Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Wanita Berhijab


__ADS_3

Di dalam kamar hotel,,


Nabila dan Rehan baru saja selesai menjalankan ibadah sholat isya berjamaah, dengan penuh kasih Rehan mencium kening sang istri sesaat setelah Nabila dengan takdzim mencium punggung tangan nya.


'Yang, kamu kalau mau ke kamar sebelah duluan aja gak apa-apa ya... abang mau tadarus bentar, nanti abang segera nyusul ke sana," ucap Rehan lembut pada sang istri.


"Iya bang,," jawab Nabila singkat, dan bergegas merapikan mukena dan sajadah nya. Nabila kemudian berganti pakaian dengan busana yang berbeda dengan model yang dikenakan nya sewaktu menghadiri akad nikah tadi, sedikit lebih glamor namun tetap terlihat anggun.


Setelah mengenakan hijab nya dengan asal, Nabila buru-buru keluar menuju kamar Susan dan Nisa. Saat Nabila membuka pintu nya, nampak Nisa baru saja selesai di rias oleh Susan. "Cantik sekali kamu dik, mbak sampai pangling lho?" Ucap nya tulus memuji sang adik.


Nisa mengenakan dress panjang dengan aksen manik-manik melingkar di atas dada menyerupai kalung, hijab modis yang di gulung-gulung cantik sedikit menambah kesan tinggi untuk nya. Riasan yang sedikit tebal menyesuaikan dengan busana yang dia kenakan, dengan lipstick merah cerah membuat bibir nya nampak seksi. Tak henti Nisa mengagumi kelihaian calon tante nya dalam hal merias wajah, "mbak, kapan-kapan ajari Nisa make up ya?" Pinta nya pada Susan.


Susan mengangguk, "dengan senang hati, nanti sama-sama dik Billa juga ya.. penting lho buat kita para istri pandai merias diri untuk menyenangkan suami," ucap nya seraya tersenyum tulus.


"Siap mbak,," jawab Nabila penuh semangat dan langsung mendudukkan diri nya di kursi yang menghadap cermin besar.


"Oke, kita mulai ya? Sudah pembersihan kan?" Tanya Susan yang tidak membutuhkan jawaban, tangan terampil nya langsung berkreasi melukis di wajah ayu milik Nabila.


Setelah beberapa menit, sapuan blush on berwarna pink mengakhiri kreatifitas Susan. "Wow,,, mbak Billa keren,," seru Nisa, mengagumi kecantikan sang kakak. "Cetar membahana tapi enggak terkesan menor,,, tante kita memang jago, pantesan aja om Vian klepek-klepek," celoteh Nisa tanpa jeda.


Susan hanya menggeleng, "sudah, sekarang giliran mbak,,, sana pada keluar gih," usir nya halus.


"Kok ngusir sih? Nisa kan pengin lihat mbak Susan pakai make up,,, itung-itung belajar," tolaknya dengan cemberut.


Terdengar pintu dibuka, nampak Alvian masuk tanpa permisi dan langsung tersenyum,, tatapan nya terpana tertuju pada kedua keponakan nya yang nampak telah bersiap menuju pasta pernikahan Devan dan Lusi. "Kalian berdua sungguh sangat anggun, om bangga punya keponakan yang manis-manis seperti kalian," ucap nya tersenyum hangat.


"Kalau sama aku kak Al bangga enggak?" Tanya Susan manja, sambil mengoleskan lipstick berwarna merah cabe di bibir nya.

__ADS_1


Alvian menatap sang kekasih dari pantulan cermin, dan kemudian tersenyum manis, "kamu yang terbaik beib," ucap nya mesra, seraya memeluk Susan dari belakang.


"Jangan peluk-peluk Om,,," teriak Nabila dan Nisa bersamaan, "kalian belum halal," ucap Nabila sambil melotot kearah om nya itu.


Alvian buru-buru melepaskan pelukan nya, dan tersenyum kecut. Rehan yang entah sejak kapan berada di kamar itupun ikut berkomentar, "Sudah om-om juga enggak punya malu, dasar mesum," ucap nya seraya tersenyum seringai.


Susan hanya tersenyum tersipu malu, dan menundukkan kepala karena kepergok atasan nya. Meski saat di luar kantor seperti sekarang ini, Rehan bersikap biasa dan bahkan seringkali bertingkah jahil tapi Susan tetap segan pada bos RPA Group itu. Bagaimana pun Susan telah mengenal Rehan selama lebih dari tiga tahun sebagai atasan yang sangat menjaga wibawa nya, dan selalu bersikap dingin terhadap semua wanita termasuk diri nya.


"Buruan keluar deh kalian berdua," usir nya pada kedua keponakan nya, sambil mendorong pelan Nabila dan Nisa menuju pintu.


"Ck,,, istri gue, jangan di dorong-dorong," kesal Rehan pada om dari istri nya itu.


"Dah jangan bawel, bawa istri dan adik ipar lu jauh-jauh dari sini," ucap Alvian seraya menutup pintu.


Alex yang melihat calon istri nya keluar dari kamar segera menghampiri nya, "calon ratu mas Alex cantik sekali," pujinya pada sang kekasih.


Sedangkan Rehan yang dengan posesif langsung merangkul pinggang sang istri, terdengar membisikkan sesuatu, "kita ke kamar aja yuk yang? Gak usah hadir di acara resepsi nya,,," pinta nya merajuk.


"Abang,, gimana sih? Bang Devan kan sahabat abang dan Lusi sahabat Billa, masak kita udah disini malah gak nongol... kan gak lucu bang?" Tolak nya dengan cemberut.


"Habis nya kamu cantik banget,, rasa nya abang gak rela kalau kecantikan mu dilihat oleh laki-laki lain," ucap Rehan dengan mengerling nakal.


"Mulai deh modus nya," gerutu Nabila, seraya memukul pelan dada bidang sang suami.


"Aw,,, kamu mulai nakal yang,,," pekik Rehan pelan di telinga sang istri. "Selesai acara abang akan memberimu hukuman," ucap nya dengan tersenyum seringai.


"Di hukum sekarang aja juga gak apa-apa,, sana masuk kamar!" Titah Alvian yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang mereka bersama Susan.

__ADS_1


Susan hanya tersenyum,,


Nabila tersipu malu, "si om,, apaan sih? Malah nyuruh yang enggak bener!" Ucap nya dengan menyembunyikan wajah nya di pelukan sang suami.


Rehan tersenyum senang melihat sikap malu-malu sang istri, "abang makin tak sabar ingin segera menghukum mu jika seperti ini yang,, gak sadar ya dada kamu sedari tadi nempel di sini?" Goda Rehan seraya menunjuk dada sang istri.


"Ck,,," Alvian berdecak, dan kemudian menggandeng Susan berjalan mendahului keponakan dan suami nya yang mesum sambil melirik tajam pada sahabat nya itu.


Buru-buru Nabila melepaskan diri nya dari pelukan sang suami dengan menahan malu, dan segera bergegas menyusul om nya yang sudah berjalan mendahuluinya.


"Sayang, tunggu,,," seru Rehan sambil berjalan cepat menyusul sang istri, hanya dalam beberapa langkah saja Rehan sudah berhasil mensejajarkan langkah nya dengan Nabila. Dan seperti biasa, bos RPA Group itu dengan posesif memeluk pinggang sang istri memasuki ballroom tempat resepsi pernikahan Devan dan Lusi di gelar.


Tamu undangan nampak sudah memenuhi ruangan yang sangat luas itu, terlihat dari kejauhan kedua mempelai tengah berdiri di atas panggung dengan pesona yang luar biasa menyambut semua tamu yang hadir dan memberikan ucapan selamat kepada kedua nya.


Devan nampak semakin gagah dan tampan dengan stelan tuxedo berwarna putih, senada dengan gaun pengantin wanita yang panjang menjuntai. Gaun hasil rancangan kolaborasi Nina dan Tiwi dari butik Putri Alamsyah yang di hias dengan manik-manik batu permata asli terlihat semakin berkilauan jika terkena cahaya, membuat sang mempelai wanita terlihat cantik dan anggun bak putri raja.


Rehan dengan gagah berjalan sambil terus memeluk pinggang sang istri menuju ke sisi ruangan yang telah dipersiapkan khusus, meja yang berjajar memanjang dengan puluhan kursi yang mengitari nya nampak hampir penuh terisi oleh rekan-rekan bisnis dari mempelai laki-laki.


Dengan penuh wibawa Rehan menyapa semua tamu yang telah hadir dan kemudian mempersilahkan sang istri untuk duduk terlebih dahulu, baru kemudian dia mendudukkan dirinya di samping Nabila yang kebetulan bersebelahan dengan Asisten Pribadinya yang sudah berada di sana terlebih dahulu.


Semua tamu yang duduk di tempat itu, yang ke semua nya adalah kolega bisnis Devan dan juga kolega bisnis Rehan memandang takjub dengan kehadiran bos RPA Group itu yang menggandeng seorang wanita. Ada banyak tanya memenuhi benak mereka masing-masing, namun tak satupun ada yang berani membuka mulut.


Rehan yang selama ini dikenal publik sebagai sosok yang dingin dan sulit untuk didekati wanita, justru kini bersikap mesra dengan seorang wanita berhijab. Hingga membuat semua yang hadir penasaran, sedangkan pandangan mata mereka hanya berani tertuju pada Asisten Alex, untuk menuntut jawab.


Tapi dengan gaya dingin nya Asisten tengil itu pura-pura tidak tahu jika tengah diperhatikan, dia hanya pasang muka datar dan sesekali tersenyum mesra pada sang kekasih yang duduk di samping nya.


Dan hal itu, membuat rekan-rekan bisnis Rehan menjadi semakin penasaran. Hingga kemudian seseorang yang paling senior diantara mereka semua dengan lantang memberanikan diri bertanya langsung pada Rehan, "mohon maaf atas kelancangan saya tuan muda Alamsyah, sedari tadi kami menyimpan tanya besar di hati,,, siapakah wanita berhijab yang datang bersama Anda malam ini? Sudi kah Anda berbagi sedikit kebahagiaan kepada kami?"

__ADS_1


__ADS_2