
Sementara di apartemen Rehan, nampak semua berkumpul di ruang keluarga yang terletak di lantai dua setelah menyelesaikan acara makan siang bersama. Ya, Rehan memutuskan untuk makan siang di apartemennya agar bisa bersama-sama dengan Kevin setelah urusan di butik kakaknya selesai, yang disetujui oleh Fatima dan juga sang kekasih pujaan hati.
Kevin terlihat sangat gembira, karena dapat kejutan istimewa dengan hadirnya Fatima yang tiba-tiba tanpa memberi kabar sebelumnya. "Bunda lama kan tinggal di sini, Kevin seneng deh kalau ada bunda," rajuk nya dengan manja, sambil bergelayut di lengan Fatima. Kevin memanggil Fatima dengan sebutan Bunda, sama seperti putra putri Fatima memanggilnya.
"Maaf sayang, tapi Bunda besok harus kembali,,," ucap Fatima sendu, dia tidak tega melihat putra kandung dari adik bungsunya yang telah meninggal itu bersedih. "Tapi Bunda janji, akan sering mengunjungi Kevin," lanjutnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya kearah keponakan kecilnya itu.
Kevin terdiam, nampak dia tidak suka dengan jawaban dari Fatima.
"Hei anak pintar,,," ucap Rehan seraya mengelus pucuk kepala Kevin, "kalau Bunda disini lama kan kasihan sama bang Zaki dan kak Fira, lagian Kevin kan sudah ada tante mommy yang menemani?" Bujuk Rehan pada putranya.
Bocah kecil itu masih diam dan semakin menundukkan wajahnya.
"Daddy benar sayang," Fatima menimpali, "ayo mana jari kelingkingnya?" Lanjutnya memohon, "Bunda janji nanti kalau libur sekolah, Bunda akan ajak bang Zaki dan kak Fira untuk berlibur lama di sini," ucap Fatima sungguh-sungguh.
Dengan perlahan Kevin menjulurkan jari kelingkingnya dan mengaitkannya dengan jari kelingking Fatima, "tapi Bunda,,," Kevin menghentikan ucapannya.
"Kenapa nak?" Selidik Fatima menatap dalam netra kebiruan milik Kevin.
"Tante mommy enggak bisa setiap saat menemani Kevin, seperti Bunda menemani bang Zaki dan kak Fira,,," ucap bocah itu dengan sendu, dan segera melepaskan tautan jari kelingkingnya.
Rehan yang mendengar penuturan Kevin hatinya merasa sakit, tanpa sadar sebutir kristal bening jatuh di sudut matanya. Buru-buru laki-laki tampan itu mengusap wajahnya kasar, seraya menghembus nafasnya kuat-kuat untuk melepaskan beban di hatinya.
Fatima sempat melihat Rehan menitikkan air matanya, "kamu sudah menjadi daddy yang terhebat untuk Kevin, kakak bangga padamu dik,,," ucap Fatima sambil menepuk punggung adiknya. "Dan kakak berharap, semoga tak lama lagi kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang utuh untuk dirimu sendiri dan juga untuk Kevin," do'a nya dengan penuh keyakinan.
Nabila yang menyaksikan semua itu hanya terdiam, dia melirik kearah laki-laki yang sudah mengisi hatinya itu bersamaan dengan Rehan yang juga tengah melihat kearahnya. Cukup lama mereka saling tatap, hingga suara kecil Kevin mengagetkan mereka berdua.
"Tante mommy,,," Kevin memanggil Nabila dengan tersenyum manis, seolah kesedihan yang bertahta dihatinya telah sirna. "Nanti malam tante mommy nginap disini ya,,, please?" Rajuk nya memohon. "Kan ada Bunda juga, jadi ramai-ramai kita bobok nya," lanjut bocah itu dengan suara manjanya.
"Pasti sayang, tante mommy pasti mau bobok disini menemani Kevin," sahut Rehan dengan antusias.
__ADS_1
"Iya sayang, Bunda juga akan bobok disini saja menemani keponakan kesayangan Bunda," timpal Fatima sambil mengusap lembut kepala bocah kecil itu, "tapi sekarang Bunda pulang ke rumah utama dulu ya, karena ada yang harus Bunda selesaikan," lanjutnya menjelaskan pada keponakan nya.
Nabila melihat kearah Rehan dan Fatima bergantian, seolah menuntut penjelasan dari keduanya.
Fatima yang mengerti kegelisahan Nabila berkata, "kakak mohon ya dik, menginap lah di sini," pintanya penuh harap.
"Abang tahu kamu pasti sungkan nginap di apartemen laki-laki yang belum jadi muhrim, tapi ini kan ramai-ramai,,, ada kak Fatima juga kan?" Bujuk Rehan pada gadisnya, "atau kamu mau abang jadiin muhrim sekarang?" Goda Rehan pada gadis berhijab yang telah memporak-porandakan hatinya.
"Apaan sih abang,,," lirih Nabila dengan mengerucutkan bibirnya.
"Hemmm,,, modus," ketus Fatima mencibir kearah sang adik.
"Kakak,,, bukannya belain adiknya dan kasih dukungan, malah mencibir," sahut Rehan pura-pura kesal pada Fatima.
"Jadi gimana nih, tante mommy jadi kan bobok sini bareng kita?" Protes Kevin yang sedari tadi menunggu tapi Nabila belum juga menjawab keinginannya, tapi ketiga orang dewasa itu malah asyik berdebat
Merasa menjadi bahan tertawaan, Kevin bukannya marah namun malah ikut tertawa senang bersama tiga orang dewasa yang sangat menyayanginya itu.
Beberapa saat berlalu, "baiklah, kakak mau keluar sekarang karena masih ada urusan,,, biar nanti pulangnya ke sini enggak terlalu sore," pamit Fatima seraya beranjak dari tempat duduknya. "Kamu mau dibeliin apa sayang?" Tanya Fatima pada sang keponakan.
"Kevin mau donut Bunda, dengan toping coklat dan strawberry bertabur keju," pintanya dengan antusias.
"Baiklah, nanti Bunda belikan seperti yang kamu mau," Fatima mencium pucuk kepala bocah kecil yang menggemaskan itu, "assalamu'alaikum,,," dan segera berlalu meninggalkan ketiganya setelah mengucapkan salam.
*****
Setelah kepergian Fatima dan Kevin yang dibawa sama bibi Ani ke kamarnya untuk tidur siang, kini tinggallah Nabila dan Rehan yang terlihat masih duduk di sofa di ruang keluarga itu.
"Bill,,," panggil Rehan lembut sambil menatap hangat gadis yang duduk agak jauh darinya, "ada yang mau abang tanyakan," ucapnya dengan serius.
__ADS_1
"Iya, ada apa bang?" Selidik Nabila mulai penasaran.
"Kapan abang boleh berkunjung ke rumah kamu, untuk menemui kedua orang tua mu?" Tanya Rehan dengan tanpa mengalihkan pandangannya dari netra gadis berhijab itu. "Saat itu kamu bilang, abang boleh melamar kamu kalau kamu sudah mendapatkan pekerjaan kembali. Dan sekarang kamu sudah bekerja bukan?" Rehan menuntut jawaban dari kekasih hatinya.
Suasana nampak hening, Rehan terlihat gelisah menanti jawab dari sang pujaan hati.
Sedangkan Nabila masih merasa gamang, "bang,,," panggil Nabila lirih, sambil menatap dalam manik mata kebiruan milik pangeran tampan yang telah berhasil masuk kedalam mimpinya.
"Iya, katakanlah sayang,,, abang ingin dengar apa yang membuatmu ragu saat ini," ucap Rehan tatkala menangkap ada keraguan yang mengusik hati gadisnya terlihat dari manik hitam milik Nabila.
Nabila seketika menundukkan wajahnya, "Jujur Billa akan dengan senang hati menerima lamaran abang," ucapnya dengan malu-malu, rona merah nampak menghiasi wajah ayunya. "Tapi,,, apakah kedua orang tua abang enggak akan malu memiliki calon menantu seperti Billa?" Lirih nya ragu seraya kembali menatap dalam netra laki-laki pengisi hatinya.
"Kenapa orang tua abang harus malu?" Tanya Rehan tak mengerti.
"Karena Billa hanya gadis biasa, dan keluarga Billa di kampung tidak sebanding dengan keluarga abang," ucapnya lirih.
"Papa dan mama tidak pernah menilai seseorang dari sisi luarnya, dan bagi beliau berdua yang terpenting adalah kebahagiaan putra dan putrinya." Rehan menghentikan sejenak ucapannya, "Dan jika kamu adalah kebahagiaan bagi abang, tentu kedua orang tua dan juga keluarga besar abang akan menerima kehadiran kamu dengan kedua tangan terbuka," lanjut Rehan mencoba meyakinkan kekasihnya.
Beberapa saat suasana kembali hening,,,
"Billa,,, kamu adalah yang terbaik yang dikirim Tuhan untuk kami," sejenak Rehan menjeda ucapannya, "untukku dan untuk putraku," ucap Rehan dengan penuh keyakinan.
Nabila mendongakkan wajahnya, memberanikan diri meneliti keseriusan di wajah tampan milik Rehan.
"Minggu depan abang berencana mengajak kamu untuk menemui papa dan mama di Singapura, kamu mau kan?" Tanya Rehan dengan memohon.
Nabila hanya menganggukkan kepala, sebagai tanda bahwa dia menyetujui keinginan Rehan.
"Makasih sayang,,," Rehan tersenyum puas, "Abang ingin kamu berkenalan langsung dengan kedua orang tua abang, dan sepulangnya dari sana abang harap kamu sudah punya keputusan untuk segera abang pinang," ucap Rehan dengan sangat antusias.
__ADS_1