
Seusai menjalankan sholat maghrib dan tadarus Al Qur'an, Rehan dan Nabila bergegas menuju apartemen Fatima untuk berkumpul bersama keluarga besar Nabila.
Rehan membuka pintu dan mengucap salam, tanpa menunggu jawaban mereka berdua masuk dan langsung naik ke lantai dua untuk menemui sang putra.
Sesampainya di ruang keluarga, nampak sang putra tengah belajar mengaji bersama om ganteng dan juga kakek nya. Hati Rehan menghangat, menyaksikan pemandangan di ruang keluarga itu.
Karena tidak mau mengganggu, Rehan mengajak sang istri untuk menunggu di balkon. Mereka berdua duduk di sana sambil mendengar kan putra kecil mereka mengaji. Rehan menggenggam erat tangan sang istri, dan menatap wajah manis istri nya itu penuh kasih.
"Ada apa?" Bisik Nabila, yang nampak salah tingkah karena terus saja di perhatikan oleh sang suami.
"Terimakasih, sudah hadir di hidup abang. Menerima abang dan menyayangi Kevin," ucap nya lirih dan kemudian mengecup punggung tangan sang istri dengan penuh perasaan.
Nabila menggeleng pelan, "abang kurang tepat kalau bicara seperti itu," ucap nya seraya menatap dalam netra kebiruan milik sang suami.
Rehan mengernyit, "maksud kamu?"
"Billa bukan hanya menerima abang, tapi Billa..." sejenak Nabila terdiam, nampak jelas di wajah nya dia tersipu malu. "Billa mencintai dan menyayangi abang sepenuh hati," lanjut nya malu-malu, dan sedetik kemudian Nabila mengecup lembut pipi sang suami. Kecupan yang lama dan penuh cinta.
Rehan memejamkan mata, menikmati apa yang dilakukan sang istri kepada nya. Hati nya menghangat dan jantung nya berdesir. Dia merasa sangat bahagia, dan tanpa dia sadari senyuman manis terbit di sudut bibir nya.
Setelah melepaskan kecupan nya, Nabila buru-buru menyembunyikan wajah nya di dada bidang sang suami.
"Kenapa sembunyi?" Tanya Rehan sambil mencium puncak kepala sang istri yang tertutup hijab.
"Billa malu,," lirih nya dengan masih membenamkan wajah nya.
"Daddy,, mommy,," seru Kevin yang tiba-tiba muncul mengagetkan keduanya, yang diikuti oleh Ilham di belakang bocah itu.
"Cie,,, ada yang lagi pacaran nih," ucap Ilham menggoda sang kakak.
Buru-buru Nabila mengangkat wajah nya dan segera memeluk sang putra yang tengah menghambur kearah nya, sedangkan tatapan mata nya tertuju pada sang adik. "Bicara apa kamu nang?" Lirih nya sambil menunjuk Kevin dengan isyarat mata nya.
Ilham tersenyum nyengir, sedangkan Rehan tersenyum simpul.
Kevin melerai pelukan nya, "daddy sama mommy lagi pacaran?" Tanya bocah kecil itu polos.
Ilham yang mendengar keponakan nya berbicara seperti itu, langsung saja ngacir masuk kedalam tidak mau mempertanggung jawab kan ucapan nya.
"Nang,,, mau kemana kamu?" Seru Nabila memanggil sang adik.
"Ilham dipanggil ibu mbak," Kilah nya sambil sedikit berteriak dari dalam.
Nabila hanya bisa menarik nafas panjang untuk mengisi penuh rongga paru-paru nya, dan kemudian menghembus nya perlahan.
Sedangkan kan Rehan hanya menggeleng kan kepala, "nak, duduk sini," titah Rehan pada sang putra sambil menunjuk pangkuan nya.
__ADS_1
Dengan sigap Kevin segera naik ke pangkuan sang daddy, "apa yang dikatakan om Ilham tadi benar dad?" Kevin masih menuntut jawaban.
Sejenak Rehan berpikir, "daddy sama mommy hanya ngobrol sebagai orang dewasa." Jawab Rehan mencoba memberi pengertian.
"Kalau hanya ngobrol kenapa tadi mommy memeluk daddy?" Kevin masih merasa penasaran.
"Karena mommy kangen sama daddy,,," jawab Rehan asal dan sedetik kemudian dia tergelak saat mendapati sang istri melotot kearah nya.
"Mbak,, bang,, ditunggu ayah dan ibu di ruang tamu," ucap Ilham dari balik pintu.
Rehan merasa lega, "huh,,, akhir nya bisa bebas juga."
"Abang harus menerima hukuman dari Billa,,, malam ini abang tidur sendiri," ucap nya berbisik di telinga sang suami, dan kemudian segera berlalu menggandeng putra nya untuk masuk.
Rehan mengusap wajah nya kasar,,,
*****
Di ruang tamu,,, nampak semua nya sudah berkumpul, termasuk Alex yang baru datang. Rehan yang baru saja turun dan berjalan mengekor di belakang sang istri, segera ikut bergabung dan duduk di samping Nabila sambil memangku Kevin.
Tak lama kemudian muncul bi Asih dari dalam, "non Bintang, makan malam nya sudah siap," ucap nya sopan sambil melihat kearah Bintang.
"Bibi, duduk lah dulu bersama kami," titah nya dengan lembut pada bi Asih, sambil menepuk bangku kosong di sebelah nya.
Rehan yang mengenali wanita paruh baya itu pun terkejut, "bi Asih?" Rehan mengernyit.
"Iya, gue bawa bibi kesini dan tinggal sementara bersama kak Bintang," jawab Alvian yang mengerti kebingungan Rehan.
Rehan mengangguk-angguk.
"Eh,, ada nak Rehan juga rupanya, apa kabar nak?" Tanya bi Asih sopan. "Den Kevin udah gede ya sekarang? Tampan sekali..." ucap bi Asih sambil mengamati wajah tampan Kevin.
"Bibi juga mengenal nak Rehan?" Tanya ibu Lin menyelidik.
"Iya non, semua teman-teman baik nya nak Vian bibi kenal karena mereka sering main ke rumah," jawab bi Asih, sedetik kemudian netra bi Asih tertuju pada sosok Nabila. Bi Asih membulatkan pandangan mata nya, dan menatap Nabila cukup lama tanpa berkedip. "Dia siapa non? Kenapa wajah nya mirip sekali dengan,,," bi Asih menjeda ucapan nya.
"Mirip siapa bi?" Tanya Alvian penasaran.
"Dia mirip sama nyonya,,," jawab bi Asih sambil menutup mulut nya, "iya, mirip sekali." Lanjut nya menegaskan.
"Benarkah?" Tanya Alvian tak percaya.
"Benar dik,,, dia manis dan imut seperti mama." Ucap ibu Lin mengenang wajah sang mama, "dia putri sulung ku bi, istri nya nak Rehan," ucap ibu Lin kemudian, menjelaskan pada bi Asih.
"Nak Rehan sudah menikah? Kenapa nak Vian enggak pernah cerita?" Protes bi Asih pada Alvian.
__ADS_1
"Mereka nikah nya diam-diam bi, Vian juga belum lama ini tahu nya." Tukas Alvian.
"Yang, beliau itu pengasuh nya bang Vian. Nama nya bi Asih, dan kami semua sudah menganggap bi Asih seperti keluarga," Rehan menjelaskan pada sang istri, yang sedari tadi menyimpan tanya di benak nya tentang wanita paruh baya itu.
Nabila mengangguk dan tersenyum ramah pada bi Asih, "saya Nabila bi," ucap nya memperkenalkan diri.
Sesaat suasana di ruang keluarga itu menjadi hening,
"Ayo makan dulu, ngobrol nya bisa di lanjut nanti setelah makan." Suara berat Pak Ilyas memecah keheningan, dan kemudian mereka semua beranjak menuju meja makan.
Mereka menikmati makan malam dengan ngobrol hangat, dan sesekali di selingi canda tawa dari Kevin dan Ilham yang terus saja menggoda keponakan nya itu.
Seusai makan mereka memilih melanjutkan obrolan di ruang keluarga, yang berada di lantai dua.
"Om ganteng, emang pacaran itu seperti apa?" Tanya Kevin yang ternyata masih menyimpan rasa penasaran nya.
Ilham menggaruk kepala nya yang tidak gatal sambil nyengir kuda, karena mendapat tatapan tajam dari Nabila. "Om Alex tahu jawaban nya," jawab Ilham melempar tanggung jawab.
"Kok bang Alex," protes Alex sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Tadi daddy bilang, pacaran itu ngobrol sebagai orang dewasa,,, emang kalau ngobrol harus peluk-peluk ya mom?" Tanya Kevin menatap sang mommy.
"Eh,, itu,, tadi karena... mommy takut, yah.. mommy takut, jadi mommy sembunyi." Ucap Nabila gelagapan untuk menjelaskan.
Rehan melirih sang istri dan menahan tawa, dia masih takut dengan ancaman istri nya tadi.
Alex dan Nisa, yang sudah paham arah pertanyaan Kevin tertawa cekikikan.
Sedangkan yang lain nya hanya tersenyum dan menggeleng kan kepala.
"Memang nya mommy takut sama apa?" Tanya Kevin pada sang mommy.
Nabila mengernyit dan nampak kebingungan,
"Mommy takut kehilangan daddy kamu nak," jawab ibu Lin sambil tertawa.
Sontak semua yang berada di ruang tamu itu tertawa.
Rehan tersenyum puas, sedangkan Nabila menatap sang ibu dengan tatapan protes. "Ibu,,,!" Seru Nabila merajuk.
"Tenang mommy, daddy tidak akan berani meninggalkan mommy. Karena daddy nya Kevin, sayang banget sama mommy Billa," ucap Kevin membujuk Nabila.
"Ayo dad, bujuk mommy biar enggak takut lagi... sana, ajak mommy pulang. Dan kalian berdua, silahkan pacaran lagi," titah Kevin pada daddy dan mommy nya, berlagak seperti orang dewasa.
Para orang dewasa yang berada di sana dibuat terdiam dan hanya saling pandang,,,
__ADS_1