Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Malam Pertama yang Basi


__ADS_3

Di sebuah hotel berbintang yang terletak bersebelahan dengan gedung dimana resepsi pernikahan Hendra dan Saras di gelar siang tadi, terlihat keluarga besar Hendra dan Saras tengah berkumpul di meja makan.


Mereka menikmati hidangan makan malam yang nikmat hasil karya tangan dingin chef yang bekerja di hotel tersebut, perbincangan hangat tercipta terdengar dari obrolan-obrolan mereka yang sesekali diiringi dengan canda dan tawa kecil.


Dua keluarga besar itu adalah Hendra dan orang tuanya serta kedua adiknya. Saras bersama mama dan papa nya, juga terlihat oma dan opanya yang juga masih berada di sana.


"Berapa malam kalian akan menginap disini?" Tanya oma pada Saras dan Hendra, sang pengantin baru.


"Hanya malam ini oma," jawab Saras cepat, "besok kami akan terbang ke Bali untuk honeymoon selama seminggu," lanjutnya dengan suara riang.


"Oh,,," terlihat sang oma mengangguk dan tersenyum, " oma senang mendengarnya. "Mau kado apa dari oma?" Lanjut oma kepada cucu perempuan satu-satunya yang oma punya.


Oma memiliki dua putri, mamanya Saras dan adiknya yang kini menetap di negeri matahari terbit mengikuti suaminya yang berkewarganegaraan Jepang. Dan saat ini tante Michelle sedang sibuk mengurus putra tunggalnya yang minggu kemarin mengalami kecelakaan, sehingga dia dan suaminya tidak dapat hadir di acara resepsi pernikahan keponakan satu-satunya itu.


"Saras mau dibeliin mobil, boleh ya oma?" Pinta Saras dengan manja, "itu loh oma, yang kayak punyanya istri sultan di sinetron yang tiap hari tayang di televisi?" Lanjutnya menjelaskan mobil mewah keinginannya.


Terlihat oma dan opanya saling melempar pandangan, sedetik kemudian, "oh, yang itu,,, boleh aja," jawab oma enteng, yang disetujui pula oleh sang opa dengan anggukkan kepala.


"Apa sih yang enggak buat cucu kesayangan opa,,," timpal opa sambil mengusap lembut pucuk kepala Saras yang duduk di sampingnya.


"Silahkan lho jeng makanannya," ucap mama Anita, mamanya Saras kepada besannya, bu Dian. "Ini masih banyak, sayang kalau tidak dihabiskan," lanjutnya lagi sambil menyodorkan beberapa makanan kehadapan bu Dian dan keluarganya.


"Iya jeng Nita, nanti pasti kami habiskan," jawab bu Dian sedikit malu-malu.


"Benar bu Dian, pak Pram... mari kita lanjut makannya, kita habiskan sama-sama," timpal pak Gunawan, papanya Saras kepada pak Pramono dan istrinya. "Ayo anak-anak lanjut lagi," titahnya pada kedua adik Hendra.


"Baik om,,," jawab kedua adik Hendra kompak.


Sementara Hendra sedari tadi terlihat hanya diam membisu, tidak seperti yang lainnya dia seolah tidak dapat menikmati acara makan malam keluarga ini dengan baik. Pikirannya terus tertuju pada mantan tunangannya, entah apa yang dipikirkan nya sekarang. "Benarkah yang aku dengar siang tadi Billa? Secepat itukah kamu berpaling?" Gumamnya dalam hati.


Saras yang menyadari sikap aneh suami yang baru tadi siang berdiri berdampingan dengannya di pelaminan menjadi bertanya-tanya, "apa sih yang kamu pikirkan honey?" Bisik nya lirih di telinga sang suami.


Hendra terkejut mendapatkan pertanyaan yang tidak dia sangka itu, "eh,,, tidak ada kok Ras, aku hanya sedikit lelah," kilahnya terbata.


Menyaksikan bisik-bisik dari kedua pengantin baru, membuat sang mama berdeham, "ehm,,, ini masih sore lho sayang, baru pukul delapan," ucap mama Anita lembut sambil melirik kearah putrinya dengan lirikan yang menggoda.

__ADS_1


"Ih,,, apaan sih mama, orang kita ngobrol biasa saja kok," ucap Saras cemberut.


"Lagian mama kamu ini kayak enggak pernah muda saja," timpal oma, "bahkan mama dan papa kamu dulu itu, selepas mandi sore tidak keluar-keluar lagi dari kamar sampai mereka melewatkan makan malam nya," lanjut oma membongkar rahasia anak dan menantunya.


"Oma,,," seru mama Anita dan papa Gunawan bersamaan seraya menahan malu, karena masa lalunya saat menjalani malam pengantin baru telah dibicarakan dihadapan besannya.


Pak Pram dan bu Dian hanya tersenyum simpul,,,


Sedangkan Saras terkekeh kecil dan mulai menggoda papa dan mamanya yang masih terlihat menahan rasa malu, "cie... pantesan saja oma, kalau papa keluar kota mama pasti ikut," sambil melirik kearah mamanya dengan senyuman menggoda, "ujung-ujungnya Saras yang jadi korban deh, karena harus di tinggal di rumah sendirian," lanjut Saras bernada protes kepada kedua orang tuanya.


"Kan ada bibi dan paman yang nemenin kamu?" Kilah mamanya tidak mau mengalah.


"Sudah, sudah,,," oma menengahi, "sebaiknya kalian segeralah ke kamar, nikmati malam indah kalian sebagai pengantin baru," titahnya pada Saras dan Hendra.


"Baik oma," jawab Hendra yang sudah menyelesaikan makannya sedari tadi, segera berdiri dan berpamitan kepada kedua mertuanya dan juga kedua orang tuanya serta adik-adiknya, yang langsung diikuti oleh Saras. "Kami permisi dulu," ucap Hendra sambil mengangguk sopan dan segera berlalu, Saras nampak mengekor di belakangnya.


"Oma juga sudah sangat lelah, maklum faktor usia tidak dapat dibohongi," ucapnya becanda, "besan kami istirahat dulu," pamit oma kepada kedua orang tua Hendra, dan segera diikuti oleh opa yang juga segera beranjak dari tempat duduknya.


Setelah beberapa saat, "Besan kalau sudah lelah silahkan bisa istirahat di kamar," ucap mama Anita kepada besannya. "kalian juga nak, istirahatlah di kamar kalian yang sudah disiapkan," titahnya pada kedua adik Hendra.


"Pak Pramono yang memang sudah terlihat lelah segera mengiyakan, " baiklah pak, bu, kami permisi ke kamar dulu," pamitnya segera beranjak yang diikuti oleh bu Dian dan kedua anaknya, "mari om, tante," pamit kedua adik Hendra sopan.


*****


Sementara di dalam kamar pengantin, Hendra nampak duduk sambil memejamkan matanya dan bersandar pada kepala ranjang yang bertabur dengan bunga mawar merah. Saras yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri bergegas menghampiri suaminya, "honey,,," bisik nya sangat lembut di telinga Hendra, sambil menghembus nafasnya untuk menggoda sang suami.


Melihat aksinya tidak direspon, Saras kemudian menindih tubuh suaminya dan memberikan ciuman untuk laki-laki yang kini telah syah menjadi suaminya itu. Saras mengecup lembut kedua pipi Hendra secara bergantian, kecupan yang basah dan hangat. Beberapa saat berlalu, Hendra masih belum bergeming. Saras kembali melabuhkan ciuman dan kali ini di bibir suaminya dengan kecupan yang panas dan menggoda.


Bukannya tergoda, Hendra justru mendorong tubuh Saras hingga terguling di sisinya. "Aku capek banget Ras, aku juga sudah mengantuk," ucap Hendra malas seraya menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut, dan memiringkan tubuhnya untuk memunggungi Saras.


Saras terdiam, nampak dia mengerutkan dahinya berfikir, "baiklah, tidurlah,,," ucap Saras sedikit kecewa.


Tak berapa lama terdengar dengkuran halus dari Hendra, yang menandakan bahwa laki-laki itu telah terlelap.


"Ada apa sih dengan Hendra? Enggak biasanya dia menolak ku,,, biasanya hanya dengan sedikit sentuhan dia akan langsung terbangun dan segera menyerang ku, tapi kali ini?" Saras bergumam pada dirinya sendiri sambil terus berfikir, "pasti dia kepikiran Nabila! Gara-gara kehadiran gadis itu di pesta pernikahan kami tadi siang, malam pertama ku jadi berantakan!" Lanjutnya bermonolog dengan nada penuh emosi.

__ADS_1


Saras mencoba menenangkan dirinya, dan mengatur ritme nafasnya yang tidak beraturan.


"Honey,,," bisik Saras lirih di telinga Hendra, mencoba membangunkan suami yang baru siang tadi menikahinya.


"Hem,,," Hendra hanya bergumam, dan kemudian kembali melanjutkan tidurnya.


"Pengin di peluk," rajuk Saras dengan manja, masih mencoba membangunkan kesadaran Hendra yang kembali terlelap. "Baby nya yang diperut pengin di elus sama ayah,,," Saras mulai melancarkan aksinya untuk membuat Hendra bangun.


Dan benar saja, mendengar Saras menyebut baby dalam perut Hendra langsung membalikkan tubuhnya menghadap Saras.


"Benarkah?" Tanya Hendra dengan mata yang masih terlihat mengantuk.


"Iya,,, aku enggak bisa tidur kalau enggak dipeluk sama Ayah?" rajuk Saras manja dengan menirukan suara anak kecil.


"Hem,,, sini aku peluk," Hendra pun mengalah, dan kemudian memeluk Saras, "tidurlah Ras, kamu pasti juga capek kan?" titahnya pada istrinya yang berada dalam pelukannya.


Beberapa saat kemudian, "honey, aku enggak bisa bobok,,," rengek Saras.


"Kenapa lagi?" Suara Hendra mulai meninggi, karena merasa tidurnya selalu diganggu.


"Ini kan malam pertama kita,,, masak kita langsung tidur sih?" Gerutu Saras dengan mengerucutkan bibirnya.


"Terus harus ngapain?" Tanya Hendra tak habis pikir.


"Ya ngapain lah,,," jawab Saras kesal, karena suaminya tidak peka apa maunya. "Kita kan bisa ngobrol dulu, dan menghabiskan malam pertama dengan bermesraan dan menikmati sesuatu yang istimewa,,," pinta Saras mengungkapkan keinginannya.


"Malam pertama yang basi," gumam Hendra dengan suara berat, seperti ada beban berat yang mengganjal di benaknya.


"Maksud kamu?" Tanya Saras ketus, karena tidak menyukai kata-kata Hendra barusan.


"Bukannya malam pertama kita telah lewat? Bahkan kita sudah sering menghabiskan malam-malam bersama sebelumnya? Apakah masih ada yang tersisa yang istimewa dari dirimu? Bahkan semua sudah aku nikmati bukan?" Cecar Hendra dengan penuh emosi.


Saras terdiam, hatinya sangat sakit mendengar ucapan suaminya barusan. "Kenapa seakan kamu hanya menyalahkan aku seorang? Bukannya kamu juga menikmatinya selama ini?" Lirih Saras dengan nada kecewa.


"Itu karena kamu yang menggodaku terlebih dahulu, kamu selalu melakukan berbagai cara untuk membangkitkan gairah ku,,, bahkan, kamu juga kan yang menaruh obat perangsang di minuman ku saat pertama kali kita berhubungan?" Hendra membongkar semua yang dia ketahui. "Kalau saja kamu tidak mengandung anakku, tak sudi aku menikahi mu!" Ketus Hendra dan segera menutupi kembali tubuhnya dengan selimut untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.

__ADS_1


Saras terdiam,,,


Waktu terus berlalu, tapi Saras tak kunjung dapat memejamkan matanya. Jam di dinding kamarnya telah menunjukkan pukul dua dinihari, Saras bangkit dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. "Aku tidak akan membiarkan dia bahagia,,," bisik nya lirih, dan terlihat dia menghubungi seseorang melalui sambungan telepon.


__ADS_2