
Tepat jam empat sore, semua keluarga besar Alvian plus Devan dan sang istri telah berkumpul di ruang pertemuan rumah utama. Wajah-wajah mereka nampak sangat bahagia, dan aura nya semakin terpancar dengan busana muslim dan muslimah yang mereka kenakan.
Kevin dan sang daddy memakai baju koko yang sama persis, berwarna biru laut dengan peci hitam menutup kepala nya. Daddy muda berwajah blasteran itu terlihat semakin tampan, begitupun dengan putra kecil nya, sangat tampan dan menggemaskan.
Sedangkan sang mommy memakai gamis berwarna senada dengan payet-payet cantik yang menghiasinya, disempurnakan dengan hijab yang semakin membuat mommy yang tengah hamil muda itu terlihat sangat anggun dan manis.
Begitupun dengan Ilham, remaja sedang tumbuh itu terlihat sangat ganteng dengan koko berwarna abu-abu. Namun saat ini dia terlihat gugup dan merasa was-was. Pasal nya, teman gadis yang di tunggu nya belum juga menampakkan batang hidung nya. Padahal, ini sudah telat setengah jam dari waktu yang telah mereka berdua sepakati sebelum nya.
Sedangkan pak Ilyas dan yang lain nya, nampak mereka tengah mengobrol hangat dengan beberapa tamu yang terdiri dari tetangga-tetangga sekitar yang telah hadir sebagian. Begitupun tamu undangan khusus Alvian yaitu para manager di perusahaan Bintang Kejora, juga ada beberapa yang telah hadir.
Kevin yang duduk lesehan diantara sang daddy dan om ganteng nya bersuara, "om ganteng kenapa sih? Dari tadi lihatin pintu terus?" Tanya bocah kecil itu merasa penasaran.
"Om Ilham lagi nungguin teman nya nak,," jawab sang daddy sambil berbisik.
Sedangkan Nabila yang duduk di samping sang suami, hanya diam mendengarkan obrolan mereka.
"Teman nya cewek ya om? Pacar nya om Ilham ya?" Tanya bocah itu lagi yang nampak masih kepo pada om ganteng nya.
Rehan tersenyum, pasal nya putra kecil nya berbicara dengan suara yang lantang hingga mengundang perhatian semua yang hadir di ruang utama yang sangat luas itu. "Sst,, pelan kan suaramu nak," pinta nya lirih pada sang putra.
Sedangkan Ilham wajah nya memerah, remaja itu malu karena juga jadi pusat perhatian terutama oleh ayah dan ibu nya yang duduk agak jauh dari nya.
"Baik daddy,," balas Kevin seraya ikut berbisik, "tapi benar kan dad, om Ilham punya pacar?" Tanya Kevin masih sambil berbisik.
"Kevin tahu darimana?" Bisik Rehan.
Kevin menoleh kearah Ilham, "om Ilham yang bilang, katanya pacar nya cantik kayak mommy pakai kerudung," jawab Kevin menirukan cerita dari Ilham.
"Hai bocah,, om gak pernah bilang kalau dia pacar om ya? Tapi teman dekat,," protes Ilham pada keponakan kecil nya, dengan berbisik.
Tamu undangan terus berdatangan, yang disambut hangat oleh Alvian dan papa Johan serta pak Ilyas, sedangkan di sudut lain obrolan antara Ilham dan Kevin masih terus berlanjut.
__ADS_1
"Tapi kan om bilang suka lihatin wajah nya yang cantik, itu nama nya pacar om! Kayak om Alex dan tante Nisa.. Kevin sering lihat om Alex lagi lihatin tante Nisa terus dan kemudian memuji nya cantik," jawab Kevin tak mau disalahkan, kali ini Kevin lupa dengan peringatan dari sang daddy untuk memelankan suara nya.
Alex dan Nisa saling pandang dan kemudian tersenyum.
"Kalau om Ilham naksir sama teman cewek nya om, kenapa enggak menikah saja.. seperti daddy dan mommy Kevin? Dulu awal nya daddy juga suka lihatin mommy terus, dan senyum-senyum sendiri?" Ucap Kevin yang semakin ngelantur kemana-mana.
Rehan dibuat malu oleh ulah putra nya yang telah membuka kartu nya, sedangkan sang mommy hanya tersenyum dan melirik sang suami.
"Om Alex juga tuh,, kenapa enggak nikah sama tante Nisa?! Padahal om Alex sering iri lihat daddy nempel mulu sama mommy,, kata nya?" Lanjut Kevin sambil menatap om Alex nya.
Alex terkejut, tak menyangka bakal kena sindir dari anak sekecil Kevin.
Ketika semua perhatian sedang tertuju pada bocah kecil menggemaskan putra dari daddy tampan Rehan, terdengar suara lembut seorang gadis mengucap salam.
"Assalamu'alaikum," ucap salam dari remaja cantik dengan dress panjang berwarna silver dan pashmina dengan motif kupu-kupu kecil yang menutup kepala nya, dia menganggukkan sedikit kepala nya dan tersenyum manis kepada semua orang.
"Wa'alaikumsalam," jawab semua yang hadir di ruang pertemuan tersebut.
Alex terkejut setelah menyadari siapa yang datang, dan dia pun langsung berdiri, "dik Jihan?"
Gadis yang dipanggil pun menoleh, dan dia pun nampak tak kalah terkejut, "bang Alex? Kok bang Alex ada disini juga?" Tanya gadis yang bernama Jihan itu kepada Alex.
Alex tersenyum, "duduk dulu sini dik, acara sudah mau di mulai." Titah Alex sambil menunjuk tempat kosong di samping Nisa.
Akhirnya Jihan pun menuruti perintah Alex, sedangkan yang lain hanya menyimpan tanya di hati tentang siapa kah Jihan dan kenapa Alex mengenal gadis remaja tersebut.
Dan benar saja, ustadz dari Masjid di komplek kawasan elit yang sengaja di undang khusus oleh Alvian untuk memimpin tahlil dan do'a bersama dalam acara selamatan hunian baru nya telah hadir di tengah-tengah mereka.
Pak Ilyas yang di daulat untuk membawakan acara selamatan pada sore hari itu, segera membuka acara dengan sedikit kata pembuka yang disampaikan dengan santai namun tetap khidmat tersebut.
Rangkaian demi rangkaian acara berjalan dengan lancar, Kevin pun nampak khusyuk ikut membaca tahlil meski masih dengan terbata-bata.
__ADS_1
Dan ketika do'a penutup dalam acara selamatan hunian baru itu dilantunkan oleh pak ustadz, bocah kecil itu mengaminkan dengan suara yang lantang hingga membuat sebagian yang hadir tersenyum melihat betapa lucu dan pintar nya Kevin yang dengan tertib mau mengikuti rangkain acara tahlil tersebut hingga selesai.
Setelah menutup do'a nya, pak ustadz memanggil Kevin dengan melambaikan tangan nya seraya tersenyum. Kevin pun mendekat, "siapa nama kamu anak pintar?" Tanya pak ustadz sambil menyalami Kevin.
Kevin menyambut tangan pak ustadz dan mencium punggung tangan laki-laki paruh baya dengan wajah yang berkharisma tersebut, "nama saya Kevin kek?" Jawab Kevin dengan memanggil pak ustadz tersebut dengan panggilan kakek, pasal nya menurut Kevin usia pak ustadz tidak jauh berbeda dengan kakek nya.
"Anak pintar,," ucap pak ustadz sambil mengusap lembut puncak kepala Kevin, dan kemudian ustadz tersebut mengeluarkan selembar uang ratusan ribu rupiah dan memberikan nya kepada bocah kecil itu. "Terimalah nak,,, ini untuk mu," sambil menatap netra biru milik Kevin dengan tulus.
Kevin menggeleng, "ini untuk apa kakek ustadz? Bahkan uang daddy Kevin lebih banyak dari ini, dan daddy bilang Kevin tidak boleh menerima pemberian dari sembarang orang," tolak nya dengan halus sambil menoleh kearah daddy dan mommy nya.
Rehan nampak tak enak hati mendengar perkataan putra nya, sedangkan tamu undangan Alvian dari perusahaan yang sebagian sudah mengenal bos RPA Group itu tersenyum.
Nabila mengangguk, memberi isyarat pada putra nya agar mau menerima nya.
"Tapi kek, mommy ku bilang.. jika ini adalah hadiah yang diberikan dengan tulus maka Kevin harus menerima nya sebagai rizqi dari Allah untuk Kevin melalui kakek," lanjut Kevin bersedia menerima dengan syarat.
Obrolan antara Kevin dan pak ustadz masih berlanjut, sedangkan para pelayan mulai menghidangkan makanan.
Pak ustadz yang kharismatik itu tersenyum, "iya, ini hadiah dari kakek untuk mu nak, dan kakek tulus memberikan nya," ucap pak ustadz sambil menyodorkan kembali uang kertas berwarna merah tersebut kepada Kevin.
Kevin menerima nya dengan wajah berbinar, "terimakasih kakek, semoga Allah mengganti nya dengan yang lebih banyak buat kakek," ucap nya dengan suara riang.
"Sama-sama nak," balas pak ustadz sambil tersenyum lebar.
"Mari, silahkan dinikmati hidangan yang seadanya ini," ucap pak Ilyas mempersilahkan kepada tamu nya.
Para tamu undangan mulai menikmati hidangan yang disediakan oleh tuan rumah.
Sedangkan Kevin setelah menerima uang tersebut langsung berlari kecil menghampiri daddy tampan nya, "daddy,, lihat lah, Kevin punya uang.. ini buat daddy saja ya, buat nambahin modal daddy," ucap nya dengan polos.
Rehan terharu mendengar penuturan putra kecil nya, begitupun dengan Nabila. Sedangkan yang lain tersenyum,,,
__ADS_1