
Waktu berjalan begitu cepat, siang dan malam pun datang dan pergi silih berganti. Tanpa terasa, hari bahagia yang di tunggu-tunggu keluarga besar papa Johan untuk menggelar pesta pernikahan Alvian dan Susan pun hampir tiba.
Sehari sebelum pesta, keluarga besar pak Ilyas semua telah berkumpul dan menginap di hunian impian mereka yang baru seminggu yang lalu mereka tempati. Nabila dan sang suami yang setelah selamatan hunian baru selesai dan telah kembali ke apartemen pun, mulai hari ini akan menginap di paviliun milik mereka berdua hingga dua hari ke depan.
Keluarga papa Sultan yang mendapat undangan khusus pun telah hadir lebih awal, bersama Fatima dan Yusuf beserta kedua putra dan putri nya yang langsung terbang dari Singapura. Alvian juga mengundang bibi Carla yang berdomisili di Paris, adik satu-satu nya yang dimiliki papa Sultan, beserta Vincent, ayah kandung Kevin. Semua telah hadir dan menempati kamar tamu di lantai atas rumah utama hunian keluarga Bintang Kejora.
Suasana di hunian yang luas yang belum lama ditempati oleh keluarga besar Alvian dan kakak nya itu nampak semakin rame, di tambah dengan kehadiran Nina, adik sepupu dari Devan yang ikut menginap di paviliun milik sang kakak karena tidak berani berada di rumah sendirian karena orang tua mereka sedang keluar kota.
Kini mereka semua tengah berkumpul menikmati senja di halaman belakang rumah utama, yang berhadapan langsung dengan kolam renang. Nampak Ilham yang baru saja pulang dari sekolah langsung berbaur dengan keluarga besar nya dan keluarga besar kakak ipar nya itu, meski lelah karena jarak yang harus di tempuh jika pulang ke hunian keluarga nya cukup jauh tak membuat Ilham menolak saat langsung didaulat sang keponakan untuk menemani nya berenang.
Dengan antusias remaja yang sedang tumbuh itu langsung menggiring ketiga keponakan nya untuk masuk kedalam kolam khusus anak-anak, "bang Vincent, ayo.." teriak Ilham pada pria bule yang tengah berdiri di bibir kolam sambil bersedekap mengamati putra nya.
"Papi,, sini,,," seru Kevin ikut berteriak memanggil papi Vincent nya.
Vincent menoleh kearah Rehan, yang kemudian di respon baik oleh daddy tampan itu dengan mengangguk.
Dengan buru-buru Vincent yang saat ini mengenakan t-shirt dan celana pendek itu, segera melepas t-shirt nya dan langsung menceburkan diri di dalam air. Terlihat Kevin sangat senang dengan kehadiran papi nya yang ikut bermain air bersama nya, suara riuh anak-anak yang bermain air dan suara canda tawa dari Ilham dan Vincent terus terdengar meramaikan senja di hunian keluarga Bintang Kejora.
Nina yang sedari tadi memperhatikan sosok Vincent mulai memberanikan diri bertanya pada Lusi, "kakak ipar, bule tampan itu siapa? Bukankah tadi disebutkan bahwa dia putra nya bibi Carla? Tapi, kenapa Kevin memanggil nya papi?" Bisik Nina di telinga kakak ipar nya itu. Ya, saat berkenalan tadi, bibi Carla menyebutkan bahwa Vincent adalah putra nya.
Devan yang duduk di samping istri nya dan masih bisa mendengarkan pembicaraan adik sepupu nya itu nyeletuk, "Bule tampan?! Dasar lu dik, ngakunya kuliah di Paris.. lihat bule kayak Vincent aja udah ijo tuh mata?!" Ledek Devan pada Nina.
"Ih,, kak Devan! Jangan keras-keras bicara nya,,, Nina kan jadi malu?!" Protes Nina merajuk.
"Kamu lulusan sekolah mode di Paris Nin?" Tanya Nabila dengan takjub.
Sedangkan sahabat-sahabat Devan tersenyum menahan tawa, termasuk Rehan.
"Paris Van Java mbak Billa,,," balas Nina tersenyum kecut, "biasa tuh kak Devan, emang paling suka dia ngejahilin aku," lanjut nya sambil cemberut melirik Devan.
Nabila dan yang lain nya tersenyum.
"Iya Nina, Vincent itu papi kandung nya Kevin." Balas Fatima mewakili Lusi, "Tapi Kevin belum tahu yang sesungguh nya, kak Fatima harap kamu mengerti," lanjut Fatima pada Nina agar tidak mengatakan apapun pada keponakan kecil nya.
__ADS_1
Nina mengangguk mengerti,
"Dik, beneran lu naksir tuh bule?" Tanya Devan menatap serius pada adik nya.
Nina gelagapan, tak menyangka akan mendapat pertanyaan frontal seperti itu dari sang kakak. "Ehm,, enggak kok, biasa aja," jawab Nina tersipu karena semua perhatian tertuju pada nya.
Lusi melirik tajam pada sang suami, seolah memperingatkan agar tidak membuat Nina merasa lebih malu lagi.
"Vincent memang memiliki masa lalu yang tidak baik, tapi dia sudah menyesalinya." Ucap bibi Carla pelan, menatap Nina, "dan saat ini dia tengah belajar untuk terus memperbaiki diri nya, tante harap kamu memikirkan nya secara matang jika ingin menjalin hubungan serius dengan nya agar tidak menyesal nanti nya," lanjut bibi Carla dengan bijak.
"Dik, kalau lu ingin berteman dulu agar bisa lebih mengenal bule itu, kakak tidak keberatan. Tapi, seperti yang tadi bibi Carla bilang, jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan," timpal Devan menatap sang adik, Devan tahu adik nya tipe wanita yang sulit jatuh cinta hingga di usia nya yang hampir seperempat abad Nina belum pernah punya pacar.
Nina mengangguk-angguk,
"Maaf, Nina memang tidak tahu banyak tentang kedua orang tua Kevin,, hanya sedikit saja yang Nina tahu, kalau papi nya Kevin pergi ninggalin mami nya dengan wanita lain. Tapi, kenapa kalian masih mau menerima kehadiran nya kembali dan membiarkan Kevin dekat dengan papi nya?" Tanya Nina ragu-ragu.
Papa Sultan dan mama Sekar saling pandang, "setiap orang mungkin saja pernah melakukan kesalahan, tapi ketika orang tersebut sudah mengakui dan menyesali perbuatan nya serta beriktikad baik untuk berubah.. tak ada salah nya jika kita memberinya kesempatan dan juga dukungan bukan?" Ucap mama Sekar menatap lembut Nina.
"Mommy,, Kevin mau ganti,,," seru Kevin yang langsung mengalihkan perhatian semua orang ke arah nya.
Sedangkan Fira dan Zaki langsung di ajak oleh bi Surti yang juga ikut ke hunian keluarga besar Nabila itu untuk naik ke lantai atas, tempat mereka menginap.
"Baik bi,," jawab Kevin patuh, "mommy, Kevin ganti baju dulu ya.." pamit nya pada sang mommy sambil melambaikan tangan nya.
"Sejak ada mommy,, selalu saja mommy nya yang dicari, daddy nya di lupain?" Gumam Rehan sambil melirik sang istri.
"Kamu cemburu ya dik, sama adik ipar??" Tanya Fatima yang masih bisa mendengar ucapan Rehan.
Rehan hanya mengedikkan bahu nya.
Nampak Vincent dan Ilham sudah bergabung kembali bersama mereka, wajah Vincent terlihat begitu segar dan bule tampan itu semakin terlihat seksi dengan rambut basah nya.
"Lu Rey, sama istri sendiri aja cemburu... gimana nanti kalau Kevin lengket sama papi Vincent dan mami Nina nya?!" Ucap Devan dengan sengaja.
__ADS_1
Vincent mengernyit, dia yang tidak biasa berbasa-basi langsung bertanya, "siapa mami Nina yang bang Devan maksud?"
Devan melirik sang adik, yang menunduk dengan pipi merona.
"Kamu sudah kenalan belum sama dia?" Tanya papa Sultan menunjuk Nina.
Vincent melihat kearah Nina, kemudian tersenyum dan mengangguk, "sudah pa, lantas apa hubungan nya?" Tanya Vincent tak mengerti.
"Nina ingin mengenal mu lebih dekat," balas mama Sekar mewakili sang suami, "mungkin, ini sudah saat nya bagi kamu untuk membuktikan bahwa kamu adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab pada istri dan juga anak-anak kamu," lanjut mama Sekar menatap mantan menantu nya itu.
Vincent nampak semakin bingung.
"Son,, jika ada gadis yang ingin dekat dengan mu dan kamu merasa nyaman, dan kamu juga sanggup untuk berkomitmen.. ikuti apa kata hatimu. Key sudah tenang di sana, dan dia juga tahu kalau papi dari putra nya telah kembali pada keluarga nya."
"Key tak lagi butuh kesetiaan mu sekarang, yang dia ingin hanyalah melihat mu dan putra kalian bahagia. Tak perlu kamu merasa bersalah jika membuka hatimu kembali untuk seorang wanita," ucap bibi Carla pada papi nya Kevin yang sudah dia anggap seperti anak nya sendiri.
Vincent mengedarkan pandangan nya, dan menatap satu persatu keluarga mantan istri nya.
Didi numpang lewat lagi ya,,, βΊβΊ
Yang belum mampir, yuk di intip kisah Didi dan kak Angga di novel "Akhir Sebuah Penantian"
Siapa tahu suka,,, atau malah jatuh cinta ma aku...
Eh, maksud nya sama cerita ku π€
__ADS_1
Salam hangat π€ππ