkan istri nya dinyatakan koma," jawab Alex lirih.


__ADS_2