
"Ada apa dik?" Tanya ibu Lin penasaran, melihat ekspresi sang adik yang kegirangan setelah menerima telpon dari Fatima.
"Kak Bintang, mas Ilyas besok pagi kita terbang ke Singapura. Fatima barusan mengabarkan, Om Johan sudah sadar." Alvian tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah,,," ucap mereka serempak.
"Ilham ikut ya om?" Pinta Ilham merajuk.
Alvian mengangguk, "iya, boleh," jawab nya singkat.
" Yes,,," ucap Ilham dengan senang nya, "mbak Nisa ikut enggak?" Tanya Ilham yang melihat Nisa baru saja naik, di belakang nya mengekor Lusi dan juga Susan.
"Ikut kemana?" Tanya Nisa bingung.
"Besuk opa Johan," jawab ibu Lin singkat.
"Ke Singapura?" Tanya Nisa memastikan.
"Ya iyalah mbak Nisa yang imut dan menggemaskan... kemana lagi? Ke Bojong? Kan si opa dirawat nya di Singapura?" Jawab Ilham kemana-mana.
"Yaelah nang, mbak kan memastikan... kok kamu jawab nya malah ngelantur gitu?" Nisa cemberut.
"Yah,,, ngambek deh si adik,," sindir Ilham.
"Nang, aku nggak suka ya kamu panggil adik? Mbak,, panggil mbak Nisa, umurku lebih banyak ya dari kamu?!" Protes Nisa.
"Iya mbak Nisa sayang,,," bujuk Ilham, "sabar ya bang Alex,,," ucap nya seraya melirik Alex.
"Sudah,, sudah,, Ilham, jangan godain mbak mu terus," tegur ibu Lin kepada putra bungsunya.
"Siap kanjeng ibu yang cantik," ucap Ilham seraya memeluk ibu nya.
Susan dan Lusi senyum-senyum menyaksikan kedekatan ibu Lin dan sang putra.
"Ikut aja ya nduk?" Titah ibu Lin pada Nisa.
Nisa mengangguk, dan melirik Alex.
"Enggak usah lirik-lirik, dia juga boleh ikut," ucap Alvian yang mengerti maksud Nisa.
Alex tersenyum..
"Kalau semua ikut, pakai jet gue aja bang... tapi Kevin harus diajak juga," ucap Rehan.
"Berarti kita ikut juga bang?" Tanya Nabila dengan mata berbinar.
"Ya enggak dong sayang, kita kan masih ada misi yang belum terselesaikan..." jawab Rehan menatap mesra sang istri.
__ADS_1
"Idih,, abang apaan sih, malu tahu..." lirih nya di telinga sang suami.
"Perasaan, sudah hampir sebulan tapi misi nya kok enggak selesai-selesai sih bang?!" Protes Ilham.
Mendengar protes Ilham,,, Alvian, Alex dan Nisa tertawa cekikikan.
"Misi apa emang?" Tanya Devan polos.
"Misi Suci,, udah lah, lu enggak bakal ngerti yang ginian," elak Rehan ingin menyudahi obrolan absurd itu. "Besok mau ikut sekalian enggak, sama bini Lu tuh... kata nya pengin tahu rumah nya kak Fatima?" Rehan mengalihkan pembicaraan.
"Boleh,, boleh,, kita ikut ya honey?" Bujuk Devan pada sang istri.
Lusi hanya mengangguk, mengiyakan ajakan sang suami.
"Oh iya, Kevin belum pulang juga ya mbak?" Tanya Ilham pada kakak sulung nya.
"Sudah kok, dia tidur dan sama bibi langsung dibawa ke kamar nya," jawab Nabila, "kami pamit dulu ya bu, ayah.. takut nya Kevin terbangun dan nyariin," Nabila segera beranjak dan diikuti oleh sang suami.
Karena waktu memang sudah agak larut, mereka pun membubarkan diri dan kembali ke tempat masing-masing.
*****
Keesokan hari nya, di kediaman Fatima dan Yusuf,,
Rombongan Alvian baru saja sampai, mereka di jemput dengan dua mobil.. mengingat banyak nya personil yang ikut.
"Jadi Vian sahabat Rehan ini Iang,,, adik bayi kamu itu dik?" Tanya mama Sekar begitu mereka duduk.
"Benar mbak Bunga," jawab ibu Lin tersenyum bahagia.
"Oalah, padahal dia sering main ke rumah ya pa? Dan kita semua enggak ada yang ngeh.. kami tahu nya ya dia putra nya pak Johan," ucap mama Sekar yang nampak ikut bahagia melihat adik kandung dari besan nya sudah ditemukan.
"Ya, rahasia kehidupan tak ada yang tahu... dan rencana Allah selalu lebih indah bukan? Jika kita di uji dan lulus dengan ujian kesabaran tersebut, tentu balasan Allah jauh lebih baik dan memuliakan siapa pun yang menerimanya dengan senang hati. Dan saat ini, kita semua dipertemukan dengan cara yang indah dan membahagiakan," Ucap pak Ilyas ikut merasakan kebahagian sang istri.
Untuk sesaat suasana menjadi hening, hanya sayup-sayup terdengar canda tawa dari Ilham dan ketiga cucu papa Sultan dari kejauhan.
"Bagaimana kabar nya pak Ilyas, betah kan di Jakarta?" Tanya papa Sultan memecah keheningan.
"Alhamdulillah pak Sultan, kami betah. Ya, nama nya orang tua kalau bisa dekat dan kumpul bersama anak-anak nya pasti bahagian kan?"
"Benar sekali pak Ilyas, apalagi kalau sudah ada cucu-cucu seperti mereka... hidup kita terasa sudah lengkap," timpal mama Sekar sambil menunjuk ketiga cucu nya yang berebut nguyel-uyel Ilham di taman samping rumah.
"Semoga Billa dan nak Rehan cepet kasih kita cucu ya mbak," ibu Lin berharap.
"Aamiin,," dan semua mengaminkan pengharapan ibu Lin.
"Dev,, maaf ya, papa dan mama kemarin enggak bisa hadir di pernikahan kalian," ucap papa Sultan menatap Devan.
__ADS_1
"It's oke pa, lihat papa kelihatan segar seperti ini, udah jadi kado terindah buat Devan." Ucap Devan tulus, "papa dan mama seharusnya enggak perlu repot kirim kado segala buat kami, makasih banyak ya pa, ma," lanjut nya menatap hangat papa Sultan dan mama Sekar bergantian.
"Itu kado buat istri mu Dev,, Billa yang kasih bocoran ke mama kesukaan nak Lusi," ucap mama Sekar melirik Lusi.
"Billa emang sahabat terbaik tante," jawab Lusi seraya tersenyum.
"Panggil mama nak Lusi, seperti suami mu memanggil kami," pinta mama Sekar.
Lusi mengangguk, dan tersenyum bahagia, "iya ma."
"Lu dan istri mau berapa hari di sini Dev?" Tanya Fatima yang ingat akan janji nya untuk memfasilitasi mereka berdua jika ke Singapura.
"Palingan besok kami pulang Fa, bareng sama yang lain. Gue kan harus kerja Fa, cari duit yang banyak buat istri dan anak-anak nanti." Jawab Devan seraya nyengir.
Yang disambut cibiran oleh Alex dan Alvian,,
"Oh ya, jam besuk om Johan sebentar lagi. Mau besuk siang ini atau nanti malam aja?" Tawar Yusuf pada Alvian.
"Sekarang aja ya kak," jawab Alvian meminta persetujuan sang kakak, "kami berempat aja dan yang lain biar istirahat... atau kalau mau jalan-jalan kemana ya terserah aja," ucap nya lebih lanjut.
"Oke, siap-siap ya.. sepuluh menit lagi kita berangkat," titah Yusuf seraya beranjak hendak bersiap, yang diikuti oleh Fatima yang mengekor di belakang sang suami.
Sepuluh menit kemudian, Yusuf bersama Alvian, Susan dan kedua kakak nya berangkat menuju rumah sakit. Sedangkan yang lain diajak jalan-jalan sama Fatima.
*****
Om Johan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap sejak semalam, kondisi nya cukup baik dan sudah bisa diajak berkomunikasi dengan lancar.
Yusuf dan rombongan yang baru saja tiba, di perbolehkan oleh perawat yang bertugas untuk langsung menemui beliau di ruang rawat inap nya.
Mereka berlima segera masuk, nampak om Johan tengah duduk bersandar di kepala brankar sambil nonton televisi. "Assalamu'alaikum,," Yusuf dan yang lain memberi salam, yang langsung di sambut baik oleh om Johan meski terdengar lirih.
Begitu menyadari siapa yang datang, om Johan langsung hendak menegakkan duduk nya namun buru-buru Alvian melarang om yang diangggap sebagai papa nya itu. "Udah pa, papa menyandar aja biar nyaman. Jangan di paksain untuk duduk dulu ya?" Pinta nya dengan lembut, dan sejurus kemudian Alvian memeluk sang papa.
"Maaf ya pa, Vian baru bisa kesini. Vian senang papa sudah sadar," ucap nya lirih di telinga sang papa.
Om Johan menitikkan air mata, "kenapa kamu bawa papa berobat kesini nak? Disini kan mahal?" Tanya om Johan seraya melerai pelukan Alvian.
Alvian menggeleng,, "enggak masalah pa, kesembuhan papa lebih penting," jawab Alvian tulus.
Om Johan menangis,, "andai kamu tahu kesalahan papa, kamu enggak akan sudi melakukan ini nak.." ucap om Johan terbata.
"Alvian sudah tahu pa, Vian dengar semua pembicaraan papa dan mama sesaat sebelum papa tak sadarkan diri," ucap Alvian menatap sang papa.
Om Johan terkejut,,, "kamu sudah tahu semua kejahatan papa sama orang tua mu? Lantas kenapa kamu masih peduli sama papa? Atau kamu ingin papa sadar dari koma dan kemudian menjalani hukuman papa? Papa akan terima itu nak... karena papa memang pantas dihukum!"
"Papa sudah membuat kamu menjadi yatim piatu,, dan kakak kamu, entah bagaimana nasib nya sekarang. Papa tidak pantas untuk dimaafkan, karena kesalahan papa terlalu besar terhadap keluarga mu nak,,," ucap nya dengan terisak.
__ADS_1
Ibu Lin diam-diam menitikkan air mata, sedangkan yang lain hanya diam mendengar kan.