
Usai jam makan siang, di Perusahaan Garmen XX yang terletak di Jakarta Barat nampak Selly dan bu Runi sedang berjalan menuju ruangan Presiden Direktur.
Tok,,, tok,,, tok,,,
Selly mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu, untuk memberitahu pada sang empunya ruangan bahwa dia dan ibunya sudah datang. Tanpa menunggu perintah Selly dan ibunya segera masuk kedalam ruangan pak Yuda, karena memang kehadirannya sudah ditunggu oleh pemilik perusahaan itu.
Didalam, nampak Kinanti juga telah berada di sana. Kinanti duduk di salah satu sofa dengan sangat angkuh, sedangkan pak Yuda duduk di kursi kebesarannya.
Tidak ada yang menyapa keduanya, hingga akhirnya bu Runi dan Selly memutuskan untuk mendudukkan diri mereka di sebelah Kinanti, istri dari sang Bos.
Beberapa saat suasana nampak hening, mereka terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing.
Nampak Selly begitu cemas, dia meremas jari jemari tangannya hingga buku-buku jarinya tampak memutih.
Begitu pula dengan bu Runi, beberapa kali terlihat dia menghela nafasnya dengan kasar untuk mengusir gundah di hatinya.
Hanya Kinanti yang mencoba untuk tetap duduk dengan memasang wajah angkuhnya dan dengan sangat percaya diri, meski jauh didalam lubuk hatinya ada kecemasan yang sedang menderanya.
"Ehm,,,"
Terdengar suara dehaman dari laki-laki paruh baya yang masih terlihat tampan dan selalu berwibawa itu, "adakah diantara kalian yang bisa menjelaskan dengan sejujurnya tentang kejadian minggu lalu? Siapa yang telah merencanakan untuk menjebak nabila?" Serunya meminta penjelasan sambil matanya menelisik tajam satu persatu wanita yang tengah duduk di sofa.
"Menjelaskan tentang apa maksud papa?" Tanya Kinanti pura-pura tak mengerti.
"Yakin, mama enggak tahu apa-apa?" Selidik Pak Yuda pada istrinya.
"Iya pa," ucap Kinanti masih dengan yakin.
"Dengarkan ini baik-baik," titahnya pada istri dan kedua saudaranya itu, dan segera memutar rekaman suara yang dikirimkan oleh Pak Budi ke ponselnya.
Ketiga wanita itu terhenyak, tatkala obrolan mereka saat di perjalanan hendak makan siang kala itu ternyata terekam tanpa mereka sadar akan hal itu. Hingga rekaman itu selesai diputar, mereka masih tak bergeming di tempatnya.
"Bagaimana? Ada yang bisa menjelaskan?" Pak Yuda menuntut penjelasan.
__ADS_1
Cukup lama ketiga wanita bersaudara itu terdiam, tidak ada yang berani membuka suara. Ketiganya hanya saling tatap, seolah saling melempar kesalahan.
"Saya hanya disuruh untuk memberikan serbuk kedalam minuman mbak Nabila, dan saya sendiri tidak mengerti itu serbuk apa?" Bu Runi mulai membuka suara, menjelaskan keterlibatannya.
"Siapa yang menyuruh bibi? Dan kenapa bibi mau melakukan tugas yang bibi tak mengerti tujuannya?" Cecar Pak Yuda kepada wanita yang bekerja sebagai kepala OB di perusahaan miliknya.
Bu Runi nampak berpikir, "Selly yang menyuruh saya," ucapnya seraya melirik kearah Selly, "apapun akan saya lakukan untuk kebahagiaan nya, meskipun dia tak pernah menganggap dan memperlakukan saya layaknya orang tua," lanjutnya sendu.
Selly menatap ibunya dengan marah, nampak jelas bahwa dia tidak suka dengan pengakuan wanita paruh baya itu barusan.
Suasana kembali hening, Pak Yuda sepertinya sengaja membiarkan keadaan berlangsung seperti itu untuk beberapa saat dan berharap ada yang berani mengakui dan berterus terang tanpa dia paksa.
Namun cukup lama menunggu, tak ada satupun yang mau membuka suara hingga terdengar meja di gebrak dengan kasar oleh seseorang...
"Brakk,,,"
"Siapa yang telah merencanakan semua nya!" Suara Pak Yuda terdengar lantang memecah keheningan, "kalau tidak ada yang mau mengaku maka saya akan pecat kalian berdua," sambil menunjuk kepada bu Runi dan juga Selly. "Dan untukmu,,," tangannya terlihat bergetar menunjuk kearah istrinya yang masih membisu sedari tadi, "saya akan tarik semua fasilitas yang saya berikan, mobil dan semua kartu kredit yang kamu pegang saya sita!" Ucapnya dengan penuh penekan.
"Pa,,," Kinanti langsung merangsek memeluk kaki suaminya, "jangan pa, jangan lakukan itu pada mama," pintanya merajuk. "Mama bisa jelaskan semuanya, mama hanya membantu Selly agar bisa menduduki posisi sebagai sekretaris, dan yang merencanakan semua adalah,,, Selly," ucapnya menunjuk kearah keponakan nya.
"Bukan seperti itu kenyataan nya pa,,," Kinanti mengelak, "kamu jangan memutarbalikkan fakta Selly!" Teriak Kinanti pada keponakan nya sambil menatap tajam Selly. "Gadis tak tau berterima kasih, sudah ku berikan kamu kehidupan yang enak tapi malah ngelunjak! Kamu kan yang selalu bilang sama tante kalau om mu ini suka genit di kantor? Dan kamu juga yang merengek minta sama tante untuk bisa jadi sekretaris, dan janji akan jagain om kamu agar tidak ada lagi wanita yang menggodanya! Dan tante juga sudah membujuk kepala HRD agar menyetujui kamu menjadi sekretaris, meski nyatanya ada pelamar baru yang lebih berkompeten dan akhirnya dia yang terpilih, " Kinanti mengeluarkan semua unek-unek di benaknya.
"Tapi kan tante,,,"
Selly masih mencoba untuk membela dirinya, namun buru-buru di sela oleh Pak Yuda, "Sudah, hentikan!" Hardik nya dengan keras.
Semuanya terdiam dan tertunduk, tak ada lagi yang berani mendongakkan wajahnya termasuk Kinanti yang masih berlutut di kaki suaminya.
"Ma,,," panggil Pak Yuda mulai merendahkan suaranya, "menurut mama, apa masih kurang semua perhatian dan kasih sayang yang papa berikan untuk mama?" Tanya Pak Yuda penuh selidik, menatap intens manik mata isterinya.
"Maafkan mama pa,,," Kinanti mulai terisak, "rasa cinta mama yang terlalu besar kepada papa membuat mama mudah tersulut api cemburu, tanpa mencari tahu kebenarannya," ucap nya lirih penuh penyesalan.
"Huh,,," terdengar Pak Yuda menghela kasar nafasnya, "cinta papa sama mama jauh lebih besar ma, hingga apapun yang mama minta selalu papa kabulkan bukan? Tapi ternyata kini papa sadar, bahwa besarnya rasa cinta yang tak dibarengi dengan logika justru akan merugikan diri sendiri dan juga orang lain," ucapnya dengan lesu yang telah menyadari kekeliruannya selama ini.
__ADS_1
"Pa,,,"
"Berdirilah ma,,," pintanya pada Kinanti istrinya seraya menuntun wanita itu untuk bangkit dari bersimpuh, "perbuatan kalian ini sudah sangat keterlaluan," ucap Pak Yuda menatap ketiga wanita itu bergantian, sesaat setelah Kinanti duduk kembali di sofa. "Besok Nabila akan datang kemari, dan buatlah pengakuan di hadapannya jika semua ini adalah ulah kalian," titahnya pada ketiga wanita tersebut, "saya akan memaafkan dan akan tetap membiarkan kalian berdua bekerja di sini jika Nabila bersedia memaafkan kalian," sambil menunjuk pada dua saudara istrinya itu.
Selly tertunduk lesu, "sialan, semua ini gara-gara Nabila," dalam hatinya Selly merutuki Nabila dengan sangat kesal.
"Sekarang, kalian berdua keluarlah," titahnya pada kedua pegawainya itu agar segera keluar dari ruangannya.
"Om, tapi Selly masih bisa duduk di posisi sekretaris kan?" Tanya Selly dengan memohon.
"Lihat saja besok," jawab Pak Yuda datar.
Dengan wajah cemberut Selly menyeret langkah kakinya dengan malas keluar dari ruangan Presdir yang segera diikuti oleh ibunya.
Setelah Selly dan bu Runi meninggalkan ruangan itu, nampak Kinanti menghampiri suaminya, "pa, maafkan mama ya,,," seraya mencium punggung tangan suaminya.
Pak Yuda menatap istrinya dengan tatapan yang dalam, mencoba menelisik keseriusan perkataan sang istri. Dia bangkit dari tempat duduknya dan memeluk erat istrinya, "maafkan papa juga ma," ucapnya lirih seraya mengecup pucuk kepala Kinanti. "Papa harap, tak ada lagi kejadian seperti ini kedepannya," pintanya dengan sangat.
Kinanti hanya mengangguk, dan semakin mempererat pelukannya.
\_\_\_ Mencintai lah dengan sewajarnya, hingga cinta itu takkan bisa menjadi boomerang untuk diri sendiri dan dapat menyakiti orang lain\_\_\_ (Yuda)
\*\*\*
Bonus double up ya readers,,, makasih utk dukungannya π€ππ
__ADS_1
Moga besok bisa double up lagi π