
Hari terus berlalu, semua menjalankan aktifitas masing-masing seperti biasa nya. Begitupun dengan Ilham, sudah tiga hari ini dia mulai bersekolah di tempat yang baru.
Karena besok long weekend, ibu Lin menyuruh adik nya untuk mengundang Susan makan malam bersama di apartemen Fatima.
Semua sudah berkumpul, Devan yang tadi siang main di kantor Rehan dan mendengar Alvian mengajak kekasih nya untuk makan malam bersama keluarga besar nya pun merengek ingin ikut bergabung... dengan alasan mereka belum pernah mengenalkan nya pada kakak dan juga mertua dari sahabat-sahabat nya itu, dan malam ini Devan datang bersama sang istri.
Kehadiran Devan dan Lusi menambah hangat suasana di ruang keluarga, sengaja ibu Lin menggelar acara makan malam dengan lesehan di ruang keluarga yang lebih luas mengingat personil yang hadir bertambah banyak.
Mereka duduk melingkar, dan makan pakai tangan. Nampak mereka sangat menikmati hidangan makan malam hasil olahan tangan ibu Lin, masakan kampung dengan menu sederhana yang mampu menggugah selera. Ikan bakar, lele goreng, tempe penyet lengkap dengan sambal terasi serta lalapan nya.
"abang, Billa pengin ikan bakar.. tapi abang yang bersihin durinya ya?" Lirih Billa manja di telinga sang suami.
Rehan mengernyit,, kemudian tersenyum dan mengangguk.
Dengan sedikit kesusahan Rehan mencoba membersihkan duri-duri ikan dan memisah kan dengan daging nya. Daging ikan yang sudah bersih dia letakkan di atas piring sang istri, Nabila melihat ketelatenan sang suami dan tersenyum bahagia.
Ke tiga sahabat yang menyaksikan big bos RPA Group melakukan hal yang tak pernah mereka lihat sebelum nya itu, tersenyum menggoda. "Ehm,," Devan berdeham.
"Keselek duri lu Dev?! Minta bantuan si Rehan tuh,,," Alex memancing.
"Kalah mesra lu Dev sama dia.." timpal Alvian.
Rehan tak bergeming mendengar ejekan sahabat-sahabat nya, dia masih saja sibuk dengan aktifitas nya.
"Mbak, kok kamu manja banget sama suami mu," tegur ibu Lin pada putri sulung nya, "apa jangan-jangan kamu lagi ngidam mbak?" Selidik sang ibu.
Nabila menggeleng, "enggak kok bu, kemarin Billa baru selesai menstruasi," jawab Billa berbisik.
Rehan mengernyit...
Pak Ilyas yang mengerti kebingungan menantu nya pun ikut bicara, "pasal nya dulu waktu ibu hamil Billa, dia tuh manja banget sama ayah," ucap pak Ilyas mengenang bagaimana dulu repot nya dia meladeni keinginan sang istri.
"Dan ibu hanya mau di ladeni sama ayah," timpal ibu Lin seraya terkekeh.
Dengan spontan Rehan mengelus perut sang istri dengan punggung tangan nya yang bersih, "amit-amit,, jangan nyusahin daddy ya nak," ucap nya lirih.
"Abang, Billa kan belum tentu hamil?!" Protes nya pada sang suami.
"Pokok nya gue enggak mau ya kalau sampai nanti mbak Billa beneran hamil dan lu ngrepotin gue!" Ketus Alex memperingatkan, seraya tersenyum seringai.
__ADS_1
"Oke, dan mulai bulan ini, gaji lu kembali ke standard." Ancam Rehan dengan penuh kemenangan.
"Loh, enggak bisa gitu dong?!" Protes Alex.
Rehan hanya memasang wajah datar menanggapi protes Asisten Pribadi nya itu.
"Iya,, iya,, gue bantuin," akhir nya Alex mengalah.
Pak Ilyas dan ibu Lin hanya tersenyum mendengar obrolan mereka.
"Mulai makan aja yang, udah banyak tuh,," titah Rehan seraya menunjuk daging ikan yang sudah terkumpul banyak di atas piring. Nabila langsung mengambil nasi dan mulai makan, dia menyuapi diri nya sendiri dan sang suami bergantian.
"Sejak kapan lu suka makan ikan Rey?" Tanya Devan mengernyit.
"Emang, bang Rehan enggak suka makan ikan?" Tanya Nabila tak mengerti.
Devan menggeleng, "gue enggak pernah lihat, palingan dia makan salmon yang gue tahu," jawab Devan.
"Aw,," Rehan terpekik tertahan, "duh, jari abang ketusuk duri yang,,," ucap nya pelan.
"Abang hati-hati,,," Nabila panik dan reflek mengulum jari Rehan yang tertusuk duri ikan.
"Maaf ya bang, Billa enggak tahu kalau abang enggak suka makan ikan," sesal Nabila.
"Suka yang,, siapa bilang abang enggak suka? Bukti nya waktu di warung tenda abang makan nya lahap kan?"
"Lu makan di warung tenda Rey?!" Tanya Alex tak percaya.
"Sungguh berita yang mengejutkan, seorang Rehan Putra Alamsyah makan di warung pinggir jalan," Devan menimpali.
"Bukankah cinta memang bisa merubah segala nya Dev? Bukti nya si Rehan kan,,, dia yang terkenal dingin bisa jadi bucin," Alvian menambahkan.
Ilham yang mendengarkan obrolan orang dewasa itu hanya senyum-senyum.
"Tutup telinga mu dik, kalau udah enggak kuat lambaikan tangan," ucap Nisa seraya terkekeh.
"Ih,, mbak Nisa, memang nya Ilham lagi ikutan acara yang serem-serem?!" Protes Ilham, "eh, benar juga ya... mereka berempat kan emang serem!" Ucap Ilham seraya tergelak.
"Nang,, lagi makan ketawa sampai kayak gitu..?!" Tegur pak Ilyas pada putra bungsu nya.
__ADS_1
Ibu Lin hanya geleng-geleng kepala, begitu pun dengan Lusi dan Susan.
"Silahkan dik Susan, nambah makan nya," titah ibu Lin pada calon adik ipar nya.
Susan tersenyum dan mengangguk, "udah cukup kak," balas nya dengan sopan.
"Nak Lusi nambah lagi, jangan sungkan," titah ibu Lin sambil menyodorkan lauk yang nampak nya disukai sahabat putri nya itu, "Billa sering cerita loh tentang kamu sama ibu di telpon, makasih ya sudah jadi sahabat yang baik untuk putri ibu," ucap ibu Lin tulus di sela-sela makan nya kepada Lusi.
"Sama-sama bu, Lusi juga senang punya sahabat kayak Billa. Orang nya baik, lembut dan ramah. Di kantor banyak yang naksir loh bu sama dia," ucap Lusi tanpa dosa.
"Uhuk,, uhuk,," sontak Rehan tersedak.
Dengan sigap Nabila memberikan minum untuk sang suami, "pelan-pelan abang," bisik Nabila.
"Cemburu lu Rey,,?!" Ejek Devan.
Rehan melotot kearah Devan, yang hanya ditanggapi dengan senyum kuda oleh suami Lusi tersebut.
"Gue aja senang kalau istri gue banyak yang naksir, itu artinya istri gue wanita tercantik sedunia," ucap Devan mulai menggombal, seraya melirik mesra sang istri.
Lusi cemberut dan mencubit kecil perut sang suami.
Begitulah acara makan malam keluarga besar pak Ilyas dan ibu Lin, makan malam sederhana yang diwarnai dengan obrolan serta candaan hangat dari adik, anak, menantu dan juga sahabat nya.
Mereka masih melanjutkan obrolan, bi Surti dan bi Sumi membereskan semua sisa makanan dan membawa nya turun ke dapur.
Susan, Lusi dan Nisa tak mau berpangku tangan, dengan cekatan mereka bertiga membantu juru masak itu untuk mencuci perlengkapan makan. Mereka mengerjakan nya dengan bercanda ria, seolah mereka bertiga adalah sahabat lama.
Hingga acara makan malam selesai, Kevin belum juga nampak batang hidung nya. "Kevin dan bibi kapan pulang Bill?" Tanya Alvian pada keponakan nya.
"Palingan bentar lagi om, tadi bi Ani telpon kata nya sudah jalan pulang," jawab Nabila.
Ya, sejak pagi tadi Kevin merajuk karena ingin ikut bibi pengasuh nya ke Bandung untuk menengok saudara nya yang sakit. Atas ijin sang daddy akhir nya Kevin diperbolehkan ikut, tapi bi Ani tidak boleh menginap. Karena khawatir bi Ani kerepotan di jalan, akhir nya bi Asih pun ikut untuk membantu bi Ani menjaga Kevin.
Saat tengah asyik ngobrol terdengar ponsel Alvian bergetar di saku celana nya, dengan cepat dia mengambil dan terlihat nama Ny. Yusuf di layar ponsel nya. "Fatima telpon," ucap nya sekilas melirik Rehan, dan kemudian segera mengangkat nya.
"Halo,, wa'alaikumsalam Fa,, ada kabar apa?" Tanya Alvian yang sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan Fatima, dia nampak tak sabar.
Alvian nampak khusyuk mendengar kan,,, "serius Fa?! Baik, gue akan segera terbang ke sana besok. Makasih banyak ya Fa.." ucap Alvian dengan antusias.
__ADS_1