Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Siapa Jessica?


__ADS_3

Keakraban yang terjalin di keluarga besar Rehan terasa semakin hangat, kini mereka sedang menikmati sajian makan malam dengan hidangan khas Indonesia.


Papa Sultan nampak sangat menikmati nya, meski wajah nya dominan dari ibunya tapi lidah nya sudah terbiasa dengan makanan daerah tempat asal mama Sekar.


Acara makan malam itu berlangsung dengan diselingi obrolan ringan dan senyum hangat dari seluruh anggota keluarga, tawa dan keceriaan dari Kevin, Zaki dan Fira pun ikut mewarnai dan menambah kebahagiaan keluarga besar Rehan.


Hingga beberapa saat kemudian mereka menyelesaikan acara makan nya, dan anak-anak berhambur kembali dengan kesenangannya masing-masing.


Rehan dan Nabila terlihat masih belum beranjak dari tempat nya, begitu pun dengan papa dan mama. Hanya Fatima yang terlihat sibuk menelfon entah siapa,,,


Dert,,, dert,,, dert,,, ponsel Nabila bergetar di saku bajunya.


Nabila segera mengambil nya dan sekilas melihat layar ponsel nya, "ibu,,," gumamnya dengan kening berkerut.


Melihat reaksi sang kekasih, Rehan bertanya, "siapa?"


"Ibuku telfon, Billa angkat dulu ya bang," pamit Nabila hendak menjauh.


"Angkat disini aja ya," pinta Rehan.


Nabila pun mengurungkan niatnya dan segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari ibunya. "Halo bu, assalamu'alaikum," ucap Nabila lirih dengan memberi salam pada ibunya.


"Wa'alaikumsalam mbak,,, kok lama banget tho baru di angkat?" Gerutu sang ibu yang merasa kelamaan menunggu. "Mbak, besok kamu harus pulang! Mbak Billa harus menjelaskan sama Ayah dan ibu!" Titahnya penuh penekanan.


"Menjelaskan apa bu,, Billa ndak ngerti maksud ibu?"


Rehan mulai curiga ada yang tidak beres dengan panggilan dari ibunya Nabila, "boleh di loud speaker,,," pintanya berbisik.


Nabila pun menuruti keinginan kekasihnya,,


"Kamu itu lho mbak,, pura-pura ndak ngerti!" Protes sang ibu, "tadi siang temanmu si Saras ke rumah dan dia cerita sama ibu kalau mbak dan Hendra sudah putus, katanya mbak sekarang malah jadi wanita simpanan orang kaya di ibukota," ucap sang ibu penuh emosi.


"Bu,,, itu ndak benar sama sekali," sanggah Nabila cepat, "Billa bukan wanita seperti itu,,, ibu tahu itu kan?" Lanjutnya sendu.


"Sudah lah bu, kita dengarkan penjelasan anak kita besok kalau dia sudah di rumah," terdengar lirih suara Ayah Nabila yang mencoba menenangkan istrinya.


"Ya sudah, pokoknya besok mbak harus pulang, titik!" Dan ibunya Nabila memutuskan panggilan secara sepihak.


"Huh,,," terdengar Nabila mendesah kasar, bulir bening jatuh di sudut matanya.


Papa Sultan dan mama Sekar yang ikut mendengar obrolan ibu dan anak di telfon itu pun saling tatap, "maaf nak Billa, bukannya mama mau ikut campur,,, tapi boleh kah mama tahu apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya mama Sekar lembut.

__ADS_1


Melihat kekasihnya masih syok, Rehan berinisiatif menjawab pertanyaan sang mama.


"Rey sudah pernah cerita kan sama mama kalau kami pernah menghadiri undangan pernikahan bareng?" Rehan mengingatkan mama nya kembali, "dan yang kami hadiri itu adalah pernikahan mantan tunangannya Nabila," lanjut Rehan pelan seraya mengusap lembut punggung tangan kekasihnya, mencoba memberikan ketenangan.


Dan Nabila kemudian menceritakan tentang hubungannya yang kandas dengan Hendra secara detail, kepada papa dan mama dari kekasihnya.


Mama Sekar terlihat mengangguk - anggukkan kepala, "dan nak Billa belum menceritakan tentang perselingkuhan Hendra itu dengan orang tua?"


Nabila menggeleng lemah,,, "Billa takut ma, takut ibu akan kecewa dan jadi sedih," ucapnya sendu.


"Yang sabar ya nak,," ucap mama lembut seraya beranjak dari tempat duduknya dan segera memeluk Nabila erat. "Yakinlah, semua akan baik-baik saja besok," ucap mama Sekar lirih.


Nabila mencoba tersenyum, "semoga ya ma, makasih mama dan keluarga disini sudah menerima Nabila dengan hangat," ucapnya terharu.


Fatima yang dari kejauhan mendengarkan obrolan mereka ikut menimpali, "kalau begitu besok sekalian aja kita rame-rame mengantar adik ipar pulang, gimana menurut papa?" Usul Fatima seraya berjalan mendekat dan duduk di samping sang papa.


"Ide bagus itu," papa Sultan langsung menyetujui.


"Ya udah, kita persiapkan segala sesuatunya sekarang," timpal mama Sekar antusias.


"Oke, kakak keluar sekarang aja ya ma, mumpung belum jam delapan," ucap Fatima penuh semangat.


"Sudah, ikuti aja,,," balas Rehan tak kalah lirih.


Jauh di lubuk hati Rehan, dia sangat bahagia melihat kekompakan keluarganya, "nanti bang Yusuf datang, kakak gak ada di rumah gimana? Dia kan paling gak bisa kalau sebentar aja gak lihat kakak di rumah?" Goda Rehan pada sang kakak, Rehan tahu persis abang iparnya itu sangat posesif.


"Nanti sambil jalan kakak akan kabari bang Yusuf, sekalian aja biar nyusul... kan kita bisa sekalian kencan," ucap Fatima terkekeh dan segera beranjak dari tempatnya untuk bersiap-siap.


Papa dan mama ikut terkekeh mendengar jawaban putri sulung mereka, "yuk pa, kita istirahat saja biar besok pagi tubuh kita fresh dan bisa melakukan perjalanan jauh," ajak mama Sekar pada suaminya.


"Papa istirahat dulu ya nak Billa,,," pamit papa Sultan seraya beranjak mengikuti langkah istrinya menuju kamar.


Kini di meja makan tinggal mereka berdua, "Kevin dimana ya bang,,, kok gak terdengar suaranya?" Nabila mencoba mengalihkan perhatian.


"Paling lagi main di atas sama Zaki dan Fira, kenapa?"


"Enggak apa-apa bang,,, Billa temenin mereka ya?" Pamit nya hendak beranjak.


"Disini aja temani abang," seraya menarik tangan Nabila dan mendudukkannya kembali. "Kita kan jarang-jarang bisa ngobrol berdua kayak gini?" Sambil menatap dalam manik hitam milik Nabila.


Beberapa saat lamanya mata mereka saling terpaut, Nabila merasakan kehangatan dan kenyamanan bersama laki-laki yang telah mengisi hatinya itu. Begitupula dengan apa yang dirasakan Rehan, laki-laki itu merasa sangat beruntung bisa mendapatkan gadis seperti Nabila. Hingga dering ponsel Rehan membuyarkan lamunan keduanya.

__ADS_1


Dert,, dert,, dert,,


Rehan segera mengeluarkan ponsel nya dan terlihat nama Alex dilayar ponsel, "Alex telfon, abang angkat bentar."


"Hallo bos," terdengar suara Asisten Pribadinya sesaat setelah Rehan menggeser tombol hijau.


"Ada apa Lex?" Tanya Rehan to the point.


"Sorry bos, masalah yang di Bali gue gak bisa handle sendiri. Vincent kekeh pengin ketemu langsung sama lu Bos,,," Alex sejenak menjeda ucapannya, "ada seseorang di belakang Vincent," lanjutnya dengan suara berat.


"Seseorang,,,? Maksud lu ada yang membackup Vincent? Siapa?" Tanya Rehan penuh selidik.


"Jessica,,, dia yang sudah mempengaruhi Vincent, hingga dia berani menampakkan diri lagi," jawab Alex terdengar emosi.


"Jess,, sica!" Seru Rehan nampak terkejut.


Fatima yang sedang menuruni anak tangga hendak segera keluar, sontak menghentikan langkah nya dan berbalik kembali ke meja makan. "Ada apa dik? Telfon dari siapa?" Tanya Fatima dengan kening berkerut.


"Alex," jawab Rehan tak bersemangat, seraya menatap mata sang kakak.


Melihat ada yang tidak beres, Fatima pun menunda kepergiannya dan duduk di samping sang adik.


"Oke lex, gue akan berangkat sekarang juga,,, dan gue pastikan malam ini juga semua harus berakhir," ucap Rehan tegas, dan segera mengakhiri panggilannya.


"Kenapa ada nama Jessica?" Selidik Fatima, nampak tidak suka.


"Rey juga belum tahu pasti kak,," jawab Rehan lesu, "tapi Rey harus berangkat ke Bali sekarang, dan menyelesaikan semuanya malam ini juga. Untuk rencana besok Rey ngikut aja sama kakak, Rey akan terbang ke kotanya Nabila besok pagi langsung dari Bali," lanjut Rehan menjelaskan rencana nya.


"Baiklah dik, jaga diri kamu. Dan ingat jangan sampai lemah didepan wanita itu," sang kakak mewanti-wanti pada adik kesayangan nya.


"Tidak lagi kak,,," jawab Rehan tersenyum kecut, "sejak hadirnya Kevin, dia benar-benar sudah lenyap dari kehidupan Rey," ucapnya dengan tegas.


Nabila yang sedari tadi mendengar perbincangan Rehan dengan Asisten nya maupun dengan sang Kakak merasa sedikit terusik, "Jessica,,, siapa dia?"


"Oke dik, Kakak berangkat dulu ya?" Pamit Fatima, "kamu bisa pakai jet abang kamu, dia sudah pulang dan sekarang dalam perjalanan menuju resto tempat kami berkencan," sambil berlalu meninggalkan Rehan dan Nabila.


Suasana sejenak menjadi hening,,,


"Sayang,,, maaf, abang tinggal dulu gak apa-apa kan? Ada sedikit masalah yang harus abang selesaikan, dan kamu gak perlu khawatir karena ada Alex yang menemani abang," pamit Rehan pada kekasihnya. "Untuk rencana besok, ikuti saja sama kak Fatima dan abang akan segera menyusul," lanjut Rehan seraya mengusap lembut punggung tangan kekasihnya.


Nabila hanya mengangguk dan tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2