Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Pencuri Hati


__ADS_3

"Kamu juga pernah mengalami kecelakaan?" Tanya papa Sultan terkejut.


"Iya bang, tapi Alhamdulillah aku dan mang Asep berhasil selamat,,, dan itu terjadi sehari tepat sebelum tragedi yang merenggut semua keluargaku."


"Kenapa mang Asep bisa mencurigai om kamu sendiri?" Selidik papa Sultan yang semakin dibuat penasaran.


"Menurut mang Asep, dia mendengar sendiri kalau orang yang akan menculik ku malam itu menyebutkan nama om Johan,,, tapi mang Asep tidak punya bukti apa-apa sehingga tidak bisa melaporkan om Johan kepada pihak yang berwajib, bahkan mang Asep dan keluarganya juga diancam akan dibunuh, itu sebabnya mang Asep memilih untuk kabur dari rumah ku dan pulang ke kampung halamannya."


"Tapi mang Asep tidak berani membawaku pulang ke rumah nya, karena khawatir orang-orang om Johan akan mengejar dan mencarinya hingga ke kampung halamannya. Setelah mengantar istri dan anak nya sampai ke terminal Bandung, mang Asep mengajakku untuk naik kereta api. Aku sendiri gak tahu kemana mang Asep akan membawaku, yang aku tahu saat itu perjalanan yang kami tempuh sangat panjang."


Ibu Lin menghentikan sejenak ceritanya, dia usap bulir bening yang jatuh membasahi kedua pipi nya.


"Bu,, jangan lanjut kan jika kamu tidak sanggup untuk menceritakannya," titah pak Ilyas yang nampak khawatir pada istri nya.


"Enggak apa-apa yah, sudah saat nya kebenaran tentang masa laluku ini terungkap,,," ucap ibu Lin seraya menatap netra suaminya dengan tatapan penuh penyesalan, "maaf, jika aku tak pernah menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada mu juga pada almarhum ibu dan bapak," ucap nya sendu. "Karena aku takut, orang-orang itu masih mencari ku dan akan menemukan keberadaan ku jika aku mengungkap kan jati diriku," lanjutnya terbata.


Pak Ilyas menggeleng pelan, "kamu gak salah bu, gak perlu minta maaf,,, keadaan yang memaksa mu untuk tidak mengatakan semua tentang jati diri mu bukan?" Ucap pak Ilyas lembut, mencoba menenangkan istrinya.


Setelah ibu Lin merasa cukup tenang,,, "kereta yang membawa kami berhenti di sebuah stasiun, aku gak tahu pasti itu dimana... aku hanya membaca papan nama yang bertuliskan stasiun Tawang - Semarang. Dan di stasiun itulah mang Asep meninggalkan aku seorang diri, sebelum pergi dia terus mewanti-wanti agar aku tidak kembali ke Jakarta, karena menurutnya itu sangat membahayakan nyawaku. Dia memberiku sejumlah uang dan kemudian meninggalkanku," ibu Lin tak kuasa lagi menahan air matanya.

__ADS_1


Semua yang ada di ruangan itu sengaja memberikan ruang kepada ibu Lin untuk menumpahkan semua kesedihan yang dia pendam selama ini, Nabila memeluk erat sang ayah dan ikut terisak menyembunyikan wajahnya di dada ayah nya.


Yusuf nampak memeluk erat sang istri, yang ikut larut dalam keharuan kisah ibu Lin.


Mama Sekar memeluk ibu Lin seraya mengelus punggung adik manisnya, mencoba menyalurkan kekuatan dan memberikan ketenangan.


Setelah beberapa saat lamanya, ibu Lin kembali melanjut kan ceritanya, "di tengah kebingungan ku yang merasa terasing dan sendirian di tempat yang sama sekali tidak aku kenal, aku bertemu dengan sepasang suami istri yang baik hati... dan dia menawarkan aku untuk pulang bersamanya."


"Mereka berdua merawat dan menyayangiku seperti putri mereka sendiri, mereka juga yang kemudian mengganti namaku menjadi Lintang atas permintaanku karena ingin menyembunyikan jati diriku. Bapak bilang sengaja hanya menerjemahkan namaku kedalam bahasa Jawa, agar nama kecil pemberian orang tuaku tetap melekat padaku."


Suasana di ruang tamu itu sejenak menjadi hening,,,


"Itu bukan salah abang bule, jangan merasa seperti itu bang,,," sanggah ibu Lin, mencoba menenangkan papa Sultan.


"Lantas, siapakah orang tua yang berbaik hati kepada mu itu? Apakah beliau masih ada? Dimana tempat tinggalnya?" Papa Sultan bertanya dengan sederet pertanyaan.


"Mereka berdua sudah meninggal, bapak dan ibu yang merawat ku itu adalah orang tua dari suamiku," ucap ibu Lin seraya melirik kearah suaminya.


Nampak pak Ilyas tersenyum simpul, dia mengatur nafasnya dan mencoba mengingat-ingat,,, "saat pertama kali dibawa pulang oleh bapak dan ibu saya ke rumah, kondisi psikis nya agak kurang baik. Mungkin karena trauma, hingga dia sering nangis, suka menyendiri dan bahkan tidak mau makan kalau tidak di paksa." Pak Ilyas mulai bercerita, "dan itu berlangsung hingga seminggu lebih," ucapnya.

__ADS_1


"Bapak dan ibu saya sampai bingung dibuat nya, segala cara telah mereka coba lakukan,,, tapi kondisi Lintang masih sama seperti waktu pertama kali datang ke rumah, bahkan lebih buruk karena makanan yang masuk kedalam tubuhnya cuma sedikit jadi badannya tampak sangat kurus," ucapnya dengan sendu.


"Hingga kemudian bapak dan ibu memanggil saya agar segera pulang untuk membantu menenangkan Lintang,,, saat itu saya baru saja menginjak semester tiga. Melihat sendiri kondisi Lintang, dan sedikit cerita dari bapak ibu bagaimana dia ditemukan sedang sendirian dan menangis kebingungan di stasiun membuat saya memutuskan untuk mengambil cuti satu semester dan fokus untuk menemani dan menghibur Lintang."


"Jadi, hubungan pak Ilyas dan Bintang itu istilahnya 'witing trisno jalaran soko kulino' betul kah?" Tanya mama Sekar dengan senyum menggoda kepada Bintang.


"Ih,,, mbak Bunga ini lho bisa aja," rajuk Bintang atau ibu Lin. "Sudah sepuh juga masih suka jahil ternyata,,, aku pikir sudah hilang keusilan dan kejahilannya," lanjutnya seraya mencibir.


Nabila yang mendengar candaan ibu nya dan mama Sekar tersenyum lebar, "ternyata sifat jahil bang Rehan turunan dari mama nya tho?" Bisik nya dalam hati.


"Ya begitulah bu Sekar," jawab pak Ilyas tersenyum malu, "awalnya hanya menganggap dia adik kecil yang butuh perhatian dan harus di tolong, tapi lama kelamaan perhatian kami satu sama lain jadi berubah... dan dia telah berhasil menjadi pencuri hati saya," lanjutnya dengan terkekeh.


Dan semua yang mendengar pun ikut terkekeh,,,


"Jodoh memang datang nya tak disangka-sangka ya, kita sebagai manusia memang wajib hukumnya untuk mengusahakannya, namun Allah lah yang maha berkehendak," lanjut pak Ilyas seraya tersenyum bahagia, mengingat kembali kisah cintanya dengan Lintang yang berawal dari kakak angkat dan adik angkat, kemudian naik status menjadi body guard sekaligus heart guard.


"Oh iya pak Ilyas dan Bintang,,," sejenak papa Sultan menghentikan ucapannya dan menoleh kearah Bintang, "maaf abang lebih suka panggil kamu Bintang, tidak keberatan bukan?" Tanya papa Sultan.


Bintang mengangguk, "tidak masalah bang, aku juga akan tetap memanggil abang dengan sebutan abang bule," jawab ibu Lin tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2